[FanFic] Life With a Fairy (Part 2)

Title       : Life With A Fairy

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Kim Kibum a.k.a Key, Kim Sang Eun, Choi Sulli

Rating   : PG+15

Genre   : AU, Romance

Length  : Series

Note       : tanda – — – — ganti POV, gomawo. Comment ..

***

Sejak kedatangan Sang Eun 2 minggu yang lalu, hidupku banyak berubah. Jika aku menginginkan sesuatu dalam hatiku, hal itu langsung ada di depan mataku. Apa Sang Eun itu seorang peri yang dikirimkan untukku ? Aih, pabo. Mana mungkin ada peri di zaman modern seperti sekarang.

“Hey, jangan melamun terus,” ujar Sang Eun mengagetkanku. Kami sekarang tengah duduk di ruang TV sambil memakan cemilan yang baru kami beli tadi sore. Uang yang kudapatkan dari tip para pengunjung di cafe Cheongdam.

“Aku bosan. Mau jalan-jalan keluar ?” tanyaku. Sang Eun langsung menaruh cemilan di tangannya ke meja kemudian mengangguk semangat.

“Keurae. Jangan banyak berpikir sesuatu yang tidak penting, kajja !” ajaknya sambil menarik tanganku agar bangun dari dudukku.

“Ne, sabar sedikit,” jawabku. Sang Eun memakai blazer tebal berwarna abu-abu sedangkan aku hanya memakai jaket seperti biasanya.

“Udara di luar dingin, kau hanya pakai baju itu ?” tanyanya heran. Aku merapatkan jaketku kemudian menutup sletingnya.

“Gwenchana, aku sudah biasa seperti ini,” jawabku santai. Tapi Sang Eun menggamit lenganku sehingga membuatku berbalik padanya.

“Aku punya banyak blazer tebal. Pakai punyaku saja daripada kau sakit,” sahutnya. Sang Eun masuk ke kamar, tak berapa lama ia kembali keluar sambil membawa sebuah blazer berwarna hitam.

“Igeo. .” ujarnya sambil menyerahkan blazer itu. Sebelum menerimanya aku memperhatikan Sang Eun untuk beberapa saat.

“Jangan melihatku, pakai blazer ini,” timpalnya. Aku tersadar dari pikiranku kemudian menerima blazer itu.

Ternyata benar juga ucapan Sang Eun, udara di luar sangat dingin. Minggu depan sudah mulai memasuki musim dingin, jadi wajar saja kalau udara semakin dingin akhir-akhir ini.

“Benar kan dugaanku,” ujarnya. Ternyata jalan-jalan di pinggir jalanan kota Seoul membuat kepenatan dalam otakku sedikit menghilang.

“Aku mau lihat-lihat di toko itu,” ujar Sang Eun sambil menunjuk sebuah toko boneka. Tanpa persetujuan dariku, Sang Eun langsung menarik tanganku masuk ke dalam toko yang penuh dengan warna pink dan biru. Banyak boneka beruang yang terpajang. Tapi aku tidak melihat itu, aku melihat sesosok wanita yang tengah berdiri di depan boneka beruang besar berwarna coklat. Aku segera menghampiri wanita itu kemudian memastikan kalau wanita itu adalah Choi Sulli.

“Sulli ?” panggilku. Sulli menoleh padaku sambil memberikan senyumannya yang seperti malaikat itu.

“Kibum-ah, aku beruntung sekali bisa bertemu kau disini,” ujarnya. Lagi-lagi aku terhipnotis karena senyumannya itu.

“Sendirian ?” tanyanya lagi. Belum sempat aku menjawab, suara melengking Sang Eun terdengar memanggil namaku.

“Key !” panggil Sang Eun sambil berjalan ke arahku. Sulli memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghampiriku.

“Aku mau boneka itu,” seru Sang Eun sambil menarik-narik tanganku. Aku sedikit risih juga dengan kelakuan Sang Eun, apalagi ada Sulli, dia bisa berpikir kalau Sang Eun itu pacarku.

“Sirho,” jawabku.

“Sepertinya aku mengganggu, aku pulang duluan, ya.” ujar Sulli tepat seperti dugaanku. Sulli membungkukkan badannya kemudian sedikit berlari keluar dari toko boneka ini. Aku memandangi kepergian Sulli kemudian melepaskan tangan Sang Eun yang menggamit lenganku.

