[FanFic] Marry Me !! (Part 3)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Kim Hyun Ae
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

“Kenapa kau tidak bilang kalau punya pacar secantik itu ?” tanyanya balik.

“Ne ?”

“Aku-aku suka Shinbi,”

“NE ?!” tanyaku dengan nada keras. Taesun hyung tersentak kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

“Anniyo dongsaeng. Aku hanya bercanda,” ujar Taesun hyung di sela tawanya. Aku menghela napas lega.

“Kapan kau akan menikah dengannya ?” tanyanya sambil menggiringku masuk ke dalam kamar.

“Hyung sudah menyetujuinya ?” tanyaku memastikan. Taesun hyung mengangguk kemudian duduk di sisi tempat tidurku.

“Sepertinya enak juga punya adik ipar,” jawabnya sambil sedikit terkekeh.

“Aku mau menikah hari minggu besok. Hyung bisa siapkan semuanya ?” tanyaku atau lebih tepatnya memohon bantuan.

“Hey, aku ini kakakmu. Kenapa aku yang harus menyiapkan semuanya ?” tanya taesun hyung.

“Aku tidak mau merayakannya. Hanya menikah biasa dan kau yang jadi waliku. Soal Shinbi, biar aku yang urus,” jawabku.

“Baiklah, karena kau adikku satu-satunya. Sekarang kau telepon Shinbi, bilang padanya kalau pernikahannya lusa,” seru taesun hyung sambil mengacak rambutku.

“Ne, gomawo hyung,”

Taesun hyung tersenyum kemudian keluar dari kamarku. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur kemudian memejamkan mata mencoba istirahat.

***

Di hari sabtu seperti ini sekolahku meliburkan semua muridnya. Katanya ada rapat dinas yang harus di datangi semua guru. Baguslah, aku jadi bisa beristirahat untuk pernikahanku besok.

Shinbi sedang apa ya ? apa aku telepon saja ? Aku segera mengambil ponselku di dalam tas dan mencari nomor Shinbi.

“Yeoboseyo Shinbi-ya,” ujarku.

‘Ne, waeyo Taemin-ah ?’ balasnya dengan napas sedikit terengah-engah.

“Kau sedang apa ?” tanyaku berbasa-basi.

‘Omona, Taemin-ah. Kalau tidak ada hal penting lebih baik jangan telepon aku. Aku sedang sibuk,” jawabnya ketus.

“Memangnya kau sedang apa ?” tanyaku lagi.

‘Aku sedang kerja. Sudah ya, aku sibuk,’

“Chamkanman !”

‘Ada apa lagi ?’

“Kau kerja dimana ? biar aku datang kesana. Ada hal penting yang harus aku bicarakan,”

‘Kau tahu café di depan galeri di daerah Cheongdam ?’

“Ne araseo,”

‘Aku jadi pelayan di café itu. Datang saja kesini, sebentar lagi aku pulang,’

“Ne~” Shinbi langsung memutus teleponnya.

Aku segera berganti baju kemudian sedikit berlari ke ruang tamu. Kulihat taesun hyung sedang menonton TV sambil memakan cemilan. Aku segera menghampirinya.

“Hyung, boleh aku pinjam mobilmu ?” tanyaku. Taesun hyung menoleh padaku sambil menatapku heran.

“Kau mau pergi dengan Shinbi ?” tanyanya balik. Aku mengangguk semangat.

“Kunci mobilku ada di kamar. Pakai saja sesuka hatimu,” ujarnya.

“Gomawo hyung,” aku segera berlari ke kamar Taesun hyung. Mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja belajar kemudian berlari lagi ke garasi mobil. Aku segera menjalankan mobil untuk menjemput Shinbi.

***

Aku memarkirkan mobilku di depan café itu. Aku membaca nama café itu.

“Cheondeok café,” gumamku sambil mengeja tulisan di depan café itu.

Aku jadi ingat Soo Young. Café ini adalah café favorit Soo Young. Bagaimana kabarnya sekarang ? Aigo, Taemin-ah, kau harus melupakannya. Dia mungkin sudah bahagia dengan Key sekarang.

