[FanFic] Still Marry Me !! (Part 4)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

We Got Married ? Jinki dengan wanita ini akan ikut acara reality show we got married ? Aku terus membaca artikel itu.

Acara ini di adakan karena banyaknya permintaan dari fans Jinki dan juga fans Gyuri. Mereka mengusulkan ini karena berita pernikahan Jinki, karena mereka tidak tahu siapa istri sebenarnya, akhirnya mereka mengusulkan Gyuri yang memang selama ini digosipkan dekat dengan Jinki.

Tiba-tiba konsentrasiku bubar karena ponsel Jinki yang tergeletak di atas meja berbunyi. Aku meraihnya dan melihat nama yang tertera. Park Gyuri ?

‘Ya ! Aku ada di depan apartemenmu. Cepat buka pintunya,’ seru wanita itu ketika aku mengangkat teleponnya. Telepon itu terputus begitu saja, meninggalkan seribu pertanyaan di benakku.

Untuk apa dia kesini ? Apa dia sudah tahu berita we got married itu ? Ottokhae ? Dia akan tahu siapa aku sebenarnya. Haish, dia belum keluar dari kamar mandi, apa aku harus membuka pintunya ?

Aku melangkahkan kakiku ke pintu apartemen Jinki. Layar yang ada di samping pintu menampilkan seorang gadis cantik berambut blonde sedang melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menekan bel apartemen Jinki dengan kesal berkali-kali.

Aku menarik napas panjang. Dia orang pertama yang akan tahu siapa aku sebenarnya. Lagipula dia teman Jinki, aku harus menghargainya.

Aku membuka pintu apartemen Jinki perlahan. Wanita itu berbalik, ekspresinya berubah ketika melihatku yang berdiri di depan matanya. Yang membuka pintu apartemen Jinki.

“Kau siapa ?” tanyanya bingung. Aku hendak membuka suara, tapi sebuah tangan melingkar di leherku membuatku kembali menutup mulut.

“Siapa yang datang chagi~ ?” tanya Jinki manja. Aku menolehkan kepalaku ke arah Jinki yang sudah berdiri di sebelahku. Ia mengalihkan pandangannya, dan pura-pura kaget melihat Gyuri. Ya aku tahu, dia sudah tahu Gyuri yang datang. Tidak mungkin dia tiba-tiba berubah manja seperti ini kalau bukan di depan wartawan ataupun teman sesama artisnya.

“Ada apa Gyuri-ya ?” tanya Jinki sambil memamerkan eye smilenya. Tangan Jinki masih melingkar di leherku, membuat jantungku berdetak kencang. Semoga dia tidak mendengarnya.

“Kau sudah lihat berita di Naver ?” tanya Gyuri sambil masuk ke dalam apartemen Jinki. Wanita macam apa dia ? Masuk ke apartemen orang lain tanpa disuruh terlebih dulu. Untung dia artis, kalau tidak sudah aku tarik rambut blondenya itu.

“Anni, waeyo ?” tanya Jinki menghampiri Gyuri yang langsung duduk di depan notebooknya. Tangan Jinki terlepas begitu saja, membuat tenagaku seolah terbawa olehnya.

“MBC mengusulkan kita untuk pasangan terbaru di we got married,” jawab Gyuri. Ia memegang mouse dan menggeser berita itu ke bawah. Alisnya bertaut melihat berita itu.

“Siapa yang buka berita ini ?” tanyanya. Jinki langsung melirik ke arahku, aku hanya bisa tersenyum tanpa dosa padanya.

“Baguslah kalau istrimu sudah membaca ini, jadi aku tidak perlu repot-repot meminta persetujuan darinya. Jadi, kau setuju kan ?” tanya Gyuri padaku yang masih berdiri di dekat pintu. Jinki menganggukan kepalanya berharap aku menjawab ‘iya’. Sedangkan aku, masih menimbang-nimbang jawaban yang tepat.

