[FanFic] Marry Me !! (Part 2)

Title       : Marry Me !!

Author  : Ima Tripleshawol

Casts     :

  • Lee Taemin
  • Han Shinbi
  • Lee Taesun (Older brother Taemin)
  • Kim Hyun Ae
  • Other

Rating   : PG+15

Genre   : Angst, Romance

Tubuhnya berbalik. Badanku langsung mematung seketika melihat siapa yang ada di sebelahku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, tenagaku seakan habis untuk berteriak. Tenggorokanku tercekat, apa yang harus kulakukan ?

“T-t-Taemin ? Kyaaaa ~” teriakanku membuat Taemin terkesiap bangun. Taemin mengerjapkan matanya.

“A-apa yang kau lakukan ?” tanyaku sambil terus menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Matanya membelalak ketika melihatku tidak berpakaian dan dirinya sendiri yang tidak berpakaian. Dia menunjuk-nunjuk wajahku dan juga wajahnya.

“Molla. Sedang apa kau disini ?” tanyanya balik lagi. Tiba-tiba tanganku refleks menampar pipi kanan Taemin. Taemin terlihat kaget juga, dia memegangi pipi kanannya yang memerah karena tamparanku.

“K-kau. Bagaimana bisa kau ada di kamarku !” bentakku. Dia memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan.

“Aku tidak ingat. Tadi malam aku mabuk karena meminum soju. Dan kau, kenapa kau bisa ada di sebelahku ?” tanya Taemin lagi. Aku menggeleng tidak tahu.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kibum dan yang lainnya masuk ke dalam kamarku dengan ekspresi yang tidak kalah kagetnya dengan Taemin. Aku segera menarik selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhku. Taemin ikut bersembunyi di balik selimut bersamaku.

“Kalian ? apa yang kalian lakukan ?” tanya Hyunmi. Aku dan Taemin saling berpandangan kemudian menggeleng.

“Aku tidak menyangka kalian berdua seperti ini. Bahkan aku dan Hyunmi tidak pernah melakukan ‘itu’ sebelumnya. Shinbi si pendiam dan Taemin si anak baru, aku rasa ini akan menjadi berita heboh di sekolah,” timpal Kibum.

“Andwae !” teriakku dan Taemin bersamaan. Kibum tertawa menyeringai melihat ekspresiku dan Taemin. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Kibum dan yang lainnya keluar dari kamarku. Setelah mereka semua keluar, aku kembali menampar pipi kiri Taemin.

“Mwo ?!” ujar Taemin sambil memegangi pipi kirinya.

“Kau harus menikah denganku !” bentakku.

“Sirheo ! aku ini masih sekolah. Kenapa aku harus menikahimu ?” tanya Taemin polos. Aku berdiri ke samping tempat tidur sambil terus menarik selimut.

“Kau harus tanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan,” jawabku dingin. Setelah aku menarik selimut itu, ternyata Taemin tidak sepenuhnya tidak pakai baju. Dia masih memakai celana pendek, sedangkan aku benar-benar tidak pakai baju.

“Aku ? Yang benar adalah apa yang sudah kita lakukan,” timpal Taemin.

“Pokoknya kau harus menikahi aku !” bentakku sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.

Aku menutup pintu kamar mandi dengan keras. Di balik pintu aku memerosotkan tubuhku yang sedari tadi sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Kakiku terlalu lemas untuk berdiri. Aku belum bisa berpikir, bagaimana bisa aku ada di sebelah Taemin. Apa yang sudah kulakukan bersama Taemin semalam ? kenapa aku tidak ingat sedikitpun ?

“Aku harus bagaimana ?” gumamku sambil menatap langit-langit kamar mandi. Aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi. Aku sudah menghilangkan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku bisa sampai mabuk tadi malam ?

“Aaaah !” teriakku frustasi sambil mengacak-acak rambutku. Bahkan aku baru mengenal Taemin 2 hari yang lalu.

“Aku benci kau Lee Taemin !” teriakku berharap Taemin mendengarnya. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Aku sudah kehilangan harta paling berharga di hidupku.

– — – –

Taemin POV

Shinbi membanting pintu kamar mandi. Sedangkan aku masih terduduk di atas tempat tidur. Memikirkan apa yang sudah aku lakukan semalam bersama Shinbi. Aku tidak ingat sedikitpun kejadian semalam.

