[FanFic] A Love To Kill (Chapter 4)

Casts : Song Hyunwon, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Minho

Genre : a bit Thriller, Romance

Rated : PG+15

Length : Series

Minho menatapku dan Hyunwon bergantian. Tiba-tiba saja ia menarik tangan Hyunwon dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Hyunwon yang terlihat risih pun melepaskan tangannya dan kembali beralih di sampingku.

“Aku tidak mau bersama pembohong sepertimu !” bentak Hyunwon.

“Aku tidak berbohong Hyunwon, kau sudah menanyakan hal itu pada Jonghyun memangnya huh ?” tanya Minho.

“Belum, tapi aku percaya Jonghyun tidak melakukan itu,” balas Hyunwon. Minho mendelik ke arahku. Ia menghampiriku kemudian melayangkan pukulannya ke pipiku.

“Apa masalahmu !” teriakku sambil memegangi tangannya yang mencengkeram kerah bajuku.

“Minho !” teriak Hyunwon berusaha menghentikan pukulan Minho yang terus mendarat di pipiku.  Hyunwon menarik baju Minho. Setelah Minho berhasil berbalik, Hyunwon langsung menampar pipi Minho.

“Kau keterlaluan ! Aku benci kau Minho !” teriak Hyunwon sambil terisak. Minho mengelus pipinya, kemudian menarik Hyunwon ke dalam dekapannya. Hyunwon terlihat memberontak, tapi Minho tetap saja tidak melepas pelukannya. Aku segera bangkit dan menghampiri mereka. Aku membalas pukulan Minho sehingga membuat pelukannya pada Hyunwon terlepas.

“Jangan paksa Hyunwon !” bentakku sambil melayangkan pukulan lagi ke pipinya. Ia tersungkur sambil memegangi pipinya. Aku terus memukuli pipinya dengan keras, tapi pukulanku segera terhenti.

“Apa aku harus membiarkan dia bersama pembunuh kedua orangtuanya huh ?!” sentakan Minho membuatku menghentikan kepalan tangan yang sebentar lagi mendarat di pipinya. Aku menatapnya tidak percaya, Hyunwon masih terisak di belakangku sambil memeluk kedua lututnya.

“Kau sudah membuatnya lebih sakit, apa kau tidak tahu itu ?!” sentak Minho lagi. Aku menyingkir dari hadapan Minho, ia beranjak dan menghampiri Hyunwon. Minho memegang kedua bahu Hyunwon dan membantunya berdiri.

“Lepas !” Hyunwon menangkis tangan Minho kemudian berlari meninggalkan aku dan Minho. Tangan Minho terkepal, ia kembali menoleh ke arahku.

“Mungkin ia belum menyadari siapa kau sebenarnya. Tapi sebentar lagi, dia akan tahu. Kalau kau adalah pembunuh kedua orangtuanya, orang yang paling ia benci,” sahut Minho kemudian berlalu meninggalkanku.

“Aku tahu aku salah,” balasku menghentikan langkah Minho, “karena itu, aku ingin menebus semua kesalahanku padanya. Aku mohon, jangan beritahu dia. Biar aku yang memberitahunya nanti, aku mau membuatnya bahagia, sebelum aku masuk penjara,” Minho menoleh sekilas kemudian melanjutkan langkahnya.

Aku masuk ke dalam apartemen masih dengan tatapan kosong. Semuanya seperti mimpi, Hyunwon, Minho, semuanya.

Aku membanting tubuhku ke tempat tidur. Memejamkan mata, mengingat semua kejadian yang kualami beberapa hari ini bersama Hyunwon. Ekspresi senangnya, ekspresi sedihnya, bahkan ekspresi malu-malu ketika aku mengungkapkan perasaanku tadi. Aku mencintaimu Hyunwon, apa aku harus menghilangkan perasaan ini karena kesalahanku sendiri ?

***

Bunyi bel apartemen membuatku beranjak dari tempat tidur. Dengan gontai aku berjalan menuju pintu apartemen dan membuka pintunya. Aku mengucek sedikit mataku untuk melihat tamu yang datang ke rumahku.

