[FanFic] Still Marry Me !! (Part 5)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“Hatchii !!” suara bersin itu terdengar dari kamarku. Jinki ! Kenapa dia harus bersin di saat seperti ini ?

“Ada siapa Ji Kyo-ya ? Kau bilang sendirian disini ?” tanya Hongki sambil menelengkan kepalanya ke pintu kamarku. Omo~ aku harus beralasan apa lagi sekarang ?

“Ah iya aku lupa. Sepupuku sedang menginap, aku sampai lupa kalau dia ada disini,” sergahku. Ia mengangguk-ngangguk, tapi pandangannya masih tertuju pada pintu kamarku.

“Jadi, ada apa kau kesini ?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Aku pulang ke rumah selama beberapa hari, lusa juga aku kembali ke Seoul. Kau kapan kembali ke Seoul ? Kita bisa bersama-sama kesana,” tawarnya.

“A-ahni, aku masih lama disini,” elakku.

“Oke, aku pulang dulu. Nanti malam aku kesini lagi,” Hongki bangkit dari sofa dan keluar dari rumahku. Aku menghela napas lega karena dia tidak curiga.

Pintu kamarku terbuka, Jinki menyembulkan kepalanya. Ketika melihat Hongki tidak ada, ia langsung tersenyum dan turun menghampiriku

“Kenapa kau bersin huh ?” tanyaku emosi.

“Sorry, tadi hidungku gatal,” jawabnya santai.

PLETAK

Sebuah pukulan mendarat di kepalanya. Dengan santai Jinki menjawab seperti itu. Apa dia tidak tahu betapa paniknya aku tadi.

“Aish, awas kau Ji Kyo,” ancam Jinki sambil mendekatkan wajahnya.

“Mwo ? Tangkap aku dulu baru kau boleh membalasnya,” aku menjulurkan lidah kemudian berlari menjauhinya.

Ia mengejarku ke lantai 2, masuk ke dalam kamar dan malah berlari-lari di dalam kamar. Aku tersandung pinggiran karpet, lalu terjatuh begitu saja. Jinki yang belum sempat mengerem larinya juga ikut terjatuh. Apa yang terjadi ? Ia menindih tubuhku, dan bibirnya menempel di bibirku. Tubuh kami terdiam, tidak ada yang bergerak sedikitpun. Kami terpaku pada pikiran masing-masing, apa yang harus aku lakukan ? Ayo berontak Ji Kyo, kau harus menolaknya.

Tapi tubuhku tidak bisa menjalankan perintah otak. Jinki memegang daguku dan mulai mencium bibirku lembut. Entah kenapa aku tidak menolaknya. Aku balas mencium Jinki.

“Sepertinya aku mengganggu eonni,” seru Hyunmi di ambang pintu lalu berlari turun ke bawah. Aku langsung mendorong tubuh Jinki menjauh. Membuat bibir kami akhirnya terpisah juga.

“Kenapa berhenti ?” tanyanya dengan nada kecewa.

“Aku mau menyiapkan makan siang untuk Hyunmi,” jawabku kikuk kemudian keluar dari kamar.

Jantungku, kenapa dengan jantungku ? Kenapa tidak bisa berdetak dengan normal ? Ffuh, hampir saja aku terbawa suasana tadi. Haish, ottokhae ? Kenapa aku diam saja ketika dia melakukan itu ?

– — – –

Jinki POV

Tidak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Ji Kyo setelah kejadian ‘hampir’ kelewatan itu. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu.

Hari sudah malam, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan menunggu makan malam. Ji Kyo membantu eomma di dapur, Hyunmi duduk di sebelahku sambil membaca komik, sedangkan appa ikut membantu di dapur. Ya, ternyata appa-nya Ji Kyo pintar memasak juga. Aku melirik ke arah Hyunmi yang serius membaca komiknya. Ia sepertinya sadar dengan tatapanku, Hyunmi menoleh.

“Waeyo oppa ?” tanya Hyunmi sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Anni, kau terlihat serius membaca komik itu. Komik apa ?” tanyaku lagi. Ia menyodorkan komik itu ke hadapanku.

“Ini kalau oppa mau pinjam,” tawarnya. Aku menerima sodoran komik itu dan membaca judul di depannya. Hyunmi berlari menjauh dariku, ia duduk di sofa tanpa melepas kacamata bacanya.

“Eh ? Anak SMA seperti dia sudah membaca komik Unrated seperti ini ?” gumamku. Hyunmi masih terlihat biasa saja menonton TV.