Aku turun dari mobil dan memasuki Cheondeok café dengan menutupi setengah kepalaku dengan hoodie yang kupakai. Aku duduk di salah satu kursi di dalam café itu. Dari tempat dudukku bisa kulihat Shinbi sedang sibuk melayani sekelompok namja yang seumuran denganku sepertinya. Shinbi sedang mencatat pesanan namja-namja itu. Tapi salah satu dari namja itu memegang tangan Shinbi mencoba merayunya.

“Ayolah, temani kami sebentar. Pesanannya nanti saja, kita tidak terlalu lapar,” samar-samar bisa kudengar omongan salah satu namja itu.

“Mianhae, aku tidak bisa. Aku harus melayani tamu yang lainnya,” jawab Shinbi sambil mencoba melepas pegangan namja itu.

“Kalau kami minta kau melayani kami seharian ini bagaimana ?” tanya namja itu.

“Sirho, aku harus pergi,” Shinbi mencoba pergi dari sana, tapi tangannya di tarik sehingga duduk di sebelah namja itu. Cukup, aku tidak bisa membiarkan Shinbi seperti itu.

Aku segera menghampiri ke5 namja itu. Ketika sampai di depan meja mereka, aku menggebrak mejanya sehingga membuat mereka semua menoleh padaku.

“Taemin ?” gumam Shinbi. Shinbi beranjak dan bersembunyi di balik badanku.

“Waa, siapa namja cute ini ? berani-beraninya dia mengambil agasshi itu dari sini,” ujar salah satunya.

“Aku pacarnya ! Jangan coba-coba mengganggu dia atau kalian akan berhadapan denganku !” teriakku pada mereka semua.

“Baiklah, aku lepaskan dia. Aku kira dia belum punya pacar,” balasnya. Aku tersenyum meremehkan pada mereka semua kemudian membawa Shinbi menjauh dari meja itu.

“Kau sudah bisa pulang sekarang ?” tanyaku. Aku kembali duduk di mejaku dan menatap Shinbi yang berdiri di sampingnya.

“Ne, tunggu sebentar. Aku harus mengganti bajuku dulu,” jawabnya. Shinbi berlalu ke dalam café.

Tak lama kemudian Shinbi keluar dari dalam café. Shinbi memakai baju panjang berwarna putih gading menutupi setengah pahanya kemudian memakai legging pants berwarna hitam. Ditambah sneakers berwarna putih sampai setinggi mata kakinya.

“Taemin-ah ?” Shinbi melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku kemudian berdiri dari meja.

“Kajja !” ajakku sambil menggandeng tangannya.

Aku membukakan pintu mobil untuk Shinbi layaknya seorang putri. Sepertinya Shinbi mau mencela tingkahku, tapi dengan segera aku mendorongnya masuk ke dalam mobil. Aku memutar kemudian masuk ke dalam mobil juga.

“Kau punya mobil ?” tanya Shinbi tepat seperti dugaanku.

“Aniyo, ini mobil taesun hyung. Aku pinjam untuk menjemputmu,” jawabku. Aku bisa melihat semburat merah di wajah Shinbi sampai dia memalingkan wajahnya keluar jendela. Aku tersenyum simpul lalu mulai menjalankan mobilku meninggalkan café Cheondeok.

Aku membawa Shinbi ke sebuah taman. Taman yang masih rimbun pepohonan dan tidak banyak orang seperti kebanyakan taman lainnya. Kami duduk di sebuah bangku di bawah pohon besar sambil menyesap udara segar yang menusuk hidung.

“Jadi, kau mau bicara apa ?” tanya Shinbi sambil melongokan kepalanya ke depan wajahku.

“Mulai besok kau tidak boleh bekerja lagi,” jawabku.

“Wae ?” tanyanya. Aku menatap kedua mata Shinbi.

“Mulai besok dan seterusnya biarkan aku yang bekerja. Aku tidak mau kau dirayu oleh namja-namja seperti tadi,” Shinbi terkekeh mendengar jawabanku.

“Kau cemburu ?” ejeknya sambil menyenggol lenganku. Aku langsung memalingkan wajahku yang sepertinya memerah.

“Anni, aku-aku hanya tidak mau kau diganggu seperti tadi lagi,” balasku gugup. Lagi-lagi Shinbi tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Ya ! ya ! jangan tertawa seperti itu. Besok kita menikah,” ucapanku langsung memberhentikan tawa Shinbi.

“Mwo ?!” seru Shinbi. Aku menoleh padanya yang terlihat kaget dengan ucapanku.

