[FanFic] A Love To Kill (Chapter 2)

Casts : Song Hyunwon, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Minho

Genre : a bit Thriller, Romance

Rated : PG+15

Length : Series

Pintu toilet terdobrak dan aku masih berjongkok di sampingnya. Aku menarik pisauku dari dadanya dan berlari dengan cepat ke salah satu toilet. Aku bisa mendengar suara ribut-ribut pengawal Oguri menggunakan bahasa Inggris. Aku melongokkan wajahku ke atas dan menemukan lubang udara. Aku berdiri di atas kloset sambil mencoba melepas kerangkeng yang menutupi lubang udara itu.

“Hey kau ! Tunjukkan dirimu !” terdengar salah satu dari mereka berbahasa Korea. Pengawalnya mulai membuka pintu toilet satu per satu.

Aku menarik kerangkeng itu dengan kasar sehingga terjatuh dan menimbulkan gema di kamar mandi. Tanpa berlama-lama aku masuk ke dalam lubang udara itu.

“Jangan coba-coba kabur !” aku bisa mendengar salah satu pengawalnya berteriak padaku. Aku merangkak dengan cepat melewati setiap belokan di dalam lubang udara ini. Terdengar suara tembakan di belakangku, aku menoleh dan mendapati salah satu pengawalnya mengikutiku.

Aku terus merangkak sampai akhirnya menemukan sebuah jalan keluar di gang sempit. Aku segera turun dan bersembunyi di balik tong sampah besar. Pengawal itu terlihat keluar dan kebingungan mencariku.

Krek. Aku menginjak sebuah bungkus makanan dan membuat pengawal itu menoleh padaku. Dengan cepat aku bangun dan menghajar orang itu. Aku menendang tangan orang itu sehingga pistol yang ada di tangan kanannya terpental.

Aku terus mencoba menghindari setiap pukulannya. Hingga salah satu pukulannya mengenai perutku dan membuatku tersungkur ke tanah. Pengawal itu menarik bajuku kemudian menyandarkanku ke tembok di gang sempit ini. Dia terus memukuliku sampai mulutku berdarah.

“Ya !” terdengar teriakan seorang yeoja di ujung gang. Pengawal itu menoleh dan langsung melepas tangannya dari bajuku. Pengawal itu mendecak kemudian berlari meninggalkanku. Aku menunduk ke tanah sambil terus menyeka darah yang keluar dari mulutku.

“Gwenchanayo ?” tanya yeoja itu sambil memegang bahuku. Aku segera menepisnya dan berlari meninggalkan yeoja itu menghilang di kegelapan malam.

***

Ketika membuka mataku esok paginya, badanku rasanya remuk. Aku memang suka berkelahi, tapi aku jarang mendapat pukulan bertubi-tubi seperti itu.

Apa pemimpin yakuza itu sudah mati ?

Terlintas pertanyaan itu di otakku. Kalau sampai dia belum mati, tamatlah riwayatku. Dia sudah melihat jelas wajahku dan berarti dia bisa melaporkan percobaan pembunuhan ini ke polisi.

Aku mengacak-acak rambutku kemudian duduk di sofa di depan TV. Aku menyalakan TV dan mencari berita kejadian semalam.

‘Setelah hampir 2 bulan pembunuh kejam itu tidak beraksi, tadi malam dia kembali beraksi dan mencoba membunuh pemimpin yakuza yang sedang berlibur di Korea. Pemimpin yakuza itu berhasil dilarikan di rumah sakit dan mendapat perawatan yang intensif dari pihak rumah sakit. Sekarang pemimpin yakuza itu masih tidak sadarkan diri. Polisi mengambil kesempatan bagus untuk menggali informasi dari pemimpin yakuza itu’

Aku melempar TV ku dengan remote yang sedang kupegang. Aku bertindak bodoh, kenapa dia belum mati juga ?

