[FanFic] Still Marry Me !! (Part 2)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA), Lee Hongki

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

“Baiklah, aku langsung menerimamu. Tapi maukah kau menikah dengan anakku ?” tanya appa lagi. Aku melirik ke arah Jinki, ia tersenyum penuh kemenangan. Oh god, tolong aku.

“Ne, aku akan menikahinya,” jawab Jinki. Aku langsung pasrah begitu saja. Aku sudah salah meminta tolong pada orang ini.

“Kalau begitu eomma dan appa pulang. Kabari kami kalau kalian sudah menikah,” seru appa sambil menepuk pundak Jinki. Appa dan eomma berbalik sambil melambaikan tangannya. Mereka masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankannya menjauh dariku dan Jinki. Seketika itu juga aku langsung melepaskan tanganku yang masih memegangi tangannya.

“See ? mereka sudah menyetujui hubungan kita. Jadi, kapan kita menikah ?” tanyanya dengan senyum mesum di bibirnya. Aku memukul kepalanya dengan keras.

“Aku sudah salah minta tolong padamu,” ujarku sambil mengerucutkan bibir.

“Wae ? Besok lusa kita menikah, jangan menolak lagi. Minggu depan aku harus sudah pulang ke Seoul,” balasnya. Jinki mematikan selang air dan masuk ke dalam rumah ahjumma. Sebelum masuk ia berbalik kemudian mengedipkan sebelah matanya.

What the ?! Niatnya menghindar dari pernikahan, tapi aku malah mempercepat masuk ke dalam jurang yang sudah aku buat sendiri.

– — – –

Jinki POV

Dengan mudahnya aku dapat restu dari kedua orangtua Ji Kyo. Karena kedua orang tuanya, aku jadi menikah dengan Ji Kyo. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

“Ya ! Buka pintunya,” Ji Kyo menggedor pintu rumah ahjumma. Aku yang masih berdiri di belakang pintu langsung membuka pintunya.

“Wae ?” tanyaku.

“Apa alasanmu mengajakku menikah,” tanyanya sambil berkacak pinggang.

“Hmm, karena aku mencintaimu ? Tentu saja tidak. Aku menikah hanya untuk membuat berita heboh supaya karirku bisa naik lagi. Dan kau, bisa bebas dari perjodohan itu kan ?” tawarku.

“Baiklah, aku mau menikah denganmu, dengan beberapa syarat,” ujarnya.

“Apa ?” Ji Kyo mengacungkan telapak tangannya.

“1. Tidak ada tinggal di dalam satu kamar, 2. Jangan umumkan ke public karena aku masih mau hidup, 3. Pernikahan ini hanya sementara, 4. Kalau aku sudah menemukan cinta sejatiku, kita berpisah, 5. Tidak ada cium di pernikahan nanti,” jawab Ji Kyo sambil melipat jarinya satu per satu.

“Ne, araseo. Sudah, aku mau siap-siap untuk pernikahan kita,” aku mengacak rambutnya lembut kemudian masuk ke dalam. Apa syaratnya tadi ? Aku hanya ingat yang terakhir saja.

***

Hari pernikahan pun tiba. Selama di mobil menuju tempat pernikahan jantungku berdegup sangat cepat. Aku akan mengucap janji, yang mungkin tidak bisa melaksanakannya. Hanya ada ahjumma, dan kedua orang tua Ji Kyo yang hadir. Uuh, kenapa aku tidak bisa tenang sih ?

Pengucapan janji selesai, aku dan Ji Kyo saling berhadapan. Ji Kyo menunduk menghindari tatapanku. Tapi aku segera mengangkat dagunya, menatap kedua matanya.

“Jangan cium aku atau kau mati,” bisik Ji Kyo. Aku mengangguk mengerti.

Aku mendekatkan wajahku sendiri. Aku memejamkan mata sambil menarik dagu Ji Kyo mendekat, membiarkan nafasnya terasa di bibirku. Aku kembali membuka mata dan melihat wajahnya yang sangat dekat.

“Mian Ji Kyo,” ia membuka matanya, dengan segera kukecup bibirnya. Disaat yang sama ahjumma memfoto dengan kamera ponselku. Ji Kyo langsung mendorong tubuhku dan menutup bibirnya. Aku tersenyum puas karena sudah bisa membuat wajahnya semerah tomat seperti itu.