“Ne aku setuju,” jawabku akhirnya. Jinki tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Ia mencubit hidungku sekilas kemudian membisikkan sesuatu.

“Gomawo Ji Kyo,” ujarnya. Jinki tersenyum senang sambil mengacak rambutku lembut. Aku mengerucutkan bibir melihatnya sesenang itu. Dasar Lee Jinki, dia kira aku tidak tahu kalau dia menyukai Gyuri ? Tch.

– — – –

Jinki POV

Hari dimana rapat tentang we got married itu dimulai. Aku dan manager hyung berangkat dari apartemen pagi-pagi sebelum Ji Kyo bangun. Ia menginap di apartemenku semalam, untuk membayar rasa terima kasihku padanya karena membolehkanku ikut we got married ini. Ternyata Ji Kyo bisa mengerti keadaanku.

“Jadi begini rencananya. Kau Jinki, awalnya kau harus pura-pura tidak tahu siapa yang akan jadi istrimu. Kau tidak tahu berita di internet tentang Gyuri sebagai pasanganmu~ bla bla bla,” omongan PD nim tidak masuk ke otakku sama sekali. Aku malah memandangi Gyuri yang duduk di hadapanku dengan kacamata berframe hitam miliknya sambil tersenyum. Perasaan ini masih ada, aku masih menyukainya sama seperti dulu.

“Jinki ? Lee Jinki ?” PD nim memanggilku.

“Ne, baik PD-nim,” jawabku asal. Ia mengangguk sambil membereskan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Rapat selesai dan semua keluar dari ruangan rapat termasuk manager hyung. Hanya tinggal aku dan Gyuri yang tersisa.

“Mau jalan-jalan sebentar ?” tawarku. Gyuri melepas kacamatanya, ia mengangguk sekilas menjawab pertanyaanku.

Kami berjalan mengitari gedung MBC. Sambil mengobrol hal-hal tidak penting, tapi hal itu selalu bisa membuat kami tertawa. Aku dan Gyuri berhenti di depan sebuah mesin minuman di samping gedung. Aku memasukkan koin ke dalam mesin itu, sesaat kemudian 2 kaleng jus buah sudah ada di tanganku.

“Igeo,” aku menyerahkan sekaleng jus pada Gyuri yang bersandar di pagar pembatas. Aku ikut bersandar di sampingnya sambil meminum jus kaleng itu.

“Boleh aku tahu alasanmu, kenapa kau menikah tiba-tiba ?” pertanyaan Gyuri membuatku tersedak. Ia memutar-mutar jarinya di tutup kaleng jus itu.

“Karena aku mencintainya,”

“Gojitmal,” potongnya. Gyuri menatapku, pandangannya menelisik ke dalam mataku untuk memastikan ucapanku.

“Aku menikah, karena aku mencintainya. Kau tidak percaya ?” tanyaku mencoba tenang. Ia menggeleng sambil memalingkan wajahnya.

“Tidak, dulu kau bilang menyukaiku kan ? Dulu aku masih tidak percaya dengan kata-katamu, jadi aku memutuskan untuk mengenalmu lebih jauh lagi. Tapi ternyata kau menikah dengan yeoja itu tanpa memikirkan perasaanku,” jawab Gyuri kemudian meminum jus kaleng miliknya.

“Memikirkan perasaanmu ?” tanyaku heran.

“Aku sudah mulai suka denganmu,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Jeongmal ?” tanyaku memastikan. Gyuri tidak menjawab, ia pura-pura tidak mendengar ucapanku. Suka denganku ? Haish, apa aku harus bilang padanya kalau pernikahan ini hanya pura-pura ? Anni, kau tidak boleh bilang padanya.

“Mian Gyuri-ya, aku tidak bisa membalas perasaanmu sekarang. Aku tidak bisa berpisah dengan Ji Kyo, ia sudah jadi bagian hidupku sekarang,” jawabku sambil membuang kaleng jus itu. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan Gyuri.

