[FanFic] Marry Me !! (Part 5)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Kim Hyun Ae
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

“Maksud uisa ?” tanya Shinbi.

“Kau hanya keracunan makanan. Kau makan apa kemarin ?” aku bisa mendengar helaan napas lega dari Shinbi. Begitu juga denganku yang menghela napas lega karena ucapan Kim uisa.

“Aku makan galbi,” jawab Shinbi. Terlihat semburat kelegaan di wajah Shinbi.

“Ini obat yang harus dibeli,” ujar Kim uisa sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah ditulisi olehnya. Shinbi menerima kertas itu kemudian berdiri dari kursi.

“Kamsahamnida uisa. Kami pergi dulu,” seru Shinbi. Shinbi menarik tanganku untuk bangun dan segera membawaku keluar dari ruangan Kim uisa.

“Aku kira kau benar-benar hamil,” ujarku. Shinbi terkekeh kemudian menepuk kepalaku pelan.

“Aku kira juga seperti itu. Kau tahu, saat aku mengetahui tanda-tanda kehamilan seperti yang aku rasakan tadi pagi, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku sangat tidak sabar untuk pergi ke dokter dan memastikan kalau dugaanku salah. Dan ternyata benar, aku hanya keracunan makanan saja,” balasnya. Aku tersenyum lalu mendekatkan bibirku ke telinganya.

“Tapi suatu saat nanti kau akan benar-benar hamil,” aku langsung berlari setelah selesai mengucapkannya.

“Ya !” sahutnya sambil berlari mengejarku. Shinbi memukul lenganku pelan dan kemudian menggamitnya.

“Mungkin,” timpalnya disusul tawaan kami berdua.

***

Shinbi sudah bisa tersenyum lagi. Setelah tadi siang kami bersitegang menunggu hasil periksa dokter. Aku senang karena ternyata dia hanya keracunan makanan, tidak lebih.

“Kau mau tidur dimana ?” tanya Shinbi ketika melihatku membawa bantal dan gulingku ke sofa.

“Di sofa, memang biasanya aku tidur di sofa kan ?” tanyaku balik.

“Ah iya aku lupa,” jawabnya. Shinbi masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. Aneh sekali, tumben sekali dia menanyakan hal itu padaku.

Aku berbaring di sofa menghadap TV sambil menonton. Aku tidak bisa tidur.

“Taemin,” panggil Shinbi di depan pintu kamarnya. Aku membuka mata dan melihat Shinbi berdiri disana sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.

“Aku takut,” ujarnya. Aku menghampiri Shinbi dan memeluknya. Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit bergetar.

“Kau mimpi buruk ?” tanyaku. Shinbi hanya mengangguk di antara lipatan tanganku.

“Temani aku. Aku tidak mau tidur sendirian,” serunya. Shinbi melepas pelukanku dan memberikan tatapan nanarnya padaku. Aku mengangguk sekilas lalu menggiringnya masuk ke dalam kamar.

Shinbi tertidur di tempat tidurnya sambil memegangi tanganku. Aku masih duduk di sisi tempat tidurnya sambil membalas memegang tangannya. Setiap aku mau beranjak dari sana, selalu ada dorongan di dalam hatiku agar tidak pergi meninggalkannya.

“Taeminnie,” panggil Shinbi masih dengan mata terpejam.

“Ne, aku disini,” balasku. Shinbi tersenyum dan menghela napasnya lega.

Aku pindah ke sisi tempat tidur yang lainnya. Sekarang aku berada di samping Shinbi, tidur-tiduran sambil memegangi tangannya. Dari posisiku sekarang, aku bisa melihat wajah Shinbi yang hanya berjarak beberapa senti di depanku. Aku terus memandangi wajahnya sampai akhirnya aku tertidur di samping Shinbi.

***

Aku segera membuka mataku ketika sadar Shinbi sudah tidak ada di sampingku. Aku mendengar suara Shinbi di kamar mandi.

“Shinbi,” aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban dari dalam, yang kudengar hanya suara kran air dan suara Shinbi yang sedang muntah-muntah.

