[FanFic] A Love To Kill (Chapter 1)

Casts : Song Hyunwon, Kim Jonghyun

Other Cast : Choi Minho

Genre : a bit Thriller, Romance

Rated : PG+15

Length : Series

Aku membuka mataku perlahan. Tanganku menghalangi sebagian wajahku untuk mencegah sinar matahari pagi menyilaukan pandanganku. Sudah pagi lagi ternyata, kejadian semalam hanya seperti mimpi bagiku.

Aku turun dari tempat tidur dan memakai baju yang kusampaikan di kursi meja kerjaku. Aku menyalakan TV dan menonton berita tentang pembunuhan yang terjadi semalam.

Lagi-lagi telah terjadi pembunuhan secara misterius di rumah seorang pengusaha bernama Lee Soo Man. Keadaannya sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata lagi. Terdapat luka tembakan di dada Lee Soo Man dan guratan pisau di lehernya. Entah apa yang dicari pembunuh kejam itu, polisi tidak bisa menemukan bukti apapun untuk mencari pembunuh itu. Polisi hanya menemukan sebuah tulisan yang dibentuk penjahat itu di tubuh Lee Soo Man. Setelah di telaah, ternyata tulisan itu bertuliskan LUCIFER yang berarti iblis.

Aku menyeringai kecil mendengar berita diriku sendiri. Sebagai seorang pembunuh bayaran professional aku harus berhati-hati dalam bertindak. Aku tidak boleh meninggalkan jejak sedikitpun di tempat kejadian atau tamatlah riwayatku.

Bip bip . .

Terdengar I-pad ku berbunyi tanda pesan masuk. Aku mengambil I-padku di kamar dan membuka pesan itu. Sebuah video yang berisikan perintah untuk membunuh lagi. Seperti biasa, orang-orang yang menyuruhku untuk membunuh biasanya memblur wajahnya sendiri agar aku tidak bisa melaporkan mereka ke polisi. Kalaupun aku tertangkap, aku tidak memiliki nama orang-orang yang menyuruhku. Aku hanya butuh uang, itu saja.

“It’s show time,” gumamku.

Aku segera berganti pakaian dengan baju khasku. Dengan baju panjang di depan dan terbuka setengah di punggungku. Baju inilah yang biasa kugunakan untuk membunuh. Entah sudah berapa orang yang aku bunuh dalam waktu satu minggu terakhir ini. Mungkin sekitar 10 orang. Hal ini membuatku senang karena bisa melampiaskan semua kemarahanku pada orang yang aku bunuh.

Aku memakai jaket tebal untuk menutupi bajuku dan topi fedora untuk menutupi rambutku yang aneh. Segera kujalankan mobilku menuju sebuah apartemen di pinggiran kota Seoul.

***

Di parkiran apartemen ini aku bisa melihat seorang laki-laki dan perempuan yang tengah berjalan menuju mobilnya. Di depan mereka berjalan seorang yeoja yang sepertinya tidak jauh berbeda denganku  umurnya. Laki-laki dan perempuan itu terlihat seperti kedua orang tuanya. Aku bisa melihat kedua orang tua itu tapi tidak dengan anaknya.

Aku turun dari mobil dengan membawa peralatan tempurku. Tidak lupa melepas jaket dan fedora yang kupakai. Karena keadaan disini cukup gelap dan sepi, aku tidak perlu khawatir orang akan melihatku.

Anak mereka masuk ke dalam mobil di jok paling belakang. Sedangkan kedua orang tuanya masih berjalan menuju mobil dan masih berjarak beberapa meter dari mobil mereka. Inilah saatnya . .

Aku membidik sniper riffle milikku ke dada kedua orang tua itu. Dengan dua kali tembakan saja keduanya langsung jatuh di tempat. Aku melempar sniper riffle milikku ke dalam mobil dan dengan sigap menghampiri kedua orang yang hampir mati itu.

