[FanFic] Still Marry Me !! (Part 1)

Title       : Still Marry Me

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Lee Jinki, Kim Ji Kyo

Other    : Park Gyuri (KARA) and secret cast

Rating   : PG+15

Genre   : a bit Comedy, and Romance

Setiap ocehan manager hyung terdengar seperti nyanyian tidur untukku. Dia mempermasalahkan tentang gosipku yang mulai turun pamor. Oh yeah, aku yang turun pamor kenapa dia yang pusing ? Mungkin dia takut tidak akan dapat gaji lagi.

“Kau dengar Lee Jinki ?” tanya manager hyung. Aku mengangguk sambil menopang dagu ke atas meja kerjanya.

“Kau harus membuat gossip yang menggemparkan dunia artis Korea. Bagaimanapun caranya kau harus kembali naik pamor,” tambahnya lagi. Aku mengangguk lagi, entah sudah ke berapa kalinya aku mengangguk menjawab pertanyaan manager hyung.

“Hyung, jadwalku tidak padat kan ?” tanyaku. Manager hyung mengangguk sambil melihat selembar kertas di depannya.

“Aku mau liburan selama 2 minggu di luar Seoul,” ujarku. Manager hyung mengangkat wajahnya, ia menatapku mengancam.

“Wae ? Hanya 2 minggu. Untuk mencari ide menaikkan pamorku lagi,” tambahku mencoba mencari alasan. Manager hyung menyerahkan kunci mobilnya. Tapi ketika aku hendak mengambilnya, ia menariknya lagi.

“Ponselmu harus aktif selama 2 minggu itu. Takutnya ada jadwal mendadak,” syaratnya. Aku mengangguk dan merebut kunci itu

Aku membawa mobilku ke apartemen. Pack beberapa potong baju, memasukkannya ke dalam koper besar dan memasukkannya ke dalam mobil. Aku segera memutar balik mobil masuk ke jalan tol. Aku membuka kaca mobil sambil melongokan kepala keluar.

“Haha, goodbye Seoul, goodbye glamour world,” teriakku. Aku kembali menutup kaca mobil. Rasanya senang sekali bisa lepas dari rutinitas dunia artis yang serba sulit.

Sebenarnya rencana liburan ini sudah aku rencanakan dari beberapa bulan yang lalu. Karena sekarang ada kesempatan, aku segera meluncurkan rencana liburan itu. Ya, walaupun hanya beberapa jam dengan naik mobil ke sebuah desa terpencil. Yang penting adalah lepas dari hiruk pikuk kota Seoul.

***

Mobilku tiba-tiba saja berhenti di sebuah desa. Terlihat asap mengepul dari kap mobil. Aku segera turun dan membuka kapnya. Asap lebih tebal mengepul lagi, membuatku mengibas-ngibaskan tangan untuk menghilangkan asap itu.

“Ottokhae ? Bagaimana cara membetulkannya ?” gumamku. Aku menyentuh setiap komponen yang ada. Tapi aku langsung terlonjak ketika menyentuh besi yang sangat panas.

“Arrgh !” aku meloncat-loncat menahan rasa sakit itu. Aku terus meloncat-loncat, sampai tiba-tiba seseorang menabrak tubuhku sehingga membuatku terjatuh. Aku mendongakkan kepala sambil membersihkan bajuku.

“Ya ! Kalau jalan hati-hati !” rutukku. Seorang yeoja di depanku memegangi lututnya yang berdarah. Sepertinya dia yang menabrakku.

“Aish,” yeoja itu meringis. Sesaat kemudian yeoja itu berdiri seolah tidak terjadi apa-apa dengan lututnya.

“M-mianhae,” ujar yeoja itu sambil membungkukkan badan. Entah karena dia terlalu bersemangat atau apa, kepalanya terbentur dengan kepalaku membuat kami meringis bersamaan.

“Aigo ! Kau bisa pelan-pelan kan ?” aku bangkit menyetarakan tinggi. Yeoja itu membenarkan poni yang menutupi keningnya sambil mengusap-ngusapnya.

“Dasi hanbon mianhae, aku sedang buru-buru,” tambahnya. Aku menepuk-nepuk tanganku sendiri, mencoba menghapus kotoran yang menempel.