“Jinki !” panggil Gyuri. Langkahku terhenti tanpa menoleh padanya.

“Di acara we got married ini, biarkan aku menganggapmu sebagai suamiku. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu bersama yeoja itu, tapi jangan tinggalkan aku,” tambahnya. Aku meninggalkan Gyuri tanpa memberi jawaban padanya. Hatiku sedang bingung. Aku memang masih menyukainya, tapi di sisi lain aku tidak mau meninggalkan Ji Kyo. Kenapa aku harus peduli padanya ? Belum tentu ia sedang memikirkanku sekarang.

***

Mobil van berhenti di depan gedung apartemenku. Para fans dan wartawan masih setia menungguku padahal hari sudah siang. Aku turun dari van, mereka langsung berlari menghampiriku. Security yang ada mencoba melindungiku dari para fans dan wartawan itu.

“Jinki oppa ! Jinki oppa !” teriakan mereka membuat kupingku sakit. Aku menutup kuping dan segera berlari masuk ke dalam gedung. Di lobby, aku melihat wartawan yang pernah menyebut nama Ji Kyo sedang duduk sambil membaca sebuah majalah. Ia menoleh, sepertinya ia sadar dengan kedatanganku.

“Bisa minta waktu sebentar Jinki-ssi ?” tanya wartawan itu. Belum sempat aku menjawab, manager hyung sudah mendorongku masuk ke dalam lift.

“Untuk sementara ini kau jangan bicara dulu dengan media. Aku mau berita ini terus ada di situs-situs agar kau tetap terkenal. Mengenai istrimu, jangan biarkan dia tercium oleh media,” seru manager hyung. Aku mengangguk, entah apa yang ada di dalam pikiran manager hyung. Tenar, popularitas, dan uang yang hanya ada di dalam pikirannya.

Ketika pintu lift terbuka, Ji Kyo sedang berdiri di depan pintu lift. Ia sudah memakai pakaian bagus lengkap dengan polesan make up. Ji Kyo terlihat kaget melihatku, ia langsung menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum.

“Ya ! Mau kemana ?” tanyaku.

“Mau pergi sebentar kemudian pulang ke apartemenku,” jawabnya. Aku melangkah keluar dari lift diikuti manager hyung.

“Untuk sementara kau tinggal disini. Banyak wartawan di bawah, kajja !” aku menarik tangan Ji Kyo sebelum mendengar ‘tidak’ dari mulutnya.

Kami bertiga masuk ke dalam apartemen. Wangi masakan sangat menusuk hidungku. Aku memberikan tatapan heran padanya, lagi-lagi ia hanya tersenyum.

“Aku tadi masak untuk makan siangmu dengan hyung oppa. Tadinya aku mau kabur sebelum kau pulang, tapi ternyata kau sudah pulang,” jawabnya sambil terkekeh.

“Kau harus ikut makan dengan kami,” ujar manager hyung. Ia menautkan alisnya heran, aku tidak menghiraukan dan mengajaknya duduk di meja makan.

***

Ji Kyo mencuci piring kotor sisa dari makan siang kami. Manager hyung sudah pulang karena ada telepon mendadak dari pihak management. Ji Kyo menaruh piring-piring itu di rak dan menghampiriku yang sedang menonton TV.

“Boleh aku pergi sekarang ?” tanyanya masih berdiri di depan sofa.

“Memangnya kau mau kemana ?” tanyaku balik tanpa menatap Ji Kyo. Ia terlihat bingung menjawab pertanyaanku.

“Mau pergi dengan wartawan itu ?” tanyaku. Ji Kyo membelalakkan matanya.

“Ottokhae araseo ?” tanyanya lagi.

“Aku pernah mendengarnya menyebut namamu waktu itu. Refleks aku menoleh ke arahnya, untung saja dia tidak curiga. Aku hanya mau mengingatkan kalau dia ada di bawah sana, dan kau jangan terlalu dekat dengannya. Dia itu seorang wartawan, aku takut ia yang membongkar tentangmu ke media,” jawabku panjang lebar.