Aku berjongkok disamping mereka, meletakkan pisau yang kubawa di leher mereka. Aku membiarkan mereka merasakan dinginnya pisau yang kupegang, aliran energy dari tubuhku sendiri. Mereka menangis seolah memohon agar aku tidak membunuh mereka. Tapi aku terlanjur menerima perintah dan berjanji untuk membunuh mereka.

“Ak-ku m-mohon, anak-ku masih mem-mbutuhkan k-kami. J-jangan bunuh kami,” pinta laki-laki itu. Aku hanya menyeringai mendengar ucapannya.

Aku menggoreskan pisau itu ke leher mereka. Darah segar keluar dari pembuluh darah dan membuat lantai di dekatku berwarna merah. Tapi mereka belum mati, goresan dalam di leher belum memutuskan nadi yang lainnya.

“Cih, kalian susah sekali untuk mati,” ujarku.

Aku menancapkan pisau yang kubawa ke dada mereka dengan kasa. Mereka pun terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut mereka. Mereka menarik bajuku dan menatapku nanar sampai napas mereka benar-benar habis.

Setelah kupastikan mereka mati, aku mengambil pulpen khusus di saku celanaku. Pulpen dengan suhu 100oC yang bisa membuat kulit mereka leleh. Aku mengukir namaku di wajah mereka dengan indah. Lebih indah dari sebelumnya dan yang pasti membuat wajah mereka terlihat lebih bagus dengan tato buatanku. Aku tersenyum simpul kemudian berdiri merapikan rambut dan bajuku.

Aku menelungkupkan tubuh mereka. Aku tertawa puas dengan hasil karyaku hari ini.

“Kau ! Apa yang kau lakukan pada kedua orangtuaku !” aku menolehkan setengah kepalaku ke belakang. Aku melihat seorang yeoja tengah menutup mulutnya tidak percaya pada apa yang sudah aku lakukan. Ternyata dia adalah anak dari kedua orangtua yang baru saja kubunuh.

Aku tidak menghiraukannya dan segera pergi meninggalkannya. Aku masuk ke dalam mobilku yang terparkir jauh dari tempat kejadian dan membawanya ngebut..

***

Sudah 2 bulan aku menganggur, tidak dapat perintah apa-apa. Persediaan uangku juga semakin menipis untuk kebutuhanku selama 2 bulan terakhir. Aku memeriksa dompetku, masih ada 5 lembar seratus ribu won.

“Cukup untuk makan seminggu lagi,” gumamku.

Aku memakai jaket tebalku dan memastikan penampilanku sekali lagi di depan cermin. Aku tersenyum simpul melihat penampilanku sendiri di depan cermin.

“Kau tampan juga Jong,” pujiku terhadap diri sendiri. Aku keluar dari apartemen untuk mencari makan malam.

Hujan rintik membasahi rambutku yang kubiarkan sedikit acak-acakan. Hampir 15 menit aku berjalan sampai aku menemukan sebuah restoran. Di depannya terpasang papan yang bertuliskan ‘ttukbogi hanya seharga 10.000 won’ aku tersenyum kemudian masuk ke dalam restoran itu.

Restorannya tidak terlalu ramai seperti dugaanku. Hanya ada beberapa orang yang sedang makan sama sepertiku. Ada juga beberapa dari mereka sedang meminum soju dan sudah mabuk.

“Oso oshipsiyo. Mau makan apa ?” tanya seorang yeoja membuyarkan lamunanku. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat yeoja itu, ternyata pelayan café ini.

“Aku mau ttukbogi dan teh hangat,” ucapku dingin. Pelayan itu mencatat pesananku kemudian berlalu ke dapur.

