[FanFic] Marry Me !! (Part 6)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Bae Sue Ji a.k.a Suzy (Miss A)
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

“Yeoja yang akan dijodohkan dengan Taemin,” jawab Taesun.

Mataku membelalak mendengar jawaban Taesun. Tenggorokanku lebih tercekat, dan jantungku hampir berhenti berdetak karena sekian detik aku tidak mengambil napas.

“Kau bercanda kan oppa ?” tanyaku sambil menaruh sebelah tanganku di atas dada. Taesun mengendikkan bahunya.

“Semoga saja tidak benar. Yang aku heran, kenapa yeoja itu tidak di jodohkan denganku ? padahal jelas-jelas aku lebih dewasa daripada Taemin,” saru Taesun semangat.

“Kenapa Taemin tidak memberitahu appa dan eomma kalian kalau dia sudah menikah ?” tanyaku penuh harap.

“Tidak semudah itu Shinbi. Eomma orang yang keras dan appa, dia sangat lemah karena mempunyai penyakit jantung. Aku takut mereka kaget mendengar berita ini dan malah menambah masalah,” jawab Taesun. Aku menghela napas pasrah.

“Jadi, aku harus menerima perjodohan Taemin dengan yeoja itu ?” tanyaku. Taesun menggeleng menyemangatiku.

“Tentu saja tidak. Kau harus berjuang mempengaruhi hati kedua orang tuaku, setelah itu baru kalian memberitahu mereka tentang pernikahan ini,” jawabnya sambil mengacak rambutku lembut.

Aku kembali tertunduk sambil menggigit bibir bawahku frustasi. Tanganku mengepal sisi bangku taman ini dengan sekuat tenaga. Bagaimana caranya ?

***

Esok paginya Taemin masih saja diam. Dia tidak menyapaku seperti biasanya. Saat sarapan pun dia tetap menahan suaranya. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

“Ada masalah ?” tanyaku. Taemin mengambil roti di hadapannya dan mengolesinya dengan selai. Aku menunggu jawaban darinya, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

“Kalau kau tidak mau bicara, aku tidak bisa mengerti keadaanmu,” timpalku dengan nada lebih keras. Taemin membanting sendok selai yang dipegangnya ke atas piring. Aku sedikit terperanjat karena kelakuannya.

“Bisa tidak menggangguku dulu ? Aku sedang banyak masalah,” ujarnya kemudian berlalu keluar apartemen.

Aku segera berlari mengejarnya dan dengan cepat memeluk Taemin dari belakang. Langkahnya terhenti.

“Jangan perlakukan aku seperti ini. Hatiku sakit,” ujarku sambil sedikit terisak. Taemin berbalik menghadapku dan langsung memegang kedua bahuku. Dengan sebelah tangannya, dia menghapus air mataku dengan lembut.

“Aku mau menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku tidak mau melibatkanmu,” balasnya sambil menatap kedua mataku. Aku menggeleng menolak pendapatnya.

“Kita bisa menyelesaikannya berdua kan ?” sanggahku.

“Kau tahu masalahku ?” tanyanya heran. Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan dan balas menatapnya.

“Tentang orang tuamu, perjodohan itu. Aku tahu dari Taesun oppa, dia memberitahuku semalam. Aku mau menyelesaikan masalah ini berdua,” jawabku.

Taemin langsung memelukku erat sambil mengusap rambutku lembut. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Dia melepas pelukannya lalu mengecup puncak kepalaku sekilas.

“Baiklah kalau itu maumu. Nanti Taesun hyung akan menjemputmu kesini, dia akan membawamu ke restoran tempat pertemuanku dengan kedua orangtuaku. Pakai baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Kita jelaskan semuanya pelan-pelan,” ujarnya. Aku mengangguk semangat mengiringi kepergian Taemin dari hadapanku. Semoga appa dan eomma Taemin menyukaiku.