“Ne, aku tahu. Hongki sudah tidak ada di bawah, dia bilang dia sudah menungguku di café di persimpangan jalan di depan,” balas Ji Kyo kemudian meraih tas miliknya.

“Jadi namanya Hongki ?” tanyaku. Ia mengangguk sambil merapikan baju dan rambutnya.

“Sudah, aku pergi dulu,” serunya.

Ji Kyo keluar dari apartemenku. Kenapa aku merasa tidak rela dia pergi dengan wartawan itu ? Jealous ? Aku mau ikuti dia. Menjadi stalker sepertinya lucu, tentu saja dengan penyamaran lengkap.

– — – –

Ji Kyo POV

Suara lonceng ketika membuka pintu café membuat Hongki menoleh padaku. Senyuman langsung terkembang di bibirnya. Aku menghampiri Hongki dan segera duduk di hadapannya. Tak lama kemudian 2 gelas chocolate dingin di antar oleh seorang pelayan ke meja kami. Ternyata ia sudah memesan minuman.

“Jadi kau mau bicara apa ?” tanyaku kemudian menyesap minuman itu. Hongki berdehem sebentar, ia menarik napas panjang seperti gugup. Aku menautkan alis berharap ia mempercepat omongannya.

KRINGKRING

Suara lonceng pintu restoran. Aku berbalik melihat orang yang baru saja masuk. Orang aneh, di musim panas seperti ini dia pakai baju panjang dan syal yang menutupi setengah wajahnya. Ia juga memakai kacamata hitam dan topi fedora. Orang itu duduk tak jauh dari mejaku dan Hongki.

“Ji Kyo,” panggil Hongki. Aku menoleh ke arahnya. Ia mencari sesuatu di dalam saku celana. Sebuah kotak hati berwarna merah dan ia menyodorkannya ke hadapanku.

“Eh ? Mwoya ?” tanyaku bingung.

“Saranghae,” ujar Hongki sambil menundukkan wajahnya. Deg. Sesuatu seperti menusuk jantungku, entah perasaan apa itu. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat mendengar omongannya.

“Kau baru saja menyatakan perasaanmu ?” tanyaku lagi.

“Pabo-ya ! Kau kira aku sedang apa. Jadi kau mau jadi yeoja chinguku ?” tanyanya memastikan. Aku berpikir sambil memainkan kotak hati itu. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada orang aneh tadi. Ia membuka kacamata hitamnya. Dan aku kenal siapa pemilik mata itu.

“Jinki ?” gumamku.

“Eh ? Jinki ? Kenapa kau malah menyebut namanya ?” tanya Hongki bingung. Aku kembali menatap Hongki, tapi pikiranku sudah buyar karena melihat Jinki disana.

“Mian Hongki-ya. Aku tidak bisa, lebih baik kita berteman saja. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri, mianhae,” jawabku sambil terus melirik ke arah Jinki.

“Karena Jinki ? Kenapa kau tiba-tiba menyebut namanya huh ? Kau suka padanya ?” tanyanya bertubi. Aku menggelengkan kepalaku cepat.

“Anni, bukan itu. Aku lebih suka berteman, itu lebih baik daripada kita harus bermusuhan karena putus nanti,” jawabku lagi. Hongki menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia mengacak rambutnya frustasi, sedangkan aku masih saja mengawasi Jinki yang sedang meminum segelas coklat dingin juga. Haish, kenapa pikiranku jadi tidak karuan seperti ini ? Apa dia dengar kata-kata Hongki tadi ?

“Ji Kyo ?” panggil Hongki sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Ne ?” Hongki tersenyum padaku. Ia memegang kedua tanganku kemudian menciumnya lembut. Wajahku langsung memanas seketika.