Aku mengetuk-ngetukkan jariku ke meja sambil menunggu pesananku datang. Beberapa menit kemudian pelayan yang tadi melayaniku kembali dengan membawa ttukbogi pesananku. Tapi entah apa penyebabnya tiba-tiba pelayan itu terjatuh dan membuat ttukbogi yang dibawanya tumpah. Tumpahannya itu mengenai salah satu pengunjung yang sedang mabuk dan setengah sadar.

“Aigo ! Panas !” ujar pengunjung yang terkena tumpahan ttukbogi. Pelayan itu langsung bangun dan membungukkan badannya dalam-dalam.

“Mianhae, mianhae,” seru pelayan itu berkali-kali. Pengunjung yang terkena tumpahan ttukbogi malah tersenyum meremehkan.

“Kakiku panas ! Dengan mudahnya kau meminta maaf hah ! dasar yeoja bodoh !” pengunjung itu hendak menampar pelayan itu. Dengan cepat aku menghampirinya dan menahan tangannya agar tidak menampar pelayan itu.

“Kau ! Apa urusanmu ?! Dia sudah membuat kakiku memerah karena tumpahan ttukbogi itu !” teriaknya. Aku membanting tangannya dengan keras sehingga membentur meja. Dia meringis kesakitan sambil mengusap-ngusap tangannya.

“Hanya kerena hal kecil kau menampar seorang yeoja. Apa kau seorang namja ? bukan tandinganmu kalau kau melawan seorang yeoja !” teriakku. Namja itu pergi begitu saja meninggalkanku dan pelayan restoran ini.

“Kamsahamnida. Aku berhutang banyak padamu,” ujarnya sambil membungkukkan badannya. Aku tersenyum lalu membalas bungkukkan badannya.

“Cheonmaneyo. Kau tidak bersalah, dia yang seharusnya di perlakukan seperti itu karena mencoba menyakitimu,” balasku. Yeoja itu terkekeh mendengar ucapanku, dan aku malah mengikuti tawanya.

“Choneun Song Hyunwon imnida,” ujarnya.

“Hyunwon ? Nice name. Chega Kim Jonghyun,” balasku. Terlihat semburat warna merah di wajah Hyunwon.

“Aku akan buatkan ttukbogi yang baru. Mianhae atas kejadian ini,” ujarnya merasa bersalah.

“Gwenchana. Aku tunggu ttukbogi yang baru di mejaku,” balasku. Hyunwon kembali ke dapur dan aku kembali ke mejaku.

Seorang namja berperawakan tinggi dan memiliki rambut hitam memasuki restoran ini. Dia terlihat mengitarkan pandangannya ke seluruh café, dan pandangannya terhenti pada Hyunwon yang baru saja keluar dari dapur. Hyunwon tersenyum ke arah namja itu.

Setelah menaruh ttukbogi dan teh hangat ke mejaku dia menghampiri namja itu. Hyunwon memeluk namja itu kemudian menarik tangannya untuk duduk di salah satu meja. Aku mulai memakan ttukbogi pesananku sambil terus mendengar pembicaraan mereka.

“Kau terlihat lelah sekali. Kau dapat petunjuk apa hari ini ?” tanya Hyunwon. Namja itu terlihat melonggarkan dasinya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

“Pembunuh itu hebat sekali. Dia tidak meninggalkan bukti apapun untuk mencari keberadaannya,” ucapan namja itu membuatku sedikit tersedak. Aku terbatuk-batuk dan membuat mereka menoleh padaku. Aku langsung menyesap teh hangatku. Mereka kembali focus pada pembicaraan mereka.

“Lucifer, iblis. Memang cocok untuknya, seorang iblis yang selalu membunuh korbannya dengan sadis,” ujar namja itu. Keringat dingin mulai turun mengaliri pelipisku.

“Tapi selama 2 bulan terakhir tidak ada pembunuhan oleh Lucifer. Sepertinya dia sedang istirahat untuk pembunuhan selanjutnya,” sambungnya lagi.

“Aku harap dia tidak melakukan pembunuhan kejam itu lagi,” timpal Hyunwon. Namja itu mengusap pundak Hyunwon.

