[FanFic] Still Marry Me !! (Part 3)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“Atau kau memang mau ‘melakukannya’ denganku ?” tanyaku dengan nada nakal. Aku semakin menyudutkannya ke sandaran sofa. Ia memejamkan mata sambil terus memundurkan wajahnya. Aku menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya kemudian mencium keningnya.

BUGH

Sebuah tendangan mulus mengenai perutku. Tubuhku langsung tersungkur ke bawah dari sofa. Ji Kyo menyeringai kecil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ya ! Aku hanya bercanda,” sahutku sambil meringis.

“Sekali lagi wajahmu sedekat itu, bukan tendangan lagi yang mendarat di tubuhmu. Ingat itu Lee Jinki,” tegas Ji Kyo kemudian masuk ke dalam kamar.

***

Manager hyung menjemputku ke gedung apartemen Ji Kyo. Ini hari terakhirku sebelum akhirnya aku harus sibuk menghadiri berbagai acara reality show dan film terbaruku. Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi selama 1 bulan ke depan.

“Aku harus pergi. Jangan macam-macam selama aku tidak ada, jangan ceroboh membicarakan pernikahan kita ke temanmu atau media. Telepon aku kalau ada sesuatu yang mengkhawatirkan disini,” perintahku. Ji Kyo hanya mengangguk malas mendengar persyaratanku.

“Kau ikut dulu, manager hyung mau bertemu denganmu,” ajakku sambil menarik tangannya.

Tepat sebelum turun tangga, manager hyung sedang berdiri di anak tangga teratas. Ia menatapku dan Ji Kyo bergantian kemudian tersenyum.

“Jadi, dia istrimu ?” tanyanya. Kami saling berpandangan lalu mengangguk ragu.

“Cantik, kenalkan aku managernya Jinki. Kau bisa panggil aku Hyung oppa,” tambah manager hyung. Ji Kyo balas membungkukkan badan padanya.

“Dia tahu tentang pernikahan sementara kita ?” bisik Ji Kyo.

“Tentu saja, aku minta izin padanya sebelum buat gossip ini,” jawabku dengan berbisik juga. Ji Kyo membulatkan bibirnya.

“Ayo berangkat Jinki. Acara itu sudah tidak bisa menunggu lagi,” seru manager hyung. Aku melepaskan tanganku yang ternyata masih memegangi tangan Ji Kyo. Aku membuka dompet dan memberinya selembar foto selca milikku.

“Igeo,” ujarku sambil menyerahkannya pada Ji Kyo. Ia menautkan alisnya heran.

“Untuk ?” tanyanya.

“Kau pasti akan rindu padaku. Lihat foto ini oke ?” jawabku sambil menyerahkan foto itu ke tangannya.

“Ne ne, aku simpan foto ini. Akan aku taruh di dompet,”  balasnya sambil menaruh foto itu ke sakunya.

“Oke, annyeong,”

Aku mengikuti manager hyung yang sudah menuruni tangga. Sebelum belok ke tangga yang rendah, aku menoleh pada Ji Kyo dan tersenyum. Ia balas dengan senyum dengan lambaian tangan.

***

Gedung SBS TV penuh dengan wartawan dan juga orang-orang yang sepertinya fansku. Tentu saja fans yang masih setia walaupun aku sudah menikah. Hal yang paling kubenci dari wartawan, mereka selalu mengikutiku padahal kemarin sudah aku bilang akan aku jelaskan di konferensi pers nanti.

Aku turun dari mobil manager hyung. Para bodyguard yang ada langsung melindungiku dari para fans yang menyerbuku. Salah satu wartawan menarik perhatianku, ia yang menanyakan tentang hal kurang ajar kemarin. Aku melihatnya sedang menelepon di depan pintu masuk gedung. Aku segera mempercepat langkahku masuk ke dalam gedung.

“Ne Ji Kyo-ya, aku segera kesana,” ucapan wartawan itu menghentikan langkahku. Aku menatap wartawan itu penuh selidik. Kenapa dia bisa kenal Ji Kyo ? Mungkin hanya perasaanku saja.

Wartawan itu balas menatapku masih dengan ponsel yang menempel di kupingnya. Aku memalingkan wajah kemudian meneruskan jalanku masuk ke dalam gedung.

Acara dimulai 30 menit lagi, aku baru saja datang dengan wajah lusuh dan baju yang biasa. Para kru backstage sibuk memoles wajahku, dan yang lainnya sibuk memilih baju yang cocok untukku. Setelah selesai berganti baju, rambutku langsung di mainkan (?) oleh hairstylish yang memang biasa mengurus rambutku.