“Ayo foto lagi,” aku merangkul Ji Kyo. Eomma, dan appa Ji Kyo tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ahjumma mengacungkan jempolnya pertanda siap memfoto.

“Senyum,” perintahku. Ji Kyo tersenyum, blitz dari kamera ponselku mengakhiri acara ini. Akhirnya pernikahan ini berlangsung lancar.

***

Semua baju-bajuku dan baju Ji Kyo sudah di pack ke dalam beberapa koper. Sekarang kami siap berangkat ke Seoul dengan status baruku dan gossip yang akan menggemparkan. Aku membungkuk pada ahjumma dan kedua orangtua Ji Kyo. Ji Kyo membungkukkan badan juga.

“Jaga Ji Kyo baik-baik. Ahjumma percaya kau bisa menjaganya,” pesan ahjumma. Aku mengangguk menyanggupi persyaratan ahjumma. Awalnya dia kaget karena aku baru saja kenal dengannya, tapi dia setuju karena aku mengatakan aku sangat mencintainya. Sangat ? Ah, ada rasa pun tidak dengan yeoja ini.

“Jangan lupa sering datang ke rumah eomma dan appa ya,” pesan kedua orangtuanya juga. Aku mengangguk lagi sambil mendekatkan badan Ji Kyo agar kami terlihat mesra.

“Ne, appa, eomma, ahjumma. Aku pergi dulu,” balas Ji Kyo. Aku membukakan pintu mobil, Ji Kyo tersenyum kemudian masuk ke dalam. Aku memutar dan masuk ke bagian supir. Sebelum pergi, aku melambaikan tangan pada mereka semua.

Aku mulai menjalankan mobil meninggalkan ketiga orangtua itu. Aku melirik Ji Kyo yang duduk di sebelahku. Ia menepuk pundaknya menghapus bekas rangkulanku tadi.

“Kau memang cari mati Jinki. Satu syarat lagi, tidak ada rangkul-rangkulan,” serunya. Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya. Sepertinya dia ingat kejadian cium tadi, wajahnya bersemu lagi.

“Jangan tertawa, kau sudah merebut first kiss ku,” tambahnya. Aku segera menghentikan mobilku sebelum masuk ke jalan tol. Mengeluarkan ponselku, melihat foto ketika pernikahan tadi.

Aku mengedit foto itu, memblur wajah Ji Kyo saat kami berciuman. Aku semakin memperjelas lekuk wajahku agar terlihat meyakinkan.

“With my new wife, I was very happy in this moment. Upload to mini hompy,” aku menyentuh tulisan di bawahnya. Ji Kyo yang sepertinya sadar dengan ucapanku langsung merebut ponselku. Sayang, fotonya sudah terupload.

“Ya ! Aku bilang jangan umumkan pada public,” serunya sambil mencari-cari foto itu. Aku kembali merebut ponselku dan memasukannya ke dalam saku.

“Aku menikah denganmu hanya untuk membuat kontroversi saja. Wajahmu sudah aku blur sehingga orang-orang tidak tahu wajahmu,” jawabku sambil melanjutkan perjalanan.

Sebentar lagi, sebentar lagi akan banyak telepon masuk ke dalam ponsel manager hyung. Aku sudah memberitahu hal ini jadi dia sudah mempersiapkan semuanya. Semoga manager hyung puas dengan ideku.

***

Di depan gedung apartemenku, banyak wartawan tengah berkerumun menungguku. Ji Kyo yang melihat hal itu langsung bergidik. Sangat banyak wartawan yang berkumpul.

“Kita cari apartemen untukmu,” ujarku kemudian menjalankan mobil.

“Untukku ? Kita tinggal terpisah ?” tanyanya heran.

“Kau yang mengajukan syaratnya. Aku masih menghargaimu,” jawabku sambil menatap kedua matanya.

Aku memberhentikan mobil di depan gedung apartemen yang tidak jauh dari gedung apartemenku. Memang sederhana, tapi ini lebih aman agar wartawan tidak curiga.

Ji Kyo turun dari mobil memasuki gedung itu. Aku mengeluarkan koper Ji Kyo, dan satu koper kecil milikku. Aku memakai penyamaran lengkap, penyamaranku berhasil karena penjaga di gedung itu tidak menyadari siapa aku. Satu apartemen berukuran 10×10 meter. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk Ji Kyo.

“Haish, aku capek,” Ji Kyo membanting tubuhnya ke atas sofa. Sofanya pun hanya berukuran untuk 2 orang.