“Aku akan tunggu sampai kau menyukaiku. Gwenchana,” ujarnya. Aku mencoba tersenyum, tapi pikiranku tidak ada di senyuman itu. Jinki melirik ke arahku, ia membuka sedikit syal yang menutupi mulutnya kemudian menjulurkan lidah. Ia mengejekku lalu memakai kembali syalnya.

“Ada apa di meja sana ? kenapa kau selalu melihat kesana ?” tanya Hongki sambil menolehkan kepalanya. Dengan segera aku memutar kembali kepalanya agar ia menatapku. Pasti dia sudah tahu bagaimana seorang artis menyamar kalau keluar. Dia tidak boleh tahu orang itu.

“Anni, lebih baik kita pulang sekarang,” ajakku sambil menarik tangannya. Aku membawa Hongki keluar dari café itu. Dan apa yang Jinki lakukan ? Ia mengikutiku juga keluar dari café itu. Tch, dia jadi stalker huh ?

Aku dan Hongki masuk ke dalam bus yang berhenti tidak jauh dari café itu. Dengan segera aku masuk, dan Jinki masih saja mengikutiku. Aku segera mengeluarkan ponselku dari dalam saku dan mengirimnya pesan.

To : >,<

Mati kau Jinki. Mau coba jadi stalker ku huh ?

Pesan itu terkirim, tak lama kemudian ponsel seseorang di barisan belakang bus berbunyi. Dan sudah bisa kutebak kalau itu ponselnya Jinki.

“Kenapa kau gelisah sekali Ji Kyo-ya ? Sekarang kita mau kemana ?” tanya Hongki bingung. Haish, aku lupa sedang bersamanya. Aku juga tidak tahu bus ini mau kemana.

“Kita ke apartemenku saja,” jawabku asal.

“Ya ! Apartemenmu ke arah sana,” balas Hongki sambil menunjuk ke arah berlawanan. Aku menepuk kepalaku sendiri. Kenapa aku bisa lupa apartemen sendiri ? Ponselku berbunyi. Pesan balasan dari Jinki. Aku segera membuka pesan itu.

From : >,<

Huahahaha aku senang menjadi stalker.

Kau mau kemana Ji Kyo ? ^0^

Aku menolehkan kepala ke arahnya.

“Bukan urusanmu,” ujarku hanya dengan menggerakkan mulut. Aku kembali menatap ke depan sambil mengerucutkan bibir.

“Ji Kyo, sepertinya aku harus turun di depan. Terserah kau mau kemana, tapi aku harus kembali ke kantor,” seru Hongki. Bus berhenti dan Hongki turun begitu saja. Aku belum minta maaf padanya, kenapa Jinki harus mengikutiku sih ? Aku jadi tidak tenang sendiri.

“Geser,” Jinki berdiri di sebelah kursiku, ia menggeserku secara paksa.

“Ya !” teriakku kesal sambil mencekik lehernya. Jinki hanya tertawa sambil memegang tanganku yang masih mencekik lehernya. Aku menurunkan tanganku dan melipatnya di depan dada.

“Kau sangat menyebalkan Jinki,” ujarku. Lagi-lagi ia terkekeh mendengar ucapanku.

“Wajahmu lucu sekali. Tentang hal tadi di café, kenapa kau menolak cintanya huh ?” tanya Jinki tiba-tiba. Aku langsung sedikit kikuk, ia terus menatapku berharap aku menjawabnya.

“Aku tidak menyukainya. Lagipula dia sudah seperti kakakku sendiri,” jawabku sambil memalingkan wajah.

“Gojitmal, wajahmu memerah,” ejek Jinki. Aku menatap Jinki dengan yakin.

“Lee Jinki !!” teriakku. Seisi bus itu langsung menoleh ke arahku dan Jinki.

“Oops,” aku langsung menutup mulutku sendiri. Pabo ! Dia itu artis, tidak mungkin ada yang tidak mengenalnya.

“Haish, ayo kita turun,” Jinki menarik tanganku turun dari bus yang baru saja berhenti lagi.