“Ya, komik apa itu ?” tanya Ji Kyo tiba-tiba sambil merebut komik milik Hyunmi. Ia membelalak ketika melihat judul dan ratednya.

“Kau . . ?” Ji Kyo menatapku tidak percaya.

“Anni, itu bukan punyaku,” elakku sambil menunjuk ke arah Hyunmi. Ia menghampiri Hyunmi, melempar komik itu ke hadapannya.

Aku tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Ji Kyo tidak mengkeraskan suaranya saat memarahi Hyunmi. Sedetik kemudian Ji Kyo kembali ke dapur membantu eomma. Hyunmi masih tertunduk seperti menyesali tingkahnya. Aku berjalan menghampirinya.

“Andwaeyo, andwaeyo, geureohke ulljimayo,” lirihku sambil menyanyikannya. Hyunmi tersenyum kemudian menghapus air mata di pipinya.

“Anni oppa. Aku memang takut kalau dimarahi eonni, untung dia hanya menasihatiku,” balas Hyunmi.

“Ooh,” balasku singkat, “Lain kali, kau baca buku seperti itu di kamar saja. Jadi Ji Kyo tidak bisa memarahimu,” bisikku. Hyunmi terkekeh, matanya menyipit. Wajahnya sangat mirip dengan Ji Kyo saat tertawa seperti itu.

“Hey, ayo makan,” teriak Ji Kyo. Aku menarik tangan Hyunmi agar ikut makan.

Seperti biasa, di meja makan berbentuk lingkaran ini aku duduk di sebelah Ji Kyo. Tapi sekarang bukan eomma di sebelahku, melainkan Hyunmi. Selama makan malam aku tidak berhenti mengerjainya. Setidaknya aku punya mainan baru selain Ji Kyo.

***

Aku dan Ji Kyo kembali masuk ke dalam kamar, berdua. Suasana canggung masih terasa di antara kita. Aku mencoba mencairkan suasana dengan duduk di sebelah Ji Kyo di jendela kamarnya. Jendela kamar Ji Kyo cukup untuk duduk dua orang, memandang lampu-lampu kota Daegu.

“Mianhae atas kejadian tadi siang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” ujarku sambil menatap ke arah langit.

“Ne, gwenchana. Aku juga ikut salah dalam kejadian tadi siang” balas Ji Kyo. Ia menggosok-gosokkan tangannya. Hawa dingin musim semi sudah mulai terasa. Pantas dia kedinginan seperti itu.

“Ayo masuk. Udaranya dingin,” ajakku. Ji Kyo menggeleng masih dengan menggosok-gosokkan tangannya. Aku beralih ke belakang Ji Kyo kemudian memeluknya.

“W-wae ? Apa yang kau lakukan ?” tanyanya gugup. Aku mempererat lingkaran tanganku di lehernya.

“Supaya kau tetap hangat,” jawabku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang, tapi aku yakin dia sedang tersenyum. Aku menopangkan dagu di atas kepalanya.

Selama beberapa menit aku terus memeluk Ji Kyo. Tapi itu semua tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja pintu kamar kami Ji Kyo terbuka. Aku langsung melepas tanganku dari lehernya. Hyunmi menatapku dan Ji Kyo bergantian.

“Tidak bisa mengetuk pintu dulu Hyunmi ?” tanya Ji Kyo dengan suara berat. Hyunmi tersenyum tanpa dosa.

“Ada Hongki oppa di bawah. Dia sedang mengobrol dengan eomma dan appa, dia juga mencarimu,” jawabnya kemudian kembali menutup pintu kamar Ji Kyo. Wartawan itu, kenapa selalu menggangguku huh ?

“Aku turun dulu,” ujar Ji Kyo. Aku menyergah tangannya, ia menoleh padaku heran.

“Wae ?” tanyanya. Aku menggeleng dan melepas tangannya.

Aku tidak bisa mengatakannya, kalau aku cemburu. Aku terlalu. . malu ? Ya sepertinya. Dia bahkan tidak peduli aku ikut acara we got married bersama Gyuri.

Tentang Gyuri, wanita itu benar-benar terlupakan olehku.

‘Aku sudah mulai suka denganmu,’

Ada sebersit perasaan senang di hatiku ketika ia mengatakannya. Sebersit ? Sisanya adalah perasaan senang karena aku bisa menikah dengan Ji Kyo.

***

Ji Kyo masuk ke dalam kamar dengan wajah lusuh. Aku yang sedang tidur-tiduran segera bangun. Ia duduk di sisi tempat tidur, di sampingku.

