[FanFic] A Love To Kill (Chapter 5-end)

Casts : Song Hyunwon, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Minho

Genre : a bit Thriller, Romance

Rated : PG+15

Length : Series

 “Pembunuh. Kau pembunuh !!” teriak Hyunwon. Pisau di tangan Hyunwon terjatuh, begitu juga tubuhnya yang langsung terduduk di lantai. Tangis Hyunwon pecah, ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan bisa kulihat bahunya yang bergetar hebat.

“Kenapa ? Kenapa kau pembunuhnya ? Kenapa harus kau yang jadi pembunuh kedua orangtuaku ?” tanyanya terisak. Aku berjongkok di sampingnya, memegang bahunya dan mengangkat kepala Hyunwon agar ia bisa menatapku.

“Apa maksudmu ?” tanyaku. Hyunwon menepis tanganku dan malah menamparku dengan keras.

“Aku sangat bodoh. . aku bodoh,” ujar Hyunwon sambil memukul kepalanya dengan kepalan tangan. Aku mencegah tangannya agar ia tidak memukuli kepalanya lagi.

“Aku sudah suka dengan pembunuh orangtuaku sendiri. Aku bodoh, seharusnya aku membencimu bukan menyukaimu,” aku semakin tidak mengerti dengan ucapan Hyunwon. Bagaimana dia tahu ?

“Jangan sentuh aku !” Hyunwon menepis tanganku lagi. Kali ini dia berdiri dan kembali menamparku.

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa menyakitimu. .” seru Hyunwon. Ia berjalan dengan timpang ke arah pintu apartemenku. Hyunwon keluar dan menutup pintunya dengan keras.

Aku masih saja diam berjongkok di dapur sambil memegangi pipiku yang terasa perih. Terasa lebih perih karena Hyunwon menamparku dengan penuh kebencian. Aku memang pantas dibenci, mungkin memang seharusnya dia tahu.

Aku bangun dan berjalan ke arah gudang, tempat menyimpan semua rahasiaku. Ketika membuka pintunya, keadaan di dalam sudah tidak berbentuk lagi. Kotak tempat menyimpan foto-foto korbanku tergeletak dan fotonya bertebaran dimana-mana. Aku memunguti foto itu satu persatu, tidak ada foto kedua orangtua Hyunwon disini. Ia sudah mengambilnya.

– — – –

Hyunwon POV

Kenapa aku bisa menyukainya ? Pembunuh kedua orangtuaku sendiri ? Aku kira selama ini dia benar-benar tulus, memberikan semuanya, sampai aku melupakan Minho. Dan Minho, aku sudah membuatnya sakit. Aku sudah menyalahkan Minho, mendorongnya, dan menamparnya hanya untuk menolong Jonghyun.

Aku duduk di salah satu bangku taman, memandangi foto orangtuaku. Ketika menemukannya di gudang apartemen Jonghyun, aku sempat berpikir kalau ia diutus kedua orangtuaku untuk mengurus hidupku. Tapi ternyata, aku menemukan yang lainnya. Foto orang-orang yang sudah mati dan dibunuh dengan sadis beberapa bulan kemarin. Ditambah lagi senjata-senjata aneh yang aku temukan. Hal itu menguatkan pikiranku kalau dia memang pembunuh bernama Lucifer itu.

Minho. Dia akan pergi ke Jepang sebentar lagi. Aku harus minta maaf sebelum ia pergi.

Aku segera meraih ponselku di dalam saku celana. Mencari nama Minho dengan tergesa dan segera meneleponnya.

“Minho,” panggilku ketika mendengar teleponku di angkat oleh Minho.

‘Ne ? Ada apa Hyunwon ? Jangan lama-lama, pesawatku berangkat sebentar lagi dan aku harus mematikan teleponnya,’ ia sudah mau pergi, bagaimana ini ? aku tidak mau ia pergi.

“Jangan pergi,” ucapku begitu saja.

‘Wae ? Kenapa kau menangis ? Kau sedang sedih ?’ tanyanya. Aku segera menghapus air mataku dan mencoba meredakan suara isak tangisku.

“Ne, aku sedang sedih. Apa kau tidak bisa menunda keberangkatan pesawatmu ?”

‘Kau dimana ? Aku segera kesana ?’ suara Minho terdengar seperti sedang berlari. Apa ia pergi dari pesawat untukku ?

“Aku di. . Mmm, mmm,” tiba-tiba seseorang membekap mulutku dari belakang. Handphoneku terjatuh, dan seketika juga kesadaranku hilang.