“Ah iya Minho. Aku mau mengenalkan kau dengan teman baruku. Kami baru saja berkenalan tadi karena dia menyelematkanku dari ahjussi yang mencoba menamparku,” Hyunwon berdiri dari kursinya lalu menghampiri mejaku. Aku mendongakkan kepala dan melihat Hyunwon tersenyum padaku.

“Jonghyun-ssi, aku mau mengenalkanmu dengan sahabatku. Ayo,” Hyunwon menarik tanganku ke mejanya. Aku berdiri tepat di samping meja Hyunwon.

“Minho kenalkan dia Jonghyun. Jonghyun dia Minho,” ujar Hyunwon. Minho menyodorkan tangannya berharap aku membalasnya. Aku membalasnya hanya dengan sebuah tatapan dingin.

“Igeo,” aku menyerahkan selembar uang pada hyun won, “aku harus pulang,” sambungku.

Aku pergi keluar dari restoran tanpa menggubris panggilan Hyunwon di dalam restoran. Aku terus menerobos hujan yang semakin deras. Laki-laki itu sedang mencari informasi tentangku, aku harus lebih berhati-hati lagi.

Aku memasuki apartemenku kemudian melepas jaket yang sudah basah kuyup. Aku juga membuka kaus lapisan di dalamnya sehingga aku hanya bertelanjang dada.

Bip bip . .

I-pad ku berbunyi lagi setelah hampir 2 bulan tidak ada tugas. Berarti kali ini aku mendapat tugas baru.

Aku membuka video yang masuk ke dalam emailku. Di seberang sana terlihat seorang namja yang sepertinya sudah cukup berumur, terlihat dari kerutan di lehernya.

“Kim Jonghyun,” ujarnya.

“Eh ? Dia tahu namaku ?” timpalku.

“Aku mempunyai sebuah tugas baru untukmu. Aku ingin kau membunuh pemimpin yakuza yang sedang berlibur di Korea sekarang. Aku mau kau membunuhnya dengan sadis dan tanpa memberi ampun padanya. Aku akan bayar berapapun yang kau minta. Kalau sampai dia tidak mati, aku yang akan membunuhmu. Aku tidak bisa menjelaskan alasannya sekarang, mungkin kau akan tahu nanti,” video itu berhenti dan langsung terhapus otomatis.

Aku menelan ludahku keras-keras mencoba mencerna omongannya. Seorang pemimpin yakuza, bagaimana bisa aku membunuhnya ? dia pasti dikelilingi bodyguard-bodyguard yang jauh lebih kuat dariku. Bahkan yang aku dengar terakhir kali, bodyguardnya adalah sebuah robot yang memang dirancang untuk berkelahi dan menembak. Apa aku bisa membunuhnya ?

***

Hari sudah semakin malam, sekarang sudah hampir tengah malam dan aku masih memantau dari atap restoran yang berseberangan dengan hotel tempat pemimpin yakuza itu menginap. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam dengan kawalan di depan dan belakangnya berhenti di depan hotel itu. Seorang namja turun dengan memakai tuxedo hitam dan kacamata hitam berjalan dengan angkuh masuk ke dalam hotel.

Hasrat membunuhku sudah mulai menjalari otakku. Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini. Semoga aku beruntung malam ini.

Aku turun dari atap dengan menggunakan tali, karena memang tidak terlalu tinggi. Dengan baju dan rambut khasku, aku berjalan mengendap-endap ke dalam hotel melalui pintu samping dekat toilet. Terlihat pemimpin yakuza itu masuk ke dalam toilet dan disaat yang sama para pengawalnya menjauh dari depan pintu toilet itu. Ini merupakan kesempatan yang bagus.