“Hey kau !” dua orang namja berperawakan tinggi besar berlari ke arahku dan yeoja itu. Yeoja itu tiba-tiba berlari dan bersembunyi di balik punggungku.

“Jangan coba-coba sembunyikan dia !” teriak 2 orang itu. Aku melirik ke arah yeoja itu, dia menunduk ketakutan.

“Memangnya ada urusan apa dengan dia ?” tanyaku. 2 orang itu menunjukkan selembar kertas padaku.

“Surat perintah, menangkap anak tuan Kim agar dia bisa dijodohkan ?” aku mengeja setiap tulisannya. 2 orang itu kembali merebut kertas mereka. Yeoja itu masih bersembunyi di balik punggungku dengan tubuh gemetar.

“Bilang pada orang tuanya. Dia tidak akan bisa dijodohkan karena sudah punya pacar, yaitu aku,” ujarku seenaknya. Kedua orang itu  menautkan alisnya heran kemudian pergi begitu saja. Yeoja itu keluar dari balik punggungku sambil tersenyum senang.

“Kamsahamnida,” ujarnya. Ia menghela napas kemudian berbalik meninggalkanku. Ne, aku tahu bagaimana membuat gossip itu.

“Chamkanman !” aku menyergah tangan yeoja itu. Ia menoleh, menatapku dengan tenang.

“Ayo kita menikah,” seruku. Yeoja itu menarik tangannya dan malah menamparku.

“Aku bukan yeoja murahan ! Seenaknya kau bicara seperti itu padaku !” yeoja itu berlari meninggalkanku. Wajahnya bersemu merah ketika aku mengatakan itu.

Aku memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Yeoja mana yang bisa menolakku begitu saja. Bahkan dia tidak tahu siapa aku. Ya, aku akan menikahinya. Bagaimanapun caranya.

***

Rumah ahjummaku ternyata tidak jauh dari tempat mogoknya mobil. Jadi aku jalan sambil membawa koperku. Udaranya masih  sejuk, aku sangat suka udara disini. Sangat berbeda dengan udara kota Seoul yang penuh polusi.

“Ahjumma,” aku mengetuk pintu rumahnya. Sesaat kemudian Soori ahjumma membuka pintunya. Ia tersenyum lebar dan langsung memelukku.

“Omo Jinki-ya !! Kau sudah besar. Aku tidak ingat kapan kau terakhir kali kesini,” serunya. Pelukan ahjumma semakin erat, membuatku semakin sulit bernapas.

“Ne-ne ahjumma. Tapi kau hampir membuatku mati,” ujarku. Ahjumma melepaskan pelukannya. Ia menatapku, dengan mata yang berbinar-binar.

Ahjumma menggiringku masuk ke dalam rumahnya. Ternyata tidak berubah sejak terakhir kali aku kesini. Terakhir kali aku kesini ketika Park ahjussi meninggal beberapa tahun yang lalu. Huuaa, aku rindu keluarga ini. Mereka yang merawatku dari kecil, aku sangat berhutang budi pada mereka.

“Ayo minum dulu Jinki-ya,” seru ahjumma sambil menaruh 1 cangkir coklat hangat di meja. Dia masih ingat minuman kesukaanku. Dan hanya dia yang bisa membuat coklat hangat seenak ini.

“Kamsahamnida,” aku menyeruput coklat hangat itu. Bahkan rasanya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.

Ahjumma terus memperhatikanku. Ia selalu tersenyum melihat tingkahku yang sedikit canggung dengannya. Tapi aku langsung teringat hadiah yang sudah kubeli. Aku membuka koper dan mengeluarkan tas karton, hadiah untuk ahjumma.

“Igeo,” aku menyerahkan tas karton itu pada ahjumma. Ia menerimanya dan langsung membuka isinya.

“Omo~ ini kan tas mahal Jinki-ya. Tas ini yang ahjumma mau ketika kita jalan-jalan ke Seoul kan ? Kau masih ingat padahal kau masih SMP waktu itu,” seru ahjumma sambil memandangi tas di tangannya.

“Ne, saat itu aku berniat akan membelikan tas itu untuk ahjumma. Dan sekarang aku sudah bisa membelinya,” balasku membanggakan.