“Aku harus membunuhnya malam ini juga,” gumamku.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar untuk menenangkan sedikit pikiranku. Aku berjalan-jalan di sekitar Insadong yang cukup ramai dengan orang yang berbelanja.

“Ayo ayo ! Fried Octopus-nya, Guguma, semua makanan khas Korea ada disini !” terdengar suara nyaring seorang yeoja. Aku menghampiri stand yeoja itu yang dikelilingi cukup banyak orang.

“Jonghyun-ssi ?” aku menoleh ke arah yeoja yang memanggilku.

“Hyunwon ? kau berjualan disini juga ?” tanyaku. Hyunwon mengangguk semangat sambil terus sibuk melayani pembeli di standnya.

“Sepertinya kau butuh bantuan,” tawarku.

“Ne Jonghyun-ssi, sepertinya aku butuh bantuan,” balasnya. Aku berbalik dan berjalan ke belakang meja, di sebelah Hyunwon.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan ?” tanyaku sambil menggosok-gosokkan tangan semangat.

“Kau hanya perlu promosi. Soal makanannya bisa aku yang urus,” jawabnya. Aku mengangguk mengerti kemudian mulai berteriak.

“Ayo ! Makanan khas korea disini. Murah-murah, siapa yang beli disini akan dapat pelukan dariku,” teriakku penuh tenaga. Hyunwon mendelik ke arahku.

“Kau PD sekali Jong,” ujarnya. Aku terkekeh lalu meneriakkan kembali ucapanku barusan.

“Kyaaa~, pelukan ?! Aku mau !!” segerombolan yeoja yang lewat tiba-tiba menghampiri stand Hyunwon karena teriakanku.

“Aku mau fried octopusnya,” semua yeoja itu meminta makanan yang sama. Hyunwon terlihat bingung karena segerombolan yeoja yang tiba-tiba menghampiri standnya.

“Ne, satu-satu,” ujarnya. Hyunwon membungkusi fried octopusnya. Sedangkan yeoja yang sudah menerimanya langsung menghampiriku dan melebarkan tangannya. Aku memeluk semua yeoja yang membeli semua makanan Hyunwon.

“Akhirnya selesai juga,” keluhku kemudian duduk di kursi dekat Hyunwon. Hyunwon membereskan sisa-sisa makanannya yang tidak habis dan memasukannya ke dalam kotak.

“Kau terlalu berlebihan Jonghyun-ssi,” ujarnya.

“Jangan panggil aku dengan embel-embel ssi. Aku tidak suka, panggil aku Jonghyun-ah, atau Jonghyunnie. . . itu lebih baik,” timpalku. Hyunwon memasukkan kotak-kotak makanan itu ke dalam tasnya.

“Ne Jonghyunnie,” serunya dengan nada mengejek. Aku melipat kursi yang kupakai duduk dan memasukkannya ke dalam tas Hyunwon.

Kami berdua berjalan bersama sampai ke tempat pemberhentian bus. Hyunwon sesekali melirik ke arah jam tangannya dan melihat ke arah jalanan.

“Waeyo ? Kau menunggu seseorang ?” tanyaku. Hyunwon menoleh ke arahku.

“Ne, Minho janji menjemputku hari ini,” jawabnya sambil tersenyum. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti tepat di depanku dan Hyunwon. Orang di dalamnya menurunkan kacanya kemudian menundukkan kepalanya untuk melihat Hyunwon.

“Hyunwon-ah, ayo naik,” ujar Minho. Hyunwon membungkuk padaku lalu masuk ke dalam mobil Minho. Mobil Minho pun pergi meninggalkanku yang masih berdiri menunggu bus yang lewat.

Aku sengaja tidak membawa mobilku, karena itu bisa menjadi masalah besar bagiku. Kalau sampai ada saksi yang melihat plat mobilku ketika aku sedang membunuh, dan sekarang melihatnya, dia bisa-bisa melaporkanku ke polisi.

– — – –

Hyunwon POV

Aku masuk ke dalam mobil dan Minho pun mulai menjalankan mobilnya. Aku memperhatikan wajah Minho, dia terlihat lelah sekali.