“Aku tinggal disini sementara sampai wartawan itu pergi, atau mungkin sampai managerku menelepon,” ujarku sambil ikut duduk di sebelahnya.

“Ne, terserah. Ini apartemenmu juga,” balasnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata sambil menghela napas panjang.

“Mianhae, aku memanfaatkanmu. Aku egois sampai harus mengabaikan perasaanmu, mianhae,” aku menoleh ke arahnya. Tapi tubuhnya terkulai ke bahuku, nafasnya sudah teratur dan dia tertidur.

***

Suasana di depan gedung apartemen manager hyung juga ramai dengan para wartawan. Ponselku mati, dan tidak ada kabar darinya. Aku memutuskan untuk masuk walaupun mendapat beribu pertanyaan dari mereka.

Aku turun dari mobil, para wartawan itu langsung mengerubungiku dan menyerbu dengan lampu blitz kamera yang mereka bawa. Kamera, microphone, semuanya menghalangi jalanku sampai langkahku pun terasa berat. Ditambah lagi langit yang gelap karena sudah hampir malam, lampu blitz itu sangat menyakitkan.

“Apa benar anda sudah menikah ? Apa alasan anda menikah begitu saja dengan seorang gadis ? Apa dia kekasihmu selama ini ? Apa kau tidak takut kehilangan para fansmu ? Apa dia dari kalangan artis juga ?” tanya mereka bertubi.

Aku tidak menjawab dan menerobos kerumunan wartawan itu. Dengan segera aku melewati mereka semua, masuk ke dalam lift yang saat itu terbuka.

Tiba-tiba ponselku berdering, tertera nama manager hyung di layarnya. Aku menghela napas lega dan segera mengangkatnya.

‘Aku tunggu di apartemenku, palli-wa !’ manager hyung langsung menutup teleponnya.

Sesaat kemudian lift sampai di lantai 10. Aku langsung berlari depan pintu apartemennya. Sesaat kemudian setelah aku menekan belnya, manager hyung membuka pintu sambil menyembulkan kepalanya.

“Ya ! Ayo cepat masuk,” perintahnya. Aku segera masuk ke dalam. Manager hyung duduk di sofa sambil menunjukkan I-pad yang di pegangnya. Ia membuka sebuah situs yang menampilkan fotoku bersama Ji Kyo. Foto yang aku upload ke mini hompy tadi.

“Lihat reaksi netizen dan para fansmu,” serunya lagi. Aku mendekatkan wajahku ke layar I-pad itu.

“70% netizen dan para fans mendukung pernikahanmu yang tiba-tiba. Sisanya membashing, mengejek, bahkan ada yang sampai tidak mau menjadi fansmu lagi. Ada juga yang mengancam akan membunuh istrimu itu,” jelas manager hyung. Aku langsung bergidik melihat komentar-komentar itu.

“Kau tahu ? Karena berita ini, hari ini aku dapat telepon dari banyak sekali acara reality show dan wawancara. Mulai hari ini jadwalmu akan padat Jinki,” tambahnya.

“Sangat padat ? Apa aku masih bisa bertemu istriku hyung ?” tanyaku.

“Mungkin,”

“Huh ?”

– — – –

Ji Kyo POV

Aku membuka mata perlahan. Mimpi, aku berharap kalau pernikahan ini hanya mimpi. Aku belum mau menikah, apalagi dengan namja bernama Jinki itu. Aku mohon, buatlah kejadian hari ini hanya sebuah mimpi.

Aku menoleh ke samping, tubuhku sudah ada di atas tempat tidur. Seingatku tadi aku tidur di sofa. Dasar namja aneh, dia menikah hanya untuk meningkatkan popularitasnya. Untung saja dia mau menerima semua persyaratan yang aku ajukan.

Di atas meja kecil di samping tempat tidur, ada sebuah catatan kecil dengan foto Jinki terselip disana. Dia menulisnya dengan tinta berwarna-warni dengan banyak tanda hati di setiap sudut kertas. Aku tertawa sendiri melihatnya. Aku memiringkan badan untuk meraih kertas itu, tapi ketika hendak bangun kepalaku malah terbentur lampu meja.

“Aww,” aku meringis sambil mengusap kepalaku. Aku membaca pesan yang tertulis.