***

Tubuhku kaku, tangan terikat ke belakang, kakiku juga diikat di kaki kursi. Aku diculik ?!

“Ya ! Siapa yang melakukan semua ini !” aku berteriak sambil mencoba melepaskan ikatan yang melilit tubuhku. Hanya ada sebuah lampu menggantung di ruangan ini, tepat di atas kepalaku.

“So, jadi ini gadis yang selalu bersama Jonghyun ?” terdengar suara gema seseorang dan suara derap kaki yang semakin mendekat. Lama-kelamaan aku bisa melihat kaki orang itu, setengah badannya, dan akhirnya seluruh badan. Sepertinya orang ini sudah cukup berumur, ia memakai setelan jas abu-abu seperti orang kantoran biasanya.

Ia memegang daguku dan mengangkatnya, membuat kami bertatapan. Dengan segera aku memalingkan wajah, tapi ia malah menjambak rambutku dengan paksa agar kami bertatapan lagi.

“Aku ingin tanya, diantara Jonghyun dan detektif itu, siapa yang kau pilih ?” tanyanya. Aku hendak menjawabnya tapi ia sudah lebih dulu mencela.

“Of course Jonghyun huh ? Apa kau belum tahu siapa dia sebenarnya ?” tanyanya lagi masih terus menjambak rambutku.

“Kau mau bilang ia pembunuh kedua orangtuaku ? Aku sudah tahu semuanya. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang, dan ia pasti sudah melupakan aku,” jawabku sambil terkekeh kecil. Orang itu semakin menarik rambutku ke belakang, membuatku berteriak menahan sakit.

“Jeongmal ? Ia sudah melupakanmu ? Menurutmu kalau dia tahu kau sedang diculik dan disekap, apa dia akan menolongmu ?” tanyanya lagi.

“Aku rasa tidak, jadi percuma saja kau menculikku seperti ini,” jawabku meremehkan. Orang itu melepaskan tangannya dari rambutku. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, dan dengan sigap ia menutup mulutku dengan kain yang ia keluarkan.

“Hmmph, hmmph,” aku berusaha memberontak tapi sesuatu menancap di leherku. Membuat tubuhku tidak bisa bergerak dan kehilangan kesadaran.

– — – –

Author POV

Orang itu tertawa sambil melihat wanita di hadapannya. Ia memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka agar membawa wanita itu keluar, ke ruangan yang lebih terang.

“Apa kita harus meneleponnya sekarang Soo Il-ssi ?” tanya anak buahnya. Soo Il mengelus rambut Hyunwon dengan lembut.

“Ne. Aku mau dia cepat mati. Aku kehilangan adikku satu-satunya karena ia juga. Dia sudah membuat keluarga kami hancur karena meninggalnya Soo Man. Lebih bagus ia cepat mati,” jawab Soo Il licik.

“Tidak sekalian kau bunuh wanita ini juga ? Bukankan ayahnya yang menyuruh Jonghyun membunuh Soo Man ?” tanya anak buahnya. Soo Il tampak berpikir sambil mengusap dagunya.

“Yes, of course,” jawab Soo Il sambil memperhatikan Hyunwon.

– — – –

Hyunwon POV

Aku membuka mataku perlahan, keadaan di sekitar yang lebih terang membuatku sedikit bernapas lega. Aku semakin heran ketika melihat lima orang laki-laki yang berbeda sedang duduk beberapa meter di depanku. Ucapan tadi sempat aku dengar. Jadi ayahku yang menyuruh Jonghyun untuk membunuh kakaknya soo il ? Lalu, siapa yang menyuruh Jonghyun lagi untuk membunuh ayahku ? Jadi Jonghyun tidak pernah tahu siapa orang yang menyuruhnya ? Ayahku terbunuh, karena kesalahannya sendiri kah ? Jonghyun, aku tidak boleh membiarkannya mati.

“Kau sudah sadar ?” aku terlonjak karena orang itu tiba-tiba ada di belakangku. Aku menoleh, menatapnya dengan dingin. Orang itu berjalan ke arah lima orang anak buahnya.

“Berikan ponselnya,” pinta orang itu. Anak buahnya hanya bisa pasrah dan menyerahkan ponsel itu. Ia segera menempelkan ponsel itu ke telinganya. Tapi sedetik kemudian ia melepaskannya dan menggantinya dengan speaker phone.

“Hmmph, hhmmph !!” aku berteriak agar orang itu tidak menelepon Jonghyun. Ia hanya berdesis sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.