“Pasti semua ada hubungannya dengan Kibum,” gumamku. Aku beranjak dari tempat tidur dan mencari baju yang kupakai semalam. Aku segera memakai bajuku ketika menemukannya di lantai bersama celanaku.

“Aku benci kau Lee Taemin !” terdengar teriakan Shinbi dari dalam kamar mandi. Aku mendesah napas pelan sambil merapikan rambutku yang sangat berantakan.

Aku keluar dari kamar dengan terburu-buru untuk mencari Kibum. Aku melihat Kibum sedang duduk di sofa dengan Hyunmi sambil tertawa. Wajahnya membuatku semakin ingin memukulnya. Aku menghampiri Kibum kemudian menarik kerah bajunya. Segera kulayangkan pukulan ke pipi kanannya. Mungkin pukulanku cukup keras sampai membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Apa masalahmu !” teriakku. Kibum menyeka sudut bibirnya kemudian menyeringai.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu ! apa masalahmu sampai kau memukulku seperti ini !” balasnya sambil melepas tanganku dari kerah bajunya.

“Kau yang menjebakku kan ? kau yang membuat kejadian semalam seolah-olah aku berbuat ‘itu’ dengan Shinbi hah !” tanyaku dengan nada lebih keras dari sebelumnya. Semua orang disini memandangi pertengkaranku dengan Kibum. Termasuk Hyunmi yang hanya bisa diam melihat pertengkaranku.

“Menjebakmu untuk apa ? Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah membopongmu ke kamar. Aku sungguh tidak percaya seorang Taemin bisa melakukan ‘itu’ pada seorang wanita yang baik dan cantik seperti Shinbi,” jawab Kibum. Aku melayangkan pukulan lagi ke wajah Kibum. Tapi dengan segera yang lainnya menahan tubuhku agar tidak memukul Kibum lagi.

“Aku tahu kau yang melakukan semua ini !” ujarku sambil terus mencoba melepaskan kekangan teman-temanku.

“Kenapa kau menyalahkan orang lain atas apa yang kaulakukan ? Seharusnya kau meminta maaf pada Shinbi !” balasnya. Aku terdiam karena perkataan Kibum. Shinbi, pasti hatinya hancur karena kejadian ini.

“Kau tidak perlu menyalahkan Kibum,” aku menoleh ke arah Shinbi yang sedang turun tangga. Matanya sembap, dan wajahnya pucat. Baru kali ini aku melihat Shinbi sesedih itu.

“Shinbi ?” tanyaku. Shinbi berdiri di hadapanku kemudian menatapku dengan tatapan nanar.

“Aku ingin istirahat di rumah. Mianhae semuanya, aku pulang duluan,” ujar Shinbi. Semuanya memandangi Shinbi yang terlihat berantakan. Suaranya terdengar serak dan tidak semangat seperti biasanya.

Shinbi berlalu keluar dari villa. Aku segera mengejar Shinbi kemudian menyergah tangannya. Shinbi terdiam beberapa saat hingga akhirnya dia berbalik padaku.

“Aku ingin pulang Taemin-ah, aku harus menenangkan diri,” ujarnya sambil menangis.

“Aku minta maaf, aku benar-benar tidak ingat kejadian semalam,” balasku. Shinbi menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya.

“Kita berdua sama-sama salah. Aku juga tidak ingat karena mabuk,” jawabnya. Shinbi melepaskan pegangan tanganku kemudian berjalan menelusuri pepohonan di sekitar villa. Jalannya masih sedikit timpang karena kakinya yang terkilir kemarin. Aku merasa bersalah pada Shinbi, apa aku harus menikah dengannya ?

***

Aku berjalan menuju apartemen yang sekarang ditempati olehku dan kakakku. Aku mengetuk pintunya dan tak lama kemudian kakakku keluar dengan wajah sumringahnya.

*beneran kakaknya Taemin nih .. Lee Taesun imnida*

“Hey Taeminnie, bagaimana liburanmu ?” tanyanya sambil menggiringku ke dalam apartemen. Aku mendudukkan diri di atas sofa sambil melepas topi kupluk yang kupakai.

“Menyenangkan,” jawabku bohong. Aku langsung meneguk airputih yang ada di hadapanku.

