[FanFic] Marry Me !! (Part 4)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Kim Hyun Ae
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

Taemin POV

Shinbi langsung memelukku erat. Napasnya terdengar tidak beraturan. Shinbi menggeleng-gelengkan kepalanya seperti phobia kegelapan.

“Gwenchanayo ?” tanyaku. Shinbi menggelengkan kepalanya sambil terus mempererat pelukannya. Sebenarnya Shinbi kenapa ? apa dia punya kenangan buruk dengan gelap ?

“Sebaiknya kita ke kamar,” ujarku. Aku membimbing Shinbi ke dalam kamar dengan bantuan cahaya dari ponselku. Aku mendudukkan Shinbi di sisi tempat tidur. Aku menyinari wajahnya dengan ponselku. Tatapannya kosong dan wajahnya pucat.

“Apa kau punya kejadian menakutkan di dalam gelap ?” tanyaku. Shinbi menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menangis. Aku mendekap Shinbi ke dalam pelukanku sambil mengelus kepalanya lembut.

“Kau tahu apa yang membuatku takut ?” tanyanya. Aku menggeleng tidak tahu sambil terus mengelus rambutnya.

“Kedua orang tuaku dibunuh dalam gelap. 2 tahun yang lalu, saat kami semua sedang merayakan ulang tahunku, tiba-tiba lampu di rumahku mati. Aku mendengar suara ribut-ribut di ruangan itu, dan membuatku memojok di sudut ruangan. Ketika lampunya menyala, aku lihat salah satu dari mereka mencabut pisau dari perut ayahku. Beberapa hari kemudian aku baru tahu kalau mereka penagih hutang. Dan sejak saat itu aku takut dengan gelap,” jelasnya.

“Jadi kau sudah tidak punya orang tua ?” tanyaku. Shinbi menghapus air matanya kemudian melepas pelukanku.

“Tentu saja tidak. Aku kan sudah menjelaskannya,” jawab Shinbi sedikit bergurau.

Tiba-tiba lampu kembali menyala. Wajah Shinbi memerah, entah karena pelukanku atau karena tangisannya.

“Besok kita harus sekolah. Aku mau tidur,” ujarnya kikuk. Shinbi langsung menenggelamkan diri ke dalam selimut. Aku memandangnya sambil tersenyum membayangkan wajahnya yang malu seperti tadi.

“Aku juga mau tidur,” balasku. Aku keluar dengan membawa bantal dan gulingku ke sofa.

***

Kami –aku dan Shinbi- berangkat ke sekolah bersama. Ketika sampai di sekolah, semua murid memberikan tatapan aneh padaku. Aku menoleh pada Shinbi dan dia hanya mengendikkan bahunya tidak tahu.

“Lihat ! Pengantin baru masuk sekolah,” teriak salah satu teman sekelasku ketika kami berdua masuk ke dalam kelas. Kibum dan Hyunmi yang sedang bermesraan di pojok kelas pun segera teralihkan perhatiannya padaku dan Shinbi.

Kibum menghampiriku dan Shinbi kemudian menyodorkan tangannya ke arahku.

“Chukhahaeyo. Akhirnya kalian menikah juga, aku ikut berbahagia,” ujarnya kemudian terkekeh. Seisi kelas tertawa karena perkataan Kibum. Aku menghiraukannya dan duduk bersama Shinbi di bangku kami.

“Jangan dengarkan mereka,” bisikku ketika melihat Shinbi sedikit murung. Aku menepuk kepalanya dan membuatnya tersenyum padaku.

Seisi kelas terus mengejek kami sampai bel mulai pelajaran berbunyi. Aku bisa melihat sedikit kekecewaan di dalam wajah Shinbi.

“Shinbi, kau pulang duluan saja. Aku harus mengurus masalah ini,” ujarku ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku langsung pergi meninggalkan Shinbi menuju ruang guru. Aku harus membicarakan ini dengan guru-guru.

– — – –

Shinbi POV

Aku memandangi kepergian Taemin keluar kelas. Aku pun memutuskan segera pulang untuk menghindari kelas-kelas lain yang belum keluar. Aku segera berlari ke tempat pemberhentian bus.