“Naeil ? Bahkan aku belum membeli gaun untuk besok. Ottokhae ?” ujarnya panik. Aku menepukkan tanganku ke atas kepalanya kemudian mengacak-acaknya.

“Kita belanja hari ini. Kita akan membeli cincin, dan baju untuk besok,” jawabku sambil tersenyum manis padanya. Shinbi menyingkirkan tanganku dari kepalanya. Dia menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari tangannya.

“Wae ?” tanyaku. Shinbi menggeleng tanpa bicara apapun.

“Anni, let’s shopping !” jawabnya lalu menarik tanganku semangat.

– — – –

Shinbi POV

Taemin memarkirkan mobilnya di sebuah mall di pusat kota Seoul. Selama hampir 1 jam kami menempuh perjalanan untuk sampai ke mall ini. Lagi-lagi aku di perlakukan seperti seorang putri oleh Taemin. Dia membukakan pintu mobilnya lagi untukku.

Kami berdua masuk ke dalam mall itu. Awalnya aku senggan karena jarang sekali aku masuk ke dalam mall megah seperti ini. Apalagi aku hanya memakai baju biasa, tidak seperti wanita-wanita di dalamnya yang memakai dress mahal.

“Taemin-ah, aku takut,” bisikku. Taemin tersenyum kemudian menyodorkan tangannya.

“Pegang tanganku,” ujarnya. Aku menaruh tanganku di atas tangan Taemin. Taemin menggenggam tanganku lembut kemudian menarikku ke dalam mall itu.

Berbagai toko sudah aku kunjungi dengan Taemin. Hampir semua toko yang menjual gaun pernikahan sudah kami kunjungi. Tapi belum ada satupun yang menarik perhatianku.

Aku berhenti di depan toko gaun pengantin yang sepertinya toko terakhir yang belum aku kunjungi. Di depannya terpampang sebuah gaun yang sangat indah menurutku. Gaun berwarna putih yang hanya menutupi sampai lututku. Entah kenapa gaun itu terlihat istimewa di mataku. Padahal di toko lainnya banyak gaun yang lebih bagus dari gaun itu.

“Kau mau ?” tanya Taemin yang sepertinya sadar dengan tatapan ‘mupeng’ ku itu. Aku menoleh ke arahnya sambil mengangguk semangat. Aku menarik tangan Taemin ke dalam toko dan melihat gaun itu.

“Silahkan lihat-lihat,” ujar salah seorang pegawainya.

Aku memperhatikan gaun itu sekali lagi dari belakang. Perfect ! Ini gaun yang aku cari. Tapi niatku terurungkan ketika melihat harga gaun itu. 350.000 won ! Bagaimana aku membelinya ?

“Kau mau gaun itu ?” tanya Taemin lagi. Aku menggeleng cepat kemudian segera menarik Taemin keluar dari toko itu.

“Wae ?” tanyanya. Aku mendekatkan bibirku ke kuping Taemin.

“Terlalu mahal. Aku tidak butuh gaun semahal itu. Lagipula kita tidak menikah sungguhan, sayang kalau beli gaun semahal itu,” bisikku. Taemin mengangguk mengerti kemudian menarikku ke toko yang lainnya.

“Taemin !” panggil seseorang. Aku dan Taemin menoleh bersamaan ke belakang. Aku melihat seorang yeoja sedang berlari ke arah kami. Di belakangnya diikuti seorang namja yang terlihat santai berjalan dengan memasukkan tangannya ke dalam saku.

“Ottokhae jinaesseyo ?” tanya yeoja itu. Taemin mempererat genggaman tangannya.

“Baik, bagaimana kabarmu dan Key hyung ?” tanya Taemin balik padanya. Namja di belakangnya kini berdiri di samping yeoja itu sambil melingkarkan tangannya. Yeoja itu memperhatikanku sekilas kemudian kembali menatap Taemin.

“Kami berdua baik-baik saja. Kenapa kau tidak bersama Hyun Ae ?” tanya yeoja itu lagi.

“Mianhae Soo Young, aku sudah putus dengan Hyun Ae. Dia yang memutuskannya,” Taemin melirik ke arahku, “dia pacarku yang baru. Shinbi kenalkan dia soo young dan di sebelahnya key hyung, suaminya” jelas Taemin.