“Aaa, Jonghyun-ah,” sapa orang itu ramah. Aku menghentakan kakiku yang terikat berharap bisa lepas. Tapi semuanya sia-sia.

“Nuguseyo ?” aku bisa mendengar suara Jonghyun di balik speaker phone itu. Suaranya terdengar lembut, membuat pikiranku tentang ia seorang pembunuh hampir aku lupakan. Aku memang membencinya, tapi aku mencintainya.

“Ini aku, Lee Soo Il. Kau pasti tidak tahu siapa aku. Aku hanya ingin memberitahu sesuatu,” laki-laki yang bernama Soo Il itu menghampiriku. Melepas kain yang menutup mulutku.

“Tebak suara siapa ini,” Soo Il mengarahkan ponsel yang di pegangnya ke depan wajahku. Ia menyuruhku agar aku berbicara. Aku menggeleng, tapi Soo Il menjambak rambutku. Air mataku sudah tidak tertahan lagi, rasa sakitnya sudah menjalar ke kepalaku.

“Jonghyun-ah,” ujarku sambil sedikit terisak dan meringis. Soo Il menjambak rambutku lebih kuat, membuatku berteriak menahan sakit ‘lagi’.

“Hyunwon !” Jonghyun berteriak. Sebelum aku sempat membuka mulut lagi, Soo Il sudah menjauhkan ponsel itu. Ia tersenyum licik.

“Wanitamu sedang bersamaku sekarang. Kau bisa mendengar suara teriakannya ? Cepatlah datang ke gudang di bawah sungai Hangang atau kau tidak akan bisa melihatnya lagi,” seru Soo Il.

“Jangan ! Jangan datang Jonghyun ! Aku baik-baik saja. Aaaakh~ !” salah satu anak buahnya menjambak rambutku lagi.

“Jangan sakiti Hyunwon. Aku akan segera kesana,” Soo Il menutup flip ponsel itu dan melemparnya asal. Air mataku semakin deras, rasa sakit itu sudah tidak tertahan lagi.

“Tunggulah sebentar lagi, pangeranmu akan segera datang,” ujarnya sambil mengelus wajahku. Salah satu anak buahnya kembali membekap mulutku. Ke-enam orang di ruangan ini tertawa. Mereka duduk dengan jarak beberapa meter di depanku.

Selama 30 menit aku menahan denyutan-denyutan sakit di kepalaku. Jonghyun belum datang dan aku berharap dia tidak akan datang. Aku menunduk mencoba menghilangkan  rasa sakit itu.

BRAK

Pintu di ruangan ini terdobrak. Aku mendongakkan kepala dan melihat Jonghyun sedang berjalan ke arahku. Aku menggelengkan kepala agar ia tidak mendekat, tapi semuanya terlambat.

Sebuah pukulan mendarat dengan mulus di pipi Jonghyun. Membuatnya tersungkur dan terjatuh ke belakang.

“Hhmmmph !!” sekarang kelima orang itu mengerubungi Jonghyun dan memukulinya.

Aku terus berteriak dan menangis agar mereka menghentikannya. Tapi percuma, mereka tidak akan mendengar suaraku yang tertahan seperti ini. Jonghyun tebatuk, darah segar mengalir dari mulutnya. Ia sudah berbaring di lantai sambil memegangi perutnya.

“Cih, apa aku bilang. Dia akan datang untuk menolongmu,” ujar Soo Il tepat di sampingku. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari dalam sakunya. Soo Il berjalan, tapi dengan cepat aku menggulingkan kursiku sehingga menghentikan langkahnya.

“Bodoh,” Soo Il menendang kursiku. Ia berjalan ke arah Jonghyun.

Aku menggelengkan kepalaku agar kain yang membekap mulutku terlepas. Dan akhirnya berhasil.

“Hentikan !! Stop !!” kelima orang itu berhenti memukuli Jonghyun. Mereka semua termasuk Soo Il menoleh ke arahku. Pandangan mataku dan Jonghyun bertemu, ia tersenyum sekilas. Tapi senyumannya memudar karena sebuah tendangan mengenai perut Jonghyun dan membuat darah keluar dari mulutnya.

Soo Il berbalik ke arahku. Ia memegang bahuku, mengangkatnya dan mendirikan kursiku seperti semula. Ia menamparku dengan keras sampai sudut bibirku mengeluarkan sedikit darah.

“Jadilah penonton yang manis disini,” ujarnya sambil menyeringai kecil. Soo Il kembali menghampiri Jonghyun dengan perlahan.