“Ne aku tahu. Kau sudah jadi aktor sekarang, jadi dengan mudahnya kau bisa membeli apapun,” tambah ahjumma. Aku terkikik mendengarnya, kerutan-kerutan di wajah Soori ahjumma semakin jelas terlihat. Hatiku miris melihatnya, dulu aku selalu berpikir kalau dia tidak akan pernah meninggalkanku. Tapi malah aku yang meninggalkan mereka demi menjadi aktor di Seoul.

“Ayo mandi sana ! Ah iya, kau tidak bawa mobil ?” tanyanya.

“Bawa, tapi mogok di ujung jalan sana. Aku tidak tahu cara membetulkannya, jadi aku tinggalkan,” jawabku sambil menyeruput coklat hangat itu lagi.

“Ya ! Sudah mandi sana. Biar orang-orang di sekitar sini yang membawa mobilmu,” seru ahjumma sambil mendorong tubuhku agar bangkit dari sofa. Dengan malas aku bangkit, membawa koperku ke dalam kamar yang pernah aku tempati dulu. Masih terpajang beberapa foto ketika aku masih kecil. Rasanya aku ingin menangis, aku sangat rindu kamar ini.

***

Langit sudah gelap, ahjumma mulai memasak jamuan makan malam. Sedangkan aku menonton TV, menonton acara yang menampilkanku sebagai bintang tamu mereka. Acara ini sudah di tayangkan seminggu yang lalu, dan itu adalah acara terakhirku.

“Ada angin apa yang membawamu kesini Jinki-ya ?” tanya ahjumma sambil membawa makanan yang sudah jadi ke meja makan.

“Aku mau liburan, menghindar dari rutinitas sebagai aktor,” jawabku. Ahjumma manggut-manggut sambil mondar-mandir membawa makanan.

Tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu. Aku menoleh ke arah ahjumma berharap ia yang membukanya. Tapi ia terlihat seperti tidak mendengar ketukan pintu itu.

Aku beranjak dari kursi, menghampiri pintu yang masih terus diketuk. Aku membuka pintunya, seorang yeoja langsung membungkukkan badan dengan sebuah makanan di tangannya. Ketika mengangkat kepalanya, aku langsung terlonjak kaget.

“Kau ?” tanyanya kaget. Aku membalas yeoja itu dengan sebuah senyuman.

“Ya ! Kau namja mesum tadi kan ?! Yang seenaknya saja minta aku menikahimu. Kenapa kau bisa ada disini ? Ini rumah soori ahjumma kan ?” cerocos yeoja itu sambil melongokan kepalanya ke arah nomor rumah.

“Ne ini rumah Soori ahjumma, dan aku adalah keponakannya. Satu hal lagi, aku tidak berotak mesum,” balasku. Yeoja itu menyerahkan makanan yang di pegangnya ke arahku.

“Igeo, makanan dariku,” serunya. Aku memandang makanan itu hati-hati lalu menerimanya. Yeoja itu membungkukkan badannya kemudian pergi dari hadapanku.

“YA ! Aku masih akan menunggu jawabanmu. Namaku Lee Jinki dan masih akan tinggal disini sampai 2 minggu ke depan !!” teriakku. Yeoja itu melambaikan tangannya, menolak ucapanku. Aku tersenyum kemudian membawa masuk makanan itu.

“Dari Ji Kyo ? Taruh saja di meja,” seru ahjumma yang ternyata sudah duduk di meja makan. Aku duduk di hadapan ahjumma, mengambil lauk dari yeoja itu dan memakannya. Enak juga.

“Chamkanman. Tadi siapa nama yeoja itu ?” tanyaku. Ahjumma mendongakkan kepalanya dari makanan yang sedang dimakannya.

“Namanya Ji Kyo. Kim Ji Kyo,” jawab ahjumma. Aku manggut-manggut sambil memikirkan rencana agar dia mau menikah denganku.

“Dia tinggal dimana ahjumma ?” tanyaku lagi.

“Hanya beberapa rumah dari sini. Waeyo ?” tanya ahjumma balik.

“Anni,” jawabku sambil senyum-senyum sendiri. Ahjumma terus memperhatikanku, aku langsung melipat senyumku agar tidak dicurigai ahjumma.

***

Pagi-pagi sekali manager hyung sudah meneleponku. Dengan setengah sadar aku mengangkat telepon darinya. Ck, padahal langit masih gelap dia sudah meneleponku.

“Ne, waeyo ?” tanyaku malas.