“Sudah selesai. Ayo cepat, acara dimulai 5 menit lagi,” serunya. Aku keluar dari ruang backstage menuju studio 2B tempat acara berlangsung. Tapi seorang wanita berhasil membuat langkahku terhenti. Ia berdiri tepat di depanku, menatapku dengan tatapan goddess-nya.

“Lee Jinki, jadi ini artis yang sudah menikah tiba-tiba dan menghilangkan harapanku untuk jadi kekasihmu huh ?” tanyanya. Aku menggaruk-garuk kepalaku sendiri yang tidak gatal. Wanita ini, aku sampai lupa kalau aku sedang dekat dengannya. Pabo-ya ! kau yang memulai hubungan ‘pendekatan’ ini Jinki.

“Sebesar itukah harapanmu ? Kita masih bisa meneruskan hubungan ini kalau kau mau,” tawarku.

“Tch, aku bukan wanita perusak rumah tangga orang. Memangnya kita punya hubungan apa ? Pacaran ? Tidak kan ? Kalau kau mau dekati aku lagi, putuskan hubunganmu dengan wanita itu dulu,” Gyuri melengos melewatiku yang masih diam mematung. Aku menyukainya sejak kami main sebuah drama. Sejak itu aku berusaha mendekatinya, sering mengajaknya mengobrol, mengajaknya pergi walaupun hanya bisa berkeliling dengan mobil. Aku suka dengan kebaikannya, tapi terkadang wajah goddess-nya membuat ia terlihat sombong.

“Lee Jinki ! Ayo cepat, acaranya akan segera dimulai,” teriak salah satu kru. Aku segera tersadar dan berlari ke arah pintu tempat kru itu menyembulkan kepalanya.

– — – –

Ji Kyo POV

Sesudah Jinki berangkat, aku memutuskan jalan-jalan keluar daripada diam di apartemen sendirian. Biasanya kalau aku sedang kesepian Soori ahjumma yang biasanya menemaniku. Ah iya, mungkin Hongki bisa menemaniku.

Aku menelepon Hongki, menyuruhnya menemaniku jalan-jalan di Seoul. Awalnya ia menolak, tapi setelah aku memohon dia akhirnya luluh juga. 15 menit kemudian ia datang dengan senyum mengembang di bibirnya. Aku yang sedang duduk di kursi taman langsung bangkit menyambutnya.

“Haish, kau masih pendek ternyata,” ejek Hongki sambil menyentuh kepalaku dengan tangannya.

“Ya ! Baru datang langsung mengejekku. Aku tambah tinggi 3 senti jadi 162, haha,” jawabku sambil terkekeh kecil. Ia tersenyum kemudian merangkul pundakku.

“Masih tetap pendek. Sudahlah, kajja,” ia menarik pundakku mengikuti langkahnya. Sifatnya masih sama seperti dulu, ia masih tidak peduli, kasar, dan sedikit lembut.

Aku menggandeng tangannya melewati setiap deretan toko yang ada. Setiap toko yang menarik selalu kami masuki dan mencobanya satu-satu. Terakhir kali kami seperti ini 2 tahun yang lalu saat kelulusan SMA.

“Ji Kyo-ya, kau tidak lapar ?” tanyanya. kami masih jalan di sekitar area pertokoan pinggir jalan.

“Lapar, kau mau makan ?” tanyaku balik. Ia mengangguk kemudian tiba-tiba menarik tanganku masuk ke sebuah restoran. Ia memesankan ku satu porsi chicken steak lengkap dengan minumannya, sedangkan Hongki memesan makanan lainnya. Ternyata dia masih ingat makanan kesukaanku.

“Hei, jangan bengong,” seru Hongki sambil menyentil puncak kepalaku. Aku tersadar dan menatapnya yang duduk di hadapanku.

“Anni, aku hanya seperti mimpi bisa bertemu denganmu lagi. Secara tidak sengaja di tengah malam, di kedai pinggir jalan, di Seoul pula. Jalan-jalan seperti ini, aku jadi ingat 2 tahun yang lalu,” ujarku menopangkan dagu di atas meja. Ia mengikutiku menopang dagu sehingga wajah kami berhadapan.

“Ne aku juga. Ah iya, tadi ada kejadian aneh,” serunya menurunkan tangan dari atas meja.

“Mwoya ?” tanyaku penasaran.

“Lee Jinki, actor itu. Tadi saat kau meneleponku, aku tengah berdiri di depan pintu masuk gedung SBS TV. Ia datang dengan buru-buru masuk ke dalam gedung, tapi ketika aku memanggil namamu, dia langsung menoleh dan menatapku heran. Apa kau kenal dengannya ?” pertanyaan Hongki membuatku sedikit gugup. Aku mencoba setenang mungkin menjawab pertanyaannya.