***

Aku memandangi Jinki yang sedang duduk di sofa. Ia duduk dengan tenang sambil menonton acaranya sendiri. Aku yang sedang berdiri di depan pintu kamar menghampiri Jinki dan duduk di sebelahnya.

“Aku mau pulang,” ujarku. Jinki menoleh cepat ke arahku.

“Kemana ? Apartemenmu ?” tanyanya.

“Anni, ke rumah orang tuaku di Daegu,” jawabku. Jinki menaikkan alisnya, ia merubah posisi duduknya menghadapku.

“Untuk apa ? Baru 3 minggu kau tidak bertemu mereka,” tanya Jinki memastikan. Aku merubah posisi dudukku juga sehingga kami saling berhadapan.

“Aku mau liburan, hitung-hitung menghindar dari wartawan yang selalu mengejarmu,” jawabku sekenanya. Jinki mengeluarkan ponselnya, seperti membaca sesuatu.

“Aku masih ada waktu senggang 3 hari lagi. Setelah itu aku harus mulai shooting we got married,” balas Jinki kemudian kembali memasukkan ponselnya.

“Deal, kita berangkat sekarang juga,” seruku semangat.

“Wae ? Ini sudah malam, ke Daegu itu membutuhkan waktu 5 jam. Kita bisa sampai subuh disana,” elak Jinki. Aku menggeleng menolak alasannya.

“Sekarang. Malah bagus kan kalau kita sampai pagi disana ? Kita masih punya banyak waktu istirahat,” balasku tetap bersikeras.

“Haish, ne princess,” pasrah Jinki sambil mengacak rambutku kasar. Aku tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.

***

Ternyata kami sampai jam 3 pagi di Daegu, perjalanan melelahkan selama 5 jam. Appa masih tidur, jadi hanya eomma yang menyambutku di rumah.

“Kalian tidur di kamar Ji Kyo saja. Pasti kalian belum tidur kan ? Eomma juga harus melanjutkan tidur,” seru eomma sambil menutup mulutnya yang menguap. Aku dan Jinki mengangguk kemudian membawa koper-koper ke dalam kamarku di lantai 2.

Di kamarku ada 1 tempat tidur single bed dan sofa berukuran satu orang di pojok ruangan. Aku dan Jinki saling menatap heran. Eomma tidak bercanda kan menyuruhku tidur satu ranjang dengan namja menyebalkan ini ? Tempat tidur yang hanya untuk satu orang, dan berukuran kecil seperti itu ?

“Malam ini kita tidur berdua ?” tanya Jinki sambil tersenyum nakal. Aku rasa otak mesumnya sudah bekerja lagi.

“Ingat ya namja mesum. Aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu, kau dibawah saja,” jawabku kemudian berlari naik ke tempat tidur. Jinki tidak mau kalah, ia mengejarku dan ikut naik, berdiri di atas tempat tidur.

“Aku diatas, kau dibawah,” serunya sambil melemparkan bed cover yang ada di tempat tidurku ke bawah.

“Sirho, aku yang diatas. Ini kan tempat tidurku,” ujarku menantang. Aku mengacungkan kepalan tangan ke depan wajahnya.

“Tch, kenapa tidak tidur berdua huh ?” tanya Jinki sambil mendekatkan badannya. Aku terduduk di tempat tidur masih terus memandang wajahnya yang semakin dekat. Aku memejamkan mataku berusaha menjauh darinya.

“Aku tidak akan macam-macam. Jadi, kau mau tidur berdua ?” bisik Jinki membuatku sedikit bergidik. Aku membuka mata dan menatap Jinki yang masih berdiri di depanku. Tangannya terjulur ke hadapanku, ia tersenyum sambil memberikan killer wink nya padaku.

“Baiklah, untuk malam ini saja,” jawabku kemudian meraih tangannya.

***

Suara ketukan pintu membuatku terbangun. Aku segera membuka mata, membiarkan udara pagi masuk ke dalam paru-paruku. Tempat tidur yang sempit ini terasa makin sempit. Jinki masih memelukku dengan mata terpejam dan nafasnya yang membelai wajahku.