“Jonghyun-ah ! Aku tahu kau tidak selemah itu. Ayo bangun !” teriakku mencoba menyemangati Jonghyun. Soo Il kembali ke arahku, ia menamparku lagi lebih keras dari sebelumnya.

BRUK

Sebuah meja di tengah ruangan pecah karena seseorang jatuh ke atasnya. Aku melirik Jonghyun, ia berhasil melempar salah satu orang itu dan sekarang tengah melawan keempat orang lainnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Soo Il menoleh sambil menghela napas kesal.

Jonghyun menendang salah satu anak buah Soo Il yang ada di depannya. Dengan tertatih ia berjalan ke arahku, tapi seorang yang lainnya memukulkan kayu bekas pecahan meja itu dan berhasil membuat Jonghyun kembali jatuh.

“See ? Dia rela seperti itu hanya untuk menolongmu. Aku mau main-main dulu sebelum membunuhnya,” seru Soo Il licik. Ia mengarahkan pisau itu ke leherku. Aku mendongakkan kepala mencoba menghindari pisau itu.

Jonghyun kembali berdiri, ia memukul dan menendang orang itu sekaligus. Sisa 2 orang lagi, dan ia berhasil membuat mereka tersungkur. Jonghyun berjalan ke arahku. Pisau Soo Il masih menempel di leherku, terasa sangat dingin.

“Cari  lawan yang sepadan denganmu,” seru Jonghyun. Soo Il semakin menekan pisau itu. Sepertinya leherku sudah sedikit tergores.

“Jangan sakiti dia ! Atau kau akan rasakan akibatnya !” bentak Jonghyun. Jonghyun melayangkan pukulan ke pipi soo il. Membuatnya mundur beberapa langkah.

“Jonghyun-ah, mianhae,” ujarku sambil menangis. Ia menggeleng sambil melepaskan ikatan di tanganku, tapi sebelum melepas pengikat kakiku, Jonghyun kembali terjatuh karena pukulan kayu soo il.

Jonghyun sedikit tidak sadarkan diri karena pukulan kayu itu tepat mengenai saraf di lehernya. Soo il membuang kayu itu dan kembali mengeluarkan pisau kecil miliknya. Aku segera bergegas melepaskan pengikat tali di kakiku, kenapa susah sekali ?

Soo il mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan bersiap menghujam Jonghyun. Aku memejamkan mata, aku tidak mau lihat semuanya.

“Andwae !” teriakku.

Aku bisa mendengar suara Jonghyun menahan rasa sakit. Aku menangis masih sambil menutup mataku.

“Damn !,” seru soo il. Aku membuka mata, soo il masih berdiri di atas Jonghyun. Tapi aku tidak bisa melihat orang dibaliknya. Soo il menyingkir, dan pemandangan di depanku sungguh membuatku sesak.

“M-Minho ?” ujarku tidak percaya. Pisau di tangan soo il terjatuh, dan ia keluar dari gedung ini begitu saja sambil tertawa aneh. Aku masih menatap tubuh Minho tidak percaya. Darah segar mengalir dari mulutnya karena ia terbatuk.

“Minho-ya !!” teriakku. Aku segera melepas tali di kakiku dan menghampirinya. Aku mengangkat kepala Minho dan menopangnya di atas pahaku. Aku mengusap pipinya, sedikit memukulnya berusaha agar Minho bangun.

“Bangun, bangun Minho,” ujarku sambil terisak. Minho terbatuk, ia membuka matanya sambil tersenyum ke arahku. Ia mengusap wajahku lembut dengan tangannya yang berlumuran darah.

“A-ku yakin, k-kau akan leb-ih bahagia bers-sama Jonghyun,” ujar Minho terbata. Aku menggeleng sambil terus memegang wajahnya.

“Saranghaeyo Hyunwon-ah,” tambah Minho.

Tubuh Minho terkulai, tangannya terjatuh dari wajahku. Dan senyuman itu memudar begitu saja. Aku memeluk tubuh Minho.

“Andwae !! Aku mohon, jangan tinggalkan aku Minho-ya !” teriakku sambil mengguncangkan tubuhnya. Tapi semuanya tidak akan berarti apa-apa. Dia sudah pergi dan tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Dan tadi siang, adalah pelukan terakhir darinya.

“Nado saranghae,” balasku. Aku kembali memeluk Minho sambil terus menangis. Firasatku benar tadi siang, ia pergi untuk selamanya.