‘Aku akan sibuk sekarang. Jadi jangan tunggu, telepon ataupun cari masalah. Kecuali menyangkut tentang rahasia identitasmu, cepat hubungi aku. +82-6753xxx’

Aku kira dia menulis sesuatu yang romantis, ternyata hanya pesan tidak penting. Siapa juga yang mau menunggu dia. Malah aku berharap dia tidak usah kembali.

Aku menyalakan TV di apartemenku. Ketika menyalakannya, sebuah iklan membuatku terpaku sejenak. Jinki mengedipkan sebelah matanya di iklan itu. Entah kenapa dia terlihat, mempesona ? Ah no, itu hanya halusinasi karena kau baru bangun tidur Ji Kyo. Aku melirik ke arah jam dinding, sudah jam 2 pagi. Aku tidur cukup lama, dan pasti tidak akan bisa tidur sampai pagi.

“Aduuh, lapar,” keluhku. Aku baru ingat kalau aku belum sempat beli bahan makanan. Mungkin masih ada restoran atau supermarket yang masih buka.

Aku keluar dari apartemen. Berjalan-jalan di pinggir jalan yang sudah sangat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, dan kedai tempat mabuk-mabukan. Pandanganku tertuju pada sebuah warung makan pinggir jalan yang menjual berbagai macam makanan khas korea. Aku menghampiri warung itu, dan langsung memilih-milih makanan yang ada.

“Aku mau ini satu,” aku menunjuk sebuah mangkuk yang berisi ttukbeogi. Ahjumma itu memasukkannya ke mangkuk dan menyodorkannya padaku.

“Kamsahamnida,” balasku sambil menerimanya. Aku duduk di kursi yang ada, sesaat kemudian seorang namja masuk sambil mengalungkan kamera di lehernya. Namja itu berambut hitam dan memakai kacamata tipis bening.

“Aku mau gimbap satu porsi,” ujarnya kemudian duduk di sebelahku. Aku menggeser posisi dudukku menjauh darinya. Namja itu memperhatikanku dari atas sampai bawah, membuatku sedikit salah tingkah.

“Ji Kyo ?” tanya namja itu. Aku menoleh padanya sambil mengangguk ragu. Aku balas menatapnya, menyelidik pandangan matanya.

“Hongki ?” tanyaku balik. Namja itu tersenyum senang dan langsung memelukku begitu saja.

“Bogoshipeoyo !!” teriaknya. Aku balas memeluknya dengan friendly.

“Ya ! Kemana saja kau huh ? Pindah rumah tiba-tiba tanpa pamitan padaku,” seru Hongki sambil melepas pelukannya.

“Mianhae, aku memutuskan tinggal sendiri untuk menghindar dari perjodohan eomma. Baru 2 tahun aku pindah, aku sudah hampir lupa dengan wajahmu,” balasku terkekeh. Hongki tersenyum senang sambil mengacak rambutku kasar.

“Lagi pula kenapa kau harus pakai kacamata ? Aku sampai tidak kenal,” tambahku. Hongki melepas kacamatanya dan melipatnya di kerah baju.

“Aku jadi wartawan sekarang, jadi mau tidak mau harus pakai kacamata. Katanya supaya wajahku tidak mudah di kenali orang atau para artis yang aku liput,” jawabnya. Aku manggut-manggut sambil terus memandang wajahnya.

“Baguslah, akhirnya cita-citamu tercapai. Ah iya, sedang sibuk apa sekarang ? Sudah hampir pagi kau masih berkeliaran di luar” tanyaku berbasa-basi.

“Aku sedang menunggu di depan gedung apartemen seorang actor bernama Lee Jinki. Tentang berita pernikahannya yang menyeruak secara tiba-tiba, aku sedang menunggunya pulang,” jawaban Hongki berhasil membuatku tersedak. Aku langsung meminum air yang ada di hadapanku. Ia memandangku heran sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Uhuk uhuk,” aku memukul-mukul dadaku sendiri.

“Kau juga, kenapa masih berkeliaran di luar jam segini ?” tanyanya.

“A-aku ? Ah, aku lapar. Di apartemen tidak ada makanan jadi aku keluar,” jawabku sambil terkekeh kecil. Hongki mengangguk kemudian menyuapkan sepotong gimbap ke mulutnya. Aku langsung memalingkan wajahku. Jinki belum pulang ? Kemana dia.

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat nama yang tertera, tidak ada namanya. Tapi sepertinya aku kenal nomor ini.

“Yeoboseyo,” jawabku.