Aku melepas tangannya dari tubuhku dengan gerak perlahan. Dia pasti lelah menyetir selama 5 jam kesini. Tapi semuanya sia-sia, Jinki terbangun. Ia langsung menatapku yang sudah duduk di samping tempat tidur.

“Morning chagi~” ujarnya berhasil membuat wajahku memanas. Jinki bangkit dari tempat tidur, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Aku beranjak dari samping tempat tidur membuka pintu kamar. Eomma tersenyum, ia memperhatikanku dari bawah sampai atas.

“Kau terlihat berantakan,” seru eomma terkekeh. Aku merapikan rambut, baju, dan letak celanaku yang sudah miring. Tiba-tiba appa muncul dari balik eomma, mereka memasang ekspresi senang tapi terselubung. Terang saja berantakan, tidur berdua di satu ranjang yang sesempit itu.

“Biarkan eomma, maklum pasangan baru,” tambah appa. Eomma dan appa pergi meninggalkanku masih dengan terkekeh. Sedangkan aku ? masih diam di ambang pintu mencoba memproses kata-kata eomma.

“Huh ?” tanyaku bingung. Terdengar suara pintu kamar mandi, Jinki keluar sudah dengan wajah yang segar. Ia merangkul pundakku dengan sebelah tangannya. Kemudian membawaku turun ke bawah untuk sarapan.

Eomma, appa, dan entah sejak kapan Hyunmi juga ada disana. Lagi-lagi mereka tersenyum penuh arti kepadaku dan Jinki. Jinki menarik kursi untukku duduk, ia menarik kursi di sebelahku lalu duduk dengan tenang. Piring di hadapanku sudah terisi nasi goreng kimchi, begitu juga milik Jinki. Suasana sangat hening, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Aku mulai memakan nasi goreng buatan eomma tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Jadi, apa sudah ada tanda-tanda ?” tanya appa memecah keheningan. Aku mendongakkan kepala dari nasi goreng itu. Jinki menatapku heran, aku balas menatapnya heran juga.

“Maksud appa ?” tanyaku. Eomma dan appa saling berpandangan, mereka berdehem. Hyunmi terkekeh kecil.

“Eonni, maksud mereka tanda-tanda bahwa aku akan dapat keponakan dan mereka akan dapat cucu,” Jinki langsung tersedak mendengar penjelasan Hyunmi. Aku hanya bisa diam, menganga mencoba memproses omongannya.

“Ya ! Kau itu pabo sekali Ji Kyo. Apa kau sudah hamil ?” tanya eomma. Kali ini aku yang tersedak, Jinki menepuk-nepuk punggungku.

“B-belum eomma, tapi segera,” jawab Jinki asal. Aku melempar tatapan penuh ancaman padanya. Meja makan langsung riuh mendengar jawaban ragu dari Jinki. Jinki ikut tersenyum, sedangkan aku menelungkupkan kepala ke atas meja makan. Lee Jinki, kau dalam masalah besar sekarang.

***

Eomma, appa, dan Hyunmi sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Arisan, bekerja, dan sekolah. Mereka semua pergi hari ini dari rumah menyisakan aku dan Jinki. Ia terlihat santai-santai saja sambil melihat-lihat koleksi foto keluargaku di ruang tamu.

“Hey lihat. Siapa yeoja berambut keriting ini huh ?” tanya Jinki sambil menunjuk sebuah foto frame. Aku menghampirinya, melihat orang di dalam frame itu. Damn, jangan katakan itu fotoku ketika di TK dulu. Kenapa foto itu masih ada ?

“Itu-itu, fotoku,” jawabku dengan merendahkan kata ‘fotoku’ atau lebih tepatnya berbisik. Aku bisa mendengar suara tawaan Jinki yang tertahan, tapi sesaat kemudian tawaannya menggelegar ke seluruh rumah.

