[FanFic] A Love To Kill (Chapter 3)

Casts : Song Hyunwon, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Minho

Genre : a bit Thriller, Romance

Rated : PG+15

Length : Series

“Belum, Minho hanya bisa menemukan ciri-ciri pembunuh itu. Karena dia bilang pernah melihat pembunuh itu,” jawab Hyunwon. Aku langsung tersentak, ternyata Minho sudah tahu siapa aku. Aku harus lebih berhati-hati lagi sekarang.

“Baguslah. Mmm, kau sibuk hari ini ?” tanyaku mencoba mengalihkan.

“Anni, waeyo ?” tanyanya lagi sambil menoleh ke arahku.

“Mmm, mau pergi denganku ?” tanyaku. Hyunwon tampak berpikir sejenak, sampai akhirnya dia mengangguk.

“Chamkanman, aku simpan buku-buku ini dulu,” sambungnya. Hyunwon beranjak dari batang pohon itu dan masuk ke dalam panti. Sesaat kemudian dia keluar sudah memakai tas yang melintang di lehernya.

Hari ini aku akan membuatnya bahagia. Mengajaknya ke bioskop, main di gamezone, makan malam, menonton drama musical, melihat pemandangan Seoul dari atas gedung, semuanya, aku akan berikan semuanya yang tidak akan pernah ia duga.

“Mau pergi kemana Jongie ?” tanyanya. Eh ? Sejak kapan dia memanggilku Jongie ?

“Jongie ?” tanyaku heran. Hyunwon segera menutup mulutnya.

“Mianhae, aku suka memanggil orang lain dengan tambahan di belakangnya agar lebih akrab,” jawabnya.

“Gwenchana, kau bebas memanggilku apa saja,” balasku sambil mengacak rambutnya. Hyunwon tersenyum senang, dan senyumannya itu berhasil membuat jantungku berdetak tidak karuan.

“Jadi ? Kita mau kemana ?” tanyanya sekali lagi.

“Aku mau ke bioskop. Sepertinya ada film bagus di sana,” jawabku.

Aku merangkul pundak Hyunwon dan memaksanya untuk ikut denganku. Dengan terseret-seret dia mencoba mengikuti langkahku.

Hampir 3 jam kami menonton di dalam bioskop. Dia terlihat senang setelah menonton film, tapi aku belum puas.

“Mau kemana lagi ?” tanya Hyunwon sambil menyesap minumannya.

“Gamezone,” jawabku sambil menarik tangannya.

Semua permainan di gamezone sudah kami coba. Balap motor, mobil, sampai kecermatan menembak musuh. Hyunwon sempat heran melihatku ahli dalam permainan menembak. Tapi dengan segera kumelesetkan 3 tembakan agar dia tidak curiga.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, waktu makan siang sudah lewat. Aku memperhatikan Hyunwon yang masih bermain di gamezone dari tempatku duduk. Dia terlihat senang bermain dengan pemukul karet di tangannya. Apakah yang aku lakukan sekarang bisa menebus semua kesalahanku ? Aku rasa tidak.

“Hyunwon ! Kita makan siang dulu !” panggilku. Hyunwon menoleh ke arahku, segera ia simpan pemukul karet di tangannya dan menghampiriku.

“Ayo,” balas Hyunwon sambil menarik tanganku. Baiklah, biarkan dia yang memilih makan siang hari ini.

Hyunwon membawaku ke sebuah restoran ramyeon di dalam mall itu. Setelah memesan makanan, kami terdiam. Hyunwon menatap keluar restoran dengan sebuah senyuman di bibirnya. Tergambar jelas di wajahnya kalau dia senang hari ini. Memandang wajahnya membuat hatiku semakin merasa bersalah. Andaikan aku tahu kalau kedua orang waktu itu adalah orang tua Hyunwon, aku tidak akan membunuh mereka. Tidak akan.

“Jongie ?” tanya Hyunwon sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku. Lamunanku terpecah, Hyunwon menatapku dengan heran.