– — – –

Taemin POV

Aku bersiap di depan apartemen Taesun hyung menunggu eomma dan appa datang menjemputku. Sesekali aku melirik ke arah jam tangan. Sudah telat 15 menit.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berjalan ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Orang di dalam mobil itu pun membuka kacanya.

“Eomma, appa ?” tanyaku memastikan. Mereka tidak menjawab dan menyuruhku naik ke dalam mobil mereka.

Selama di mobil tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara aku, eomma, dan appa. Aku segera mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan ke Shinbi dan Taesun hyung. Semoga mereka bisa datang tepat waktu.

Eomma dan appa memasukkan mobilnya ke sebuah parkiran hotel berbintang. Mereka menyuruhku turun dan mengikuti mereka masuk ke dalam restorannya. Kami duduk di salah satu meja di restoran itu. Ponsel yang sedari tadi ku pegang tidak henti-hentinya menarik perhatianku. Shinbi ataupun Taesun hyung belum memberikan kabar.

“Taemin, kau kelihatan gugup. Gwenchanayo ?” tanya eomma. Aku mengangguk sambil mencoba menarik ujung bibirku membentuk senyuman.

“Ah itu dia,” seru eomma sambil berdiri dari kursi. Pandanganku dari ponsel teralihkan ke arah pintu masuk restoran. Seorang yeoja masuk ke dalam restoran ini. Yeoja itu memakai dress berwarna putih dengan aksen pink diatas lutut dan sepatu tali berhak wedges. Yeoja itu menyalami eomma dan appa kemudian duduk di sebelahku.

“Taemin, kenalkan dia yeoja yang akan dijodohkan denganmu. Namanya Bae Sue Ji, kau bisa panggil dia Suzy,” ujar eomma. Yeoja bernama Suzy itu sedikit membungkukkan badannya padaku.

“Mianhae ahjussi, ahjumma, aku terlambat,” ujar Suzy sambil sedikit mengibaskan rambutnya yang panjang. Pandanganku tidak mau lepas pada yeoja bernama Suzy ini. Aku akui, dia memang cantik, tapi jantungku tidak berdetak cepat seperti aku bersama Shinbi.

“Gwenchana Suzy-ya,” balas eomma dengan senyuman lebar di bibirnya.

Eomma, appa, dan Suzy terus berbincang membahas diri Suzy. Sementara aku masih gelisah menunggu kedatangan Shinbi kesini.

‘Taesun hyung, cepatlah datang’ bisikku sambil menggenggam ponselku erat. Tak lama kemudian ponselku berbunyi, dan dengan segera ku angkat.

“Yeoboseyo” bisikku mencoba menyembunyikan suaraku agar tidak di dengar mereka bertiga.

‘Aku dan Shinbi sudah ada di depan hotel. Kami masuk saja ?’

“Ne, masuk sekarang” jawabku kemudian menutup telepon dari Taesun hyung.

Aku membetulkan posisi duduk dan mencoba menyambung diantara pembicaraan tentang Suzy. Tapi pandanganku teralihkan dengan sosok Taesun hyung di pintu masuk restoran dengan Shinbi di belakangnya.

“Hyung,” seruku. Eomma, appa, dan Suzy menoleh ke arah Taesun hyung. Aku berdiri dari kursi, Taesun hyung mendekat ke meja sambil menarik tangan Shinbi. Aku sudah mulai membuka mulut untuk memperkenalkan Shinbi ketika tiba-tiba eomma memotong.

“Taesun ? Kebetulan sekali kau datang kesini, dan kebetulan juga kau membawa pacarmu,” eomma melirik ke arah Shinbi, “cantik, siapa namanya ?”

“Eomma, dia bukan—“

“Ayo duduk, kita kedatangan calon istri dari anak-anak kita,” appa mencela omonganku. Suaraku semakin tertahan, dan tubuhku terduduk lemas di kursi. Aigo~, kenapa jadi seperti ini.