“Kau pasti lelah mencari informasi tentang pembunuh itu,” aku mencoba menebak apa yang dipikirkan Minho.

“Ne, aku akan mencarinya sampai kemana pun. Dia sudah membunuh banyak orang, bahkan tadi malam dia mencoba membunuh seorang pemimpin yakuza. Dia benar-benar sudah gila,” jelas Minho. Aku menundukkan kepalaku, mencoba menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mataku.

“Dan lebih parah lagi dia sudah membunuh kedua orang tuamu Hyunwon. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku mau mencari pembunuh itu,” ujar Minho sambil mengelus kepalaku lembut. Aku menghapus air mataku kemudian memandang keluar jendela. Terlalu miris kalau aku mengingat kejadian mengenaskan itu. Pembunuh itu harus mendapat hukuman yang setimpal karena perlakuannya.

“Minho, jangan antar aku ke apartemen. Bawa aku jalan-jalan kemanapun sampai malam. Aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi,” ujarku.

“Ne princess,” balas Minho kemudian mempercepat laju mobilnya.

***

Minho membawaku ke sebuah taman bermain. Kami berdua bermain ayunan seperti saat aku dan Minho kecil dulu. Minho, sahabat terbaik yang pernah aku punya. Dia selalu memperlakukanku istimewa, bahkan di hari ulangtahunku dia selalu membuat kejutan. Sayangnya dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, padahal aku mengharapkan lebih dari itu. Mana mungkin seorang yeoja yang selalu bersama-sama seorang namja dari kecil sampai sebesar ini tidak ada perasaan apapun.

“Hyunwon,” panggil Minho. Aku menoleh ke arah Minho yang ada di sampingku. Kami sekarang tengah duduk di ayunan sambil memandang matahari tenggelam.

“Ne ?” balasku. Minho menoleh padaku membuat mata kami saling bertukar pandang.

“Aku berjanji akan menemukan pembunuh itu untukmu. Setelah pembunuh itu kutemukan, aku akan mengungkapkan sesuatu padamu,” ujarnya serius.

“Mengungkapkan apa ?” tanyaku. Minho menggeleng kemudian kembali menatap langit malam.

“Kau akan tahu nanti,” jawabnya. Aku hendak menimpali Minho tapi segera kuhentikan ketika ponsel Minho berbunyi. Minho mengangkat telepon di ponselnya, raut wajahnya berubah menjadi serius.

“Baik, aku akan segera kesana,” seru Minho kemudian menutup flip ponselnya. Dia beranjak dari ayunannya dan berdiri di depanku.

“Wae ?” tanyaku.

“Kemungkinan pembunuh itu akan mendatangi rumah sakit untuk melanjutkan misinya yang tertunda. Pemimpin yakuza itu belum mati, dan ada kemungkinan besar dia akan mencoba membunuhnya lagi. Doakan aku semoga aku bisa mendapat petunjuk atau bahkan menangkapnya,” jawab Minho sambil mengacak rambutku lembut.

Minho pergi meninggalkanku sendirian. Aku masih duduk di ayunan sambil memandangi langit yang terlihat indah malam ini. Eomma dan appa, sedang apa kalian disana ? Aku merindukan kalian, kenapa kalian pergi secepat ini ? Aku masih membutuhkan kalian. Andai saja pembunuh itu tidak membunuh kalian, pasti eomma dan appa masih ada disini bersamaku. Pembunuh itu harus mendapat balasan setimpal dengan apa yang sudah dilakukan, dia harus dibunuh juga agar bisa merasakan apa yang aku kalian rasakan.

– — – –

Jonghyun POV

Jam besuk rumah sakit sudah habis sekitar 1 jam yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan aku masih mengintai di balik pilar rumah sakit. Banyak sekali polisi yang sedang berjaga di depan rumah sakit. Sepertinya mereka tahu aku akan datang lagi.