Aku bergerak cepat memasuki toilet itu. Pemimpin yakuza itu sedang mencuci tangannya di wastafel sambil bersiul senang. Aku mengeluarkan pisau andalanku kemudian membidiknya dari belakang. Setelah aku menentukan bidikkan yang tepat aku langsung melempar pisau itu dan tepat menancap di kaki kanannya. Dia terseok ke lantai sambil berteriak menahan sakit. Aku mengunci pintu toilet dengan mengganjalkan pegangan kain pel untuk menahan gagang pintunya.

“Aaaakh !” pemimpin yakuza itu terus meringis sambil memegangi kakinya yang terus mengeluarkan darah.

Aku menghampirinya dengan langkah pelan, membiarkannya merasakan dinginnya pisau di dalam dagingnya.

“Hai boys,” ujarku. Dia mendongakkan kepalanya. Dan ternyata dia seorang turunan Jepang sepertinya. Matanya sipit dan tidak seharusnya orang Amerika memiliki mata sipit kan ?

“What will you do ?” tanyanya. Aku menyeringai kecil sambil terus berjalan menghampirinya.

Aku menjambak rambut orang itu kemudian membenturkannya ke cermin yang menutupi semua dinding kamar mandi ini. Cerminnya retak dan menimbulkan noda merah pada kepala orang itu.

“What are you doing to me !” kali ini dia yang membentakku. Aku menarik kerah bajunya dan menyandarkannya pada dinding kaca.

“I want to kill you,” jawabku pura-pura polos. Mata pemimpin yakuza itu membulat seolah tidak percaya dengan apa yang baru aku katakan.

“Try it,” ujarnya meremahkan.

Aku tersenyum menyeringai kemudian membenturkan kepalanya sekali lagi ke cermin. Lagi-lagi cerminnya retak dan terlihat noda merah yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku menarik dengan kasar pisau yang menancap di paha kanannya sampai dia berteriak kencang. Aku menelusuri lekuk wajahnya dengan pisau yang kupegang. Wajahnya berlumuran darah karena darah yang berasal dari pisauku.

“You’re crazy !” teriaknya.

“Yeah, I’m crazy because of you,” ujarku sambil mendaratkan kepalan tanganku di pipinya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

Dia mencoba membalas pukulanku, tapi dengan segera aku menancapkan pisau yang kupegang ke perutnya. Dia langsung terloncat ke belakang sambil memegangi perutnya.

Tubuhnya merosot ke bawah. Tatapan matanya kosong seperti orang sudah hampir mati.

“Ah, aku lupa satu lagi,” aku mengeluarkan pulpen andalanku dari dalam saku. Aku membuka tutupnya dan mulai mengukirkan namaku di pipinya yang mulus itu.

“L-U-C-I-F-E-R,” aku mengeja tulisan yang sudah kutuliskan di pipinya. Dia berteriak keras ketika aku menancapkan pulpenku ketika huruf terakhir.

Matanya terpejam, tapi aku masih bisa merasakan helaan napasnya yang mulai melambat. Aku menarik pisau yang menancap di perutnya dengan hati-hati. Matanya kembali membuka dan menatapku dengan tatapan nanar.

“Pabo,” ujarnya. Eh ? Dia bisa berbahasa Korea ?

Brak Brak brak !!

Terdengar gedoran pintu toilet yang semakin keras. Aku menoleh ke arahnya yang masih bernapas tetapi matanya sudah terpejam. Aku menancapkan pisauku ke dadanya dan membuatnya muntah darah. Dia masih bernapas dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mati.

“Damn !” umpatku.

Brak !

Pintu toilet terdobrak dan aku masih berjongkok di sampingnya.

-to be continued-

comment please🙂

 

2 thoughts on “[FanFic] A Love To Kill (Chapter 1)

  1. Woow , chingu , liat jjong oppa dr belakang o.O
    omo :O absnyaaa , ngileerrr ~
    ff.a keren chingu🙂
    oiyaa , salam kenal yaah ^^
    i’m a new reader ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s