[FanFic] Marry Me !! (Part 7)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Bae Sue Ji a.k.a Suzy (Miss A)
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

Aku memindah-mindahkan channel TV, tidak ada yang seru. Dan Taemin, dia belum pulang sejak tadi siang. Makan malam yang kubuat juga sudah dingin. Ponselnya mati, dia tidak memberi kabar, dan pasti dia bersama Suzy sekarang.

Ting Tong

Pintu apartemenku berbunyi. Dengan cepat aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.

“Tae . . Sun oppa ?” tanyaku heran. Taesun tersenyum manis padaku.

“Ayo masuk,” sambungku sambil melebarkan pintu apartemenku untuknya. Taesun masuk ke dalam apartemenku dan langsung mendudukkan diri di atas sofa. Aku berjalan ke dapur untuk membuat minum untuk Taesun.

“Ada perlu apa oppa ?” tanyaku sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Mmm, sebenarnya aku mau mengambil mobil kesini. Tapi sepertinya Taemin belum pulang,” jawabnya. Aku membawa teh itu ke meja di hadapan Taesun kemudian duduk di sebelahnya.

“Ne, dia pergi dengan Suzy,” ujarku lesu.

“Suzy ? bagaimana bisa ?” tanyanya kemudian menyesap tehnya.

“Tadi siang ada telepon masuk di ponsel Taemin, memberitahu kalau Suzy pingsan di sekolahnya. Taemin pergi untuk mengantar Suzy pulang, tapi sampai sekarang dia belum pulang,” jawabku lebih lesu lagi.

“Dasar Taemin, bodoh sekali dia meninggalkanmu sendirian,” gumam Taesun tapi masih bisa terdengar olehku. Tiba-tiba aku mendengar suara aneh, yang ternyata suara perut Taesun.

“Lapar ?” tanyaku. Taesun mengangguk sambil tersenyum memohon padaku.

“Makan saja makanan di meja. Tadinya aku buatkan untuk Taemin, tapi sepertinya dia sudah makan di luar sana. Gwenchana,” jawabku.

“Jinjjayo ?” tanyanya meyakinkan. Aku mengangguk ragu sekaligus pasrah.

Taesun beranjak dari kursi dan berjalan ke meja makan. Dia duduk di salah satu kursinya lalu mulai mencicipi makanan yang ada di meja. Aku ikut duduk di meja makan, memandangi Taesun yang sedang makan dengan lahapnya.

“Kau tidak makan ?” tanyanya memecah lamunanku.

“Anni, aku sudah makan,” jawabku. Taesun mengangguk mengerti kemudian melanjutkan makannya.

Taesun makan, sedangkan aku sesekali mengajaknya mengobrol. Obrolanku dengan Taesun selalu tidak habis topic untuk dibicarakan. Dia baik, aku sangat beruntung mendapat kakak seperti dia. Andaikan dia yang menikah denganku, mungkin aku tidak akan sering sendirian seperti ini.

“Kenyang,” seru Taesun sambil menyandarkan tubuhnya.

Aku membawa piring-piring yang sudah kosong tak bersisa itu ke tempat cuci piring. Mencucinya sampai bersih. Setelah selesai, aku kembali duduk di sofa untuk menonton TV.

“Bosan,” celetuk Taesun. Aku mengangguk menyetujui ucapannya.

“Mau jalan-jalan keluar ?” usulnya.

“Boleh. Tapi, kalau Taemin pulang bagaimana ?” tanyaku. Aih, pabo ! Kenapa juga kau masih memikirkannya. Dia belum tentu memikirkanmu diluar sana.

“Kalaupun dia pulang, dia pasti akan meneleponmu. Kajja,” balas Taesun sambil menyeret tanganku.

Taesun membawaku ke daerah Cheongdam yang terlihat sangat ramai hari ini. Mungkin karena 2 hari lagi Chuseok day dan juga hari Kemerdekaan Korea. Berdesak-desakkan berebut jalan untuk lewat pun susah.

“Oppa,” panggilku ketika aku sadar kalau tanganku terlepas dari genggamannya. Aku berhenti di tengah kerumunan orang-orang yang tengah berlalu-lalang. Mencari sosok Taesun yang siapa tahu mencariku lagi disini. Tapi pandanganku terhenti pada seseorang di dalam café di depanku. Ia duduk tepat di belakang kaca, bersama seorang yeoja. Mereka saling menyuapi satu sama lain.