Aku membungkukkan badan pada mereka berdua. Yeoja yang bernama Soo Young itu terus berbincang dengan Taemin. Aku bisa merasakan keringat dingin keluar dari telapak tangan Taemin. Genggaman tangannya pun menguat dari sebelumnya.

“Sepertinya kami harus pulang Taemin. Key ada perlu dengan nenek, annyeong,” ujar Soo Young.  Kedua teman Taemin itu beranjak dari hadapanku dan menghilang di balik escalator.

Aku menoleh ke arah Taemin yang sedang memegangi kepalanya. Raut wajahnya berubah drastis setelah bertemu dengan yeoja yang bernama soo young itu.

“Dia mantan pacarmu ?” tanyaku. Dia mengangguk masih dengan tatapan kosong.

“Aku kira aku sudah tidak mencintainya lagi. Tapi aku salah, rasanya aku ingin merebut soo young dari sisi key saat itu juga. Andai key tidak ada pasti soo young sudah ada di sisiku sekarang,” timpal Taemin. Aku menepuk-nepuk kepalanya.

“Sebentar lagi juga kau akan menemukan penggantinya kan ? Kau juga akan sama dengannya, sama-sama menikah,” balasku mencoba menghiburnya. Taemin tersenyum mendengar perkataanku.

“Kau benar. Seharusnya aku beruntung mempunyai calon istri sepertimu. Ayo pulang,” ajak Taemin. Kami belum membeli apapun dia sudah mau mengajakku pulang ? Tidak masalah, yang penting pernikahanku dengan Taemin lancar.

***

Aku membuka mataku ketika mendengar ribut-ribut di pintu apartemenku. Berkali-kali bel apartemenku berbunyi membuat kupingku sedikit sakit.

“Ne~ sabar,”

Aku melirik ke arah jam dinding di kamarku yang masih menunjukkan jam 5 pagi. Aku mengucek mataku sekilas kemudian berjalan ke pintu apartemen. Aku membuka pintunya, tapi tidak ada siapa-siapa di depan pintu apartemenku. Yang kutemukan hanya sebuah kotak yang lumayan besar berpita bertengger disana. Aku mengambilnya dan membawanya ke dalam apartemenku.

Kuperhatikan kotak itu sekali lagi. Aku membukanya perlahan, sebuah kertas berwarna putih melilit barang di dalamnya. Di atas bungkusan itu terdapat surat berwarna merah muda yang sangat cantik menurutku. Aku mengambilnya dan membuka isinya.

To : Naui buin, Han Shinbi

Ayo bangun pagi-pagi Shinbi !

Hari ini hari pernikahan kita, kau harus datang pagi untuk mempersiapkan semuanya. Aku mengirimkan gaun dan sepatunya. Ada juga beberapa alat kosmetik untuk memoles wajahmu yang jelek itu.

Aku tunggu di depan apartemenmu jam 8 pagi ini. Aku akan membuat kau terpesona denganku. Jangan telat !

From : Neoui nampyon, Lee Taemin ^^

Aku tersenyum membaca surat dari Taemin. Entah kenapa aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Taemin yang memperlakukanku sebagai pacarnya, begitu juga aku. Padahal diantara kami tidak ada rasa apapun. Kurasa ini akan menjadi pernikahan paling konyol yang pernah ada.

Aku menaruh kertas itu asal kemudian membuka kertas yang membungkus gaun yang dikirim Taemin. Aku merobek kertas itu.

Aku mengangkat gaun yang dikirimkan Taemin dari dalam kotak. Mataku membulat ketika melihat gaun yang kupegang. Gaun yang kemarin seharga 350.000 won itu ada di depan mataku. Dan sepatunya yang tidak kalah mahal juga terpampang di hadapanku. Kosmetik bermerk yang biasa dipakai oleh artis-artis korea juga ada di kotak ini.

Omona, aku tidak pernah berpikir akan menikah secepat ini. Tapi aku merasa bahagia karena perlakuan Taemin. Karena hanya dia yang bisa membuatku tertawa, tidak karuan, semua rasa yang tidak pernah aku rasakan ada di dalam diri Taemin.

Aku menaruh kotak itu di atas meja dan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera bersiap. In the special day . .

