[FanFic] Life With a Fairy (Part 1)

Title       : Life With A Fairy

Author  : Ima Tripleshawol

Cast       : Kim Kibum a.k.a Key, Kim Sang Eun, Choi Sulli

Rating   : PG+15

Genre   : AU, Romance

Length  : Series

Note       : tanda – — – — ganti POV, gomawo. Comment ..

— – –

“Kau yakin akan melakukan semua ini ?”

“Ne, aku harus membantunya”

“Baiklah, tapi kau harus ingat perjanjiannya”

“Aku akan berusaha mengingatnya”

“Selama di bumi kau harus menjelma menjadi manusia. Kau sanggup ?”

“Aku sanggup”

– — – –

Aku pernah berpikir, kenapa hidupku tidak bisa sesempurna orang lain ? Mereka semua terlihat bahagia, mereka punya mobil, uang, dan semuanya yang mereka mau. Sedangkan aku ? aku hanya tinggal di sebuah apartemen kecil yang diisi untuk 2 orang. Jangankan untuk menyewa apartemen yang lebih besar, untuk makan saja aku harus kerja banting tulang. Andaikan aku punya seorang peri yang bisa mengabulkan apa saja yang aku mau. Pasti hidupku akan lebih baik.

“Kibum-ah, antarkan susu ini ke rumah pelanggan kita. Jangan sampai terlambat, kau juga harus sekolah. Ingat itu,” perintah Hye Yeol hyung sambil menyerahkan sekardus susu kotak. Aku menerimanya lalu membungkukkan badan padanya.

“Ne hyung,” jawabku. Aku menaruh kardus itu di bagian belakang sepedaku. Sebelum mulai mengayuh sepeda, aku memeriksa kembali susu yang kubawa.

Aku mulai mengayuh sepedaku melewati deretan rumah yang besar dan mewah. Sebenarnya ada jalan yang lebih cepat untuk menuju rumah-rumah pelangganku. Tapi aku senang melewati deretan perumahan ini karena disini aku bisa melihat-lihat rumah yang aku suka kemudian berkhayal bisa tinggal di dalamnya.

Akhirnya semua susu kotak yang kubawa sudah beres kuantar. Sekarang saatnya berangkat ke sekolah karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

“Aigo, aku harus cepat-cepat,” gumamku sambil terus mengayuh. Jalanan sudah mulai macet, mobil-mobil sudah mulai mengeluarkan suara bising. Aku hendak menyalip mobil-mobil itu melalui jalan tengah. Tapi sialnya salah satu penumpang itu membuka pintu mobil, membuat sepedaku oleng dan terjatuh.

“Ya ! kau tidak bisa pelan-pelan buka pintunya ?” gerutuku sambil membersihkan baju seragamku yang kotor. Aku betulkan kembali sepedaku kemudian menatap orang itu.

“Mianhamnida,” ujarnya sambil membungkukkan badan dalam-dalam. Yeoja itu memakai seragam yang sama denganku, apa mungkin dia juga terlambat.

“Kau Kibum kan ?” tanyanya setelah memandangiku cukup lama.

“Ne, kau Choi Sulli ? Anak baru di kelasku ?” tanyaku balik. Dia mengangguk kemudian membetulkan rambut panjangnya. Aigo, dia cantik sekali.

“Ne, aku sudah terlambat. Ottokhaji ?” jawabnya panik. Aku berpikir sejenak, apa salahnya mengajak Sulli naik sepeda denganku.

“Kau mau naik sepeda ? Denganku ?” tanyaku penuh harap. Sulli memandang sepedaku kemudian penampilanku yang agak berantakan.

“Baiklah,” jawabnya pasrah. Aku menaiki sepedaku kemudian diikuti Sulli di belakangku. Kukayuh sepedaku secepat mungkin melewati mobil-mobil yang macet. Tepat jam 7 kami berdua sampai di depan gerbang sekolah.

“Kamsahamnida Kibum-ssi, aku masuk duluan,” ujarnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku memandangi punggung Sulli sampai menghilang di belokan koridor. Wajahku memanas selama mengayuh sepeda, Sulli terus memeluk pinggangku sampai depan gerbang sekolah. Sepertinya aku menyukainya.

Aku memasuki ruang kelas dan duduk di kursi paling belakang, sendirian. Beginilah resikonya kalau sekolah di sekolah elite dengan beasiswa. Mereka semua mengasingkanku, seolah-olah aku ini hanya sampah yang terselip diantara permata.

Sulli terlihat sedang mengobrol dengan teman-temannya. Membicarakan hal-hal tidak penting layaknya seorang wanita. Tiba-tiba pandangan kami bertemu, aku ingin menyunggingkan sebuah senyuman, tapi Sulli memalingkan wajahnya seperti tidak kenal denganku dan tidak terjadi apa-apa tadi pagi.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas, kecuali aku dan Sulli. Sulli membungkukkan badan padaku sambil tersenyum kemudian keluar dari kelas.