Akhirnya aku bisa menghela napas lega karena berhasil menghindar. Aku merasa terbebani, kalau aku tidak menikah dengan Taemin bisa-bisa aku menjadi bahan obrolan hangat di sekolah. Begitu juga sebaliknya. Aku bingung sekali.

“Sepertinya disini kosong,” ujar segerombolan namja yang baru masuk ke dalam bus. Rasanya aku pernah melihat segerombolan namja itu sebelumnya. Di Cheondok café ! mereka namja yang merayuku waktu itu !

Aku segera memalingkan wajahku agar tidak bertemu pandang dengan mereka. Tapi sialnya salah satu dari mereka duduk di sebelahku dan terus memandangiku.

Sepertinya namja yang duduk di sebelahku menyadari tingkah anehku yang berusaha menghindari mereka. Namja yang duduk di sebelahku menarik tanganku dan membuatku menoleh padanya.

“Hey agasshi, kita bertemu lagi. Sepertinya kita memang jodoh,” ujarnya dengan sebuah senyuman licik di bibirnya. Aku menarik tanganku dari genggamannya dan mencoba kabur dari mereka. Tapi namja itu menarik tanganku sehingga membuatku duduk kembali di sebelahnya. Omona, siapa yang bisa menolongku sekarang ?

“Kau harus ikut dengan kami kali ini,” sambungnya. Aku mengitarkan pandanganku ke seluruh bus dan hanya ada aku bersama ke 5 namja kurang ajar ini. Aku memejamkan mata sambil terus menggumamkan nama Taemin di dalam hatiku.

“Shinbi ?” aku mendengar suara Taesun. Aku sudah mulai bisa membedakan suara Taemin dan Taesun. Aku menoleh dan melihat Taesun sedang berdiri di dekat pintu masuk bus.

“Oppa, tolong aku,” ujarku. Taesun memandangi namja yang juga sedang memandangnya.

“Siapa lagi dia ? Seingatku bukan ini pacarmu. Memang mirip, tapi yang ini lebih terlihat manly dari yang kemarin,” ujar salah satu namja yang lainnya.

“Aku kakaknya. Tolong lepaskan dia,” balas Taesun dingin. Namja itu melepaskan tanganku, tapi dia malah menghampiri Taesun.

“Hadapi aku dulu,” ujar namja itu.

Namja itu melayangkan pukulannya, tetapi dengan cepat Taesun menghindar dan memukul perut namja itu. Semua teman-temannya membantu namja itu melawan Taesun. Tapi Taesun berhasil menghindar dan membalas semua pukulan namja-namja itu. Entah kenapa, Taesun terlihat lebih keren ketika sedang berkelahi seperti itu.

“Ayo keluar dari sini,” ujar Taesun yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku. Taesun menarik tanganku keluar dari bus meninggalkan namja-namja yang sudah tergeletak di lantai bus.

Kami naik bus berikutnya yang lewat di tempat pemberhentian bus tempat kami turun. Taesun belum melepas genggaman tangannya dariku sampai kami naik ke dalam bus. Rambutnya terlihat berantakan karena kejadian tadi. Sudut bibirnya juga sedikit terluka.

“Gomapseumnida,” ucapku tiba-tiba. Pandangan Taesun di luar jendela teralihkan karena ucapanku.

“Untuk apa ?” tanyanya.

“Karena kau sudah menolongku dari namja-namja itu,” jawabku. Taesun terkekeh kemudian mengacak rambutku kasar.

“Kau sama seperti Taemin. Hanya masalah kecil seperti itu bilang terima kasih. Lagipula itu memang tugas seorang kakak untuk menjaga adiknya,” balas Taesun sambil tersenyum kecil. Tapi kau bukan kakakku Taesun, batinku.

“Ah iya oppa. Kenapa kau bisa naik bus yang sama ?” tanyaku. Taesun melepas genggaman tangannya dan beralih menatap kedua mataku.

“Aku mau mengambil mobilku. Tadi aku sudah menelepon Taemin dan dia bilang padaku kalau kau ada di apartemen, jadi aku bisa mengambil kuncinya,” jawab Taesun sambil tersenyum ‘lagi’. Taesun mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela, tapi aku masih terdiam memandanginya. Kenapa aku bisa suka dengan Taemin ? padahal jelas-jelas Taesun lebih keren dan tampan daripada Taemin.