Hatiku, kenapa dengan hatiku ? kenapa rasanya sakit sekali ?

Pandanganku dan Taemin bertemu. Matanya membelalak ketika melihatku yang sedang menatapnya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sedetik kemudian air mataku tumpah, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku berlari meninggalkan halaman café itu untuk menyusul Taesun. Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana orang mencaci-maki karena aku menabrak mereka semua.

“Shinbi !” aku bisa mendengar Taemin memanggil namaku. Aku tidak menghiraukannya dan masih terus berlari. Sampai aku menabrak seseorang yang sedang kucari sedari tadi. Dia menatapku khawatir, aku balas menatapnya.

“Oppa. .” gumamku kemudian langsung memeluknya. Tangisanku sudah tidak tertahan lagi, sudah cukup aku menahan air mata ini. Air mataku tumpah begitu saja, baju Taesun pun menjadi basah karena tangisanku.

“Wae ?” tanya Taesun tanpa melepas pelukanku.

“Taemin. . Taemin . . Dia-dia,” jawabku terbata. Bahkan lidahku terasa kelu, tidak bisa menjelaskan hal itu pada Taesun.

– — – –

Taemin POV

Aku mengantar Suzy pulang ke rumahnya. Ternyata dia memang pingsan, wajahnya juga terlihat pucat. Awalnya aku berniat hanya untuk mengantar Suzy pulang, tapi melihat keadaannya yang seperti itu aku tidak bisa. Apalagi di apartemennya dia hanya tinggal sendiri, eomma dan appanya terlalu sibuk untuk hanya menjenguknya.

Kulihat tangan Suzy bergerak memegangi kepalanya. Refleks aku menatapnya khawatir. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali sampai dia sadar dengan kehadiranku di kamarnya.

“Wae ?” Suzy langsung tersentak dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.

“Tenang saja, aku tidak berpikiran macam-macam,” sahutku. Suzy membuka kembali selimutnya, menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Wajahnya masih pucat, matanya juga sedikit sembap.

“Kenapa kau bisa pingsan seperti itu huh ?” tanyaku. Suzy menguncir rambutnya tinggi ke belakang, beranjak dari tempat tidur ke balkon kamarnya. Keningku berkerut, aku menghampiri Suzy dan berdiri di sebelahnya.

“Aku tidak tidur semalam, tadi pagi juga aku tidak sarapan,” jawabnya.

“Waeyo ? Kau sedang ada masalah ?” tanyaku. Suzy menghela napas panjang, memejamkan matanya sambil menatap langit sore. Aku hanya diam, menunggu jawaban darinya.

“Eomma dan appa akan cerai,” jawabnya singkat. Aku hendak mencela omongannya, tapi Suzy meneruskan lagi.

“Sudahlah, tidak usah dibahas. Jangan buat aku tambah sedih lagi,” timpalnya. Aku semakin tertegun, padahal baru kemarin appa dan eommanya menjodohkanku dengan Suzy.

“Jangan sedih seperti itu. Lebih baik kita jalan-jalan keluar,” tawarku. Suzy menoleh ke arahku kemudian mengangguk.

Karena sudah hampir malam, aku hanya mengajak Suzy berjalan-jalan di sekitar Cheongdam. Sampai akhirnya kami berdua makan malam di sebuah café. Dia tidak terlihat sedih lagi sekarang. Aigo ! Aku lupa menelepon Shinbi.

Aku segera mengeluarkan ponselku dari dalam saku. Ternyata ponselku mati, ottokhae ? Pasti Shinbi marah karena aku tidak memberi kabar padanya.

“Buka mulutmu,” seru Suzy. Ia menyodorkan sesendok makanannya ke hadapanku.

“Mwo ?” tanyaku pura-pura heran. Suzy membuka mulutnya mengisyaratkan agar aku membuka mulutku.

Aku membuka mulut, Suzy langsung menyuapkan makanannya ke dalam mulutku. Di saat yang sama ketika aku menoleh keluar café, aku melihat seseorang yang sepertinya sudah tidak asing lagi. Ia tengah menatap ke arahku, matanya berkaca-kaca dan refleks membuatku bangun dari kursi.