“Kau suka wanita itu ?” tanya Sang Eun. Aku tidak menghiraukan pertanyaan Sang Eun dan malah meninggalkannya di dalam toko.

“Key ! Chamkanman !” teriaknya lalu berlari menyusulku.

“Ne, aku suka padanya. Dia sudah berpikir macam-macam tentang kita,” jawabku sambil berjalan menuju apartemen.

“Terlihat dari raut wajahmu. Mau aku bantu supaya kau bisa dekat dengannya ?” tawar Sang Eun. Aku memberhentikan langkahku dan berbalik menghadap Sang Eun.

“Kau bisa bantu apa ?” tanyaku atau lebih tepatnya mengejek.

“Aku-aku, aku bisa bicara dengannya dan bilang kalau kau suka dia. Beres kan ?” tanyanya. Aku sedikit memukul kepala Sang Eun kemudian berbalik meninggalkannya.

“Memangnya salah ? itu mudah kan ?” tanyanya polos sambil berlari mengimbangi langkah kakiku yang cepat.

“Bukan itu masalahnya. Aku merasa tidak pantas ada di samping Sulli. Dia itu anak seorang pemegang saham terbesar di Korea ini. Sedangkan aku ? Hanya seorang pengantar susu dan seorang pelayan café yang gajinya pun tidak tentu. Apalagi Sulli itu cantik, apa kata orang kalau aku membawanya dengan sepeda bututku itu,” jelasku.

Aku membuka pintu apartemen dan segera membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Sang Eun mengangguk mengerti kemudian ikut tidur di sebelahku, memandangi langit-langit apartemen yang sangat usang.

“Hanya itu ?” tanyanya. Tapi Sang Eun langsung membekap mulutnya sendiri lalu memukul kepalanya.

“Maksudmu ? Apa kau bisa membuatku menjadi kaya, mempunyai mobil mewah, rumah mewah, uang yang banyak dan segalanya yang bisa membuatku pantas untuk menjadi pendampingnya ?” tanyaku. Mana mungkin seorang wanita biasa seperti Sang Eun bisa membuatku kaya dalam waktu singkat.

“Kalau aku bilang aku bisa membuatmu menjadi seperti itu, apa kau percaya ?” tanyanya. Aku menoleh ke arah Sang Eun. Disaat yang sama dia juga menolehkan wajahnya dan membuat kami bertatapan. Apa dia serius dengan kata-katanya ?

“Ah, anni. Lupakan saja,” sambung Sang Eun sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku. Hampir saja aku mengira kalau Sang Eun itu bukan manusia.

“Aku akan berusaha membantumu untuk menjadi pendamping Sulli. Sepertinya dia juga menyukaimu.” ujar Sang Eun sambil mengacak rambutku. Sang Eun beranjak dari tempat tidurku dan beralih ke tempat tidurnya. Dia menarik selimut dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut.

Aku memandangi Sang Eun masih dengan tatapan heran. Kejadian tadi membuatku sadar, lekuk wajah Sang Eun sangat sempurna. Sang Eun memiliki mata berwarna coklat, hidung yang mancung, bibir mungil yang berwarna pink, dan kulit wajahnya yang putih merona. Aigo, kenapa aku menjadi tidak karuan seperti ini ? Lebih baik aku tidur sekarang.

– — – –

Sang Eun POV

Key sudah mulai memasuki alam mimpinya. Key bermimpi tentang dirinya sendiri yang tengah terjebak di sebuah rumput ilalang yang tinggi. Di depanya berdiri seorang wanita dengan sebuah dress berwarna putih dan berambut panjang. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, Key berusaha mengejar wanita itu. Semakin Key berusaha untuk mengejarnya, wanita itu semakin jauh dan sulit untuk dijangkau. Aku masih penasaran dengan mimpi Key, tapi aku harus menahan diriku. Karena semakin lama aku terlarut dalam pikiran seseorang, aku akan semakin kehilangan kekuatanku untuk mengabulkan permohonan seseorang.

Aku mengambil diaryku di dalam tas yang kusimpan di atas lemari. Aku membuka diary itu dan melihat-lihat isinya. Halaman per halaman sudah kuisi. Kejadian-kejadian yang kualami selama  2 minggu ini bersama Key. Membantu Key mengantar susu, berjualan di depan sekolah Key, dan mempromosikan café tempat Key bekerja agar selalu ramai pengunjung.