“Damn !” umpatku. Aku bahkan tidak tahu dimana kamar tempat pemimpin yakuza itu dirawat.

“Lantai 2 aman, tidak ada celah untuk pembunuh itu masuk ke kamar. Aku akan berjaga di sini, kalian segera ke lantai 2 untuk menjaga di sekitar kamar rawat,” samar-samar aku bisa mendengar percakapan diantara beberapa polisi itu. Aku sedikit menyembulkan kepalaku dan melihat ketiga orang polisi yang lainnya berlari masuk ke dalam rumah sakit.

“Lantai 2. Dengan mudahnya aku mendapat informasi,” gumamku.

Aku memutar ke samping rumah sakit melewati koridor yang sudah gelap karena sebagian sudah dimatikan lampunya. Aku berjalan dengan sedikit mengendap ke arah tangga darurat di samping bangunan rumah sakit. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk mengira kalau di tangga darurat tidak akan ada polisi yang berjaga.

Di depan pintu tangga darurat berjaga seorang polisi bersenjata lengkap yang sedang mondar-mandir. Aku mengeluarkan pistol yang sudah kupakaikan peredam suara di depannya. Aku membidik pistolku tepat di dada polisi itu.

Dengan sekali tembakan polisi itu terjatuh. Aku segera masuk ke dalam pintu tangga darurat dan naik ke lantai 2. Sebelum keluar dari pintu darurat, aku bisa mendengar suara derap kaki di balik pintu.

Aku segera berpikir mencari cara agar bisa keluar dari sini dengan selamat. Karena pasti sebentar lagi akan ada polisi yang menyadari kalau salah satu partnernya sudah ada yang aku bunuh di bawah.

Aku sedikit membuka pintu itu dan melihat beberapa polisi sedang berjaga di depan sebuah kamar rawat. Aku yakin kalau itu adalah kamar rawat pemimpin yakuza itu. Di depan kamar rawat itu juga berdiri seseorang yang sepertinya pernah aku lihat.

“Dia temannya Hyunwon kan ? Namanya Minho. Kenapa dia bisa ada disana ? Apa dia salah satu anggota kepolisian ?” gumamku. Aku semakin bergulat dengan pikiranku untuk mencari cara masuk ke dalam kamar rawat itu.

“Sepertinya aku harus membuat sedikit keributan di bawah,” aku kembali turun ke bawah. Jasad polisi yang tadi kutembak masih terbaring di depan pintu. Sepertinya dia bisa menjadi umpan.

Aku menyeret tubuh polisi itu menaiki tangga darurat. Sesampainya di lantai 2 aku segera membuka jendela yang mengarah pada halaman samping rumah sakit. Aku melemparkan jasad itu ke bawah. Memang hal yang kulakukan ini tidak akan memancing keributan, tapi bukan ini tujuanku.

Aku melepas peredam suara di pistolku kemudian mengarahkannya pada jasad polisi itu. Aku menembakinya beberapa kali dan menyebabkan suara ribut dan gema di rumah sakit. Diluar pintu darurat di belakangku mulai terdengar suara derap kaki yang tengah berlari. Setelah tidak terdengar lagi, aku segera keluar dan berlari ke kamar pemimpin yakuza itu.

Di dalam kamarnya, tidak ada satupun lampu yang dinyalakan. Kamar ini hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela. Aku bisa melihat pemimpin yakuza itu terbaring di atas tempat tidur dengan bantuan alat penopang hidupnya.

“Sayang sekali, kau harus mati. Karena kau bisa menjadi masalah besar bagiku,” aku menghampiri tempat tidurnya dan mulai memutus selang yang membantu pernapasannya. Napas pemimpin yakuza itu mulai tersendat dan alat pendeteksi detak jantungnya pun tidak beraturan. Aku menarik selang infuse yang menancap di tangannya dengan kasar sehingga membuat tangannya berdarah.