“Shinbi, gwenchanayo ?” tanyaku sambil mengetuk pintunya lagi. Tak lama kemudian Shinbi keluar dari kamar mandi sambil menyeka mulutnya.

“Kau kenapa lagi ?” tanyaku.

“Molla, mungkin obat penetralisir racun dari uisa belum bereaksi. Nanti juga sembuh,” jawabnya. Shinbi mengambil seragam di dalam lemarinya, tapi jalannya sedikit timpang dan tidak lurus.

“Kau masih pusing ?” tanyaku lagi.

“Sedikit, tapi aku harus masuk sekolah hari ini,” jawabnya. Aku menghampiri Shinbi dan memegang keningnya.

“Badanmu sedikit panas, lebih baik kau tidak sekolah,” usulku. Shinbi menggeleng sambil membawa seragamnya ke kamar mandi.

“Aku harus masuk sekolah,” ujarnya dari dalam kamar mandi.

Aku keluar dari kamar Shinbi dan masuk ke dalam kamar mandi yang lainnya untuk bersiap-siap. Setelah keluar kamar mandi dan siap dengan seragam lengkap, aku kembali masuk ke kamar Shinbi untuk mengecek Shinbi. Dia belum keluar dari kamar mandi.

“Shinbi,” aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandinya. Lagi-lagi tidak ada jawaban, tidak ada suara apapun di dalam.

“Shinbi ! kau tidak apa-apa ?” rasa panik mulai menjalari otakku. Shinbi tidak menjawab pertanyaanku.

Aku mundur beberapa langkah dan bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi Shinbi. Dengan sekali menabrak pintu itu dengan pundakku, pintu itu terdobrak. Shinbi tergeletak di lantai kamar mandi. Tubuhnya sudah berbalut seragam tetapi dia tidak sadarkan diri.

“Shinbi ! Shinbi !” ujarku sambil menopang sebagian tubuhnya.

Aku segera mengangkat tubuh Shinbi dan menidurkannya di tempat tidur. Wajahnya lebih pucat dari kemarin, panas badannya pun lebih tinggi.

Aku menyelimuti tubuh Shinbi, menyalakan penghangat ruangan agar dia bisa berkeringat. Aku keluar dari kamar Shinbi untuk mengambil air hangat untuk mengompres kening Shinbi.

Aku menaruh kompresan itu di kening Shinbi, tak lama kemudian dia membuka mata dan melihat ke arahku.

“Kenapa aku bisa ada disini ?” tanyanya. Aku menaruh telunjukku di bibirnya menyuruhnya diam.

“Jangan banyak bicara, istirahat saja. Dasar bandel, sudah aku bilang jangan berangkat sekolah. Bagaimana kalau kau pingsan di sekolah nanti, bisa repot nanti,” seruku. Shinbi tersenyum geli mendengar perkataanku. Dia menyingkirkan kompresan di keningnya dan bangun bersandar pada sisi tempat tidur.

“Kau mendobrak pintu kamar mandi ?” tanyanya heran. Aku mengangguk sekilas kemudian memalingkan wajahku dari pandangannya.

“Jinjja ? wajahmu memerah,” ejeknya. Aku semakin memalingkan wajahku agar tidak terlihat Shinbi, tapi dia masih tertawa.

“Kalau kau masih tertawa, aku berangkat sekolah sekarang juga,” Shinbi langsung menghentikan tawanya. Aku tersenyum puas, karena ternyata ancamanku berhasil.

“Jangan ke sekolah,” ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh ke arah Shinbi yang sedang menundukkan kepalanya. Aku mengacak-acak puncak kepalanya lembut.

“Baiklah, aku tidak akan pergi ke sekolah. Untukmu,” sahutku. Shinbi mengangkat kepalanya sambil tersenyum kemudian memelukku yang duduk di samping tempat tidurnya.

– — – –

Shinbi POV

Taemin menyuapiku dengan bubur yang baru saja dibuatnya. Setiap suapannya terasa lembut di dalam mulutku.