“Sepertinya kita sudah sampai,” ucap Taesun membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti Taesun dari belakang. Dia menoleh ke kanan kiri sambil sesekali melirik ke arah ponselnya.

“Shinbi, seharusnya kau berjalan di depan. Aku tidak tahu dimana aprtemenmu,” ujarnya. Aku berlari mengambil tempat di sampingnya dan mulai berjalan ke arah aprtemenku.

Setelah berjalan sekitar 5 menit dari tempat pemberhentian bus akhirnya kami sampai di depan apartemenku. Aku segera mengeluarkan kunci apartemenku dan membuka pintunya. Aku masuk diikuti Taesun di belakangku. Aku menyuruhnya duduk di sofa sedangkan aku membuat minum di dapur.

“Kenapa di sini tidak ada foto pernikahanmu ?” tanyanya dari arah ruang TV. Aku membawa minuman yang sudah kubuat ke meja di depan Taesun.

“Belum sempat kucetak. Chamkanman, aku ambilkan kunci mobilmu di kamar,” aku berlalu masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintunya. Aku merasa asing kalau harus berdua dengan namja selain Taemin. Bagaimana kalau Taesun berbuat macam-macam ? Aish, anni anni. Dia baik Shinbi, bahkan dia sudah menolongmu tadi.

“Igeo,” ujarku sambil menyerahkan kunci mobilnya kemudian duduk di sebelahnya.

“Kamsahaeyo,” balasnya.

“….” Kami terdiam beberapa saat. Taesun mengusap sudut bibirnya sambil sedikit meringis.

“Sepertinya aku harus mengompres bibirmu,” tawarku.

“Sirho, gwenchana. Hanya sedikit perih,” jawab Taesun.

“Tunggu disini,”

Aku segera ke dapur untuk mengambil beberapa balok es dan memasukkannya ke dalam sapu tangan. Aku kembali duduk di samping Taesun dan menaruh sapu tangan itu di bibirnya.

“Aish,” rintihnya. Taesun mencegah tanganku. Tangannya memegang punggung tanganku dan membuat kami bertatapan untuk beberapa saat.

“Sepertinya aku mengganggu,” ujar seseorang dari arah pintu. Aku berbalik dan mendapati Taemin tengah berdiri di sana sambil memandangi kami. Aku menarik tanganku sehingga membuat sapu tangan berisi es yang kupegang jatuh ke lantai.

“Taemin-ah, ini-ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ujarku mencoba mengelak.

“Memangnya aku berpikiran apa ? tenang saja Shinbi, wajar kalau kau memperhatikan kakak iparmu kan ?” balas Taemin. Taemin membawa tas plastic di tangan kanannya. Sepertinya dia membeli makanan sebelum pulang kesini.

“Biar aku yang membawanya,” seruku sambil merebut tas plastic itu dari tangannya. Aku segera membawanya ke dapur dan membuka isinya. 3 kaleng bir dan beberapa bungkus makanan ringan.

“Sudah lama hyung ?” seru Taemin kemudian duduk di sebelah Taesun.

“Anni, baru beberapa menit yang lalu. Tadi ada sedikit masalah di jalan,” balas Taesun santai.

Aku membawa makanan ringan dan bir itu ke meja kemudian mengambil alih tempat duduk di sebelah Taemin. Taemin langsung meraih tanganku dan menggenggamnya kuat.

“Ne, tadi Taesun oppa menyelamatkanku dari namja-namja kurang ajar. Kau ingat sekumpulan namja di Cheondeok café waktu itu ? Tadi aku bertemu mereka, dan untungnya Taesun oppa bisa melawan mereka semua sendirian,” ujarku membanggakan Taesun. Raut wajah Taemin berubah seketika. Sepertinya dia tidak suka dengan pujianku barusan.

“Tidak usah berlebihan seperti itu Shinbi. Aku hanya menakut-nakuti mereka,” balas Taesun merendahkan.

“Ah, baguslah. Kamsahaeyo Taesun hyung,” seru Taemin sambil tersenyum yang menurutku di paksakan.

Tangan Taemin kembali mengeluarkan keringat dingin. Selama mengobrol dengan Taesun dia tidak pernah melonggarkan genggaman tangannya. Sama seperti ketika ia bertemu dengan yeoja yang bernama Soo Young waktu itu.