“Baguslah. Oh iya, kemarin eomma menelepon dan menyuruhku untuk mengurus arsip kepindahanmu yang kemarin sempat tertunda,” ujarnya.

“Ne,” jawabku singkat.

Aku menggendong tas ranselku ke kamar yang terletak di sebelah ruang TV. Aku mengeluarkan semua baju-baju kotor dan menyimpannya di kantung baju kotor dekat lemari. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada Shinbi yang sekarang pasti masih menangis karena kejadian itu. Aku mengacak rambutku asal kemudian membanting tubuh ke atas tempat tidur. Aku membayangkan wajah Shinbi yang biasanya dingin, semangat, berubah menjadi Shinbi yang lemah.

“Taeminnie ?” terdengar suara Taesun hyung di depan pintu kamarku.

“Masuk,” teriakku. Taesun hyung masuk ke dalam kamarku dan duduk di sisi tempat tidur.

“Sepertinya kau ada masalah. Ada masalah apa ?” tanyanya. Aku mendudukkan diri di atas tempat tidur kemudian menatap Taesun hyung serius.

“Hyung, aku mau menikah,” ujarku. Taesun hyung langsung tertawa terbahak-bahak karena ucapanku.

“Wae ? aku serius,” timpalku. Taesun hyung menghentikan tawanya kemudian menyeka sudut matanya yang sudah tergenang air mata karena tertawa.

“Kenapa kau tiba-tiba mau menikah ? kau itu masih sekolah, bahkan aku belum terpikir untuk menikah. Kau tidak melakukan apa-apa selama di villa bersama teman-temanmu kan ?” ujarnya menyelidik. Aku menelan ludahku keras-keras mencoba mencari alasan.

“A-anni. Aku hanya ingin mencari suasana baru, boleh kan hyung ? tapi jangan beritahu appa dan eomma,” mohonku.

“Ya ! pernikahan itu bukan untuk main-main,” balasnya sambil memukul kepalaku pelan.

“Aku mohon. Daripada aku berbuat yang tidak-tidak, lebih baik aku menikah kan ? Chebal . .” pintaku sambil mengeluarkan puppy eyes andalanku. Taesun hyung tampak berpikir dengan ucapanku.

“Memangnya kau mencintai dia seberapa besar sampai kau mau menikah dengannya ?” tanya Taesun hyung lagi.

“Imangkeum . .” ujarku sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tanganku.

“Kau masih kecil Taeminnie. Tapi, aku akan memikirkan kata-katamu,” balasnya.

“Jinjjayo ? Aaaa, kamsahamnida,” seruku sambil memeluknya erat. Taesun hyung memukul-mukul punggungku agar aku melepas pelukanku.

“Aku bilang aku akan memikirkannya,” sahutnya. Aku melepas pelukanku dan menatapnya penuh harap.

“Chebal chebal . .” seruku.

“Aku akan berikan jawabannya nanti,” balasnya sambil berlalu keluar kamar. Aku kembali menundukkan kepala, memikirkan keputusanku ini.

“Kau harus bertanggung jawab Taemin,” gumamku pada diri sendiri.

***

Keadaan di sekolah sangat sesuai dengan harapanku. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka tahu kejadian di villa kemarin. Mereka terlihat biasa saja seperti hari-hari saat aku datang ke sekolah ini.

Saat aku masuk ke dalam kelas, semua murid berbisik-bisik sambil menatap sinis ke arahku. Aku mencoba menghiraukannya dan duduk di bangkuku seperti biasa.

Aku menoleh ke bangku sebelahku yang tidak ada penghuninya. Shinbi tidak ada dan sepertinya tidak akan masuk sekolah hari ini.

Tapi dugaanku salah, tak berapa lama Shinbi masuk ke dalam kelas sambil menundukkan wajahnya. Dia berjalan ke arahku dengan gontai. Dia tidak memperhatikan jalan sampai tiba-tiba dia terjatuh karena kakinya di hadang Hyunmi.

“Aaah,” rintih Shinbi sambil memegangi pergelangan kakinya. Aku langsung menghampiri Shinbi dan berjongkok di sebelahnya.

“Mianhae Shinbi-ya, aku tidak sengaja,” ujar Hyunmi kemudian tertawa bersama temannya.