“Ejek terus Jinki,” aku melengos naik ke lantai 2 masuk ke dalam kamar. Suara tawaan itu masih saja terdengar padahal aku sudah menenggelamkan kepala ke dalam bantal. Haish, suara tawaan itu menyebalkan sekali.

Mungkin yang ada di pikirannya sekarang, bagaimana mungkin rambutku yang keriting itu bisa berubah menjadi lurus seperti ini. Sangat panjang ceritanya.

“Ya ! Ji Kyo-ya, jangan marah. Aku hanya tidak menyangka itu kau, kau lucu sekali dengan rambut keriting itu,” ejek Jinki lagi. Aku merasakan hawa seseorang mendekat sampai tempat tidur yang aku naiki bergoyang.

“Terserah, aku tidak mau dengar lagi ejekanmu,” teriakku dari bawah bantal. Jinki mengangkat bantal yang menutupi wajahku, ia tersenyum memamerkan gigi kelincinya.

“Ayolah, aku hanya bercanda. By the way, itu rambut asli atau palsu ?” tanya Jinki lagi. Aku melemparnya dengan bantal, tapi ia berhasil menghindar.

“Na-ga !” teriakku. Jinki keluar dari kamarku masih dengan suara tawa mengikutinya.

Aku berdiri menghampiri meja belajar di sudut ruangan. Membuka laci dan mengambil foto kecilku yang terselip di dalamnya. Anak kecil berambut keriting, aku tidak pernah mau mengingatnya lagi. Semua orang mengejekku karena rambut keriting ini, dan untungnya sekarang rambutku bisa lurus karena bantuan eomma dan teman-temannya.

“Ji Kyo,” panggil Jinki sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Apa ?” tanyaku ketus bersiap-siap melempar frame foto yang kupegang.

“Aigo, aku tidak akan mengejekmu lagi. Ada tamu di depan, aku tidak kenal jadi aku belum buka pintunya,” jawabnya. Aku menaruh frame foto itu lagi ke dalam laci kemudian ikut keluar kamar bersama Jinki.

“Ahjumma, Ahjussi, Hyunmi-ya,” teriak seseorang dari depan rumah. Aku kenal suara itu, Hongki ?

“STOP !” aku merentangkan tangan menghentikan langkah Jinki.

“Itu Hongki, kau tunggu di kamar saja. Biar aku yang menghadapinya,” ucapku semangat. Jinki mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamarku.

Hongki masih mengetuk pintu rumahku. Aku segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Ia langsung berbalik ketika mendengar pintu rumahku terbuka.

“Ji Kyo ? Otte ?” tanyanya bingung.

“Ayo masuk,” selaku sebelum menjawab pertanyaannya. Hongki masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Seperti biasa, rumah ini adalah rumah kedua baginya. Jadi ia bebas melakukan apa saja di rumahku termasuk menginap.

“Aku sedang liburan disini,” jawabku sambil membawa dua gelas air putih ke meja ruang tamu. Hongki langsung menyesap air putih itu sampai habis setengahnya.

“Kemana para penghuni rumah ini ?” Hongki menaruh gelas yang di pegangnya ke meja, ia memutar bola matanya menjelajahi seisi rumahku.

“Mereka semua pergi, aku disini sendirian,” jawabku berusaha setenang mungkin. Ayolah, aku tidak pintar dalam berbohong.

“Jeongmal ? Keurom, aku akan menemanimu seharian disini,” tawar Hongki. Aku menggeleng cepat, ia mengerutkan keningnya heran.

“Aku bisa sendiri, gwenchana. Kau kan tinggal di sebelah, jadi kalau ada apa-apa aku tinggal teriak, hehe,” ucapku sembari terkekeh kecil.

“Hatchii !!” suara bersin itu terdengar dari kamarku. Jinki ! Kenapa dia harus bersin di saat seperti ini ?

-to be continued-

yayay akhirnya bisa dipost

yg part ini agak dipanjangin

comment comment

jangan lupa

2 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s