‘Pihak management mau minggu depan kau sudah kembali. Akan ada wawancara dari Asia Daily, tentang karirmu yang semakin merosot. Aku harap kau cepat mendapatkan ide,’ jawabnya.

“Sebenarnya aku sudah dapat ide. Tapi susah menjalankan ide ini karena dia tidak mau menerimaku,” jawabku sambil duduk di sisi tempat tidur.

‘Jadi, apa rencanamu ?’ tanya manager hyung.

“Menikah,” jawabku santai.

‘MWO ?!” teriakan manager hyung membuatku menjauhkan ponsel itu dari telingaku. Suaranya sangat nyaring sampai membuat telingaku sakit.

‘Ya ! ya ! Kau jangan bercanda Jinki-ya. Bagaimana dengan fansmu ? Mereka pasti akan sangat terpukul mendengar kau menikah begitu saja’ aku kembali menempelkan ponsel itu ke telingaku.

“Kau yang bilang agar aku menggemparkan dunia artis korea kan ? Dan itu sudah rencanaku, tidak boleh ada yang mengacaukannya,” balasku seenaknya.

‘Ck ck ck, sifat keras kepalamu belum berubah. Lagipula kau tidak takut istrimu nanti di bully oleh fans-fans fanatikmu itu ? Kalau nanti kau sudah terkenal lagi, bagaimana nasib istrimu huh ?’ tanyanya.

“Hoahm. Sirho, aku tidak akan mengungkap indentitas istriku. Selang beberapa minggu tentang pemberitaan ini baru aku akan mengungkapnya. Tentang itu, mungkin aku akan menceraikannya,” jawabku.

‘Kau tega Jinki-ya. Memangnya siapa yeoja itu ? Seingatku kau hanya dekat dengan Gyuri kan ? Itu juga karena dia lawan mainmu di serial TV beberapa bulan yang lalu,’

“Seorang yeoja yang tidak akan pernah kau temukan dimanapun. Dia tidak tahu kalau aku ini aktor, dan sikap anehnya yang aku suka,” secara tak sadar aku terkikik sendiri membayangkan wajah yeoja itu.

‘Baiklah, terserah. Aku menerima semua keputusanmu, jangan lupa pulang minggu depan. Kalau bisa kau sudah menikah agar Asia Daily itu mengalihkan topiknya. Arachi ?’ serunya.

“Ne hyung,” aku langsung mematikan telepon darinya.

Aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan ke dapur untuk minum beberapa teguk air yang bisa membasahi kerongkonganku. Aku melirik jam dinding yang tergantung di ruang TV. Masih jam 5 pagi, dan ini sebuah keajaiban karena aku bisa bangun jam segini.

“Ah, aku mau lari pagi,” aku kembali masuk ke dalam kamar. Berganti baju dengan kostum olahraga.

Ketika keluar rumah, udara dingin sempat membuatku mengurungkan niat. Tapi kapan lagi aku bisa lari pagi dengan udara sesejuk ini.

Aku berlari ke arah ujung jalan yang lain dari tempatku datang kemarin. Sambil memakai earphone mendengarkan laguku sendiri. Aku memandangi setiap rumah yang aku lewati. Kira-kira yang mana rumah Ji Kyo ?

Tepat saat aku menggumamkan itu, seorang yeoja keluar dari rumah. Yeoja itu mengikat rambutnya tinggi di atas kepala dan keluar dari pagar rumahnya. Ia berlari di depanku dengan memakai earphone juga. Jangan katakan itu Ji Kyo, kenapa aku selalu kebetulan bertemu dengannya ?

“Ji Kyo-ya !” panggilku. Ji Kyo menoleh padaku sekilas. Matanya membelalak dan langsung berlari menghindariku.

Aku berlari lebih cepat darinya kemudian langsung menghalangi jalannya. Ia mendecakkan lidah kesal sambil mencoba melewati rentangan tanganku.

“Minggir ! Aku mau lewat,” serunya. Aku menggeleng dengan yakin.

“Jawab iya tentang ajakanku waktu itu, baru kau boleh lewat,” balasku mengancam. Ji Kyo melipat tangannya di depan dada.

“Aku tidak akan menikah dengan namja yang baru saja aku kenal. Dasar namja mesum,” jawabnya.

“Cih, kau harusnya beruntung bisa diajak menikah oleh aktor sepertiku,” balasku dengan nada sombong. Ji Kyo menyeringai kecil mendengar ucapanku.