“Shinbi !” aku segera berlari keluar café. Aku sudah tidak mempedulikan lagi Suzy yang sekarang mungkin menatapku kesal. Shinbi, kenapa dia bisa ada disini ?

“Shinbi !” panggilku lagi.

Aku mengejarnya melewati kerumunan orang yang berjalan berlawanan arah denganku. Langkahku segera terhenti ketika melihat langkah Shinbi pun terhenti. Ia berdiri menatap orang di hadapannya, kemudian memeluknya. Tubuh Shinbi bergetar hebat di dalam pelukan Taesun hyung. Taesun hyung mengusap kepala Shinbi dengan lembut dan mempererat pelukannya.

Taesun hyung melirik ke arahku. Pandangan kami bertemu, tapi ia malah pura-pura tidak melihatku. Tanganku terkepal keras, yang ada di dalam pikiranku sekarang adalah merebut Shinbi dari dalam pelukan Taesun hyung dan mendekapnya ke dalam pelukanku. Tapi aku sadar, aku yang sudah membuatnya menangis seperti itu.

“Taemin, kau kenapa ?” tiba-tiba Suzy sudah berdiri di sebelahku. Ia menoleh ke arah tatapanku. Matanya membulat ketika melihat Taesun hyung sedang memeluk Shinbi disana. Jarak kami dengan mereka berdua hanya sekitar 4 meter, membuatku bisa melihat jelas tangisan Shinbi.

Sesaat setelah Taesun hyung melepaskan pelukannya, ia kembali menatap ke arahku dan Suzy. Ia menatapku marah. Aku hendak menghampiri mereka, tapi Suzy mencegah tanganku.

“Jangan ganggu dia. Aku tahu bagaimana sakitnya melihat orang yang kusukai bersama wanita lain. Ia masih perlu waktu,” ujarnya.

Taesun hyung berbalik membelakangiku, merangkul kedua bahu Shinbi dan membawanya menjauh dari hadapanku. Aku hanya bisa diam,  memandangi punggung Shinbi yang semakin menjauh.

Aku berbalik, berjalan berlawanan arah dengan Shinbi dan Taesun hyung. Aku mempercepat langkahku, meninggalkan Suzy yang masih diam heran.

***

Aku memakirkan mobil Taesun hyung di depan apartemennya. Aku turun dari mobilnya dan berjalan ke depan apartemennya. Sebelum aku menekan belnya, Taesun hyung sudah membuka pintu apartemennya. Ia menatapku masih dengan tatapan kesal.

“Hyung,”

“Apa yang kau lakukan dengan Suzy huh ?” seru Taesun hyung memotong ucapanku.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya saja, Suzy menyuapkan makanannya padaku,” jawabku. Taesun hyung keluar dan menutup pintu apartemennya.

“Kenapa kau membuatnya khawatir ? Dia menunggumu seharian, menunggu kau memberi kabar padanya. Ternyata kekhawatirannya berubah, ketika melihat kau bersama Suzy. Kau tahu ? Hatinya sangat sakit,” balas Taesun hyung. Aku menunduk, merasa bersalah. Seharusnya aku tidak meninggalkannya hanya karena Suzy.

“Biar aku yang menjaganya,” sahut Taesun hyung tiba-tiba. Aku kembali mendongakkan kepala, menatapnya dengan tatapan –maksud-hyung-?-

“Dia sudah terlalu banyak sakit hati karenamu. Apa kau tidak ingat ketika dia melihatmu berpelukan dengan Hyun Ae ? dia menangis. Ketika kau marah padanya, dia menangis. Dan terakhir, dia menangis lagi karena kau lebih mementingkan Suzy daripada dirinya,” timpalnya.

Aku mendorong tubuh Taesun hyung ke dinding. Memukul pipinya dengan keras sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Aku memang menyakitinya ! Tapi aku tidak bisa melepasnya untukmu !” teriakku. Aku semakin mendorongnya ke dinding. Aku sudah menyiapkan ancang-ancang untuk memukulnya lagi, tapi segera kuhentikan ketika melihat pintu apartemen Taesun hyung terbuka.