Alat pendeteksi detak jantungnya berhenti. Aku tersenyum senang kemudian segera keluar dari kamar rawat itu. Tapi sialnya para polisi itu sudah kembali dan tengah berlari menuju kamar rawat ini. Aku pun kembali masuk dan memutuskan untuk bersembunyi di balik tirai di pojok ruangan.

“Sial ! Kita terlambat, pembunuh itu menjebak kita dengan tembakan itu. Bawa jasadnya ke ruang otopsi. Kita otopsi jasadnya,” masih dengan keadaan gelap beberapa polisi itu mendorong tempat tidurnya keluar dari kamar rawat ini. Aku menghela napas lega kemudian keluar dari persembunyianku. Setelah memastikan semua polisi keluar, aku membuka jendela yang menghadap ke halaman belakang rumah sakit dan memasang tali untuk jalanku turun ke bawah.

“Kau mau mencoba kabur hah ?” tanya seseorang bersuara berat. Aku menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang tidak bisa kulihat jelas wajahnya sedang berdiri. Aku bisa melihat orang itu berjalan ke arahku sambil menundukkan kepalanya.

“Aku hanya ingin melihat wajahmu,” ujarnya. Aku membalikkan badanku ke arah jendela dan bersiap untuk meluncur ke bawah. Tapi orang itu menarik bajuku dan membuatku kembali berbalik.

“Cih, aku tidak bisa melihat wajahmu,” serunya. Dengan bantuan cahaya bulan, aku bisa melihat samar-samar orang yang sedang memegang bajuku ini.

“Aku tahu siapa kau,” ujarku ketika mengetahui orang yang berdiri di hadapanku.

“Kau tahu siapa aku ?” tanyanya heran. Aku melepas cengkeraman tangannya kemudian berdiri di jendela untuk turun kebawah.

“Good bye, Choi Minho,” ucapku kemudian turun ke bawah. Minho masih memandangi aku dari atas sampai aku menghilang di balik semak-semak.

***

Seluruh dunia dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang pemimpin yakuza. Aku hanya bisa tersenyum bangga atas hasil kerjaku. Keberuntungan sedang menyelimutiku.

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku segera mencarinya diantara tumpukan bantal di kamarku. Di layar ponselku tidak tertulis nama penelepon itu.

“Yeoboseyo,” seruku.

‘Kerja yang bagus Kim Jonghyun’ ujar seseorang di seberang sana.

“Nuguji ?”

‘Aku akan kirim uangnya siang ini juga’

“Chamkanman ! Nugu—“ belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, orang itu sudah memutuskan sambungannya. Aku memandangi bayangan wajahku di layar ponsel, ada luka bekas cakaran di leherku. Sepertinya cengkeraman Minho membuat sedikit luka di leherku.

Aku membawa bajuku ke sebuah laundry di sebelah apartemenku. Seperti biasa, dia mengerti keadaanku dan mencucinya tanpa bicara sepatah katapun. Dia pernah menanyakanku kenapa aku selalu mengantar baju yang berlumuran darah padanya, tapi aku hanya tersenyum berharap dia memaklumi. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu dia memikirkan apa tentangku.

Aku berjalan-jalan pagi di sekitar apartemen untuk menyegarkan kembali pikiranku. Aku mempunyai sedikit firasat tidak enak, tapi firasat itu segera kuhilangkan ketika melihat Hyunwon sedang berjualan makanan seperti biasanya. Aku hendak menghampirinya, tapi segera kuurungkan ketika melihat Minho di sebelahnya. Aku tidak menghiraukannya dan tetap menghampiri Hyunwon.

“Hyunwon-ah,” sapaku. Hyunwon dan Minho menoleh bersamaan ke arahku. Hyunwon tersenyum padaku sedangkan Minho hanya diam memandangiku seperti menyelidik.

“Kau tidak perlu membantuku lagi kali ini. Minho sudah membantuku,” ujar Hyunwon. Aku terkekeh sambil mengibaskan tanganku.