“Siapa namamu ?” tanya eomma pada Shinbi. Shinbi mengangkat kepalanya, menatapku meminta pertolongan.

“Namanya Han Shinbi, dan dia—“

“Hebat sekali kau Taesun, bisa mendapat pacar secantik ini,” sela eomma. Aku semakin pasrah saja dengan keadaan ini. Dan lebih parahnya, Taesun hyung diam saja menyetujui omongan eomma. Ottokhaji ??

***

Keadaan semakin tidak terkendali. Eomma dan appa malah menganggap Shinbi itu pacarnya Taesun hyung. Selama pembicaraan, aku hanya diam saja melihat kedekatan Shinbi dengan eomma dan appa. Setiap aku mau berbicara selalu di sela appa ataupun eomma. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya kalau seperti ini terus.

“Ah, eomma dan appa ada urusan. Pertemuannya sampai disini saja, lain kali kita berbincang seperti ini lagi. Eomma senang melihat calon istri anak-anak kita bersanding seperti ini,” seru eomma sambil menepuk pundak Shinbi dan Suzy.

“Taemin, kau antarkan Suzy pulang ke apartemennya,” perintah eomma.

“Geunde—“ ucapanku terpotong lagi dengan telunjuk eomma yang tiba-tiba mendarat di bibirku.

“Tidak ada tapi. Antarkan dia,” timpal eomma kemudian masuk ke dalam mobil menyusul appa. Mobil mereka pun menghilang dari parkiran hotel. Di depan lobby hotel, kami –aku, Taesun hyung, Shinbi, dan Suzy- masih berdiri mematung.

“Kenapa seperti ini,” keluhku sambil mengacak rambutku frustasi. Shinbi bergeser ke sebelahku kemudian memukul pelan kepalaku.

“Pabo ya ! kenapa kau tidak menjelaskannya tadi ?!” protes Shinbi.

“Bagaimana caranya ? eomma selalu mencela omonganku. Keadaannya semakin diluar kendali, ottokhae ?” balasku.

“Ehem,” Suzy berdehem. Sepertinya dia merasa diacuhkan oleh kami bertiga.

“Kau,” ujarku sambil berjalan mendekati Suzy, “kenapa kau setuju dijodohkan denganku huh ?” tanyaku emosi.

“Aku ? Kalaupun aku bisa menolak, akan kutolak mentah-mentah. Apalagi kalau tahu namjanya itu kau,” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya.

“Jinjja ? Kalau begitu sekarang kau minta pada kedua orangtuamu untuk membatalkan perjodohan konyol ini. Dan kau harus tahu, aku sudah menikah !” balasku. Suzy memundurkan wajahnya sambil mengerutkan keningnya heran.

“Shinbi,” panggilku. Shinbi berjalan mendekatiku dan dengan segera kurangkul pundaknya.

“Dia istriku, bukan pacar Taesun hyung. Sebenarnya tadi aku mau memperkenalkan dia pada appa dan eomma, tapi eomma malah menganggapnya pacar Taesun hyung. Aku mau kau batalkan perjodohan ini,” sambungku. Suzy mengerjapkan matanya berkali-kali, sampai akhirnya dia mendenguskan napas kesal.

“Ne, keurae. Aku akan membatalkan perjodohan ini. Tapi sebelumnya kau harus mengantarkan aku pulang, apartemenku jauh dari sini,” ujarnya mengajukan syarat. Aku melirik ke arah Shinbi meminta persetujuan. Shinbi tersenyum kemudian mendorongku, menyuruhku mengantar Suzy.

“Hyung, antarkan Shinbi pulang ke apartemennya naik taksi. Aku pinjam mobilmu untuk mengantar Suzy,” ujarku. Taesun hyung memberikan kunci mobilnya padaku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Shinbi pergi bersama Taesun hyung masuk ke dalam taksi dan dengan cepat menghilang dari hadapanku.