“Kau pintar masak juga ya,” pujiku. Taemin menaruh mangkuk bubur di tangannya ke meja dan menyodorkanku segelas air putih.

“Hanya bubur, yang lainnya aku tidak bisa. Lebih pintar kau yang bisa memasak banyak makanan,” puji Taemin balik. Aku tersenyum sambil menaruh gelas itu ke nampan di atas meja.

Ting Tong

Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Aku hendak bangun dari tempat tidur tapi Taemin langsung mencegahku.

“Andwae ! biar aku yang buka pintunya,” cegah Taemin.

Taemin membawa nampan di meja sebelah tempat tidurku yang berisi mangkuk dan gelas keluar dari kamarku. Aku memandangi kepergian Taemin keluar dari kamar sambil tersenyum. Hari ini aku merasa bahagia karena Taemin memperhatikanku.

Hampir 10 menit Taemin keluar dari kamarku dan membuka pintu apartemen, tapi dia belum kembali juga. Aku beranjak dari tempat tidur berjalan ke arah pintu kamar. Aku membuka sedikit pintu kamarku. Tidak kulihat tanda-tanda Taemin di dalam apartemen.

“Taeminnie,” panggilku sambil melangkahkan kaki keluar kamar. Aku mengitarkan pandanganku ke seluruh apartemen ini, dia tidak ada.

Pintu apartemenku masih sedikit terbuka. Dengan sedikit gontai aku berjalan ke arah pintu untuk menutupnya, tapi tanganku terhenti di atas gagang pintu ketika mendengar suara Taemin diluar. Dia sedang mengobrol, dengan seorang yeoja.

“Aku mohon Taemin, aku masih mencintaimu. Jangan tinggalkan aku,” ujar yeoja itu sambil sedikit terisak.

“Mianhae, aku tidak bisa. Aku bilang aku sudah menikah sekarang, aku sudah berjanji untuk melindunginya. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak bisa,” balas Taemin dengan suara sedikit bergetar.

“Tatap mataku,” seru yeoja itu.

“Katakan kau tidak mencintaiku,” serunya lagi.

“Aku-aku, aku tidak bisa Hyun Ae,” balas Taemin. Hyun Ae ? Bukankah dia yeoja yang pernah bertemu denganku waktu itu ?

“Itu berarti kau masih mencintaiku kan ?” tanyanya. tidak terdengar jawaban dari Taemin.

Aku memegang gagang pintu itu dan membukanya perlahan. Aku sedikit menyembulkan kepala. Tapi ternyata tindakanku salah. Di depan mataku, di hadapanku, mereka tengah berpelukan. Pelukan yang berbeda dengan pelukan yang selalu Taemin berikan padaku. Pelukan pada yeoja itu terlihat tulus dan hangat di mataku.

Mataku memanas, sedetik kemudian setitik air mata mulai mengalir di pipiku. Hatiku sakit, sakit melihat mereka seperti itu. Aku tahu pernikahan ini hanya sementara, bahkan Taemin menganggap ini hanya sebuah janji yang harus dipenuhinya.

Aku menutup pintu perlahan, menyandarkan tubuhku di belakangnya. Kepalaku semakin pusing, pikiranku melayang entah kemana. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Terakhir kali hatiku sakit seperti ini ketika melihat kedua orang tuaku dibunuh, orang yang aku cintai. Dan sekarang, hanya karena seorang namja aku menangis. Aku tidak pernah berpikir akan sesakit ini jadinya.

***

Sudah hampir 1 minggu aku tidak berbicara dengan Taemin. Setiap omongannya hanya aku timpali dengan anggukan atau gelengan. Aku takut kalau aku berbicara padanya, aku akan menangis lagi. Jujur saja aku lelah selalu menghindari Taemin seperti ini. Tapi aku berharap dia sadar dengan tingkahku.

“Shinbi,” panggil Taemin ketika aku sedang memilih bahan-bahan makanan di supermarket untuk makan malam. Aku pura-pura tidak mendengar omongannya dan masih terus memilih bahan makanan.