“Kau kenapa ?” tanyanya lagi. Aku menggeleng kemudian segera memalingkan wajah.

Sesaat kemudian pesanan kami datang. Hyunwon langsung melahap ramyeon pesanannya, sedangkan aku masih mengaduk-aduk ramyeonnnya.

“Tidak suka ?” tanyanya ketika sadar kalau aku hanya mengaduk-aduk makananku.

“Anni, aku suka,” jawabku sambil menyuapkannya ke dalam mulutku.

“Jadi, dalam rangka apa kau mengajakku jalan-jalan hari ini ?” pertanyaan Hyunwon membuatku tersedak. Aku segera meneguk segelas air yang ada sampai habis.

“Anggap saja kado ulangtahunmu,” jawabku bohong kemudian melanjutkan makan. Hyunwon hanya manggut-manggut mendengar jawabanku.

Ia menatap keluar jendela masih dengan sumpit menempel di bibirnya. Menatap kosong ke sebuah restoran di seberang restoran tempat kami makan. Aku menoleh ke arah tatapan Hyunwon. Ia melihat sebuah poster ternyata, sebuah poster drama musical.

“Wae ? Kau mau melihatnya ?” tanyaku menyadarkan lamunan Hyunwon. Ia menggelengkan kepalanya cepat dan meneruskan memakan makanannya.

“Mmm, sudah berapa hari kita kenal ?” tanyaku. Hyunwon kembali berpikir, tapi pikirannya terpecah ketika sumpit besi yang dia pegang terjatuh. Hyunwon mengambil sumpitnya, sedangkan aku melirik keluar café.

Orang itu ? Orang yang menghadangku di gang sempit waktu itu sedang berdiri di balik sebuah pilar sambil mengintip ke arahku. Aku segera menarik tangan Hyunwon dan membawanya keluar restoran itu. Hyunwon berkali-kali menyuruhku melepaskan tangannya, tapi aku terus menariknya sampai masuk ke dalam hall drama musical yang ada di dalam mall itu. Di dalam kerumunan orang seperti ini, orang itu tidak akan menemukanku.

“Kenapa meninggalkan makanan itu ? Aku masih lapar,” sahut Hyunwon dengan sedikit terengah. Aku mencoba mengatur napas, karena pelarian itu.

“Kita makan di sini saja,” balasku.

Aku menarik tangan Hyunwon ke salah satu snack box dan membeli beberapa kentang goreng. Selama menonton drama musical, Hyunwon tidak hentinya-hentinya menggumam kagum. Matanya berbinar-binar melihat orang-orang yang berterbangan dan menari-nari dengan serempak. Apalagi ketika dia melihat klimaksnya, aku yakin ia menahan napas saking kagumnya.

“Aah, aku suka pertunjukannya. That so amazing,” serunya ketika kami keluar dari hall.

“Ne, araseo. Tergambar jelas di wajahmu,” balasku. Ia terkekeh, kemudian terus melanjutkan mengomentari drama musical itu. Aku terus mendengarkannya sampai kami sampai di depan mall. Tiba-tiba ponselnya berdering.

“Tunggu, aku angkat telepon dulu,” serunya sambil menarik napas.

“Ne ? Ah, aku ada di mall ****. Bersama Jonghyun, memangnya kenapa ? Kau mau kesini ? baiklah, aku tunggu kau di taman dekat mall. Ne, annyeong,” cerocos Hyunwon kemudian menutup teleponnya. Ia tersenyum ke arahku.

“Minho ?” tanyaku mencoba menebak penelepon itu. Ia mengangguk sambil tersenyum tanpa dosa.

Aku menemaninya di taman seraya menunggu Minho datang menjemputnya. Hari sudah gelap jadi tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian. Aku bisa melihat sebuah mobil terparkir di depan pintu masuk taman. Hyunwon menoleh dan melambai pada seorang sosok yang turun dari mobil itu. Minho menghampiri kami dengan gaya seperti seorang detektif ternama. Hyunwon berdiri dari kursi taman agar setara dengan Minho yang sudah berdiri di hadapannya.