“Aku baru tahu ada aktor mesum sepertimu,” balasnya lagi.

“Ya ! Aku tidak mesum bodoh. Aku masih akan menunggu jawabanmu sampai minggu depan. Pertimbangkan ucapanku huh ?” aku menunjuk wajahnya. Tiba-tiba saja ia menggigit jariku dan langsung berlari begitu saja.

“Argh !” aku meringis. Ji Kyo berbalik kemudian mengeluarkan lidahnya mengejekku. Ia tertawa puas sambil berlari meninggalkanku.

Aku memegangi jariku yang digigit olehnya. Ia menolakku sudah yang kesekian kalinya. Tapi aku tidak akan menyerah sampai dia mau menikah denganku.

– — – –

Ji Kyo POV

Kenapa aku selalu bertemu dengan namja mesum itu sih ? Aku tidak akan pernah menikah dengannya walaupun dia aktor. Aku hanya akan menikah dengan namja yang aku cintai.

Aku melepas earphone yang kupakai dan masuk ke dalam pagar rumah. Terlihat eomma dan appaku berdiri di depan rumah sambil melipat tangannya. Mereka memandangiku kesal, aku tahu alasan mereka kesini.

“Sekarang kau harus pulang dengan kami. Kau harus menerima perjodohan itu Ji Kyo,” seru eomma sambil berjalan ke arahku. Aku menghindar, tapi appa memegang bahuku.

“Appa mohon, umurmu sudah 20 tahun. Dan appa sudah berjanji pada nenekmu agar menikahkanmu pada umur 20,” aku menepis tangan appa.

“Aku tidak mau dijodohkan appa, eomma. Aku hanya akan menikah dengan namja yang aku cintai. Sampai kapan pun aku tidak akan pulang kalau kalian masih bersikeras seperti ini,” balasku dengan sedikit emosi.

“Tapi sampai sekarang kau belum pernah pacaran. Eomma khawatir kau akan jadi perawan tua Ji Kyo,” balas eomma khawatir. Oke, aku akui aku memang belum pernah pacaran. Tapi umurku masih 20 dan aku masih bisa mencari namja yang aku cintai.

“Sirheunde. Aku sudah punya namja pilihanku sendiri,” jawabku sekenanya. Aku langsung menelan ludahku sendiri, hal paling bodoh yang aku katakan saat ini.

“Jinjja ? Kalau begitu kau ikut kami dulu. Suruh dia menghadap kami,” ujar appa sambil menyeringai meremehkan. Eomma dan appa memegang kedua tanganku.

“Sirho !!” aku melepas tangan mereka kemudian berlari keluar rumah. Aku berlari tidak tahu kemana, yang penting menghindar dari mereka.

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Aku melihat namja mesum itu sedang mencuci mobilnya di depan rumah Soori ahjumma. Aku langsung menghampirinya, menarik tangannya untuk menghadapi kedua orangtuaku.

“Dia namja pilihanku,” ucapku begitu saja. Namja mesum itu menatapku heran. Aku mengedipkan sebelah mataku agar ia mengerti.

“N-ne, aku pacarnya Ji Kyo,” ujarnya. Aku menghela napas lega karena dia mengerti dengan keadaanku.

“Mwo ? Jinjja ? Kau Jinki, actor sekaligus penyanyi itu kan ?” tanya appa dan eomma senang. Apa mereka fans namja mesum ini ? Ah tidak.

“Ne, aku pacar anak kalian. Mian kalau selama ini kami menyembunyikannya, aku tidak mau public tahu tentang hal ini,” jawab Jinki serius. Aku mengangguk yakin mengimbangi acting Jinki.

“Baiklah, aku langsung menerimamu. Tapi maukah kau menikah dengan anakku ?” tanya appa lagi. Aku melirik ke arah Jinki, ia tersenyum penuh kemenangan. Oh god, tolong aku.

-to be continued-

pada mau diterusin apa ngga ??
please comment :D

other version of marry me

6 thoughts on “[FanFic] Still Marry Me !! (Part 1)

  1. Annyeong aq readers bru d.sni.. ^^
    ff.a keren, ap lg yg jd cast.a onew, bias aq d.SHINee..

    Penasarn, langsng loncat k.part slanjut.a.. ^0^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s