“Shinbi, aku mau samgyupsal,” serunya. Aku mengambil sepotong daging dan daun selada untuk membuat samgyupsal.

Ternyata keranjang belanjaku berat juga, tapi aku tidak mungkin meminta tolong padanya. Aku kan sedang marah pada Taemin.

“Berat ya ?” tanya Taemin ketika melihatku kesusahan membawa keranjang itu. Aku menggeleng sambil terus mengangkatnya.

“Yasudah kalau tidak mau dibantu,” timpal Taemin kemudian berjalan meninggalkanku.

Setelah semuanya terbungkus rapi, lagi-lagi aku mencoba mengangkat tas plastic yang berat itu sendirian. Taemin berjalan di depanku dengan santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.

“Perlu bantuan ?” tanya seorang namja. Aku menoleh dan melihat Taesun tengah menyodorkan tangannya padaku.

“Ah ne. Gomawo oppa,” jawabku sambil menyerahkan tas plastic yang satu padanya. Taemin tidak terusik dan masih saja berjalan tanpa menoleh ke arahku.

“Kalian sedang bertengkar ?” tanyanya.

“Anni-anni, aku hanya sedang kesal dengan Taemin,” jawabku. Langkah Taemin terhenti kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. Tatapannya terhenti pada sosok Taesun di sampingku.

“Hyung ? sedang apa disini ?” tanyanya dingin.

“Aku mau ke apartemenmu. Tapi, karena melihat Shinbi kesusahan membawa tas plastic ini aku membantunya,” jawab Taesun sambil melirik ke arahku. Taemin menyeringai kecil dan kembali berjalan di depanku.

“Jangan terlalu di ambil hati. Taemin memang seperti itu, nanti juga sembuh sendiri,” ujar Taesun terkekeh. Aku tersenyum membalas ucapan Taesun tanpa melepaskan pandanganku pada Taemin yang mulai berjalan menjauh.

***

Hari ini jam pulang sekolah lebih sore dari biasanya. Karena ada pelajaran tambahan untuk materi ujian akhir nanti. Hujan juga belum berhenti sejak tadi siang. Dan sialnya aku tidak membawa payung karena tadi pagi langitnya cerah, tidak ada tanda-tanda akan hujan. Taemin juga sudah pulang, dia tidak ikut pelajaran tambahan karena ada urusan dengan Taesun.

“Aish, kenapa hujannya tidak berhenti juga,” keluhku sambil menggosok-gosokkan tangan dan sesekali menempelkannya di pipi untuk menghilangkan rasa dingin yang mulai menyerang tubuhku.

“Kau belum pulang ?” aku menoleh dan melihat Kibum berdiri dengan jarak yang cukup dekat.

“Apa urusanmu,” balasku ketus. Aku kembali menggosok-gosokkan tanganku. Aku rasa udara semakin dingin.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti pundakku. Kibum melepaskan jaketnya dan ternyata untuk menyelimuti pundakku.

“Tidak usah,” ujarku melepas jaket Kibum. Kibum menahanku, menyuruhku untuk tetap memakainya walaupun tidak dengan kata-kata.

Kami terdiam beberapa saat. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kibum semakin aneh akhir-akhir ini. Dia selalu baik dan memberikan perhatian lebih padaku.

“Aku hanya ingin menebus kesalahanku. Itu saja,” ujarnya seolah bisa membaca pikiranku.

“Kau tidak salah apa-apa,” balasku dingin.

Sekarang hanya aku dan Kibum yang belum pulang. Semuanya sudah pulang, entah itu dijemput atau pulang sendiri karena membawa payung. Yang membuatku heran, kenapa Kibum belum pulang dan masih betah berdiri di sampingku padahal hujannya sudah mulai reda. Aku melepas jaket Kibum dan mengembalikan pada pemiliknya. Aku melangkahkan kaki keluar gedung sekolah untuk menerobos hujan.

“Shinbi !” panggil Kibum lagi. Aku menoleh sambil menutupi wajahku yang tertimpa air hujan.