“Sudah lama ?” tanya Minho sambil mengacak rambut Hyunwon lembut.

“Anni,” jawab Hyunwon sambil tersenyum. Minho merangkul pundak Hyunwon, membalikkan badannya ke arahku.

“Annyeong Jongie, gomawo atas waktumu seharian ini. Aku senang,” seru Hyunwon.

“Ne, cheonmaneyo Hyunwon-ah,” balasku.

Minho menatapku dingin kemudian membalikkan badan Hyunwon dan membawanya menjauh dariku. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Hyunwon menoleh ke arah Minho sambil tersenyum. Minho membalasnya dengan menarik bahu Hyunwon sehingga kepala mereka beradu. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.

“Panas sekali disini,” gumamku sambil mengibaskan tangan ke leher. Aku beranjak dari kursi taman dan berjalan berlawanan arah dengan mereka.

– — – –

Author POV

Tak jauh dari tempat Jonghyun dan Hyunwon duduk, seseorang tengah mengintai mereka dari semak-semak. Orang itu menyeringai kecil kemudian meraih handphone di dalam sakunya.

“Aku akan segera ke tempatmu,” seru orang itu kemudian beranjak dari semak.

Ia masuk ke sebuah gudang di daerah pinggiran kota Seoul. Di dalam gudang itu duduk seorang yang lainnya sambil memegang beberapa foto di tangannya. Orang itu menghampiri bosnya, duduk di hadapannya sambil menyerahkan satu foto.

“Jadi ini pembunuhnya ?” tanyanya sambil memandangi foto itu.

“Ne, dia sedang dekat dengan seorang yeoja bernama Hyunwon. Setelah saya cari informasi, ternyata orangtua yeoja itu dulu juga dibunuh oleh Jonghyun. Menurut pengamatanku, yeoja itu tidak tahu kalau orangtuanya dibunuh oleh Jonghyun,” jelas orang itu pada bosnya.

Bosnya hanya diam, meremas foto itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Orang itu hanya bisa memandangi dengan pasrah hasil kerjanya.

“Jadi ? apa yang harus saya lakukan ? Sepertinya cara mengendap seperti kemarin tidak akan berhasil. Dia terlalu kuat,” tanya orang itu. Bosnya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sambil berpikir.

“Kita gunakan yeoja itu untuk memancingnya. Dia pasti akan menyelamatkan yeoja yang dicintainya kan ?” usul bosnya. Orang itu menyeringai menyetujui usulan bosnya. Mereka pun akhirnya menyusun rencana.

– — – –

Hyunwon POV

Minho mengantarku sampai ke depan pintu apartemen. Tanpa kusuruh dia sudah lebih dulu masuk ke dalam apartemenku. Ia duduk di tengah apartemen sambil memandangi foto kedua orangtuaku di atas meja.

“Waeyo Minho ?” tanyaku kemudian berjalan menghampirinya. Aku ikut duduk di sebelahnya, membuat pandangan Minho teralihkan padaku.

“Kalau aku bilang aku sudah temukan pembunuh kedua orangtuamu, apa kau senang ?” tanyanya. Aku mengangguk semangat sambil menatap kedua matanya berharap.

“Melebihi jalan-jalan bersama namja itu ?” tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak. Jalan-jalan dengan Jongie sangat menyenangkan, aku bahkan sampai melupakan tentang pembunuh itu. Tapi aku harus lebih senang lagi karena akhirnya pembunuh itu ditemukan. Ya, aku harus lebih senang.

“Ne,” jawabku akhirnya. Minho menghela napasnya perlahan kemudian menatapku serius.

“Dia pembunuhnya,” seru Minho datar.

“Ne ?” tanyaku sambil mengernyit heran.

“Dia. Orang yang baru saja membuatmu senang seharian ini, orang yang kau sebut dengan panggilan Jongie,” jawab Minho berhasil membuatku tersentak. Aku memundurkan tubuhku menjauh dari Minho sambil menutup mulutku tidak percaya.