“Jonghyun-ssi ?” tanya orang itu. Orang itu terlihat seperti seorang pengantar surat dengan topi dan tas yang melingkar di pundaknya. Dia mengaduk-aduk tasnya dan menyerahkan selembar surat padaku.

“Ada surat untukmu,” seru orang itu. Aku menerima amplop itu diiringi kepergian pengantar surat itu dari hadapanku.

Aku membawa surat itu ke dalam apartemen. Di luarnya tidak ada alamat pengirim, yang ada hanya alamatku.

Ketika aku buka, di dalamnya terselip sebuah foto dan selembar kertas. Aku mengeluarkan foto itu, mataku membelalak ketika melihat foto itu. Dengan segera  aku mengambil secarik kertas di dalamnya.

‘Berhati-hatilah. Atau kau tidak akan pernah melihatnya lagi,’

Aku meremas kertas itu dan membuangnya asal. Foto itu kembali menarik perhatianku, foto Hyunwon dan aku. Candid foto ketika aku jalan-jalan bersamanya di restoran 2 hari yang lalu. Setelah aku teliti, foto ini diambil dari sudut orang yang aku lihat waktu itu. Orang yang sama dengan yang memukulku di gang kecil waktu itu.

“Hyunwon !” aku segera tersadar. Aku harus melindungi Hyunwon, bagaimana pun caranya.

***

Dari balik pohon yang tidak jauh dari apartemennya, Hyunwon terlihat sedang mengajari seorang anak kecil panti yang kalau tidak salah bernama hye kyung. Anak kecil itu duduk di pangkuan Hyunwon sambil memegang sebuah buku cerita, dan Hyunwon yang menjelaskan isinya. Sesaat kemudian anak kecil itu turun dari pangkuan Hyunwon dan berlari masuk ke dalam panti. Hyunwon terlihat menarik napas kemudian menyandarkan tubuhnya pada batang pohon di belakangnya. Aku berjalan menghampirinya, duduk di sebelahnya dengan hati-hati agar tidak mengganggu Hyunwon yang sedang menutup mata.

“Sudah mengajarnya sonsaengnim,” tanyaku dengan nada mengejek. Hyunwon terkesiap, ia langsung menatapku kaget.

“Jongie, sejak kapan kau disini ?” tanyanya sambil mengusap-ngusap dadanya.

“Sejak satu menit yang lalu,” jawabku sambil terkekeh. Tapi tawaanku tidak membuat Hyunwon tersenyum seperti biasanya. Ia hanya diam, memandang kosong ke halaman rumput di depannya.

“Kau kenapa ?” tanyaku.

“Minho, dia bilang tidak mau bertemu denganku lagi kalau aku masih tetap berteman denganmu. Dia masih terus ngotot kalau kau pembunuh kedua orangtuaku,” jawab Hyunwon. Aku merangkul pundak Hyunwon dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau percaya omongannya ?” tanyaku. Hyunwon menggeleng, ia mengangkat kepalanya lalu menoleh padaku.

“Aku tidak akan pernah percaya. Karena aku yakin, kau orang yang baik,” jawabnya sambil tersenyum.

Jarak wajah kami sangat dekat. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, wajahku semakin dekat, begitu juga wajahnya. Untung saja seorang anak kecil berhasil memecahkan lamunan kami itu.

“Sonsaengnim, ada yang mencarimu di panti asuhan. Dia ada di depan, kalau tidak salah namanya Minho, ya Minho oppa,” seru anak kecil itu. Hyunwon mengerutkan alisnya, anak kecil itu menarik tangan Hyunwon masuk ke dalam panti. Aku hanya mengikuti mereka di belakang, kenapa Minho tidak ke apartemen Hyunwon ?

– — – –

Hyunwon POV

Aku mengikuti tarikan tangan shin hye ke dalam panti. Ia terus membawaku sampai di halaman depan sampai akhirnya aku melihat Minho sedang duduk di kursi di teras panti itu. Setelah aku sampai di dekat Minho, shin hye melepas pegangan tangannya dan masuk ke dalam panti.