Aku bangun dan dengan refleks menampar pipi Hyunmi. Aku tidak mengeluarkan semua tenagaku untuk menampar Hyunmi, tamparan itu hanya untuk mengingatkannya saja.

“K-kau. . kalian berdua memang aneh. Apa aku salah kalau aku menghadang seorang wanita murahan seperti dia !” timpal Hyunmi sambil memegangi pipinya yang merah.

Aku hendak menamparnya lagi tapi tanganku dicegah seseorang. Aku menoleh dan mendapati Kibum sedang mendesah napas kesal.

“Jangan coba-coba menyakiti pacarku,” ujarnya dingin. Aku langsung melepaskan tanganku dan menghampiri Shinbi yang masih terduduk di lantai.

Aku membantu Shinbi berdiri dan membawanya keluar kelas. Sebelum keluar dari kelas, aku berhenti di depan kelas. Aku mengumpulkan semua tenagaku untuk mengatakannya.

“Aku akan menikah dengan Shinbi. Jadi kalian tidak perlu khawatir tentangnya,” ucapanku berhasil membuat seluruh isi kelas ternganga tidak percaya. Begitu juga Shinbi yang tengah kurangkul, matanya membulat seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Taemin ?” tanyanya heran. Sebelum Shinbi melanjutkan ucapannya, aku segera membawanya keluar dari kelas. Dia masih terlihat heran sampai akhirnya kami berdua sampai di UKS.

Aku mendudukkannya di sofa di dalam UKS sedangkan aku duduk di tempat tidur, menunggu Shinbi diobati oleh Shin Hye sonsaengnim. Setelah kaki Shinbi diperban, Shin Hye sonsaengnim keluar meninggalkan aku dan Shinbi berdua.

Keadaannya hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Shinbi hanya diam memijat pergelangan kakinya. Sepertinya kaki Shinbi yang terkilir kemarin kembali sakit lagi karena hadangan Hyunmi.

“Kakimu tidak apa-apa ?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan. Shinbi menegakkan posisi duduknya hingga berhadapan denganku kemudian menatapku lekat-lekat.

“Apa kau serius dengan kata-katamu tadi ?” tanyanya.

“Ne, aku serius. Aku akan menikahimu, itu juga kalau kakakku menyetujuinya. Aku tidak bilang pada appa dan eomma. Aku akan bilang pada mereka kalau aku sudah lulus nanti. Kau senang kan ?” jawabku. Shinbi terkekeh mendengar ucapanku. Dia bangun dari duduknya kemudian duduk di sebelahku.

“Keurae. Aku senang kalau kau mau bertanggung jawab. Lagi pula ini juga kesalahanku. Mungkin kalau aku tidak mabuk, kejadian itu tidak akan terjadi,” balasnya. Aku tersenyum mendengar jawaban Shinbi. Dia bisa menerima keadaan kalau ternyata dia sudah tidak seperti dulu lagi.

– — – –

Shinbi POV

Aku sangat terharu mendengar keputusan Taemin tadi. Aku tidak percaya kalau dia akan benar-benar menikahiku. Padahal kata-kata yang meluncur dari mulutku waktu itu hanya gertakan untuk Taemin.

“Shinbi, aku kembali ke kelas dulu. Nanti istirahat aku datang lagi ke sini untuk melihat keadaanmu,” Taemin beranjak dari sampingku kemudian keluar dari UKS. Aku memandangi kepergiannya sampai menghilang di balik pintu.

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Memandangi atap ruang UKS sambil tersenyum mengingat ekspresi Taemin ketika membelaku tadi di kelas. Raut wajahnya serius, dia seperti bukan Taemin yang aku kenal selama ini.

“Silyehamnida,” ujar seseorang yang suaranya terdengar seperti Taemin.

“Bukannya kau mau ke kelas ?” tanyaku sambil bangun menghadap ke arah pintu.

Seorang namja menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum padaku. Aku akui, wajahnya memang seperti Taemin. Bahkan suaranya terdengar hampir sama di telingaku.

“Apa kau tahu dimana ruang kepala sekolah ?” tanya namja itu memecah lamunanku.

“Ne, keurae. Ruang kepala sekolah ada di ujung koridor ini di sebelah ruang guru,” jelasku. Namja itu melongok keluar sebentar kemudian melihatku lagi.