– — – –

Jonghyun POV

Hyunwon menatap nisan itu sambil mengusapnya lembut. Air matanya jatuh begitu saja.

“Jangan menangis terus. Dia tidak akan kembali walau air matamu habis,” seruku sambil ikut berjongkok di sebelahnya. Ia menoleh ke arahku, tiba-tiba saja ia memeluk tubuhku. Ia menangis sekencang-sekencangnya di dalam pelukanku.

“Aku benci kau !” ujarnya sambil memukul dadaku. Aku mengelus kepalanya mencoba menenangkan.

“Aku pantas menerima pukulan darimu, bahkan aku pantas mati untukmu. Aku menyesal, kenapa bukan aku yang mati saat itu. Kalau memang kematian Minho membuatmu sedih seperti ini. Aku yakin, kalau aku yang mati pasti kau senang. Karena pembunuh yang paling kau benci sudah mati,” balasku pasrah.

“Kau salah. Kalau kau yang mati, aku tidak tahu bagaimana hidupku jadinya. Melihatmu dipukuli saja aku sudah menangis. Minho sudah menitipkanku pada seseorang yang bernama Jonghyun. Ia berpesan agar kau bisa membuatku tersenyum lagi,” jawabnya. Aku melepas pelukannya, ia menatap mataku dalam kemudian tersenyum.

“Pasti, aku akan membuatmu tersenyum lagi. Tentang orang tuamu, aku tidak tahu kalau ternyata mereka yang menyuruhku membunuh Lee Soo Man. Dan aku tidak tahu juga kalau sebuah keluarga di parkiran apartemen waktu itu adalah kau dengan orangtuamu. Mianhae,” aku kembali membicarakan masalah itu.

“Gwenchana. Kedua orang tuaku juga salah karena menyuruhmu membunuh orang,” balasnya sambil tersenyum. Kami saling bertatapan, aku menghapus air matanya dengan lembut.

“Jonghyun-ssi, saatnya kembali ke selmu,” seorang sipir memanggilku. Aku bangkit dan menghampiri sipir itu. Sipir itu memborgol tanganku dan menggiring masuk ke dalam mobil polisi.

“Chamkanman !” teriak Hyunwon. Langkahku terhenti. Ia bangkit kemudian berlari ke arahku. Ia berdiri tepat di depanku, senyuman masih terus menghiasi wajahnya.

“Aku akan menunggumu sampai keluar dari penjara. Seberapa lama pun itu,” ujarnya. Aku tertawa kecil lalu mencium keningnya.

“Ne, tunggulah aku,” balasku sambil mengacak rambutnya.

Aku masuk ke dalam mobil polisi, dan mobil polisipun berangkat meninggalkan Hyunwon yang masih diam memandangiku. Hanya dia teman sekaligus keluarga yang aku punya sekarang.

Aku tidak tahu bagaimana Minho bisa sampai ke gudang tempat Hyunwon di sekap. Mungkin dia punya feeling yang kuat tentang Hyunwon. Di gudang itu aku jadi tahu, orang yang selama ini menghadang di gang sempit dan mengikutiku ketika jalan dengan Hyunwon waktu itu adalah anak buah Soo Il.

Dan aku, sebelum bisa bersama Hyunwon, ia memberikanku syarat. Ia memberikan hukuman padaku dengan di penjara. Walaupun ia tidak mengatakan semuanya pada polisi, hukumanku menjadi lebih ringan. Ia tidak mengatakan kalau aku adalah pembunuh bayaran yang selama ini dicari-cari. Ia hanya mengatakan kalau aku ‘tidak sengaja’ membunuh orang tuanya.

Dan soo il, ia masuk rumah sakit jiwa karena mencoba membunuh istrinya. Ia stress karena barang-barang berharga miliknya di sita untuk membayar hutang-hutangnya.

3 tahun, waktu yang tidak akan lama bagi hyunwon untuk menungguku.

-THE END-

endingnya selalu gagal deh . .

leave comment

4 thoughts on “[FanFic] A Love To Kill (Chapter 5-end)

  1. ALHAMDULILLAH…. akirnya T.W.I.S.T
    1. aku kira jjong mati setelah menebus dosanya, hyunwon sama minho
    Tapi ternyata Minho yang mati, dan hyunwon sama jonghyun, nunggu Jonghyun keluar penjara, ak kira puluhan tahun 50 tahun mungkin. eh ternyata Hyunwon gak bilang kalau jjong itu pembunuh bayaran yang selama ini dicari cari polisi…
    Yeeee… happy ending. “DaEb4K”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s