“Ada apa wartawan itu kesini ?” tanyaku penasaran.

“Dia memang sering kesini, masalahnya dia datang kesini dengan maksud lain,” Ji Kyo menggantung omongannya.

“Dia mengajakku menikah,” lanjutnya.

“MWO ?!” tanyaku atau lebih tepatnya berteriak. Ji Kyo langsung membekap mulutku.

“Masih ada Hongki dibawah. Tenang saja, aku menolaknya dan langsung berlari kesini. Untung appa dan eomma bisa di ajak kompromi, mereka juga menolak ajakan Hongki,” jawabnya setengah berbisik. Ia menurunkan tangannya dari mulutku.

“Dia pasti akan terus mengejarku, ottokhae ? Aku tidak tahu cara menolaknya lagi,” tambah Ji Kyo sambil mengacak rambutnya frustasi. Aku ikut berpikir, terlintas sebuah ide di kepalaku. Tapi sepertinya ideku ini akan membuatku mendapat pukulan lagi darinya.

“Aku punya ide. Bagaimana kalau kita . .” aku memotong ucapanku, mendekatkan bibirku ke telinganya, “Make a baby,” bisikku.

BUGH

Benar dugaanku, sebuah sikutan mengenai perut bagian bawahku. Ji Kyo bangkit dengan rona merah di pipinya. Terlintas sebuah ide di kepalaku lagi.

Aku memejamkan mata sambil meringis kesakitan memegangi perutku. Sesaat kemudian aku melemaskan badan seperti orang pingsan. Ji Kyo langsung panic, ia menepuk-nepuk wajahku keras berharap aku bangun.

“Apa aku harus memberinya napas buatan ? Setahuku itu hanya untuk orang tenggelam. Aish, sanggwan eopseo !” Ji Kyo bangkit dari tempat tidur. Tapi dengan segera kusergah tangan Ji Kyo dan menariknya. Ia berbaring di sebelahku.

“Lee Jinki, kau menyebalkan sekali hari ini,” ujarnya. Kami saling bertukar pandang dengan jarak wajah yang sangat dekat, semakin lama wajahku semakin dekat dengan wajahnya.

Aku memberinya ciuman kilat kemudian menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.  Mendekapnya erat sampai aku mengantuk, dan akhirnya kami tertidur dengan berpelukan ‘lagi’.

***

“Eonni ! Eonni !” aku terbangun karena suara nyaring Hyunmi. Aku menggeliat bangun, dengan perlahan-lahan melepas tangan Ji Kyo yang masih memelukku. Dengan malas aku membuka pintu kamar Ji Kyo.

“Waeyo ?” tanyaku sambil mengacak-acak rambut.

“Hongki oppa, dia sudah tahu kau ada disini,” jawab Hyunmi sontak membuatku membelalak. Tanpa membangunkan Ji Kyo aku segera berlari ke lantai bawah. Hongki terlihat sedang duduk di sofa, pandangannya teralihkan karena melihatku yang turun tangga.

“Lee Jinki. Jadi ini actor yang selama ini menyembunyikan siapa identitas istrinya ?” ujarnya sambil berdiri dari sofa. Aku mendekat ke arahnya, tidak melepaskan tatapan mata kami.

“Wae ?” tanyaku. Ia menyeringai kecil.

“Tapi sayang, semua itu tidak akan berlangsung lama lagi. Aku akan membongkar semua tentangmu dan Ji Kyo, tentang pernikahan pura-pura kalian,” jawaban Hongki membuatku kaget. Bagaimana dia bisa tahu ?

“Tidak penting aku tahu darimana, yang jelas setelah berita ini menyebar, kau akan di blacklist dari dunia entertainment korea, dan Ji Kyo, dia akan mendapat banyak bashing dari para fansmu. Dan yang lebih parah, mungkin kau atau Ji Kyo akan di benci orang-orang dan siap membully kau kapan saja,” tambahnya.

Ji Kyo ? aku ? Kalau aku di blacklist, aku tidak akan bisa acting lagi. Ji Kyo, dia juga akan dapat banyak masalah karena hal ini. Kami berdua dalam masalah.

“Kau bisa tutup mulut tentang ini ?” tanyaku penuh harap.

“Mwo ? Tutup mulut ? Mian, tapi aku tidak bisa. Berita ini akan membuatku jadi kaya, dan terkenal. Kecuali dengan satu syarat,” jawab Hongki memotong ucapannya.