“Kau bohong,” seruku masih sambil terus menjauh dari Minho. Ia mendekatiku, memegang kedua bahuku kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku mohon, jangan dekati dia lagi. Dia sudah membunuh orang tuamu Hyunwon,” tegas Minho sekali lagi. Tapi aku masih tidak percaya, seorang kim Jonghyun. Namja yang selalu menolongku, membuatku senang, bahkan membuat perasaanku berubah terhadap Minho, seorang pembunuh ? Seseorang yang sudah terlanjur aku suka ?

“Kau bohong !” sentakku sambil mendorong tubuh Minho. Pelukan Minho terlepas, aku segera berdiri dan membuka pintu apartemenku.

“Keluar,” seruku dingin. Minho menundukkan kepalanya, mendesah napas dan akhirnya keluar dari apartemenku.

“Aku tidak percaya, sampai mendengar penjelasan dari mulut Jonghyun sendiri,” ujarku kemudian menutup pintunya.

“Terserah Hyunwon, aku sudah memberitahumu,” sahut Minho dari balik pintu apartemenku. Aku mendudukkan diri di balik pintu sambil menutup kedua telingaku.

Aku tidak mau dengar, Minho bohong. Dia pembohong. Aku tidak akan pernah percaya kalau Jonghyun membunuh kedua orangtuaku. Aku harus menanyakannya pada Jonghyun.

***

Seperti hari biasanya, hari ini aku mengajari anak-anak panti asuhan di dekat apartemenku. Mereka sudah menunggu di bawah pohon seperti biasanya. Tapi yang membuatku bingung, adalah seorang sosok yang sedang duduk di batang pohon di depan anak-anak itu. Aku terus berjalan mendekat. Sepertinya orang itu menyadari kehadiranku, ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Jongie ?” tanyaku memastikan.

“Kau pikir siapa huh ?” tanyanya balik. Aku terkekeh sambil ikut duduk di sebelahnya.

“Sonsaengnim, Jonghyun oppa baik sekali,” ujar salah satu anak kecil yang bernama hye kyung. Aku membalas pujian mereka pada Jonghyun hanya dengan senyuman. Aku menoleh ke arah Jonghyun dan dia malah menggaruk-garuk kepala belakangnya sambil tersenyum malu-malu.

“Baiklah, kita mulai pelajarannya,” ujarku.

Aku membagi-bagikan buku cerita yang kubawa dari dalam panti pada mereka dibantu Jonghyun. Pelajaran bahasa inggris ini memang menjadi favorit anak-anak panti asuhan ini. Mereka sangat berantusias ketika aku mengajarkan kosakata-kosakata baru pada mereka. Hal itulah yang membuatku senang mengajari mereka. Karena mereka tidak pernah surut semangat untuk belajar.

Aku membereskan buku-buku yang bergeletakan. Jonghyun membantuku membereskannya dan membantuku membawanya kembali ke dalam perpustakaan panti asuhan.

Jonghyun menarik tanganku meninggalkan panti. Tanpa berkata apapun, ia langsung menarikku masuk ke dalam bus yang saat itu sedang berhenti.

“Kau mau membawaku kemana ?” tanyaku. Kami duduk di dalam bus itu, Jonghyun masih memandangi keluar jendela.

“Ada satu tempat yang belum aku tunjukkan,” ujar Jonghyun sambil tersenyum. Melihat wajahnya membuatku semakin yakin kalau Minho salah. Aku tahu Minho tidak mungkin salah, tapi kali ini aku yakin kalau dia salah. Jonghyun tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu.

“Ayo,” seru Jonghyun memecah lamunanku. Jonghyun membawaku turun dari bus dan menggiringku masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran yang tinggi.

Kami naik lift sampai lantai tertinggi di gedung perkantoran itu. Setelah hampir 15 menit, akhirnya kami sampai di lantai teratas, ia mengajakku untuk naik tangga untuk naik lebih tinggi lagi.