‘Ya ! Kau dimana ? Aku tidak bisa masuk ke apartemen,’ suara orang itu terdengar seperti Jinki. Aku langsung berdiri menjauh dari Hongki.

“Aku sedang makan diluar. Chamkanman, aku segera pulang,” balasku.

‘Ne, cepat pulang,’ Jinki menutup teleponnya. Aku kembali ke tempat duduk, menghabiskan sisa ttukbeogi milikku. Aku menaruh piring kotornya ke meja, bangkit dan membayar ttukbeogi itu.

“Hongki-ya, aku harus pulang. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi,” ujarku berhasil mendapat tatapan menyelidik darinya. Aku merobek secarik kertas dan menuliskan nomor ponselku.

“Igeo, nomorku yang baru. Telepon aku kalau kau mau bertemu,” seruku kemudian berlari keluar dari warung itu.

Aku berjalan secepat mungkin agar cepat sampai ke apartemen. Ketika naik tangga, aku melihat Jinki hendak turun juga. Langkahnya terhenti, menatapku yang tepat ada di depannya.

“Ayo cepat. Aku sudah ngantuk,” ujarnya sambil menarik tanganku.

Ia melepas tanganku ketika sampai di depan pintu apartemen. Dengan cepat aku membukanya, ia langsung masuk dan membanting tubuhnya ke atas sofa. Aku mengambil minum, menyodorkannya pada Jinki. Ia langsung menyambutnya dan meneguknya sampai habis.

“Tidur di kamar saja. Aku tidak akan tidur sampai pagi,” ujarku. Jinki mengucek matanya yang sudah memerah.

“Jeongmal ? Aku lelah sekali menghindar dari para wartawan itu,” balasnya. Aku mengangguk sambil mendorong tubuhnya agar bangkit dari sofa. Ia menguap dengan lebar kemudian masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintunya, dan suara deritan tempat tidur adalah suara terakhir yang terdengar.

***

Aku terbangun karena suara berisik di dapur. TV masih menyala dan aku tertidur di sofa. Aku melirik ke arah jam, sudah menunjukkan jam 8 pagi. Aku melirik ke arah dapur lagi, Jinki sedang berdiri sambil mengaduk-ngaduk sesuatu di wajan. Aku bangkit dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku. Eh ? Siapa yang menyelimutiku ?

“Kau sudah bangun ? Ayo makan dulu,” ujarnya sambil tersenyum manis. Pagi-pagi aku sudah mendapat sapaan darinya. Mungkin orang-orang diluar sana iri denganku, mereka tidak akan mendapat senyum manis dari Jinki setiap pagi. Ya ! Ya ! Kau berpikiran ngawur Ji Kyo. Apanya yang manis ? Dia sangat menyebalkan.

“Jangan sok ramah. Ah iya, darimana kau dapat bahan-bahan makanan itu ? Bukannya kita, ah aku belum belanja ?” tanyaku sambil berjalan ke arah meja makan..

“Tadi aku sempat keluar, belanja di supermarket depan,” jawabnya. Ia membawa dua piring nasi goreng ke meja makan.

“Tidak ada wartawan ?” tanyaku sambil mengaduk-ngaduk nasi gorengnya.

“Opsoyo, di sekitar sini tidak akan ada wartawan. Mereka focus menunggu di gedung apartemenku,” jawab Jinki sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.

“A-araseo. Kau biasa bangun pagi ? Seingatku kau pulang jam 3 pagi kan ? Kenapa pagi-pagi sudah bangun ?” tanyaku. Jeongmal, aku ingin mengetahui sisi Jinki yang lainnya.

“Anni, aku tidak biasa tidur di apartemen kecil. Jadi tidak enak tidur,” jawabnya. Aku langsung mengurungkan niat mengetahui tentangnya. Aku kira dia suka bangun pagi, ternyata dia tidak suka apartemen kecil. Dasar sombong.

Kami terdiam sambil menghabiskan setiap suapan nasi goreng. Jinki bangkit dan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Ia hendak mencuci piringnya, tapi dengan segera kucegah.

“Andwae, biar aku yang cuci,” ujarku sambil membawa piringku ke tempat cuci piring. Ia menyingkir, membiarkan aku mencuci piring. Jinki berdiri di sebelahku sambil memandangku aneh. Aku jadi takut sendiri, mau apa dia ? Tatapan matanya menyeramkan sekali.