“Serahkan Ji Kyo padaku. Buat dia membencimu, menceraikanmu, tidak peduli lagi dengan semua apa yang kau lakukan. Dengan begitu dia pasti mau menerimaku, ottokhae ?” sambungnya.

Aku tidak bisa berpikir jernih, semuanya akan terlibat dalam masalah. Ji Kyo, eomma, appa, manager hyung, dan Hyunmi. Semua yang menyangkut kehidupanku, tapi aku tidak mau kehilangan Ji Kyo. Aku sudah mulai menyukainya. Oh God, help me.

“Hongki ?” aku menoleh ke belakang. Ji Kyo sedang menuruni tangga bersama Hyunmi di belakangnya.

“Kau ? Sudah tahu semuanya ?” tanya Ji Kyo sambil berdiri di sebelahku.

“Ne, aku sudah tahu. Tapi tenang saja, aku akan merahasiakan semua ini,” jawab Hongki lembut, tidak seperti tadi. Ji Kyo tersenyum sambil menghela napas lega. Aku kembali menatap Hongki, ia tersenyum licik padaku.

“Sudah ya, aku harus pulang ke Seoul hari ini. Annyeong,” seru Hongki. Ia berjalan meninggalkanku dan Ji Kyo, tapi langkahnya terhenti tepat di sampingku.

“Aku tunggu jawabanmu besok,” bisiknya kemudian benar-benar pergi.

Aku masih berdiri terpaku, memandang kosong ke depan memikirkan bagaimana seandainya semua orang tahu pernikahan pura-puraku dan juga identitas Ji Kyo. Aku harus memilih, antara membiarkan Ji Kyo bebas dari bully fansku tapi aku harus rela membiarkannya bersama Hongki. Pilihan kedua, aku tetap bersama Ji Kyo tapi aku di blacklist dari dunia entertainment, Ji Kyo di benci orang-orang, Ji Kyo bisa disakiti dimana saja oleh para fansku, dan semuanya akan tersangkut paut masalah ini.

“Baguslah kalau dia sudah tahu. Aku jadi lebih tenang, kau juga kan Jinki ?” tanya Ji Kyo. Aku mengangguk sekilas kemudian berlalu meninggalkannya ke dalam kamar. Kenapa selalu ada 2 pilihan di dunia ini ?

***

Aku dan Ji Kyo kembali pulang ke Seoul. Karena aku harus mulai shooting we got married besok. Aku memberhentikan mobil tepat di depan gedung apartemennya. Aku melepas kacamata hitam yang kupakai. Menatap Ji Kyo dengan tatapan nanar.

“Ada apa ?” tanyanya bingung.

“Boleh aku memelukmu ?” tanyaku lagi. Ia menautkan alis, tanpa di beri aba-aba aku langsung memeluknya erat. Selama 1 menit kami terus seperti itu. Aku melepas pelukannya dan segera memakai kacamata lagi.

“Sudah, aku pergi dulu,” seruku.  Ia turun dari mobil. Sebelum pergi aku membuka kaca mobil dan melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.

Aku mulai menjalankan mobilku meninggalkan Ji Kyo. Aku menatap sebuah alamat yang tertera di layar ponselku. Sebuah email yang dikirimkan Hongki tempat aku bertemu dengannya. Aku sudah memutuskan satu pilihan. Semoga ini yang terbaik.

Hongki bersandar pada sebuah tiang di bawah jembatan sungai Han. Aku melangkahkan kakiku, menghampirinya dengan ragu. Ia menoleh ke arahku sambil tersenyum.

“Hi friend,” sapanya. Aku membuka hoodie yang menutup kepalaku.

“Jadi apa keputusanmu ?” tanyanya tidak sabar. Aku menimbang-nimbang sekali lagi keputusanku.

“Jangan beberkan hal ini pada public, aku akan buat Ji Kyo membenciku. Setelah itu aku akan berpisah dengannya dan membiarkanmu mengambil kesempatan,” jawabku pasrah. Hongki menyeringai kecil.

“Bukan itu saja, tapi kau harus membatalkan konferensi pers tentang pengenalan Ji Kyo ke public. Atau aku akan bongkar pernikahan pura-pura kalian saat itu juga. Kau tahu ? Kedua orang tua Ji Kyo sangat tidak suka anaknya di permainkan. Apalagi mereka hanya tahu kau adalah pacar Ji Kyo. Aku yakin mereka akan sangat marah mendengar berita kalau kau menikahi Ji Kyo untuk meningkatkan popularitas,” aku mendorong tubuh Hongki. Ancamannya benar-benar membuatku kesal. Memang semua itu benar, tapi aku tidak bisa meninggalkan Ji Kyo.