“Gomawo sudah mau memaafkanku,” teriaknya. Aku mengangguk kemudian meneruskan berlari untuk menghindari hujan yang semakin deras.

Hujan semakin deras dan membuatku kembali berteduh di halte bus dekat sekolah. Udara semakin dingin, langit juga sudah semakin gelap menjelang malam. Apa Taemin tidak peduli lagi padaku ?

Air mataku kembali tergenang mengingat Taemin memeluk Hyun Ae waktu itu. Apalagi kalau mengingat dia sudah semakin tidak peduli padaku dan membiarkan aku berdiri sendirian di bawah hujan. Kenapa aku masih berharap kalau Taemin merasakan hal yang sama denganku.

“Jangan menangis,” seru seseorang. Aku menghapus air mataku sambil tersenyum pada orang yang menyerukan ucapan itu.

“Dasar bodoh,” aku merasakan sesuatu menimpa puncak kepalaku. Pukulan hangat dari seseorang yang sedari tadi aku pikirkan. Sekarang dia berdiri di hadapanku sambil memberikan tatapan khawatirnya.

“Kenapa kau tidak meneleponku kalau kau terjebak hujan huh ?” tanyanya masih tidak melepaskan tangannya dari puncak kepalaku.

“Aku tidak mau mengganggumu,” jawabku dingin. Taemin menurunkan tangannya kemudian menggelengkan kepalanya yang sedikit basah.

“Kau sama sekali tidak menggangu. Kenapa kau selalu menghindariku ?” tanyanya lembut. Aku menghindari tatapan matanya dan kembali menatap jalanan yang sudah sepi karena langit semakin gelap. Diam, hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku yang sakit ini karenanya.

“Kenapa ?” tanyanya lagi.

“Bukannya kau yang menjauhiku ? Sejak kau bertemu dan berpelukan dengan yeoja yang bernama Hyun Ae itu huh ?!” jawabku. Aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku sambil merutukki diri sendiri karena sudah mengatakan hal bodoh seperti itu.

“Jadi, karena itu kau menghindariku ?” tanyanya sambil sedikit terkekeh. Aku menggigit bibir bawahku menahan air mata yang sudah hampir mengaliri sudut mataku. Jangan sampai aku menangis di depan Taemin.

“Kalau aku melakukan ini, apa kau masih marah padaku ?” ujarnya. Aku menoleh tiba-tiba ke arahnya dan tiba-tiba juga dia mengecup bibirku sekilas.

“A-apa yang kau lakukan ?” tanyaku. Terlihat semburat rona merah di pipi Taemin. Tanpa menjawab pertanyaanku, Taemin malah memelukku dan menenggelamkan tubuhku di dalam hoodie tebal yang dipakainya.

“Tubuhmu dingin. Biarkan seperti ini sampai suhu tubuhmu kembali normal,” ujarnya. Aku membalas pelukannya, pelukan hangat dari seorang Lee Taemin. Pelukan yang lebih tulus dan hangat daripada pelukan yang dia berikan pada Hyun Ae.

“Dia itu bukan siapa-siapa. Hyun Ae adalah mantan pacarku, dan kemarin dia memohon padaku agar aku mau kembali padanya. Tapi aku menolaknya dengan alasan yang kuat,” Taemin menjeda omongannya, “aku bilang, karena aku sudah punya seseorang di hatiku. Aku harus menepati janjiku untuk selalu melindunginya dan berada di sisinya selamanya, Han Shinbi,” ucapnya.

Taemin melepas pelukannya kemudian menghapus air mataku dengan jemarinya. Dia tersenyum sambil mengacak-acak rambutku asal.

“Jangan marah lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu,” ujarnya kemudian merangkulku dan membawaku pulang ke apartemen.

***

Hampir setiap hari kami bertemu setelah aku memaafkannya. Hampir ? ya hampir, karena setiap hari dia harus menggantikan pekerjaanku sebagai pelayan di Cheondeok café. Kami hanya bertemu di sekolah, setelah itu dia menghilang entah kemana. Tak jarang dia pulang ke apartemen Taesun karena pulang terlalu larut.