“Ehem,” Suzy kembali berdehem. Aku mengacuhkannya dan berjalan ke arah mobil Taesun hyung yang terparkir di depan halaman hotel.

“Ya ! Chamkanmayo !” teriak Suzy sambil masuk ke dalam mobil menyusulku.

***

Pagi-pagi sekali eomma sudah meneleponku. Dengan malas dan setengah sadar aku mengangkat telepon dari eomma.

“Ne eomma,” jawabku.

‘Taemin !’ teriakan eomma membuatku menjauhkan ponselku dari kupingku.

“Ne eomma,” balasku lagi.

‘Jam berapa ini ? Kau tidak sekolah ?’ tanya eomma. Aku melirik ke arah jam di dekat kepalaku. Jam 6 lewat ?! Aku segera terkesiap bangun dan berlari ke kamar mandi tanpa melepaskan ponsel yang menempel di kupingku.

“Aigo eomma, aku mau mandi. Aku tutup dulu teleponnya,” pintaku.

‘Ne, jangan lupa antarkan Suzy ke sekolah juga hari ini,’ hampir saja aku terpeleset karena ucapan eomma.

“Ne ?!” tanyaku memastikan.

‘Antar Suzy ke sekolahnya. Palli,’ eomma langsung memutuskan teleponnya. Lagi-lagi eomma menyuruhku untuk bersama yeoja itu lagi. Kalau aku pergi dengan Suzy, bagaimana Shinbi ?

Setelah selesai memakai seragam lengkap, aku segera keluar kamar. Aku bisa melihat Shinbi sedang membuat roti di meja makan. Aku segera menghampirinya dan ikut duduk di salah satu kursinya.

“Kenapa kau tidak membangunkanku ?” tanyaku sambil mengambil setumpuk roti di atas meja.

“Aku sudah membangunkanmu, tapi kau malah menarik selimut menutupi kepalamu,” jawab Shinbi menyuapkan roti ke mulutnya.

“Aigo~, mianhae,” timpalku. Aku terdiam sesaat sambil memakan roti yang ada di tanganku, bagaimana bilang ke Shinbi ?

“Shinbi,” panggilku. Shinbi mengangkat dagunya menyahuti panggilanku.

“Aku disuruh eomma mengantar Suzy. Ottokhae ?” tanyaku. Shinbi menoleh padaku dengan tatapan dinginnya. Aku rasa dia marah.

“Jinjjayo ? Disuruh eomma atau kau yang mau huh ?” tanyanya menyindir sambil meneguk susu putihnya.

“Kau tidak percaya padaku ? Aku tegaskan sekali lagi, aku disuruh eomma,” jawabku dengan nada lebih keras. Shinbi tidak bergeming, dia masih saja meneguk susunya dengan santai.

“Kalau kau tidak menjawab berarti kau menyetujuiku. Aku pergi dulu,” timpalku dingin sambil menyambar tas sekolahku. Aku beranjak dari kursi dan keluar dari apartemen. Untung mobil Taesun hyung belum sempat aku kembalikan, jadi Suzy masih sempat kuantar.

– — – –

Shinbi POV

Roti yang ada di hadapanku membuatku semakin tidak berselera makan. Apa maksud Taemin seperti itu ? belum kujawab dia sudah pergi meninggalkanku.

Aku mengambil tas sekolahku dan membawanya keluar apartemen. Berjalan sendirian ke halte bus, membuat hatiku semakin sakit. Aku kira masalahnya akan selesai setelah aku datang ke hadapan eomma dan appa Taemin, tapi malah membuat keadaan semakin rumit seperti ini.

Dengan gontai aku berjalan masuk ke dalam kelas. Segera duduk di bangku dan segera menyandarkan kepalaku ke atas meja. Taemin benar-benar membuatku gila, kepalaku rasanya pusing sekali memikirkannya. Yang terbayang di otakku sekarang adalah Taemin yang sedang bergandengan tangan dengan yeoja yang bernama Suzy itu. Saling merangkul satu sama lain, mencium kening Suzy, dan mengantarnya ke dalam sekolahnya. Oke, menurutku itu berlebihan. Tapi aku tidak bisa menghindarkan kalau Suzy itu memang cantik, dan laki-laki manapun pasti akan suka melihatnya. Ayolah Shinbi, Taemin itu baik, dia tidak mungkin melakukan hal yang macam-macam.