“Kamsahamnida,” ujarnya lalu keluar dari ruang UKS. Walaupun dia sudah keluar, tapi bayangan wajahnya belum mau hilang dari benakku.

“Omona, kenapa wajahnya terus terbayang,” gumamku.

***

Suara gaduh anak-anak sekolahan membuatku bangun dari tidurku. Aku melirik ke arah jam dinding yang terpampang di atas pintu. Jam istirahat sudah kulewati hampir 15 menit.

“Kemana Taemin ? katanya dia mau datang kesini lagi,” gumamku. Tunggu ! Kenapa aku mengharapkan kedatangan Taemin ? memangnya siapa dia ?

Aku duduk di sisi tempat tidur sambil sesekali melirik ke arah pintu. Akhirnya aku memutuskan untuk ke kelas dan ikut belajar.

Aku turun dari tempat tidur kemudian meraih tas sekolahku yang tergeletak di sofa. Aku jalan dengan sedikit timpang menuju ke kelas. Tiba-tiba saja sebuah bola menghantam tanganku. Membuatku kehilangan keseimbangan dan membuatku hampir terjatuh. Aku memejamkan mata mencoba merasakan hantaman lantai koridor sekolah. >_<

Tapi seseorang menahan tubuhku dengan memegang kedua bahuku. Entah kenapa aku berharap kalau yang menolongku adalah Taemin.

“Hey ! Hati-hati menendang bolanya !” bela namja yang menolongku dan terdengar seperti Taemin. Aku membuka mata untuk melihat namja yang menolongku.

“Kau ?” tanyaku heran. Namja itu lagi. Namja yang tadi pagi menanyakan ruang kepala sekolah padaku.

“Kau yeoja yang tadi di UKS kan ?” tanyanya balik. Aku membenarkan posisi berdiriku dan melepas tangan namja itu dari bahuku.

“Kamsahamnida,” ujarku sambil membungkukkan badan.

“Cheonmaneyo. Boleh aku tahu namamu ?” tanya namja itu lagi. Aku terdiam sesaat, memandangi wajah namja yang berdiri di hadapanku. Dia memakai baju bebas dan sepertinya lebih tua dariku.

“Ah ne. Choneun Han Shinbi imnida,” jawabku setelah berhasil mencerna kata-kata namja itu. Namja itu tersenyum kemudian membungkukkan badannya padaku.

“Chonenun Taesun, Lee Taesun imnida,” balasnya. Aku membalas bungkukkan badannya lalu melirik berkas-berkas yang dibawa namja yang bernama Taesun itu. Sepertinya Taesun menyadari tatapanku.

“Berkas ini file-file kepindahan adikku di sekolah ini. Mmm, apa kau kenal dia ? Namanya Lee Taemin, dia baru pindah seminggu yang lalu,” ujarnya. Lebih dari sekedar kenal, bahkan dia sudah pernah tidur denganku. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba Taemin memanggilku dengan suara khasnya.

“Shinbi !!” panggil Taemin. Aku menoleh ke arah Taemin yang sedang berlari ke arahku. Taemin berdiri di sampingku kemudian menoleh ke arah Taesun.

“Taesun hyung !” seru Taemin ketika melihat kakaknya. Taesun mengacak-acak rambut Taemin sambil tersenyum. Omo, kalau bersebelahan seperti ini lebih terlihat miripnya.

“Dia temanmu Taeminnie ?” tanya Taesun pada Taemin. Taemin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lalu pindah ke sebelah Taesun. Taemin mendekatkan bibirnya ke telinga Taesun seperti membisikkan sesuatu.

“Aaah, araseo. Jadi dia yeojachingumu ?” tanya Taesun setelah dibisiki Taemin. Wajahku langsung memanas dan sepertinya memerah karena ucapan Taesun. Wajah Taemin pun memerah karena pertanyaan kakaknya. Taemin mengangguk ragu sambil menundukkan kepalanya.

“Aigo, hebat sekali dongsaengku. Baru 1 minggu di sekolah baru sudah dapat pacar. Jadi, yeoja ini yang mau menikah denganmu ?” Taemin langsung membekap mulut kakaknya.

Mataku membelalak karena ucapan Taesun. Dan wajahku pasti lebih memerah dari sebelumnya. Taemin memukul sedikit lengan kakaknya dengan bibir mengerucut. Taesun malah tertawa dengan tingkah Taemin. Mereka berdua berbincang dengan sedikit gurauan.