“Kita mau ke atap gedung ?” tanyaku. Jonghyun hanya tersenyum dan membuka pintu yang ada di depannya.

Semilir angin menerpa rambut dan wajahku ketika Jonghyun membuka pintunya. Atap gedung ini hanya seperti atap gedung yang lainnya. Tapi entah kenapa ini semua menjadi istimewa, karena Jonghyun ? Ia selalu bisa membuatku senang.

“Ayo duduk,” seru Jonghyun sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya. Kami duduk di ujung atap gedung dengan kaki bersila. Semuanya terlihat jelas dari atas sini. Gedung kedua tertinggi sesudah namsan tower. Mobil yang sedang hilir mudik, berbagai billboard yang bertengger di gedung-gedung pun terlihat jelas dari sini.

“Kau senang ?” tanya Jonghyun. Aku menoleh padanya sambil tersenyum mengiyakan pertanyaannya. Jonghyun beranjak dari tempat duduknya, berdiri ke hadapan gedung sambil merentangkan tangannya.

“Aku paling suka udara disini. Aku juga bisa berteriak sekencang mungkin melepas penat,” serunya sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

Aku mengikuti Jonghyun, berdiri sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata. Merasakan angin musim semi yang sudah mulai terasa. Aku berjalan ke samping gedung yang lainnya, melihat pemandangan dari sisi lain.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang melingkar di leherku. Aku segera menghentikan langkahku dan memegang tangan kekar yang melingkar di leherku. Aku bisa merasakan helaan napasnya. Dengan segera aku melepas tangan itu dan berbalik ke arahnya.

“Jong. .” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Jonghyun sudah menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat seperti aku ini akan menghilang dari hadapannya.

“Kau kenapa ?” tanyaku sambil membalas pelukannya.

“Maafkan aku,” jawabnya.

“Untuk apa ?” tanyaku lagi. Ia hanya menggeleng dan semakin mempererat pelukannya.

Sesaat kemudian Jonghyun melepas pelukannya kemudian menatapku. Terlihat sebuah kesedihan di mata Jonghyun. Jonghyun melepas kedua tangannya dari bahuku, lalu berbalik kembali ke sisi gedung. Ia kembali merentangkan tangannya.

“Nan Joahaeyo, Hyunwon-ah !” teriak Jonghyun. Wajahku langsung memanas, dan pastinya memerah sekarang. Jonghyun berjalan menghampiriku, dia merangkul pundakku kemudian membawaku turun.

Belum ada satupatah katapun yang keluar dari mulutku atau mulut Jonghyun. Suasananya menjadi sedikit aneh sejak ia mengatakan hal itu. Jujur saja, aku senang ketika dia mengatakan itu. Tapi dia terlihat tidak serius, dan sepertinya dia sudah melupakan kata-katanya tadi.

“Kau mau ke apartemenku ?” tanyanya tiba-tiba.

“Boleh, aku mau lihat apartemenmu,” jawabku senang.

– — – –

Jonghyun POV

Aku menarik tangan Hyunwon menaiki tangga menuju apartemenku. Dia hanya tersenyum sambil mengikuti langkahku. Setelah sampai di lantai apartemenku, langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada seorang namja yang tengah bersandar di depan pintu apartemenku. Hyunwon ikut menoleh ke arah namja itu, ia langsung tersentak.

“Minho-ya ?” tanya Hyunwon heran. Aku menghampiri Minho masih dengan menggenggam tangan Hyunwon. Setelah kami hanya berjarak beberapa langkah lagi, Minho menoleh. Ia tampak kaget melihatku bersama Hyunwon. Atau mungkin karena aku menggenggam tangannya.

“Hyunwon ?” tanya Minho heran. Hyunwon segera melepas tangannya dari genggamanku. Aku masih menatap Minho dingin, begitu juga sebaliknya.

-to be continued-

One thought on “[FanFic] A Love To Kill (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s