“Annyeong,” sapa Lee sonsaengnim di depan kelas. Aku segera mengangkat kepalaku dari atas meja. Sekarang bergantian menjadi menopang dagu, memandangi setiap tulisan Lee sonsaengnim tidak selera. Biasanya aku selalu bersemangat belajar pelajarannya, tapi sekarang tidak. Mungkin karena tidak ada Taemin di sebelahku, yang selalu bermain-main dengan kertas yang sudah ditulisinya dengan kata-kata aneh. Dan aku sadar kalau hal itu yang membuatku selalu bersemangat belajar.

“Telat lagi Lee Taemin ?” tanya Lee sonsaengnim berhasil memecah lamunanku. Taemin membungkukkan badannya dalam-dalam pada Lee sonsaengnim.

“Duduk,” perintahnya. Taemin membungkuk sekali lagi kemudian berjalan ke mejaku.

Aku membuka buku pura-pura acuh tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Taemin duduk di sebelahku, sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi karena sonsaengnim sudah mulai menjelaskan pelajarannya.

“Sudah pacarannya ?” sindirku sambil menyalin tulisan Lee sonsaengnim di papan tulis tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku tidak pacaran dengannya. Sekolahnya berlawanan arah, jadi aku harus memutar balik,” jawab Taemin ketus.

“Na na na na, aku tidak dengar,” balasku sambil menutup kuping.

“Lee Taemin ! Han Shinbi ! Silahkan keluar dari pelajaranku !” teriak Lee sonsaengnim. Aku dan Taemin saling menatap menyalahkan kemudian keluar dari kelas.

Kami berjalan di koridor sekolah tanpa tentu arah. Aku mengikuti Taemin berjalan di belakangnya, sesekali Taemin menoleh tapi aku segera memalingkan wajah pura-pura tidak lihat. Apa dia tidak merasa bersalah huh ?

“Shinbi,” panggil Taemin sambil berjalan ke arahku.

“Ikut aku,” Taemin menarik tanganku sebelum aku memberikan jawaban padanya.

Ia membawaku pergi dengan mobil Taesun hyung yang terparkir di depan sekolah. Jalanan sangat sepi sehingga Taemin membawa kencang mobilnya melewati setiap mobil di depannya. Aku menyergah tangan Taemin, mencegahnya untuk menambah kecepatan mobilnya.

“Berhenti,” sahutku. Taemin menoleh ke arahku heran.

“Berhenti,” tegasku sekali lagi. Taemin menuruti kata-kataku, ia meminggirkan mobilnya. Taemin keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu di sebelahku. Membukakan pintunya kemudian menyodorkan tangannya untuk membantuku keluar dari mobil.

“Sirho,” ujarku sambil menepis tangannya. Aku berjalan masuk ke dalam kedai es krim di depan mataku. Membeli salah satu es krim yang ada untuk mendinginkan kepalaku yang sudah memanas karena kejadian tadi pagi.

“Ahjumma, es krimnya satu,” seruku pada ahjumma yang berdiri di belakang meja kasir. Ahjumma itu mengangguk dan berjalan ke lemari es besar di belakangnya, mengambil 3 scoop es krim kemudian menghiasnya.

“Ahjumma, aku juga,” seru Taemin. Ahjumma itu kembali ke belakang untuk membuat es krim pesanan Taemin. Kami hanya diam sampai semua pesananku dan pesanan Taemin selesai di buat. Aku menyerahkan uang pada ahjumma itu, membayar es krimku. Tapi Taemin menepis tanganku dan memberikan uang dua kali lipat untuk membayar es krimku juga.