“Anni, aku kesini mau membeli makanan untuk sarapan dan juga menyapa teman baruku,” balasku dengan menekankan nada pada teman baruku sambil melirik ke arah Minho.

“Ah araseo. Kau bisa membantuku promosi kalau kau mau,” usulnya. Aku mengangguk menyetujui usulnya.

Aku berpindah ke samping Hyunwon, tidak lepas dari tatapan menyelidik Minho. Sepertinya dia menyadari bekas cakaran itu di leherku. Aku menarik bajuku ke belakang sehingga menutupi luka cakarannya. Tiba-tiba pandangan Minho padaku terusik karena ponselnya berdering. Minho mengangkat telepon di ponselnya.

“Ne hyung. Aku akan segera kesana,” ujar Minho kemudian menutup teleponnya.

“Hyunwon, aku harus pergi. Polisi mencariku untuk membahas masalah ini,” Minho mengacak rambut Hyunwon lalu pergi meninggalkannya. Aku bisa melihat raut Hyunwon berubah melihat kepergian Minho.

“Kau suka dia huh ?” tanyaku. Hyunwon menoleh cepat padaku dan menggelengkan kepalanya.

“Anni, dia itu sahabatku. Tidak mungkin aku suka dengannya,” jawab Hyunwon kikuk. Tiba-tiba wajah Hyunwon memerah, dia senyum-senyum sendiri sambil membereskan barang dagangannya. Dasar yeoja.

“Itu berarti, aku masih ada kesempatan ?” tanyaku. Hyunwon memandangku, keningnya berkerut kemudian dia malah tertawa.

“Ireon !” jawabnya masih terus tertawa. Melihat Hyunwon tertawa membuatku ingin tertawa juga. Aku malah tersenyum melihatnya, manis.

***

Aku mengantar Hyunwon sampai ke depan apartemennya. Apartemennya sangat kecil, hanya ada beberapa kamar di gedung apartemen kumuh ini. Salah satunya di tempati Hyunwon.

“Kau tidak mau masuk dulu ?” tanyanya memecah lamunanku.

“Kalau kau memaksa,” jawabku. Hyunwon tersenyum dan melebarkan pintu apartemennya untukku. Aku masuk ke dalam lalu membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.

“Mian, apartemenku sangat kecil,” seru Hyunwon merendahkan.

“Anni, walaupun kecil tapi nyaman,” balasku sambil tersenyum menyemangati.

Hyunwon masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka sedangkan aku melihat ke sekeliling apartemennya. Hanya ada dapur, meja kecil, dan sebuah lemari. Tempat tidurnya dilipat di pojok ruangan, TVnya pun hanya setengah dari TV di apartemenku.

Sebuah foto di meja kecil dekat kakiku memusatkan perhatianku. Foto Hyunwon bersama kedua orang tuanya. Aku mengambil frame foto itu dan memandanginya. Sepertinya aku kenal dengan kedua orangtuanya.

“Itu fotoku dengan kedua orangtuaku,” sahut Hyunwon tiba-tiba. Aku segera menyimpan frame foto itu kembali ke atas meja. Hyunwon terduduk di tengah apartemennya, tatapan matanya kosong. Aku segera menghampiri Hyunwon dan duduk di hadapannya.

“Kemana mereka ? Kenapa kau tinggal sendirian disini ?” tanyaku. Hyunwon menyunggingkan sebuah senyuman pahit di bibirnya.

“Mereka sudah meninggal,” jawabnya dengan suara bergetar.

“Meninggal ?” tanyaku heran. Hyunwon menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Kedua orangtuaku di bunuh. Mereka di bunuh di depan mataku sendiri, ketika kami mau pergi liburan 2 bulan yang lalu,” Hyunwon memotong ucapannya. Sepertinya dia melihat perubahan raut wajahku, orang tua Hyunwon. . .