Aku semakin terlarut dalam kehidupan manusia yang sangat menyenangkan ini. Aku hampir lupa kalau aku ini seorang peri dan mempunyai kekuatan untuk mengabulkan permintaan. Aku bisa mengabulkan semuanya, kecuali cinta. Aku tidak bisa memaksakan rasa cinta seseorang. Termasuk rasa cinta Sulli terhadap Key.

“Mobil. Hal pertama yang harus aku kabulkan untuk membantunya agar tidak diremehkan orang lain,” gumamku. Aku segera menutup buku diary yang sudah selesai ku tulis dan menyimpannya kembali di dalam tas. Aku memakai blazer yang tadi kupakai dan segera berjalan keluar dari apartemen. Sebelum keluar, aku memperhatikan Key beberapa saat. Mimpinya sudah berganti lagi sekarang.

Keadaan di depan gedung apartemen sangat sepi, lampu-lampu sudah dimatikan dan tidak kulihat tanda-tanda orang berkeliaran. Aku memikirkan mobil apa yang cocok untuk Key.

“Sepertinya mobil sport cocok untuk Key,” pikirku. Aku hendak mengucapkan mantra untuk memunculkan mobil di hadapanku, tapi tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku.

“Kau jangan ceroboh Sang Eun. Jangan sampai manusia itu tahu tentang dunia peri. Dan kau ingat perjanjian yang ada kan ?” aku baru sadar kalau itu adalah ratu Arkia. Suaranya terdengar lantang dan tegas tetapi begitu lembut bagiku.

“Ne, araseo. Kita tidak boleh melupakan asal-usul kita turun ke bumi. Setelah semua permohonannya terkabul aku harus kembali ke dunia peri dan melupakan kejadian yang kualami selama ini. Termasuk manusia yang kubantu, dia akan kehilangan ingatannya ketika bersamaku. Ingatannya akan dirangkai menjadi kejadian fiksi yang tidak terjadi,” jawabku panjang lebar.

“Kau lupa satu lagi,” timpalnya.

“Mwo ?” tanyaku. Dia memegang bahuku kemudian menatapku lekat-lekat.

“Kau tidak boleh jatuh cinta dengan manusia,” jawabnya. Aku mengangguk ragu diiringi kepergian ratu Arkia dari hadapanku. Aku sedikit ragu dengan perjanjian yang baru saja diucapkan ratu Arkia. Jatuh cinta, aku masih tidak tahu bagaimana rasanya. Aku hanya tahu orang jatuh cinta, tapi aku sendiri tidak pernah merasakan cinta.

“Ya ! Sedang apa kau disana ?” teriak seseorang di belakangku. Aku berbalik dan melihat Key sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. Omo ! Apa dia melihatku berbicara dengan ratu Arkia ? Ottokhaji ?

“A-aku sedang mencari udara segar,” jawabku bohong. Key mengerutkan keningnya heran kemudian menghampiriku.

“Udara sangat dingin disini. Ayo masuk,” perintah Key sambil melingkarkan tangannya di bahuku. Key menyeretku masuk ke dalam apartemen kemudian mengunci pintunya.

“Jangan keluar lagi. Besok kau masih harus membantuku mengantar susu,” timpal Key. Aku mengangguk sambil mengikutinya ke kamar. Pabo ! Kau ceroboh lagi Sang Eun !

– – — – –

Key POV

Kenapa mimpiku waktu itu aneh sekali ? Sang Eun bisa menghilang dan meninggalkanku di antara rumput ilalang itu. Tapi anehnya aku malah menangis melihat kepergian Sang Eun. Kenapa hatiku jadi tidak karuan seperti ini ?

“Key, Key,” panggil Sang Eun sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dari lamunanku kemudian memandang Sang Eun yang terlihat heran. Sejak tadi pagi aku belum bicara banyak dengan Sang Eun seperti biasanya.

“Kenapa kau diam saja dari tadi pagi ? Kau marah denganku ?” sambungnya. Aku menggeleng sambil tersenyum padanya. Sang Eun membalas senyumanku kemudian memandang kembali pemandangan di luar café. Aku memandangi wajah Sang Eun dari pinggir. Entah sudah berapa kali aku memujinya, tapi dia sangat sempurna.

“Mau pulang tidak ?” tanya Sang Eun.

“Ne,” jawabku sambil memalingkan wajah. Wajahku pasti memerah sekarang, dia tahu aku sedang memandanginya.