“Sepertinya aku harus pulang,” ujar Taesun sambil berdiri dari sofa. Taemin melepaskan tanganku kemudian mengantar Taesun ke pintu apartemen.

“Gomawo atas mobilnya hyung. Lain kali aku akan pinjam lagi,” teriak Taemin ke arah Taesun yang sepertinya sudah sampai tangga.

Taemin menutup pintu apartemen lalu menghampiriku yang masih berdiri di dekat sofa ruang TV. Dia langsung menarik tanganku dan membenamkan kepalaku di antara kedua tangannya.

“Jangan pernah puji Taesun hyung di hadapanku. Aku tidak suka,” serunya. Aku mengangguk sambil membalas pelukannya. Kami terlarut dalam pelukan beberapa saat.

“Kau sudah makan ?” tanya Taemin. Taemin melepas pelukannya kemudian menatap kedua mataku.

“Anni, memangnya kenapa ?” tanyaku balik. Taemin tidak menghiraukan perkataanku dan langsung menarik tanganku keluar apartemen.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun ketika aku merasakan ada sesuatu yang mengganggu kerongkonganku. Aku segera berlari ke kamar mandi menunduk di atas closet. Perutku terasa mual, kepalaku juga terasa pusing. Padahal ketika makan dengan Taemin kemarin, tidak apa-apa.

Setelah aku muntah-muntah di kamar mandi yang sebenarnya tidak keluar sama sekali yang akan aku muntahkan, aku segera keluar kamar mandi dan kembali berbaring di tempat tidur. Rasanya malas sekali berangkat ke sekolah.

“Shinbi ! Kau sudah siap belum ?” tanya Taemin di balik pintu kamarku.

“Masuk saja,” suaraku terdengar serak di telingaku. Taemin membuka pintu kamarku kemudian menyembulkan kepalanya.

“Kau belum siap-siap ?” tanyanya sambil berjalan ke arahku. Aku menggeleng sambil memegangi kepalaku yang semakin pusing.

“Wajahmu pucat. Kau sakit ?” tanyanya lagi.

“Hanya sedikit tidak enak badan,” jawabku. Aku bangun dan bersandar pada sandaran tempat tidur.

“Kau tidak usah pergi sekolah dulu hari ini. Aku takut kau malah pingsan di sekolah nanti,” balas Taemin.

“Ne, naui nampyon. Aku juga memang berencana tidak sekolah, nanti siang aku mau ke dokter,” ujarku masih dengan tanganku memijat kepalaku.

“Biar aku yang antar. Aku bisa pinjam mobil Taesun hyung,” timpal Taemin senang.

“Tidak usah. Baru kemarin mobilnya di kembalikan, kita sudah pinjam lagi. Kita naik bus saja,” sanggahku. Taemin mengerucutkan bibirnya kesal.

“Sudah berangkat sekolah sana. Nanti kau terlambat,” sahutku sambil mendorongnya menyingkir dari tempat tidurku.

“Baiklah,” ujarnya malas. Sepertinya dia juga malas pergi ke sekolah.

“Aku pergi dulu. Telepon aku kalau terjadi apa-apa denganmu, kalau kau butuh apa-apa segera telepon aku, masih ada makanan di kulkas, hangatkan di microwave. Jangan keluar apartemen sampai aku pulang sekolah nanti, jangan—“ aku segera membekap mulut Taemin dengan tanganku.

“Iya cerewet. Sudah sana berangkat,” seruku. Taemin beranjak dari tempat tidurku dan mulai berbalik berjalan ke arah pintu kamarku. Tapi langkahnya terhenti dan malah kembali ke tempat tidurku.

“Apa lagi ?” tanyaku. Taemin mendekati wajahku kemudian mengecup keningku lembut.

“Annyeong,” ujarnya kemudian sedikit berlari keluar kamarku. Aku senyum-senyum sendiri melihat wajah Taemin yang memerah setelah mengecup keningku.

Inilah kehidupan yang aku inginkan. Setiap pagi selalu ada yang memperhatikanku, menemaniku, menyemangatiku, apakah seperti ini kehidupan seseorang yang sudah menikah ? Aku merasa bahagia sekali di perhatikan Taemin seperti tadi.