“Kau pasti tahu kan ? Pembunuh bayaran yang sedang gencar-gencarnya di berita sekarang, dialah yang membunuh kedua orangtuaku. Dia membunuh di tempat apartemenku yang dulu. Di depan mataku, eomma dan appa dibunuh dengan sadis olehnya,” jelas Hyunwon singkat. Mata Hyunwon mulai berkaca-kaca, tapi dengan cepat dia menghapus air mata di sudut matanya.

“Aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Aku harus kuat, tidak boleh lemah. Selama 2 bulan ini aku bekerja disana-sini untuk menghidupi diri sendiri. Yang bisa aku dapat hanya apartemen kecil ini dan makan 2 kali sehari,” sambung Hyunwon. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. Hyunwon mengankat tangannya dan dengan segera menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.

“Aku berjanji pada kedua orangtuaku, aku akan menemukan pembunuh itu dan menghukumnya dengan balasan yang setimpal. Aku mau dia mati,” seru Hyunwon dingin. Mataku membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkannya. Jadi begini sosok Hyunwon kalau dia sedang marah ? sebegitu bencikah dia dengan pembunuh kedua orangtuanya ? atau lebih tepatnya, padaku ?

“Omo~, kenapa aku menceritakan semuanya padamu. Padahal kita baru kenal beberapa hari yang lalu,” ujarnya. Aku tertawa kemudian mengacak rambutnya lembut.

“Gwenchana, aku senang bisa jadi temanmu. Mmm, sepertinya aku harus pulang,” balasku sambil berjalan ke arah pintu. Hyunwon mengantarku sampai ke depan gedung apartemennya.

“Annyeong, jangan bosan-bosan datang ke apartemenku yang kumuh ini, ya,” seru Hyunwon. Aku mengangguk kemudian berlalu meninggalkannya.

Sesampainya di apartemen aku segera membanting tubuhku ke atas sofa. Menenggelamkan diri di dalam bantal-bantal besar yang ada. Apa dia sangat membenciku ? Kalau dia tahu aku ini yang sudah membunuh kedua orangtuanya, apa dia akan membenciku ? Apa kau tidak sadar sudah menyakiti banyak orang Kim Jonghyun ? Kau harus merubah jalan hidupmu, demi Hyunwon.

***

Aku terbangun masih tenggelam diantara bantal-bantal di sofa. Aku masih ingat ekspresi Hyunwon yang penuh dendam ketika menceritakan tentang orang tuanya. Baru kali ini aku merasa bersalah dengan pembunuhan yang sudah aku lakukan. Apa karena aku menyukai Hyunwon ?

Aku menatap pantulan wajahku di cermin sambil memikirkan potongan rambut yang cocok untukku. Aku meraih gunting yang ada di dekat tanganku, mengarahkannya ke rambutku dan mulai memotongnya. Untuk mengawali perubahanku.

Hal kedua yang harus kuhilangkan, baju yang selalu aku pakai ketika melakukan pembunuhan itu. Aku membawa baju itu bersama celananya ke depan apartemen. Menyiramnya dengan bensin dan membakarnya.

Pisau, sniper riffle, dan pulpen itu ku simpan rapi ke dalam kotak dan menguncinya. Menyimpannya di antara tumpukan kotak-kotak lainnya di gudang. Sekarang, aku harus bertemu Hyunwon untuk menebus semua kesalahanku padanya. Aku akan memberikan semua yang dia mau.

Hyunwon terlihat sedang berbincang dengan Minho di restoran tempatnya bekerja. Aku melihat dari balik kaca di depan restorannya. Minho seperti sedang menjelaskan sesuatu pada Hyunwon, sedangkan Hyunwon hanya diam, menunduk mendengarkan ucapan Minho. Sedetik kemudian Hyunwon menangis, ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Minho berdiri dan pindah ke samping Hyunwon, ia merengkuh Hyunwon ke dalam pelukannya. Entah kenapa pemandangan itu membuat udara di sekitarku menjadi panas. Padahal sekarang sedang musim dingin dan aku hanya memakai blazer biasa yang tipis.