– — – –

Jinki POV

Aku memandangi Ji Kyo yang sedang mencuci piring. Ternyata wajahnya tidak jelek, dia cukup manis. Kenapa aku baru sadar kalau dia cantik juga.

“Ya. Tatapanmu menggelikan,” ujarnya sambil balas menatapku. Aku tersadar dan langsung memalingkan wajah dari tatapannya.

Aku berjalan menjauh, duduk di sofa ruang TV sambil menonton berita. Sebuah berita memusatkan perhatianku. Berita itu memutar videoku ketika aku berbelanja ke supermarket tadi pagi. Kamera itu mengikutiku dari  dalam supermarket, sampai masuk ke dalam gedung apartemen Ji Kyo. Aku menelan ludahku sendiri, pasti di depan gedung ini banyak wartawan.

Aku mengintip dari balik tirai apartemen, ada banyak sekali wartawan yang menungguku di bawah. Damn, mereka sudah tahu keberadaanku sekarang.

“Waeyo ?” tanya Ji Kyo sambil ikut mengintip di sebelahku.

“Mereka sudah tahu kalau aku disini,” jawabku. Ji Kyo menarik kembali kepalanya menjauh dari jendela. Ia menghela napas pasrah, sambil mengusap dagunya berpikir.

“Jinki-ya. Aku masih mau hidup, fansmu juga pasti ada diantara wartawan itu kan ? Mereka pasti akan membunuhku setelah tahu siapa identitasku sebenarnya,” ujarnya.

“Tenang saja, mereka tidak akan tahu siapa kau. Kau tunggu disini, biar aku yang mengurus para wartawan itu,” balasku mencoba menenangkan.

Aku keluar dari apartemen Ji Kyo, menuruni setiap anak tangga menuju halaman depan gedung. Aku menarik napas panjang, mencoba merilekskan jantungku yang berdegup sangat kencang. Aku membuka pintu otomatis di gedung apartemen, dan para wartawan itu langsung berlari mengerubungiku.

“Lee Jinki, apa benar foto tentang pernikahanmu itu ? Apa kau benar-benar menikah ? Kenapa kau menikah secara tiba-tiba ? Siapa wanita itu ? Kalian berdua tinggal di apartemen ini kah ? Atau pernikahan ini hanya untuk mendobrak popularitasmu yang mulai turun ?” tanya para wartawan itu bertubi.

“Semuanya akan aku jelaskan di konferensi pers nanti. Waktu dan tempatnya akan diberitahukan oleh managerku nanti. Untuk saat-saat sekarang ia –istriku- belum siap tampil di hadapan public. Ia masih takut dengan para fansku yang siap membullynya kapan saja. Dan yang terakhir, pernikahan ini bukan untuk mendobrak popularitasku,” jawabku berusaha tenang. Para wartawan itu terdiam, tapi salah satu dari mereka mengacungkan tangannya.

“Kalau bukan itu, apa kau menikah karena kalian sudah ‘melakukannya’ dan dia hamil ?” tanya wartawan berkacamata dan berambut hitam. Aku mengepalkan tangan, keterlaluan sekali dia mengatakan itu.

“Aku bukan laki-laki seperti itu, sir. Sudah cukup, aku harus kembali ke dalam. Tolong jangan ganggu kehidupan kami sampai konferensi pers itu berlangsung. Ia sangat takut dengan jumlah kalian yang banyak. Kamsahamnida,” aku membungkukkan badan kemudian berlalu masuk ke dalam gedung. Para wartawan itu terus melancarkan pertanyaan, tapi aku tidak menghiraukan mereka.

“Ottokhae ?” tanya Ji Kyo ketika aku sampai di apartemen. Ia menarik-narik bajuku berharap aku memberitahunya. Aku pura-pura tidak dengar dan malah duduk di sofa. Ia mengikuti duduk di sofa sambil terus menarik ujung bajuku.

“Mereka akan pergi. Kau tahu ? Salah satu dari mereka beranggapan kalau kita menikah karena kita sudah ‘melakukannya’ dan kau hamil,” jawabku sambil menatap kedua matanya.

“Ne ?” tanyanya. Aku mendekatkan wajahku.

“Atau kau memang mau ‘melakukannya’ denganku ?” tanyaku dengan nada nakal. Aku semakin menyudutkannya ke sandaran sofa. Ia memejamkan mata sambil terus memundurkan wajahnya.

-to be continued-

hayoo tebak apa yang terjadi . . haha

comment comment

2 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s