“Kenal dengan artis ? Tentu saja tidak, seharusnya kau yang kenal dia. Aku hanya sekedar fans biasa,” jawabku sambil sedikit tersenyum.

“Ah ne, keuraeyo,” balas Hongki masih dengan wajah heran. Aku hanya bisa menghela napas lega, dia tidak curiga denganku.

***

Hongki mengantarku sampai ke depan gedung apartemen. Ia menatap heran ke sekeliling gedung yang masih berdiri beberapa wartawan yang masih menunggu kedatangan Jinki. Ia melepas tangannya yang merangkul pundakku.

“Kau satu gedung apartemen dengan Jinki ? Kenapa kau tidak bilang ?” tanyanya. Aku menelan ludahku sendiri, aku lupa kalau dia wartawan.

“N-ne, waeyo ?” tanyaku pura-pura heran.

“Apa kau tahu di apartemen nomor berapa ? Apa kau pernah melihat istrinya ? Haish, aku penasaran sekali dengan berita ini,” jawab Hongki sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Aku ? Aku tidak pernah melihatnya keluar apartemen,” elakku. Hongki melepas rangkulannya dan berdiri di hadapanku.

“Sudah, masuk sana. Aku harus cari berita itu lagi,” perintahnya. Aku mengangguk ragu kemudian masuk ke dalam gedung.

Hongki sedang berusaha menyelidiki Jinki. Aku harus lebih hati-hati sekarang berbicara dengannya. Haish, aku jadi pusing sendiri.

***

Sudah hampir 1 minggu Jinki pergi dari apartemenku. Dan aku merasa kesepian karena tidak ada yang bisa menghiburku. Hongki sibuk dengan urusannya mencari informasi tentang Jinki. Apa iya aku harus menelepon ahjumma. Tidak mungkin kan.

Aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar gedung apartemen. Karena jarak gedung apartemenku dengan gedung apartemen Jinki tidak jauh, aku mau mencoba melihat-lihat di sekitar sana.

Di halamannya banyak yeoja yang sedang duduk-duduk sambil memegangi kipas bertuliskan ‘Jinkilicious’. Mereka berkerumun bersama beberapa wartawan yang juga para yeoja. Aku menghampiri mereka dan menatapnya satu per satu.

“Kau fans Jinki juga ?” tanya salah satu dari mereka.

“Eh ?” jawabku bingung. Yeoja itu menarik tanganku duduk di sebelah mereka, kemudian memberiku satu kipas yang di pegangnya.

“M-mian, tapi aku hanya-,” yeoja itu menaruh telunjuknya di bibir sambil menganggukkan kepalanya ke arah sebuah van yang baru datang. Yeoja-yeoja ini langsung berhambur mengerubungi van itu. Sedangkan aku masih duduk memandangi kipas yang ku pegang dan juga van itu.

Tak lama kemudian sebuah sosok keluar dari van itu dengan kacamata bertengger di matanya. Ia dijaga ketat oleh security memasuki gedung apartemen. Tapi pandangan sosok itu terhenti padaku. Ia menghentikan langkah dan membuka kacamata hitamnya. Aku melambaikan kipas yang kupegang, Jinki tersenyum kemudian masuk ke dalam gedung apartemen.

Sesaat kemudian yeoja-yeoja itu kembali ke tempatnya. Mereka mengeluh karena tidak bisa memastikan berita pernikahan Jinki. Ada juga yang mengeluh karena tidak bisa memiliki Jinki lagi. Sesaat kemudian ponselku berdering, aku membaca nama yang tertera. Jinki ? Aku menjauh dari kerumunan yeoja itu.

“Wae ?” tanyaku ketika mengangkat teleponnya.

‘Cepat masuk ke apartemenku sekarang. Nomor 1214, palli-wa,’ perintah Jinki begitu saja.

“Ne-ne, aku masuk sekarang,” jawabku pasrah.

Aku memandangi ekspresi gerombolan yeoja itu. Mereka mengipas-ngipaskan kipas itu ke leher sambil menatap langit yang semakin terik. Aku mencoba menghiraukan mereka dan masuk ke gedung apartemen.

“Ya !” salah satu yeoja itu memanggilku. Aku berbalik pada mereka sambil terus tersenyum sewajar mungkin.

“Mau kemana kau ? Fans Jinki oppa tidak boleh masuk kesana oleh security,” teriak mereka karena jarak yang cukup jauh. Aku menaruh kipas yang kupegang ke atas tempat sampah.