Apa aku hamil ?

Tiba-tiba terlintas pertanyaan konyol itu di otakku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba mengenyahkan pertanyaan itu.

Aku berdiri dari tempat tidur dan mulai menyalakan computer. Setelah menyala sepenuhnya, aku segera membuka google dan mencari keyword yang membuat aku berpikiran konyol seperti itu.

‘Tanda-tanda kehamilan’

Aku segera mengklik hasil teratas itu dan menunggu beberapa saat sampai muncul di depan mataku. Aku segera menggerakkan scroll di mouse menuju ke halaman lebih bawah lagi.

‘Tanda-tanda kehamilan :

– Perut terasa mual

– Pusing

– Nafsu makan bertambah

– Telat datang bulan’

Aku segera meraih kalender kecil di samping tempat tidurku. Membuka bulan sebelumnya dan mengecek tanggal ketika aku datang bulan terakhir. Aku menghitungnya sampai tanggal hari ini. Seharusnya aku sudah datang bulan 2 hari yang lalu. Keringat dingin mulai menuruni pelipisku. Aku belum terpikir untuk hamil secepat ini. Omona, apa aku dan Taemin benar-benar melakukan ‘itu’ ketika di villa waktu itu ? Ottokhaji ?

Aku mematikan computerku dan kembali berbaring di tempat tidur. Pikiranku melayang entah kemana, sepertinya kemarin aku juga makan melebihi porsi biasanya. Bagaimana kalau aku benar-benar hamil ? Omo~

Jam sudah menunjukkan jam 2 siang, tapi Taemin belum pulang. Seharusnya dia sudah sampai apartemen 1 jam yang lalu. Kenapa aku jadi khawatir seperti ini ?

Aku mondar-mandir di atas karpet di kamarku. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, kemana dia sebenarnya ? Aku khawatir sekali.

– — – –

Taemin POV

Aku bergegas membereskan buku-buku yang berserakan di mejaku setelah bel pulang berbunyi. Aku tidak sabar untuk bertemu Shinbi di apartemen.

Aku segera berlari ke tempat pemberhentian bus menunggu bus yang lewat. Setelah menunggu hampir 15 menit, akhirnya bus yang kutunggu-tunggu datang. Tanpa berlama-lama aku segera naik ke dalam dan mencari tempat duduk yang kosong.

“Aish, ponselku mati,” keluhku ketika mencoba menyalakan ponselku. Aku memasukkannya kembali ke dalam saku kemudian memandang keluar jendela. Entah kenapa aku merasa bersemangat hari ini.

“Taemin ?” ujar seseorang di belakangku. Aku berbalik dan melihat seorang yeoja yang sudah tidak asing lagi di mataku.

“Hyun Ae ? Kenapa kau ada disini ?” tanyaku heran. Hyun Ae langsung beralih duduk di sampingku.

“Aku sedang mencarimu, kau kemana saja selama ini ? Ponselmu tidak bisa dihubungi, kau sengaja menghindariku ?” tanyanya bertubi-tubi.

“Aku tidak bisa menjawab semuanya kalau kau terus berbicara dengan cepat seperti itu,” timpalku. Hyun Ae menghela napas pendek kemudian menatap kedua mataku.

“Aku perlu berbicara denganmu. Bisa kita mengobrol di café sebentar ?” tanyanya. Aku mengangguk menyetujui ajakannya.

***

Aku dan Hyun Ae duduk di sebuah meja di café yang berada tidak jauh dari apartemenku –dan Shinbi-. Aku mengaduk-aduk vanilla latte pesananku tidak berselera. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Hyun Ae, kecuali memesan makanan.

“Kau mau bicara apa ? Kalau masih lama aku harus pergi. Aku ada janji dengan seseorang,” sahutku pada akhirnya. Hyun Ae mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aku segera beranjak dari kursi untuk meninggalkan Hyun Ae di café ini.

“Aku ingin kembali bersamamu,” serunya otomatis menghentikan langkahku. Aku kembali duduk dan menatap Hyun Ae yang menunduk menatap kedua pahanya.

“Kau bilang apa ?” tanyaku memastikan.