“Kenapa dia selalu ada disana sih ?,” gumamku. Aku berbalik dan kembali berjalan ke apartemen. Melewati gang sempit lagi, padahal aku benci gang sempit ini. Terdengar suara-suara aneh di belakangku, aku menoleh, tidak ada apa-apa. Aku kembali berjalan, hanya tinggal beberapa langkah lagi aku keluar dari gang sempit dan gelap ini.

Tiba-tiba seseorang menarik blazerku dengan kasar sehingga membuatku sedikit terpelanting. Hampir saja aku jatuh ke tanah kalau tanganku tidak menahan tubuhku. Aku tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, cahaya-cahaya dari gedung-gedung membuatku semakin silau untuk melihat wajahnya.

“Mau apa kau ?” tanyaku. Orang itu malah menarik bajuku dengan kasar dan merapatkanku ke tembok. Ia mencekik leherku dengan sebelah tangannya, keras, sampai aku sulit bernapas.

“K-kau . . si-apa ?” tanyaku tersengal. Ia terus mencekikku, sampai kakiku berjinjit karena ia mencoba mengangkat tubuhku. Kakiku yang tergantung bebas kugunakan untuk menendang perutnya. Seketika juga ia tersungkur ke belakang dan membuat cekikannya lepas. Aku merapikan bajuku kemudian berjalan menghampirinya yang masih bersandar di tembok sambil memegangi perutnya.

“Siapa kau,” tanyaku sambil menjambak rambutnya dan menariknya ke belakang. Sekarang aku bisa melihat wajahnya, tapi aku tidak tahu siapa dia.

“Apa masalahmu,” tanyaku lagi. Ia melepas tanganku dari rambutnya kemudian berdiri dan berlari keluar gang sempit ini.

“Dasar aneh,” gumamku sambil menepukkan tangan membersihkannya. Aku mengusap-ngusap leherku yang masih sakit karena cekikkan orang itu. Setelah merapikan kembali baju dan blazerku, aku segera keluar dari gang sempit itu sebelum terjadi hal-hal aneh lagi.

***

Aku memandangi Hyunwon dari kejauhan. Dia sedang mengajari anak-anak di sebuah panti asuhan dekat apartemennya. Aku baru tahu ternyata dia menjadi pengajar di panti itu. Hatinya tulus, aku suka wanita seperti itu.

“Baiklah, besok kita bertemu lagi disini. Annyeong,” seru Hyunwon senang. Anak-anak kecil itu berlarian menghampiri Hyunwon, memeluknya kemudian masuk ke dalam panti asuhan itu. Sementara Hyunwon membereskan buku-buku yang masih tergeletak di tanah, di bawah pohon tempat ia mengajar tadi. Aku berjalan menghampirinya.

“Perlu kubantu ?” tawarku. Hyunwon mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum lagi mengiyakan tawaranku.

“Keurae,” jawabnya. Aku membantu Hyunwon membereskan buku-buku cerita anak kecil itu dan menaruhnya di sebuah batang pohon. Setelah semuanya beres, kami berdua duduk di atas batang pohon itu sambil melepas peluh. Hyunwon memeluk buku-buku cerita itu.

“Kau suka anak-anak ?” tanyaku. Hyunwon mengangguk masih dengan dagu tertopang di atas buku-buku cerita yang di peluknya.

“Anak-anak itu sama sepertiku, tidak punya orang tua. Aku senang kalau mereka senang,” jawabnya. Aku kembali tertegun, dia benar-benar membuat hatiku merasa bersalah.

“Jadi, bagaimana dengan pembunuh itu ? Apa kau sudah menemukannya ?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan. Hyunwon menggeleng.

“Belum, Minho hanya bisa menemukan ciri-ciri pembunuh itu. Karena dia bilang pernah melihat pembunuh itu,” jawab Hyunwon. Aku langsung tersentak, ternyata Minho sudah tahu siapa aku. Aku harus lebih berhati-hati lagi sekarang.

-to be continued-

 

One thought on “[FanFic] A Love To Kill (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s