Aku bangun dari kursi sambil memakai jaket yang tadi kutaruh di sandaran kursi. Kami berdua berjalan keluar dari café. Aku sengaja tidak membawa sepeda agar bisa berjalan-jalan dengan bebas bersama Sang Eun.

“Key,” panggil Sang Eun sambil menarik-narik lengan bajuku. Aku menoleh ke arah Sang Eun yang sedang menunjuk-nunjuk ke seberang jalan. Aku mengarahkan pandanganku ke seberang jalan dan melihat Sulli sedang memilih bunga. Dia memilih sebuket bunga lily putih.

“Untuk apa lily putih itu ?” tanya Sang Eun heran. Aku mengendikkan bahuku kemudian melanjutkan jalan ke apartemen.

“Chamkanman !” teriak Sang Eun di belakangku. Aku kembali menoleh ke arah Sang Eun yang sudah berjarak beberapa langkah dariku.

“Sulli. . menangis,” ujarnya. Aku melihat Sulli di seberang jalan sedang menangis sambil memandangi lily putih itu. Tak lama kemudian badannya ambruk ke atas trotoar di depan toko bunga. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menyeberang jalan dan membantu Sulli berdiri.

Aku bisa mendengar isak tangisnya. Sulli langsung memelukku ketika sudah berdiri dari duduknya.

“Biarkan aku seperti ini,” serunya sambil terus mempererat pelukannya. Awalnya aku merasa canggung di peluk seorang wanita yang aku sukai. Tapi keadaannya membuat aku semakin terlarut dan mencoba untuk menenangkannya.

“Mianhae. . aku berlebihan, terima kasih atas pelukannya. Aku merasa baikan,” Sulli melepas pelukannya sambil menghapus airmata yang mengallir di pipinya.

“Gwenchana,” jawabku. Dia mendongakkan kepalanya, dan terlihat kaget ketika melihatku di depannya.

“Key ? A-aku tidak tahu itu kau,” balasnya. Terlihat semburat warna merah di wajah Sulli. Aku tersenyum simpul melihat wajah Sulli yang memerah seperti itu.

“Kau mau pulang tidak ?” ujar Sang Eun. Aku baru ingat kalau Sang Eun kutinggal di seberang jalan sana. Sekarang dia sudah ada di sebelahku dengan wajah yang kesal.

“Sepertinya aku mengganggu lagi, aku harus pulang,” timpal Sulli sambil mencoba pergi dari sana. Aku segera menyergah tangannya dan membuat Sulli berbalik padaku.

“Kau tidak mengganggu, dia hanya temanku. Sang Eun, kau pulang duluan. Ada urusan yang harus kuselesaikan,” jawabku. Sang Eun mendengus kesal kemudian pergi meninggalkan aku dan Sulli.

***

Aku membawa Sulli ke sebuah taman yang tak jauh dari toko bunga tempat aku bertemu dengannya. Kami berdua duduk di ayunan sambil mengayunnya sesekali. Aku berdiri dari ayunan kemudian mencari kopi yang bisa dibeli di sekitar sini.

Aku membeli 2 gelas kopi yang hanya 2000 won pergelasnya. Aku masih melihat Sulli menangis di ayunan taman itu.

“Igeo. .” ujarku sambil menyerahkan segelas kopi padanya. Sulli menghapus air matanya kemudian menerima kopi yang aku berikan.

“Mian, aku hanya bisa membawamu ke sini dan membeli kopi yang harganya murah. Mungkin lain kali aku akan membawamu ke café yang mewah dan membeli kopi yang lebih mahal dari ini,” ujarku sambil sedikit tertawa. Aku kembali duduk di ayunan sebelah Sulli.

“Kau salah Key,” balasnya. Aku menoleh ke arah Sulli yang sedang memandang ke langit malam.

“Orang-orang menilaiku sebagai wanita glamour yang bergelimang harta dan kebahagiaan. Tapi mereka semua salah. Memang aku bergelimang harta, tapi tidak dengan kebahagiaan. Ibuku meninggal satu bulan yang lalu tepat saat hari ulangtahunku. Aku sangat depresi dan memutuskan untuk menyusul ayahku di Seoul. Tapi kenyataannya tidak seperti yang kuharapkan. .” Sulli menarik napas panjang.