“Ehm,” aku berdehem. Minho menoleh padaku, ia berdiri dan menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu.

“Ada perlu apa kau kesini ?” tanyaku ketus sambil memalingkan wajah dari tatapannya.

“Aku mau mengucapkan perpisahan,” jawabnya. Aku menolehkan kepalaku ke arah Minho.

“Memangnya kau mau kemana ?” tanyaku lagi.

“Aku harus pergi ke Jepang untuk mengusut perampokan bank disana. Pesawatku akan berangkat nanti malam,” jawabnya sambil menepuk kepalaku pelan.

“Kau pergi ? Apa kau masih marah padaku ?”

“Anni, aku tidak marah,” jawab Minho. Ia melirik ke dalam panti, tempat berdiri Jonghyun di tengah ruang tamu, “boleh aku minta sesuatu ?” tanya Minho.

“Apa ?”

“Aku ingin pelukan perpisahan darimu,” balas Minho sambil melebarkan tangannya. Aku tersenyum kemudian berhambur ke dalam pelukannya. Minho mengusap kepalaku lembut. Pelukan hangat Minho membuatku sedih, aku tidak mau berpisah dengannya.

“Mungkin aku salah tentang Jonghyun. Aku akan lakukan apapun agar kau bisa bahagia, termasuk membiarkanmu bersama Jonghyun. Aku akan kembali secepatnya setelah masalah itu selesai,” Minho melepaskan pelukannya, “Jangan nakal, arachi ?”

“Ya ! aku bukan anak kecil !” ujarku kesal. Minho hanya tersenyum sambil mengacak rambutku pelan.

“Aku harus pulang. Aku harus menyiapkan semuanya, salam untuk Jonghyun huh,” serunya. Aku mengangguk. Minho berbalik, ia berjalan keluar dari panti sambil melambaikan tangannya. Entah kenapa, aku sedih melihat kepergian Minho. Aku merasa kalau perpisahan ini pertemuan terakhirku dengannya. Aku takut tidak akan bertemu dengannya lagi.

“Minho-ya !” panggilku sambil berlari ke arahnya. Minho berbalik, dan disaat itu juga aku memeluknya.

“Kau janji akan kembali lagi kan ?” tanyaku.

“Ne, aku akan kembali. Hanya untuk setahun disana, memangnya kenapa ?” tanya Minho sambil mengusap kepalaku lembut.

“Aku takut tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,” jawabku. Minho tertawa kecil, ia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat.

“Pegang janjiku, kita akan bertemu lagi. Kalau aku pulang dari Jepang nanti, aku akan langsung menemuimu. Ara ?” tanyanya.

“Ne, ara,” jawabku. Minho mengacak rambutku kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, Minho membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan padaku.

Aku membalasnya diiringi kepergian mobil Minho dari hadapanku. Tiba-tiba saja air mataku keluar mengaliri sudut mataku. Aku sedih sudah membuat Minho sakit, ia tidak pernah semurung ini.

“Ulljima,” tiba-tiba Jonghyun berdiri di sampingku. Aku menoleh sambil menghapus air mataku.

“Anni, aku tidak akan menangis. Kajja !” aku melingkarkan tanganku ke tangan Jonghyun kemudian menariknya ke dalam panti.

– — – –

Jonghyun POV

Hyunwon membawaku ke apartemennya. Ia masuk ke dalam apartemennya untuk berganti baju, sedangkan aku berdiri sambil bersandar di depan pintu apartemennya. Tiba-tiba sebuah kertas terbang ke hadapanku. Aku memungut kertas itu.

‘Apartemennya akan meledak dalam waktu 3 menit sejak kau membaca surat ini,’

Aku membuang kertas itu dan segera masuk ke dalam apartemen Hyunwon. Ia masih di kamar mandi, sial !!

“Hyunwon ! Cepat keluar !” teriakku sambil menggedor pintu kamar mandi Hyunwon. Aku melirik ke arah jam tanganku, sudah lewat 1 menit.

“Hyunwon !!” teriakku lagi. Hyunwon membuka pintu kamar mandi, ia hanya menyembulkan kepalanya.