“Brengsek !” teriakku sambil menarik kerah bajunya.

“Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Aku baru tahu kau lebih mementingkan popularitas daripada perasaan Ji Kyo,” tambah Hongki semakin membuatku kesal.

Aku memukul wajah Hongki dengan keras. Ia mundur beberapa langkah. Tapi Hongki menyeringai kecil sambil menyeka sudut bibirnya yang sudah berdarah.

“Walaupun kau memukulku, Ji Kyo tetap tidak akan bisa menjadi  milikmu. Ingat itu Lee Jinki,” ancamnya. Ia membersihkan bajunya, sedikit tersenyum licik kemudian berbalik meninggalkanku.

“Ah iya,” Hongki kembali berbalik, “Aku akan berikan kau waktu satu hari untuk berjalan-jalan dengan Ji Kyo. Untuk terakhir kalinya, dan untuk kau ingat selamanya,” ujarnya. Ia pergi sambil melambaikan tangan padaku.

“Damn !” teriakku, memukul tembok yang ada. Aku baru tahu dia selicik itu. Aku memikirkan perasaan Ji Kyo, aku mencintainya. Seandainya dia tidak mengancamku, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Damn !!

– — – –

Ji Kyo POV

Aku menunggu Jinki di depan gedung apartemen sambil membawa satu keranjang makanan. Hari ini dia mengajakku piknik ke daerah Deongjun, daerah yang terdapat sebuah danau yang cukup terkenal. Yang aku tahu dari internet, dia sangat suka samgyupsal. Akhirnya aku memutuskan membuat samgyupsal dan membawa beberapa botol minuman. Semoga dia suka.

Sudah 30 menit aku menunggu. Bahkan sekarang aku sudah duduk di pinggir, di pot bata yang berderet panjang. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku bingung sekarang harus berbuat apa. Rambutku yang tadinya ku gerai dan sengaja aku luruskan akhirnya di kuncir juga.

“Hey,” sebuah suara membuatku mendongakkan kepala. Sinar matahari membuat wajah orang di depanku  tidak terlihat jelas.

“Jinki ?” tanyaku memastikan. Aku berdiri untuk memperjelas wajahnya.

“Sudah lama ?” tanyanya sambil mengambil keranjang makanan yang tergeletak di dekat kakiku.

“Lumayan, 30 menit yang lalu,” jawabku ketus.

“Aish, jangan marah Ji Kyo-ya,” seru Jinki, mengacak rambutku lembut. Ia menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya.

Jinki membukakan pintu mobilnya untukku. Sebelum duduk di belakang kemudi, ia menaruh keranjang makanan di jok belakang. Aku tersenyum melihat Jinki karena kepalanya terbentur. Ia meringis kesakitan sambil keluar dari mobil menuju kursi sebelahku.

“Gwenchana ?” tanyaku memastikan.

“Nan gwenchana. Kajja !” Jinki menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.

***

Jinki mengguncangkan tubuhku perlahan. Aku segera membuka mata dan menatap keadaan diluar mobil heran.

“Kita sudah sampai ?” tanyaku sambil mengucek mata.

“Ne, ayo turun,” ajaknya. Aku membuka pintu mobil kemudian meregangkan tubuh. Sedangkan Jinki mengambil keranjang makanan.

“Come on,” Jinki meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.

Keadaan di sekitar danau sangat sepi. Hari ini hari minggu, seharusnya tempat seperti ini ramai pengunjung di akhir pekan. Jinki mengeluarkan kain bermotif cokelat polos dari dalam keranjang makanan. Ia melebarkan kain itu di pinggir danau.

Aku menyuapkan potongan terakhir samgyupsal ke dalam mulut Jinki. Ia tersenyum padaku dengan memamerkan gigi kelincinya. Kami duduk bersebelahan sambil menatap langit yang sudah mulai sore. Angin musim semi menambah lengkapnya kebahagiaanku hari ini. Lee Jinki, dia berhasil membuatku hampir jatuh cinta padanya. Hampir.

“Aaaah,” Jinki menghela napas lega kemudian menidurkan badannya. Ia melipat kedua tangan ke belakang kepala untuk menjadi alas kepalanya. Aku menggeser keranjang makanan yang sudah kosong ke luar area kain dan ikut tidur-tiduran.