“Aku ingin kembali bersamamu,” ujarnya masih tetap tidak menatapku. Aku menggeleng tidak percaya sambil mendesah napas kesal.

“Kau yang minta putus denganku kan waktu itu ? Dan sekarang kau yang minta kembali padaku ? Apa-apaan ini ?” ejekku pada Hyun Ae. Hyun Ae mengangkat kepalanya, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Aku pikir aku bisa melupakanmu Taemin-ah, tapi aku tidak bisa. Aku masih mencintaimu, aku mau bersama denganmu lagi,” ujarnya sambil terisak. Di saat aku sudah mulai menyukainya dia malah pergi meninggalkanku. Dan sekarang, ketika Shinbi sudah mulai menyusup ke dalam hatiku dia kembali lagi.

“Mianhae Hyun Ae, aku tidak bisa. Aku sudah mengucap janji pada seseorang, aku sudah berjanji akan menjaga dan melindunginya,” balasku. Hyun Ae menyeka air matanya kemudian menatapku tidak percaya.

“Kau ?” tanyanya.

“Ya, aku sudah menikah. Aku sangat mencintainya, itulah alasannya aku menikah secepat ini,” timpalku. Hyun Ae semakin terisak dengan ucapanku.

“Aku harus pulang sekarang, dia sedang menungguku di apartemen,” ujarku sambil berlalu meninggalkan Hyun Ae.

Sedikit perasaan bersalah mulai menyelimuti hatiku. Andai saja aku belum menikah dengan Shinbi, mungkin masih ada harapan untuk kembali bersama Hyun Ae. Tapi maaf, aku sudah berjanji untuk melindunginya.

***

Aku segera berlari ke arah apartemen. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Shinbi. Dia sedang apa di apartemen ?

Ting Tong .

Aku menekan bel di depan apartemen Shinbi. Tak berapa lama Shinbi membukakan pintu dengan lebar kemudian memelukku erat.

“Aku kira terjadi sesuatu denganmu. Aku khawatir,” ujarnya.

“Bogoshipeo,” balasku sambil mengusap kepalanya lembut. Aku rasa dia bisa mendengar detak jantungku yang sudah mulai tidak beraturan ini.

“Ireon ! Ayo masuk,” timpalnya sambil mendorongku masuk ke dalam apartemen. Shinbi duduk di sofa di depan TV sambil menonton acara kesukaannya.

Aku mengambil minum di dapur kemudian ikut duduk di sebelahnya. Aku memandangi sampah-sampah snack yang berserakan di atas meja. Shinbi menaruh snack yang di pegangnya ke atas meja dan merubah posisi duduknya sehingga berhadapan denganku.

“Taemin-ah, aku mau bertanya sesuatu padamu,” ujarnya.

“Hm,” balasku sambil meneguk air di dalam gelas yang baru ku ambil.

“Kalau aku hamil bagaimana ?” pertanyaan itu sontak membuatku menyemburkan air di dalam mulutku. Aku langsung terbatuk-batuk, tersedak karena pertanyaannya.

“Kau bercanda kan ?” tanyaku memastikan sambil terus mengatur napas. Shinbi mengendikkan bahunya kemudian memainkan jarinya.

“Aku tidak tahu. Tapi tanda-tanda penyakitku seperti orang hamil. Ottokhaji ?” tanyanya. Aku menyeka mulutku dengan tissue kemudian menatapnya nanar.

“Kita ke dokter sekarang,” aku langsung menarik tangannya. Tapi langkah Shinbi terhenti ketika kami hampir melangkah keluar apartemen.

“Ganti bajumu dulu,” ujarnya. Aku menepuk keningku pelan kemudian masuk ke dalam kamar Shinbi untuk berganti baju.

***

Shinbi keluar dari ruang periksa dengan wajah khawatir. Kami duduk di depan meja uisa yang baru saja memeriksa Shinbi untuk menanyakan hasilnya.

“Shinbi sakit apa uisa ?” tanyaku pada Kim uisa.

“Dia tidak sakit apa-apa,” jawabnya. Aku dan Shinbi saling bertatapan kemudian menelan ludah bersamaan.

“Maksud uisa ?” tanya Shinbi.

-to be continued-

gomawo udh baca sampe part ini . .

leave comment ya . . :D

2 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s