Aku dan Taemin duduk di kursi masih di dalam kedai es krim itu. Menyesap setiap suapan es krim yang terasa hambar di dalam mulutku. Lagi-lagi kami diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Hei,” panggil Taemin. Aku menoleh padanya dengan tatapan dingin andalanku. Taemin menyodorkan sesendok es krim ke hadapanku.

“Aaaa,” ujarnya. Aku mengernyitkan kening heran, dia terus menyodorkan es krimnya sehingga membuatku terpaksa membuka mulut untuk menerima suapan es krimnya. Es krim itu baru terasa ketika Taemin yang menyuapkannya.

“Masih marah ?” tanyanya. Aku menyeka sisa es krim di sudut bibirku kemudian menggeleng.

“Apa perlu aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan meninggalkanmu untuk yeoja manapun. Termasuk Suzy,” timpalnya. Ucapan Taemin membuat hatiku sedikit tenang, tapi kenyataannya nanti aku tidak tahu. Kita tidak akan tahu hari esok kan ?

“Ayolah, jangan menekuk wajahmu seperti itu. Senyum, aku suka senyummu,” seru Taemin. Aku menaruh kedua jariku di sudut bibir dan menariknya menjadi sebuah senyuman.

“Yang tulus,” timpalnya lagi. Aku tersenyum lagi, kali ini lebih tulus dan tanpa paksaan dengan tarikan jariku. Taemin terkekeh, membuatku kembali melipat senyumku, memajukannya menjadi mengerucut.

“Jadi, kau mau kemana hari ini untuk menebus kesalahanku ?” tanya Taemin. Aku menyuapkan es krim itu lagi ke dalam mulut, berpikir sambil tetap menempelkan sendok es krim itu di bibirku.

“Everland,” jawabku acuh.

“Baiklah. Kajja,” Taemin menarik tanganku, meninggalkan es krim yang masih bersisa banyak.

***

Hampir seharian kami bermain di Everland masih memakai seragam sekolah. Hampir semua wahana juga kami coba di Everland. Tidak ada beban lagi di hatiku sekarang, semuanya sudah aku buang dengan teriakan-teriakan ketika aku naik wahana ekstrem. Sungguh, aku tidak mau hari ini berakhir.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, kami duduk di bangku di dalam Everland. Menikmati sekaleng jus strawberry sambil memandangi setiap orang yang berlalu lalang. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Taemin, membiarkan rasa lelahku ini hilang. Aku memejamkan mata, menghayati setiap helaan napasku.

“Senang huh ?” tanya Taemin. Aku mengangguk masih dengan mata terpejam. Tangan kiri Taemin beranjak mengusap kepalaku lembut. Belum lama dia melakukannya tiba-tiba ponsel Taemin berbunyi. Aku mengangkat kepalaku dari bahunya. Taemin mengangkat telepon di ponselnya.

“Mwo ?! Pingsan ? Dimana dia sekarang ?” tanya Taemin panik. Keningku berkerut.

“Baiklah, aku kesana sekarang,” balas Taemin kemudian menutup telepon di ponselnya. Dia menggenggam ponselnya erat.

“Wae ?” tanyaku. Dia menoleh ke arahku, memegang kedua bahuku.

“Aku harus pergi. Suzy, dia pingsan ketika pulang sekolah tadi,” jawab Taemin. Suzy, lagi-lagi dia yang menggangguku dengan Taemin. Aku hanya bisa mengangguk pasrah menyetujui.

“Gomawo, aku janji akan cepat pulang,” balasnya sambil mengacak rambutku. Taemin beranjak dan pergi meninggalkanku sendirian. Sekarang aku tidak bisa memungkiri kalau aku memang cemburu dengan Suzy. Mana janji dia tadi pagi ? Dia bilang tidak akan meninggalkanku karena Suzy sekalipun.

-to be continued-

leave comment . .

3 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s