“Oppa, dimana bajuku ?” tanya Shinbi sambil keluar dari apartemen Taesun hyung. Aku melonggarkan genggamanku dari baju Taesun hyung. Shinbi memakai kemeja Taesun hyung yang kebesaran sampai menutupi setengah pahanya. Shinbi tak kalah kaget melihatku berdiri sambil menatapnya penuh tanda tanya.

“Taemin ? Aku tidak-“ aku segera memotong ucapannya dengan sebuah pukulan keras di dinding sebelah wajahnya.

“Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ‘semurahan’ itu. Aku hanya makan malam dengan Suzy, dan kau melakukan hal yang lebih daripada apa yang aku lakukan !” teriakku kemudian mengacak rambut frustasi. Aku mendecakkan lidah dan berjalan meninggalkan mereka. Langkahku terhenti, aku membalikkan badan dan melemparkan kunci mobil Taesun hyung.

“Terima kasih atas mobilmu hyung. Selamat bersenang-senang dengan istriku,” sahutku dingin. Aku berjalan turun meninggalkan mereka berdua. Dari bawah aku bisa melihat Taesun hyung masih berdiri di depan pintu apartemennya sambil menatap ke arahku.

– — – –

Shinbi POV

Aku pulang ke apartemen Taesun untuk menenangkan diri. Aku takut kalau di apartemenku malah membuat hatiku semakin sakit mengingat Taemin lagi.

Aku keluar dari kamar mandi sambil memakai kemeja Taesun yang ia berikan padaku sebelum aku mandi. Bajuku basah karena tertimpa hujan ketika perjalanan pulang ke apartemen Taesun. Aku mencari-cari bajuku di sofa. Tidak ada juga.

“Haish, dimana dia menyimpan bajuku,” gerutuku. Aku berjalan keluar apartemen karena mendengar suara Taesun hyung diluar. Aku membuka pintunya.

“Oppa, dimana bajuku ?” tanyaku sambil keluar. Tapi langkahku terhenti ketika melihatnya merapat di dinding, bersama Taemin. Tangan Taemin mencengkeram kerah baju Taesun. Mereka berdua menoleh bersamaan padaku. Taemin melepaskan tangannya dari kerah Taesun, dia menatapku nanar.

“Taemin, aku tidak-“ ujarku menyanggah isi pikiran Taemin sekarang ini. Taemin memukul tembok di sebelah wajahku dengan keras.

“Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ‘semurahan’ itu. Aku hanya makan malam dengan Suzy, dan kau melakukan hal yang lebih daripada apa yang aku lakukan !” teriak Taemin kemudian mengacak rambutnya kasar. Aku hendak membuka mulut lagi, tapi Taemin sudah pergi meninggalkanku. Langkah Taemin terhenti sebelum menuruni tangga. Ia berbalik dan melemparkan kunci mobil Taesun.

“Terima kasih atas mobilmu hyung. Selamat bersenang-senang dengan istriku,” sahutnya dingin. Kakiku lemas, tubuhku merosot di dinding sambil memandangi kepergian Taemin. Air mataku kembali keluar.

“Sudah Shinbi. Ulljima, masih ada aku disini,” balas Taesun. Aku menggeleng sambil menyeka air mata yang sudah membasahi daguku.

“Antarkan aku pulang,” seruku terbata. Taesun mendesah napas dan akhirnya membantuku berdiri. Membawaku ke dalam mobilnya dan mengantarku pulang ke apartemen.

***

Aku menidurkan diri di atas tempat tidur.  Seharusnya aku bisa bersama-sama Taemin di saat liburan musim panas seperti ini. Tapi kenyataannya, kesalahpahaman diantara kami semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Hatiku sakit, lebih sakit daripada ketika aku melihatnya bersama Suzy ataupun Hyun Ae.

Aku menatap foto kami –aku dan Taemin- di meja samping tempat tidurku. Melihat foto itu membuatku semakin menangis. Keceriaannya, kejutannya, kehangatannya, aku ingin merasakan semua itu lagi. Taemin, apakah janjimu masih berlaku ? Tidak akan pernah meninggalkanku huh ?