Aku memastikan penampilanku sekali lagi di depan cermin. Aku memutar-mutar tubuhku di depan cermin kagum. Aku tidak sabar untuk melihat penampilan Taemin.

Jam sudah menunjukkan pukul 8. Aku mengambil tas tanganku dan berjalan keluar apartemen. Dengan sedikit repot menuruni tangga akhirnya aku sampai di lantai paling bawah. Dari tempatku berdiri terlihat seorang namja sedang bersandar pada samping mobilnya. Sepertinya Taemin menyadari kedatanganku, dia menoleh padaku sambil tersenyum manis.

“Come on princess,” ujar Taemin sambil menekuk sikunya di pinggang. Aku langsung menggamit lengannya dan masuk ke dalam mobil.

***

“Chukhahamnida naui dongsaeng. Akhirnya kau menikah juga, tapi kau mendahuluiku. T.T” ujar Taesun. Aku dan Taemin tertawa melihat ekspresi sedih Taesun.

“Mianhae hyung, aku doakan agar kau cepat menikah,” balas Taemin. Taesun langsung memukul kepala Taemin sambil menggumam tidak jelas.

“Jadi kalian mau tinggal dimana ?” tanya Taesun. Aku mengendikkan bahuku bingung kemudian menatap Taemin.

“Sepertinya kami akan tinggal di apartemen Shinbi,” jawab Taemin tanpa persetujuan dariku. Aku menyikut perut Taemin. Taemin sedikit meringis karena sikutanku.

“A~ araseo, aku tidak akan mengganggu pengantin baru,” ejek Taesun. Aku menggembungkan pipiku kesal.

“Sunbaenim bisa datang kapanpun ke apartemenku. Kami berdua siapa menerima,” seruku. Taemin mendelik ke arahku berharap aku menarik kembali kata-kataku.

“Sunbaenim ? Kau harus memanggilku oppa dari sekarang. Aku merasa tua kalau kau memanggilku sunbaenim,” ujar Taesun sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ne oppa,” balasku. Kami bertiga diam beberapa saat sampai akhirnya Taemin merangkul pundakku.

“Hyung, kami mau pulang dulu. Kalau ada apa-apa di apartemen hyung telepon aku, aku pasti akan langsung datang,” ejek Taemin. Taemin langsung memeluk leherku dengan sebelah tangannya kemudian membawaku keluar dari tempat itu.

Masih dengan mobil Taesun kami pulang ke apartemen. Apartemenku tepatnya, Taemin yang menentukan sendiri tempatnya tanpa persetujuan dariku. Aku hanya bisa pasrah kalau Taemin sudah memutuskan suatu hal.

“Aaah, panas sekali memakai tuxedo seperti ini,” Taemin menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Taemin melepas blazer yg dipakainya dan melemparnya ke jok belakang. Taemin juga melepas dasi dan 2 kancing paling atas kemejanya. Aku langsung memalingkan wajahku keluar jendela.

“Hey, jangan seperti itu. Kau sudah pernah melihat badanku kan ? aku juga pernah melihat badanmu ketika di villa waktu itu. Tenang saja, kau tidak usah malu seperti itu,” ujar Taemin seolah tahu isi pikiranku.

Taemin kembali menjalankan mobilnya. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara kami sampai kami tiba di apartemenku. Lagi-lagi Taemin membukakan pintu mobilnya untukku dan membantuku keluar dari mobil.

Taemin langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan aku masuk ke kamar untuk mengganti pakaianku dengan yang lebih nyaman.

Setelah selesai mengganti gaunku dengan blouse panjang dan celana pendek, aku segera keluar dan melihat Taemin sedang tertidur di sofa. Wajahnya lucu sekali kalau sedang tertidur, seperti bayi.

Aku mengelus wajah Taemin kemudian menyibak rambut coklat yang menutupi wajahnya. Jariku menelusuri setiap lekuk wajah Taemin. Ada perasaan aneh menyelimuti hatiku, jantungku berdebar-debar tidak karuan melihat wajahnya. Mengingat perlakuan baik Taemin padaku. Aku sangat menyukainya, apa aku tidak bisa memiliki Taemin ? Ini hanya sementara, dan mungkin setelah kami lulus dia akan meninggalkanku. Itu perjanjian yang kami buat kan ?