“Aku bukan fans, aku penghuni apartemen ini,” jawabku asal kemudian masuk ke dalam.

Pintu lift terbuka di lantai 12, aku melongokan kepalaku mencari deretan nomor 1214. Aku melangkahkan kaki keluar belok ke koridor kanan. Deretan nomor 1200. Satu pintu, 2 pintu, tiba-tiba seseorang menutup mataku dari belakang. Aku meraba tangan yang menutup mataku.

“Lee Jinki,” tebakku. Orang yang menutup mataku malah terkekeh kemudian menurunkan tangannya. Aku berbalik sambil berkacak pinggang ke arahnya.

“Ya ! Kau hampir membuat jantungku lepas,” gerutuku. Jinki meredakan tawanya, ia merangkul pundakku lembut dan membawaku masuk ke dalam apartemennya yang ternyata ada di koridor sebelah kiri.

Ia mendorongku masuk. Aku langsung melihat sekeliling apartemen yang lebih besar 3 kali lipat dari apartemen yang aku tempati sekarang. Aku terus memutar bola mataku untuk melihat seluruh isi apartemen ini. Jinki melihatku heran yang masih berdiri di belakang pintu.

“Ya ! jangan norak seperti itu. Ayo masuk,” ujarnya. Aku mulai melangkahkan kakiku masuk, tapi pandanganku tak henti-hentinya mengangumi isi apartemen Jinki. Barang-barang mewah, foto-fotonya yang terpajang dimana-mana, dan satu hal lagi semuanya berwarna hitam putih, warna kesukaanku.

Jinki masuk ke kamar, tak lama kemudian ia keluar dengan baju yang lebih bagus dan membawa sebuah baju juga di tangannya.

“Igeo,” ia melempar baju itu ke tangkapanku.

“Ige mwoya ?” tanyaku bingung sambil memandang baju yang baru saja ia lemparkan.

“Ayo kita jalan-jalan,” jawabnya. Aku menatap Jinki heran, ia hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

“Huh ? Aku bisa dibunuh para fansmu yang ada di depan. Sirheunde,” balasku sambil melempar baju itu ke atas sofa.

“Anni, kita berdua akan pakai masker dan kacamata hitam. Ottokhae ? Bisa-bisa wartawan curiga karena kita tidak pernah jalan berdua,” tambah Jinki. Ia menatapku dengan jarak wajah yang sangat dekat. Aku mengangkat tanganku menyuruhnya mundur. Ia mengerti dan segera memundurkan wajahnya.

“Oke, aku akan menuruti keinginanmu. Ah iya, kau boleh pegang tanganku selama jalan-jalan diluar. Tapi hanya untuk memancing wartawan, tidak lebih,” syaratku. Jinki hanya bisa mengangguk, aku tidak yakin ia mendengarkanku.

***

“Err, apa kau yakin dengan baju ini ? Menurutku ini terlalu pendek,” tanyaku sambil menarik-narik bawah bajuku agar menutupi pahaku. Jinki yang sedang duduk di sofa menoleh padaku yang baru keluar dari kamarnya. Jujur, aku tidak pernah pakai baju dress di atas lutut. Aku lebih sering pakai celana atau dress yang pas di lutut. Jinki tersenyum kemudian menggeleng.

“Kau cantik. Jangan ditarik-tarik seperti itu, nanti bajunya rusak,” seru Jinki sambil berjalan mengahampiriku. Ia menyodorkan masker dan kacamata hitam ke hadapanku. Aku mengambilnya, memakainya dengan cepat.

“Kau tidak pakai masker juga ?” tanyaku ketika melihatnya malah sibuk merapikan baju.

“Kalau aku pakai masker juga, mereka tidak akan tahu siapa aku. Kajja,” Jinki langsung menarik tanganku keluar apartemen.

Jantungku berdegup tidak karuan. Bagaimana kalau para ‘Jinkilicious’ itu menyerangku. Aish, aku tidak bisa membayangkan mereka mencakar wajahku, menjambak rambutku, atau bahkan memukulku. Haish, tidak tidak.

“Ya ya ! Kenapa menggeleng-gelengkan kepala huh ?” tanya Jinki ketika kami sampai di lift. Aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaannya.

Lift sampai di lantai paling bawah. Tatapan para pengunjung di lobby langsung terarah padaku dan Jinki. Oh, ini hotel atau apartemen ? Kenapa lobby nya ramai sekali ? Bagaimana kalau mereka tahu siapa aku. Oke, tenang Ji Kyo, kau aman bersama Jinki. Dia tidak akan membiarkan identitasmu terbongkar.