Dadaku semakin terasa sesak. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa Taemin nantinya. Aku sudah bergantung padanya, bergantung pada semangatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku masih saja meringkuk di atas tempat tidur sambil menatap kosong ke depan. Wajahku sudah tidak karuan sekarang. Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan. Taemin sudah membenciku, dia sudah membenciku, dia sudah membenciku !!

“Taemin,” rengekku. Mana pelukan hangat yang biasa kau berikan ketika aku menangis ? Apa kau benar-benar tidak peduli padaku ?

“Shinbi,” aku menoleh ke samping ketika mendengar suara Taemin. Di depan pintu kamarku berdiri Taemin dengan senyuman hangatnya. Dia melebarkan tangannya seperti ia akan memelukku.

Aku berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya. Menyambut pelukannya, tapi sedetik kemudian tubuhnya menghilang. Ya, itu hanya halusinasiku. Halusinasi kalau Taemin akan kembali lagi padaku.

Ting Tong

Aku langsung berlari ke arah pintu apartemen untuk membuka pintu. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu.

“Taemin !” teriakku. Tapi keceriaan itu langsung berubah, yang aku lihat di depan pintu sekarang hanya seorang penjaga gedung apartemen. Ia biasa datang ke apartemen-apartemen untuk mengambil sampah.

“Kau kenapa agasshi ? Matamu sembap, dan kenapa kau menyebut nama Taemin ?” tanyanya. Aku menggeleng sambil menyerahkan satu plastic sampah yang sudah kusiapkan di belakang pintu.

Setelah ia pergi aku langsung menutup pintu apartemenku. Duduk di belakangnya sambil memeluk kedua lututku. Menyandarkan kepalaku di atas tangan.

“Aku akan tunggu kau disini,” gumamku. Aku memejamkan mata, membiarkan pikiranku melayang entah kemana.

***

Aku terbangun dengan posisi sudah tertidur di atas tempat tidur. Aku langsung terduduk di tempat tidur menatap sekeliling kamar. Kenapa aku bisa ada disini ? Bukannya aku tidur di belakang pintu ? Apa Taemin sudah pulang ?

“Taemin,” panggilku sambil berjalan ke arah pintu kamarku. Aku membukanya dan sedikit menyembulkan kepala keluar. Tidak ada siapa-siapa.

Aku berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Tapi tanganku terhenti di atas pegangan kulkas ketika melihat memo tertempel di depannya. Aku mencabutnya dan membacanya.

Selamat pagi Shinbi,

Aku khawatir sekali dengan keadaanmu. Tadi pagi aku datang untuk menjengukmu, tapi karena pintu apartemenmu tidak dikunci aku masuk saja. Maaf kalau aku tidak sopan. Maaf juga kalau aku sudah lancang membopongmu ke kamar karena kau tertidur di belakang pintu. Ah iya, aku sudah buatkan sarapan di meja makan. Mungkin kalau kau bangun, sudah jadi makan siang.

Eomma dan appa mau bertemu lagi dengan kita. Mereka akan membahas masalah kita dan Taemin. Kau datang ke restoran di hotel waktu itu jam 2 siang. Aku akan tunggu disana. ^^

Lee Taesun. .

Aku meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Aku melirik jam dinding di ruang tengah. Sudah jam 11 siang.

Aku meminum segelas air kemudian segera bergegas ke dalam kamar mandi. Bersiap untuk bertemu dengan eomma dan appanya. . Taemin ? Apa dia akan memberitahu eomma dan appanya kalau aku ini istrinya ? Aish, kau terlalu banyak berkhayal Shinbi.

***

Taksi yang kunaiki memarkirkan mobilnya di depan lobby hotel itu. Aku turun dari taksi disambut oleh Taesun yang sudah berdiri disana. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut tangannya, dan ia pun membawaku ke dalam restoran itu.

Aku menghela napas panjang. Menyiapkan mentalku untuk bertemu Taemin agar tidak menangis lagi karena melihat wajahnya.

Aku bisa melihat Taemin duduk bersebelahan dengan Suzy. Di setiap pinggir meja, duduk eomma dan appanya Taemin. Aku duduk di depan Taemin sedangkan Taesun duduk di depan Suzy.

Aku melirik ke arah Taemin. Ia memalingkan wajahnya ke arah Suzy, mengajaknya mengobrol. Aku merasakan Taesun semakin menggenggam kuat tanganku. Aku menoleh padanya, ia menyemangatiku dengan senyuman di bibirnya.