Hari ini Taemin pulang ke apartemenku. Dia tampak lelah dan langsung menjatuhkan diri di atas sofa di ruang TV. Aku langsung memberinya segelas air kemudian duduk di sebelahnya.

“Tumben sekali kau pulang kesini,” ejekku. Taemin meneguk air minumnya sampai habis lalu menaruhnya di meja dengan kasar.

“Aku lelah sekali hari ini. Bisa kau tidak menggangguku dulu ?” ucapan Taemin langsung menusuk ke dalam hatiku. Walaupun dia berbicara dengan nada halus, tapi berhasil membuat tenggorokanku tercekat dan membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

“Ah, ne. Aku tidak akan mengganggu,” ucapku dengan sedikit bergetar. Aku bangun dari sofa dan berjalan masuk ke kamar.

Setelah menutup pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Mataku tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur tapi pikiranku melayang entah kemana. Aku masih shock dengan ucapan Taemin barusan. Aku meletakkan sebelah tanganku di atas dada. Berusaha menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul di hatiku. Terasa sakit disini setelah mendengar ucapan Taemin.

Aku meraih ponselku yang tergeletak di atas meja kecil itu. Aku mencari-cari nomor ponsel seseorang yang bisa menghiburku saat ini. Taesun ! Dia yang bisa mengerti keadaanku sekarang. Aku mengirim pesan pada Taesun, tak lama kemudian Taesun meneleponku. Dengan semangat aku mengangkatnya.

‘Waeyo Shinbi ?’ tanya Taesun di seberang sana.

“Aku butuh udara segar, bisa oppa temani aku berjalan-jalan diluar ?”

‘Ah baiklah. Kau mau kemana ?’

“Aku hanya mau berjalan-jalan sebentar saja. Aku tunggu di taman dekat apartemenku,”

‘Aku segera kesana’ teleponnya terputus. Aku mengambil napas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan. Rasa sakit itu sedikit menghilang setelah aku mengambil napas.

Aku mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu dan memakainya asal. Ketika keluar dari kamar, aku bisa melihat Taemin sedang menonton TV sambil memakan cemilan. Dia melirik ke arahku sekilas kemudian kembali focus pada TV.

“Mau kemana ?” tanyanya dingin tanpa melirik ke arahku.

“Bukan urusanmu,” balasku tak kalah dingin. Tanpa menunggu balasan dari Taemin, aku segera keluar dari apartemen dan berjalan ke taman.

***

“Sudah lama ?” tanya Taesun dengan napas sedikit terengah. Aku yang sedang duduk di bangku taman pun segera berdiri menyambutnya.

“Anni, baru saja,” jawabku. Taesun mengelus dadanya sambil mengatur napas. Aku memandangnya heran, rambut dan bajunya sedikit berantakan.

“Ah, baguslah. Aku kira aku terlambat. Ternyata tidak sia-sia aku berlari dari halte bus,” ujarnya terkekeh.

Aku kembali duduk di bangku taman diikuti Taesun. Aku tertunduk mencoba mencari cara untuk membuka pembicaraan dengannya. Kami terdiam beberapa saat sampai akhirnya aku mengeluarkan suara.

“Taemin. Apa oppa tahu masalah apa yang sedang dipikirkannya ?” tanyaku. Selama ini Taemin sering pulang ke apartemen Taesun, siapa tahu dia pernah mendengar keluhan Taemin.

“Aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu appa dan eomma kami akan datang dalam waktu dekat ini, dan mereka akan membawa seorang yeoja,” Taesun menggantungkan omongannya.

“Nuguji ?” tanyaku penasaran.

“Yeoja yang akan dijodohkan dengan Taemin,” jawab Taesun.

Mataku membelalak mendengar jawaban Taesun. Tenggorokanku lebih tercekat, dan jantungku hampir berhenti berdetak karena sekian detik aku menahan napas.

“Kau bercanda kan oppa ?”

-to be continued-

3 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s