Kami sampai di depan pintu gedung apartemen. Ketika pintu terbuka, para yeoja yang tadi duduk langsung berdiri dari tempatnya. Mereka menatapku tidak percaya, salah satu yeoja itu membanting kipas yang di pegangnya. Ia berlari ke arahku dengan kesal, tapi para security langsung mencegahnya.

“Kau ! Wanita murahan ! Berani-beraninya mengambil Jinki dari kami !” teriak yeoja itu. Aku menundukkan kepala mencoba tidak mendengarkannya.

“Jangan di dengar. Ayo,” Jinki kembali menarik tanganku. Ia membukakan pintu mobilnya sambil tersenyum.

Tidak ada pembicaraan antara aku dan Jinki di dalam mobil. Ia menyetir mobil sambil sesekali menyanyi dengan suara pelan. Aku meliriknya dari balik kacamata hitam yang kupakai. Ia sepertinya sadar dan langsung memberhentikan nyanyiannya.

“Wajahmu aneh. Kacamata dan masker itu tidak cocok, wajah cantikmu jadi tidak terlihat,” serunya. Wajahku langsung memanas seketika, cantik ?

“Tch, cantik ? Sedang merayuku Lee Jinki ?” ejekku. Ia terkekeh kemudian mengacak rambutku kasar.

“Sebenarnya aku lebih suka kau tidak pakai seperti itu. Tapi aku masih menghargai keputusanmu untuk tidak tampil di depan public. Aku masih berhutang karena kau sudah mau terlibat dalam masalahku,” ujar Jinki sambil menatap jalanan di depannya.

Aku tersenyum, dan untungnya masker ini menutup semua ekspresiku. Jadi dia tidak akan tahu wajahku memblushing karena ucapannya.

“Ireon !” aku memukul sedikit lengannya. Jinki memegang tangan kiriku dengan tangan kanannya. Ia menggenggam tanganku erat.

“Ya !” aku menarik tanganku. Hampir saja jantungku lepas karena perlakuannya. Ji Kyo, kau tidak boleh termakan rayuan Jinki, dia pasti melakukan hal itu ke setiap wanita yang dekat dengannya. Tahan dirimu, tahan dirimu Ji Kyo.

***

Beberapa jam setelah kami berjalan-jalan, situs-situs internet sudah memuat berita tentang aku dan Jinki. Foto-foto dari para fans yang berhasil mereka ambil, atau bisa disebut stalking photo. Para fans itu mengikuti kami, memfoto setiap gerak-gerik dan tempat yang kami kunjungi.

“Sudah ada beritanya ?” tanya Jinki yang baru datang dari dapur. Aku yang sedang membaca berita di notebook Jinki menoleh ke arahnya. Ia menyodorkan segelas wine, tapi aku menolaknya. Aku tidak terbiasa minum minuman asing seperti itu.

“Newsen, Daily News, Naver, Asia10, semuanya memuat berita kita. Ini pertama kalinya kau terlihat jalan berdua dengan istrimu. Mereka semakin penasaran siapa dia sebenarnya,” jawabku. Jinki meminum wine yang dipegangnya sambil membaca komentar-komentar berita itu.

“Istriku itu kau. Haish, kenapa perutku tiba-tiba sakit. Aku ke kamar mandi dulu,” Jinki menaruh wine yang dipegangnya kemudian berlari masuk ke kamar.

Aku kembali membuka situs Naver, tidak sengaja di halaman depan situs itu ada berita Jinki juga. Bukan tentang pernikahan, tapi hubungannya dengan seorang anggota girlband bernama Park Gyuri. Aku membuka berita itu dan membacanya dengan teliti.

We Got Married ? Jinki dengan wanita ini akan ikut acara reality show we got married ? Kenapa jantungku berdetak tidak karuan seperti ini, dan kenapa juga udara menjadi panas huh ?

-to be continued-

asli, yang part ini gaje ya ? ㅋ ㅋ ㅋ ㅋ

ayo ayo comment

jangan lupa

5 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 3)

  1. Kasihan s’x ji kyo.. Ckck

    Yah npha jinki ikut WGM, emm ji kyo kya.a cemburu ntu pas tau jinki bkal ikut WGM.. #sok tau

    Sprti.a konflik.a dah mlai nih.. Gyuri yeoja yg prnah PDKT sm jinki kn ??
    Sprti.a begtu # jwb prtnyaan sndiri

    next part..

  2. hhuah kayak nya ji kyo udah mulai suka tuh ama jin ki oppa…kasihan ji kyo hrus trlibat dlam masalah itu….tapi ngg pa” lah…aq sngat suka…next part,,:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s