“Ah iya. Taeminnie, aku harus pulang. Annyeong dongsaeng,” ujar Taesun kemudian melirik ke arahku, “annyeong Shinbi,”

“Annyeong Taesun sunbaenim,” balasku sambil membungkukkan badan.

Taesun pergi meninggalkanku dan Taemin. Kami berdua hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku menoleh ke arah Taemin yang sedang menerawang jauh ke dalam pikirannya. Kulihat tangannya menggenggam sebuah kantong plastik berisi 2 kotak makan siang.

“Jadi kau beli makanan dulu ?” tanyaku memecah keheningan. Taemin terkesiap kemudian menyerahkan kantong plastik putih itu padaku.

“Ne, tadi aku beli ini keluar sekolah. Mianhae kalau kau menunggu lama,” jawabnya sambil terus menyodorkan kantong plastik itu. Aku menerimanya dan mengintip ke dalam kantong itu.

“2 kotak Mexicana. Mau makan dimana ?” tanyaku. Taemin menunjuk ke tempat yang baru saja aku keluar dari sana.

“UKS ?” tanyaku meyakinkan. Taemin mengangguk lalu menarik tanganku ke dalam ruang UKS. Dengan terseret-seret dan kaki yang pincang aku mengikuti langkah Taemin.

Kami duduk di sofa di dalam ruang UKS. Aku mengeluarkan satu kotak Mexicana dan kuberikan pada Taemin. Aku mengeluarkan satu kotak yang lainnya untuk kumakan.

“Mmm, aku mau mengatakan sesuatu padamu,” ujar Taemin.

“Apa ?” balasku sambil menggigit sepotong ayam. Taemin menghela napas panjang kemudian merogoh saku celananya. Taemin mengeluarkan sebuah cincin berwarna perak yang terdapat tanda hati di atasnya. Tiba-tiba saja dia berlutut di hadapanku sambil mengacungkan cincin itu ke hadapanku.

“Marry me princess,” ujarnya. Aku mematung, tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.

“Ya ! Kau dengar kata-kataku tidak !” bentak Taemin menyadarkanku. Aku mengangguk ragu kemudian menyodorkan tanganku agar dipasangkan cincin oleh Taemin.

Taemin melingkarkan cincin itu di jari manisku. Dengan lembut dia mencium punggung tanganku. Wajahku langsung memanas seketika karena tingkahnya.

“Taemin-ah, kita tidak akan menikah sungguhan kan ?” tanyaku.

“Kita akan menikah sungguhan bodoh. Tapi entahlah kehidupan kita nanti akan bagaimana. Yang jelas aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lakukan waktu itu. Mungkin suatu saat nanti kalau kita sudah menemukan pasangan kita masing-masing, aku akan menceraikanmu,” jawab Taemin.

“Lagipula itu hanya cincin murah yang aku beli di toko mainan di depan,” timpal Taemin. Aku menyentil kepala Taemin dengan cukup keras sampai dia sedikit meringis. Aku tertawa melihat Taemin mengerucutkan bibirnya yang berwarna pink itu. Aku akan berusaha agar tidak suka padamu Taemin.

– — – –

Taemin POV

Aku membanting tasku asal ke sudut kamar disusul oleh tubuhku yang kubanting ke atas tempat tidur. Kejadian hari ini membuatku hampir tidak bisa bernapas lega.

Shinbi.

Tiba-tiba wajah Shinbi terbayang di benakku. Ekspresi wajahnya, matanya yang bulat, bibirnya yang mungil, wajahnya benar-benar sudah memenuhi otakku. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan mencoba mengenyahkan bayangannya.

“Taeminnie !” panggil Taesun hyung. Aku menoleh ke arah pintu kamarku yang tidak kututup. Terlihat Taesun hyung berdiri disana sambil berkacak pinggang.

“Wae hyung ?” tanyaku sambil berjalan menghampirinya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau punya pacar secantik itu ?” tanyanya balik.

“Ne ?”

“Aku-aku suka Shinbi,”

“NE ?!”

-to be continued-

Don’t be a Silent Reader

Please Leave a Comment

2 thoughts on “[FanFic] Marry Me !! (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s