“Ayahku sudah punya wanita lain untuk menggantikan ibuku. Dan ternyata, ibuku meninggal karena tahu bahwa ayahku selingkuh. Ibuku bunuh diri karena sudah tidak sanggup lagi menanggung semua beban hidup kami di Gwang Ju dulu. Di Seoul aku menerima tunjangan dari ayahku setiap bulannya dan tinggal di sebuah rumah yang ada di kawasan elite di pinggiran kota. Awalnya aku merasa bahagia dengan harta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tapi lama-lama aku merasa tidak pantas dengan uang ayahku, karena ibuku yang harusnya mendapat semua ini. Ibuku sangat suka bunga lily putih. Ia menanamnya di rumah kami di Gwang Ju dulu. Dan sekarang aku sudah mulai meneruskan langkah ibuku menanam lily putih di halaman rumahku. Eomma, bogosipeoyo,” jelasnya panjang lebar. Tangisan Sulli kembali memecah keheningan malam yang menyelimutiku.

Tiba-tiba hatiku tergerak untuk mendekati Sulli. Aku berjongkok di depan Sulli kemudian menghapus air matanya.

“Ulljima. .” ujarku. Sulli mengangkat kepalanya, membuat kami bertatapan.

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Aku mendekatkan wajahku ke arah Sulli, begitu juga dengan Sulli. Aku memejamkan mata. Aku bisa merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Hangat dan lembut. Aku terlarut dalam suasana malam yang serasa seperti milikku dan Sulli saat itu.

Aku melepas bibirku menjauh dari bibir Sulli. Aku bisa melihat wajah Sulli yang lebih merah dari sebelumnya. Mungkin wajahku tak lebih merah dari Sulli. Aigo, jantungku serasa mau lepas.

“K-kalian ?” ujar seseorang. Aku menoleh ke asal suara dan melihat Sang Eun berdiri mematung tak jauh dari tempatku dan Sulli. Sang Eun menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya.

“Sang Eun ? A-aku tidak. .” ucapku bingung. Sang Eun berlari tak tentu arah meninggalkan aku dan Sulli. Aku ingin mengejarnya, tapi bagaimana dengan Sulli.

“Kejar dia,” seru Sulli seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku mengangguk cepat kemudian mengejar Sang Eun yang sudah berlari lumayan jauh.

Sang Eun masuk ke sebuah gang kecil di dekat café Cheongdam. Aku mengikutinya dan melihat Sang Eun sedang duduk di tengah gang itu sambil menangis.

“Jangan dekati aku !” perintah Sang Eun. Aku langsung menghentikan langkahku. Sang Eun bangun dari duduknya lalu berlari lagi keluar dari gang kecil itu. Aku merasa bersalah atas apa yang kulakukan tadi. Apa aku sudah membuat hati Sang Eun sakit ? Dia cemburu ?

***

Sang Eun tidak ada di dalam apartemen. Begitu juga dengan ponselnya yang tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu harus mencarinya dimana. Dia pergi sejak tadi malam, sedangkan sekarang sudah jam 2 pagi.

“Kau dimana Sang Eun ?” gumamku. Aku takut terjadi sesuatu pada Sang Eun karena kejadian tadi.

Aku melihat-lihat isi lemari Sang Eun dekat tempat tidurnya. Tidak ada sama sekali foto dirinya ataupun biodata dirinya. Aku mencari-cari sesuatu yang bisa kujadikan petunjuk untuk mencari keberadaan Sang Eun sekarang. Aku tidak menemukan apa-apa dan memutuskan untuk mencari di dalam tasnya.

Di dalam tas, aku menemukan selembar foto Sang Eun bersama beberapa orang di sekitarnya. Aku juga menemukan surat Sang Eun untuk berhenti sekolah. Aku mencari di kantong tersembunyi di dalam tasnya. Sebuah diary berbentuk trapesium bergambar foto Sang Eun di depannya. Tidak ada yang istimewa, hanya kertas di dalam diary yang berwarna biru cerah.

Aku membuka diary itu. Sang Eun menulis hal-hal yang ia alami bersamaku selama 3 minggu ini. Tapi ini tidak terlihat seperti sebuah diary. Tulisan seperti ini lebih tepat kusebut sebuah laporan ? Ya, laporan. Aku membuka halaman demi halaman. Tapi mataku membelalak ketika membaca halaman ke 12. Fairy world ?

-to be continued-

Please Comment . .

2 thoughts on “[FanFic] Life With a Fairy (Part 2)

  1. knpa fairy g boleh jath cnta sech. po0r sang eun. mudah2an sbuah kdajaibn trjd. jebl, key sm sang eun bs brsat. wah kra2 sang eun kman y? key tw soal diary x. gawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s