“Jadi, kapan kalian akan menyiapkan semuanya ?” tanya appa mereka tiba-tiba. Aku kembali melirik Taemin. Ia malah tersenyum pada Suzy seolah sudah memiliki rencana.

“Mianhae appa,” potong Taesun ketika melihat Taemin hendak berbicara.

“Ada kesalahpahaman disini,” timpal Taesun lagi. Semua yang ada di meja ini beralih menatap Taesun penasaran.

“Maksudmu ?” tanya eomma-nya.

“Shinbi. Dia bukan pacarku,” jawab Taesun. Eomma dan appa-nya saling bertukar pandang.

“Dia istrinya Taemin,” eomma dan appa-nya membelalakkan mata tidak percaya. Begitu juga Taemin dan Suzy yang ada di depan kami.

“Apa maksudmu Taesun !” tanya appa-nya keras. Taesun menghela napas kemudian mengangkat kepalanya menunjuk Taemin. Semuanya beralih menatap Taemin.

“Apa itu benar Taemin ?” tanya eomma-nya. Taemin menatapku kemudian mengangguk pasrah.

“Tapi itu tidak akan berlangsung lama lagi, eomma, appa. Aku akan pisah dengannya, aku akan menuruti kemauan eomma dan appa untuk menikahi Suzy,” jawab Taemin berhasil menusuk hatiku. Kami bertatapan beberapa saat. Mataku mulai memanas, wajahku memanas. Keadaan di sekitarku menjadi panas.

“Aku harus pergi. Mianhae ahjussi, ahjumma,” ujarku sambil berdiri dari kursi. Aku menyambar tas tanganku, membungkukkan badan pada mereka semua dan berlari meninggalkan restoran itu.

Aku menyeka air mata yang sudah membasahi pipiku. Aku berlari keluar dari lobby hotel. Aku tidak tahu akan kemana sekarang, aku harus menenangkan diri.

***

Aku menekuk kedua kakiku ke atas kursi taman itu. Menenggelamkan kepalaku diantara kedua lututku. Di kesunyian malam seperti ini tidak akan ada yang bisa mendengar tangisanku. Hampir seharian aku berjalan tanpa tentu arah, dan akhirnya kakiku membawaku ke taman ini. Taman yang selalu aku datangi bersama Taemin. Aku merindukanmu, Taemin.

‘Aku akan pisah dengannya, aku akan turuti kemauan eomma dan appa untuk menikahi Suzy’

Ucapan Taemin kembali terngiang di kepalaku dan sukses membuat air mata kembali meluncur dari kedua sudut mataku.

Aku turun dari kursi taman itu, kembali berjalan menyusuri jalanan. Entah orang lain mau bicara apa tentangku. Yang aku pikirkan sekarang adalah cepat sampai ke apartemen dan tidur untuk melupakan semuanya.

“Agasshi ! Agasshi !” aku bisa mendengar suara ribut-ribut orang di belakangku. Aku menoleh ke belakang, tapi sebuah lampu menyilaukan pandanganku. Aku menoleh ke samping, dan cahaya itu semakin menyilaukan mataku.

“Ah !” tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang keras menghantam perutku. Aku terjatuh ke aspal dengan kepala belakangku mendarat terlebih dulu. Sekarang rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhku.

“Taemin,” rintihku. Entah kenapa tiba-tiba wajah Taemin terbayang di benakku.

Aku bisa merasakan semua orang mulai mengerubungiku. Aku mencoba melihat wajah mereka semua. Tapi pandanganku semakin kabur, dan kesadaranku hilang.

– — – –

Taemin POV

Shinbi berlari keluar restoran. Kakiku tersentak, ingin berlari mengejarnya. Tapi keadaan tak memungkinkan aku untuk mengejarnya.

“Kenapa kau seperti itu Taemin ?” tanya eomma. Aku menoleh, menatap kedua mata eomma yang terlihat sedih.

“Kalau kau bilang kau sudah menikah eomma tidak akan memaksamu untuk menerima perjodohan ini,” sambung eomma. Appa mengangguk menyetujui ucapan eomma.