“Ya ! Jangan jauh-jauh,” ujar Jinki sambil menggeser badannya.

“Ini, tidur di atas tanganku,” Jinki meregangkan sebelah tangannya ke arahku. Aku mendongakkan kepala, menatapnya yang sekarang berjarak sangat dekat. Ia menelengkan kepalanya menyuruhku tidur di atas tangannya.

Aku mengangkat kepalaku tidur di atas tangannya. Aku memejamkan mata, merasakan setiap hembusan napas yang masuk ke dalam paru-paruku. Aku berharap hari ini tidak akan pernah berakhir. Bersama lee Jinki, orang yang berada di puncak teratas hatiku sekarang.

“Ji Kyo,” panggil Jinki lembut.

“Ne ?” jawabku masih sambil memejamkan mata.

“Seandainya, hari ini adalah terakhir kalinya kau dan aku bersama-sama seperti ini. Apa yang akan kau lakukan ?” tanya Jinki membuatku membuka mata.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku berpikir, apapun yang di berikan-Nya adalah yang terbaik. Kalau memang kita tidak bisa bersama lagi, itu memang takdir kan ?” jawabku. Jinki terkekeh kecil sambil mengusap keningku dengan tangannya yang menjadi alas kepalaku.

“Jinki, minggu depan kau tidak ada acara kan ?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya. Aku baru ingat kalau minggu depan adalah hari ulangtahunku ke 21. Menurut orang tuaku umur 21 itu mulainya seseorang menjadi dewasa. Aku mau Jinki ada di sampingku saat itu.

“Mollayo, wae ?” tanyanya lagi.

“Ahni, akan aku beritahu nanti,” jawabku, memalingkan wajah. Kami terdiam beberapa saat.

“Aku beruntung bisa menikah denganmu. Mmm, sebenarnya ada satu hal yang aku inginkan dari dulu. Tapi sepertinya kau tidak akan suka,” seru Jinki, memiringkan badannya.

“Apa ?” tanyaku mulai was-was. Ia mendekapku dengan tangan yang satu lagi. Menyandarkan kepalaku di dadanya dan mengusap kepalaku.

“Nan niga joahaeyo kim Ji Kyo. Teruslah seperti ini sampai beberapa menit ke depan,” pinta Jinki. Aku membalas pelukannya. Malah aku berharap pelukan ini tidak akan pernah lepas. Teruslah seperti ini, selamanya. >,<

***

Aku membawa keranjang makanan yang kosong itu turun dari mobil Jinki. Ia mengantarku hanya sampai ke depan gedung apartemen. Jinki bilang dia harus kembali ke lokasi shooting drama terbarunya. Drama terbaru, we got married, dan ia juga bilang minggu depan akan mulai rekaman untuk album barunya.

“Sana pulang,” suruhku. Ia menggeleng menolak perintahku.

“Kau masuk dulu baru aku pulang,” balasnya.

“Baiklah, aku masuk. Annyeong,” ujarku kemudian berbalik meninggalkannya.

“Chamkanman,” aku mengehentikan langkah berbalik ke arahnya.

“Waeyo ?” tanyaku memastikan. Ia berjalan menghampiriku.

“Just kiss me,” pintanya. Ia menarik ujung daguku mendekati wajahnya. Aku berusaha menolak, tapi lagi-lagi tubuhku tidak bisa menjalankan perintah otak. Tubuhku tetap diam menerima ciuman lembut dari Jinki. Keranjang makanan yang kupegang terjatuh.

“Aww,” ringis Jinki. Kakinya tertimpa keranjang makanan yang baru jatuh. Membuat ciumannya terlepas begitu saja.

“Aigo, mianhae,” ucapku. Aku memegang kaki Jinki yang tertimpa. Tapi tangannya mencegah tanganku.

“Jangan di tunda,” serunya. Ia menegakkan tubuhku kembali. Kali ini Jinki menarik kedua pundakku mendekat.

“Not this time Jinki,” elakku sambil menghindar dari hadapannya. Aku berlari masuk ke dalam gedung apartemen dengan membawa keranjang makanan itu. Aku berharap Jinki mengejarku, tapi sepertinya ia sudah terlambat untuk kembali ke tempat shooting. Aku kembali turun dan mendapati Jinki sudah tidak ada disana. Tch, dasar Lee Jinki.

-to be continued-

saya kasih bocoran

part selanjutnya konflik mulai panas

haha

Read, Like, and Comment please

4 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s