“Joaheyo,” gumamku kemudian mencium kening Taemin. Aku beranjak ke dapur untuk membuat makan siang. Aku hanya menemukan sebungkus ramyun di lemari makanan. Padahal aku ingin membuat makanan yang enak di hari special ini.

Aku menoleh ke arah Taemin yang masih tertidur pulas di sofa. Aku tersenyum simpul kemudian kembali berjongkok di samping Taemin.

“Aku keluar dulu, ya. Aku mau membuat makan siang special untukmu,” ujarku.

Aku mengganti celana pendekku dengan yang lebih panjang lalu keluar dari apartemen. Aku menelusuri jalanan menuju supermarket sambil memainkan langkahku sesekali. Entah kenapa aku merasa bahagia dengan pernikahan ‘sementara’ ku ini.

“Aww,” karena tidak memperhatikan jalan, aku menabrak seorang yeoja. Yeoja itu terjatuh di depanku, dengan refleks aku langsung membantunya berdiri.

“Neo gwenchana ?” tanyaku. Yeoja itu membersihkan celananya kemudian mengangguk sambil tersenyum.

“Nan gwenchana. Ah iya, chega Choi Hyun Ae imnida,” ujarnya sambil menyodorkan tangannya. Aku membalas jabatan tangannya.

“Chega Han Shinbi. Mianhae, aku sudah membuatmu terjatuh,” ucapku berbasa-basi.

“Gwenchana. Bisa kita mengobrol di sana saja ?” tanya Hyun Ae. Aku ingin berbicara banyak, tapi aku ingat kalau Taemin menungguku di rumah.

“Mian, tapi aku harus cepat-cepat pulang. Aku ditunggu seseorang di apartemen,” jawabku. Hyun Ae mengangguk mengerti dengan keadaanku. Hyun Ae membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas kecil seperti kartu nama.

“Ini kartu namaku, kalau kau butuh teman telepon aku saja,” ujarnya. Hyun Ae pergi berlawanan arah denganku. Aku memandangi kartu nama Hyun Ae kemudian memasukkannya ke dalam saku. Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju supermarket.

***

Aku menyusun makanan yang sudah kubuat di meja makan. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Taemin belum juga terbangun. Aku segera menghampirinya kemudian mengguncangkan tubuhnya.

“Taeminnie, ireonna,” ujarku. Taemin menggumam tidak jelas, tak lama kemudian Taemin membuka matanya.

“Ayo makan,” timpalku.

Aku kembali ke meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Taemin beranjak dari sofa masih dengan kemeja dan celana panjang hitamnya. Dia duduk sambil mengacak-acak rambutnya asal.

“Aku membuat samgyupsal, galbi, bibimbap, dan . .” belum sempat aku meneruskan kata-kataku Taemin sudah memakan bibimbap di hadapannya. Aku hanya geleng-geleng tidak percaya. Ternyata seperti ini seorang Taemin.

Aku mengikuti Taemin dan mulai makan makanan buatanku. Taemin terlihat lahap memakan bibimbapnya.

***

Matahari sudah kembali ke tempat perisirahatannya dan sudah digantikan bulan. Taemin sudah mengganti bajunya dengan kaus tipis dan celana panjang. Taemin sedang menonton TV, menonton SBS Inkigayo. Sedangkan aku mencuci piring sisa makan malam tadi.

Setelah selesai aku menghampiri Taemin dan duduk di sebelahnya. Taemin melingkarkan tangannya ke pundakku dan mendekatkan tubuhku padanya.

Dugeun dugeun .

Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku hampir tidak bisa mengatur napasku karena keadaan ini. Taemin masih terpaku pada TV sambil sesekali bernyanyi mengikuti penampilan boyband atau girlband favoritnya.

Klik.

Tiba-tiba saja listrik di apartemenku mati dan membuat keadaan menjadi gelap seketika. Aku langsung memeluk Taemin erat sambil memejamkan mataku. Aku benci gelap, aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi, aku tidak mau ingat lagi, tolong aku.

-to be continued-

Mianhae updatenya kelamaan . . :D

sibuk tahun ajaran baru saya . .

comment please . .

2 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 3)

  1. suka suka suka sama ff nya😀
    shinbi mulai suka ya sama taemin..
    tp taemin nya suka g ya ??
    eh, kok si Hyun Ae main ksh kartu nama ke Shinbi ya?!?! apa udah kenal sma shinbi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s