“Cepat keluar !” bentakku. Ia mengerutkan keningnya, tanpa berlama-lama aku menarik tangannya keluar apartemen. Hyunwon masih memakai baju sebelum ia masuk ke kamar mandi tadi.

Aku membawanya keluar dari apartemen. Menutup pintunya dan membawa Hyunwon menjauhi apartemennya. Aku mendekap tubuh Hyunwon merapat ke dinding. Sedetik kemudian terdengar suara ledakan dari arah apartemen Hyunwon, pintu apartemennya terlempar sehingga terlihat asap yang mengepul dari dalam.

Hyunwon mendorong tubuhku yang menghalangi pandangannya. Ia menatap ke arah apartemennya tidak percaya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati pintu apartemennya. Pandangannya tertuju pada pintu yang sudah tergeletak di dekat kakinya sebelum ia benar-benar masuk.

Aku mengikutinya dari belakang, masuk ke dalam apartemennya yang sudah hancur. Hanya granat biasa yang tidak bisa menghancurkan dinding, tapi cukup kuat untuk meluluhlantakkan isi apartemen Hyunwon.

“Omo~, kenapa apartemenku jadi seperti ini ?” gumam Hyunwon sambil menyusuri setiap sudut apartemennya. Langkahnya terhenti di dekat meja kecilnya dulu. Tergeletak frame foto kedua orangtuanya dan fotonya yang sudah tidak utuh lagi karena terbakar. Hyunwon memungut foto itu dan mengibas-ngibaskannya agar apinya mati.

“Hanya ini foto kedua orangtuaku,” ujarnya. Raut wajah Hyunwon berubah. Ia menggenggam foto kedua orangtuanya, sedetik kemudian air mata meluncur dari kedua sudut matanya.

“Ulljima. Sementara ini kau bisa tinggal di apartemenku,” balasku mencoba menghiburnya. Hyunwon menghapus air mata di pipinya.

“Gomawo Jonghyun-ah,” serunya. Aku hanya bisa tersenyum. Membiarkan Hyunwon sendirian kebingungan di tengah jalan tanpa apartemen, aku tidak bisa membayangkannya.

***

Hyunwon menaruh barang-barang yang dibawanya ke dalam kamar tamu di apartemenku. Aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti baju. Aku berpikir kalau kejadian tadi ada hubungannya denganku. Seseorang sedang mengincarku, dan ia tahu kalau Hyunwon sedang dekat denganku.

Aku keluar dari kamar dan menemukan Hyunwon sedang memasak di dapur. Ia terlihat sedang mengaduk-aduk isi kulkas, mencari bahan makanan sepertinya.

“Kau sedang apa ?” tanyaku sambil berjalan menghampirinya. Hyunwon mendongakkan kepalanya sambil tersenyum polos padaku.

“Mmm, aku lapar. Tidak ada makanan yang bisa diolah disini ?” tanyanya. Aku menolehkan kepalaku ke dalam kulkas, hanya ada buah dan susu kotak.

“Sepertinya tidak ada. Aku harus keluar untuk membeli semuanya, kau mau ikut ?” tawarku. Hyunwon tampak berpikir, kemudian menggelengkan kepalanya.

“Banyak yang harus aku bereskan di kamar. Kau saja, aku tunggu disini,” jawabnya. Aku mengangguk kemudian keluar dari apartemen.

30 menit kemudian aku sudah kembali ke apartemen dengan membawa 2 tas plastic di tanganku. Hyunwon masih terlihat di dapur sambil memotong sesuatu. Aku menghampirinya dan segera menaruh barang belanjaan itu di meja dapur.

“Hyun . .” ketika aku berbalik Hyunwon sudah berdiri di hadapanku. Ia memegang pisau dapur dan mengarahkannya di depan wajahku. Ia terus mendesakku sampai aku bersandar di dinding.

“Kau kenapa ?” tanyaku sambil menahan tangan Hyunwon yang terus mencoba mengarahkan pisau itu ke wajahku.

“Pembunuh. Kau pembunuh !!” teriak Hyunwon.

-to be continued-

comment . .

One thought on “[FanFic] A Love To Kill (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s