“Apa aku bilang,” timpal Suzy sedikit berbisik. Aku mengepal sendok yang kupegang dengan kuat. Aku hanya belum menerima apa yang sudah dilakukan Shinbi.

“Ayo kita selesaikan masalah ini. Hanya laki-laki,” sahut Taesun hyung kemudian menghampiri mejaku. Ia menarik tanganku dan membawaku keluar restoran.

Taesun hyung mendorongku dengan paksa ke dalam mobilnya. Ia membawa mobilnya meninggalkan hotel itu ke arah apartemennya.

Taesun hyung kembali menarikku paksa keluar dari mobilnya. Menarikku menaiki tangga dan mendorongku masuk ke dalam apartemennya. Ia menutup pintu apartemennya dan mengunci pintunya.

“Kau kenapa hyung ?!” bentakku. Tiba-tiba Taesun hyung melayangkan pukulannya ke pipiku. Pukulannya berhasil membuatku sedikit tersungkur ke belakang.

“Sudah puas kau menyakitinya huh ?” tanya Taesun hyung sambil menarik kerah bajuku kasar. Sebuah pukulan kembali mendarat di pipiku. Sepertinya bibirku sudah mulai berdarah karena pukulan dari Taesun hyung.

“Kenapa aku harus merasa bersalah ? Dia yang membuat masalah denganku. Dia sudah-“ Taesun hyung mendorongku ke belakang. Ia masuk ke dalam kamarnya, dan tak lama kemudian kembali. Ia melemparkan setumpuk baju ke wajahku.

“Itu baju Shinbi. Berterima kasihlah padanya karena dia tidak melakukan apa-apa denganku. Dia berhasil menjaga kepercayaanmu untuk tidak menerima laki-laki lain di hatinya,” ujar Taesun hyung. Aku menatap baju-baju itu, aku merasa bersalah karena sudah menuduhnya. Aku sudah membuatnya sakit lagi.

“Kemarin dia hanya kehujanan dan memakai bajuku karena bajunya basah. Sekarang kau cari dia, minta maaflah padanya. Aku yakin dia sedang menangis lagi sekarang, dan aku rasa air matanya sudah habis karena menangisimu,” seru Taesun hyung. Aku berdiri, menatapnya penuh dendam.

“Kamsahaeyo hyung,” ujarku kemudian memeluknya. Aku bisa merasakan Taesun hyung mengelus punggungku. Aku segera berlari keluar apartemen Taesun hyung.

“Dongsaeng !” aku menoleh karena panggilan Taesun hyung.

“Pakai mobilku !” serunya sambil melemparkan kunci mobil padaku. Aku menerimanya dan segera turun. Aku sudah tidak peduli lagi rasa perih di sudut bibirku.

***

Aku kembali memutar mobilku ketika tidak menemukannya di apartemen. Ia tidak pulang ke apartemennya. Aku menjalankan mobilku menyusuri setiap sudut kota. Hampir seharian aku mencarinya. Langit sudah gelap dan membuatku semakin susah mencarinya di kegelapan malam.

“Aish ! Pabo Taemin-ah ! kenapa kau tidak meneleponnya huh ?” rutukku. Aku segera meminggirkan mobilku. Meraih ponselku di dalam saku. Tapi sebelum meneleponnya tiba-tiba sebuah telepon masuk ke ponselku. Shinbi ?

“Shinbi-ya !” teriakku semangat. Tapi semangatku berubah ketika mendengar suara yang ternyata bukan Shinbi.

‘Kau namja yang bernama Taemin ?” tanya orang di seberang sana.

“Ne, waeyo ?” tanyaku.

‘Seorang yeoja yang baru saja tertabrak mobil memanggil-manggil nama anda. Aku langsung mencari nomor anda di ponselnya, dia sedang kami bawa ke rumah sakit,’ mataku membulat. Hampir saja ponselku lepas dari tanganku.

“Ru-rumah sakit dimana ?” tanyaku terbata.

‘Coex,’ jawabnya. Aku langsung menutup teleponnya dan segera menjalankan mobilku ke rumah sakit coex. Mobil-mobil di depanku kulewati dengan kecepatan tinggi.

-to be continued-

maaf ya kalau makin ngaco .. :D

kayanya tinggal satu part lagi . .

-comment-

4 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s