“Hanya begitu saja ? Apa kau malu kenal dengan orang ‘terhina’ seperti aku ?” gumamku kesal.

Aku segera mengayuh sepeda meninggalkan sekolah dan pergi ke café Cheongdam untuk kerja part time. Aku melewati sebuah gang kecil agar lebih cepat sampai ke sana. Tapi di tengah-tengah gang, aku bertemu dengan seorang yeoja. Yeoja itu menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya sambil menangis. Aku segera meminggirkan sepedaku dan menghampirinya.

“Annyeong, apa ada yang bisa kubantu ?” tanyaku sambil memegang pundaknya. Yeoja itu mendongakkan kepalanya lalu menghapus air matanya.

“Aku diusir dari apartemenku. Aku tidak punya uang sekarang, apa aku bisa tinggal denganmu ?” tanya yeoja itu to the point. Aku memandangnya kaget, apa kau yakin ?

“Kau ? Tinggal denganku ? Dengan seorang namja ? Kau tidak mabuk kan ?” tanyaku bertubi-tubi. Dia menggelengkan kepalanya kemudian berdiri di hadapanku.

“Jebal, aku tidak mau luntang-lantung seperti ini,” ujarnya sambil membungkukkan badan 90o. Aku merasa kasihan melihatnya, memang di apartemenku belum terisi untuk jatah dua orang. Tapi dia itu yeoja dan aku namja, apa kata orang nanti kalau aku tinggal berdua dengannya.

“Baiklah, tapi kau harus tetap bayar uang bulanan apartemen. Kebetulan di apartemenku ada jatah untuk satu orang lagi,” jawabku akhirnya. Wajahnya berubah menjadi sumringah kemudian memelukku.

“Gomawo,” ujarnya. Aku melepas pelukanku dan menatapnya dingin. Yeoja itu berdehem kemudian menggendong tas ransel yang ada di dekat kakinya.

“Chega Kim Sang Eun imnida,” ujarnya. Aku sedikit heran dengan tingkahnya, apa dia masih waras untuk tinggal satu apartemen denganku.

“Chega Kim Kibum, panggil Key saja. Ayo cepat, aku harus kerja,” balasku sambil menyuruhnya duduk di sepedaku.

***

Tepat pukul 6 sore, pekerjaanku sudah selesai. Sang Eun sedang tertidur di ruang ganti untuk pegawai sambil memakai headset di kupingnya. Aku menghampirinya kemudian menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Sebenarnya dia tidak jelek, manis lebih tepatnya. Kenapa dia bisa diusir dari apartemennya ? Sepertinya dia bisa jadi model kalau dia mau. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya mulus, dan wajahnya, tidak lebih buruk dari Sulli.

“Kau sudah selesai ?” tanya Sang Eun membuatku sedikit terperanjat. Sang Eun meregangkan tubuhnya kemudian melepas headset dari kupingnya. Jantungku berdegup dengan sangat kencang, aku terlalu lama memandanginya sampai aku lupa keadaan sekitarku.

“Ne, aku sudah selesai. Ayo pulang,” ujarku sambil pergi meninggalkannya menuju parkiran sepeda. Sang Eun dengan malasnya mengikutiku dan duduk di sepeda sambil memelukku erat.

“Aku masih ngantuk, bangunkan aku kalau sudah sampai,” ujarnya.

“Ya ! Kau bisa jatuh,” balasku sambil menggoyang-goyangkan badannya berharap dia bangun. Tapi semuanya sia-sia karena tidak ada jawaban apapun darinya.

“Terserah,” aku menghela napas panjang kemudian mulai mengayuh sepeda. Angin sore menerpa tubuhku yang hanya berlapis selembar kaus tipis. Anginnya terasa lebih dingin karena minggu depan sudah mulai memasuki musim dingin.

“Ya !” panggilku sambil menepuk-nepuk punggung tangannya. Sang Eun melonggarkan pelukannya kemudian celingak-celinguk bingung.

“Kita sudah sampai ?” tanyanya. Aku mengangguk sambil mengikat sepedaku dengan rantai ke sebuah tiang.

Aku mengajak Sang Eun ke kamar pemilik apartemen ini. Awalnya Lee Haraboji menolak permintaan Sang Eun. Tapi berkat shining eyesnya, lama-lama Lee Haraboji luluh dan menyetujui permintaan Sang Eun.

“Akhirnya aku bisa istirahat,” keluh Sang Eun sambil menghela napas panjang. Sang Eun membanting tubuhnya ke atas sofa kecil di depan TV. Aku tidak menghiraukannya dan berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air.

“Bawakan untuk aku juga,” perintah Sang Eun. Aku mengerutkan kening heran, dia menyuruhku ?

“Igeo ..” ujarku sambil menyerahkan segelas air untuknya. Aku duduk di atas karpet dekat sofa yang di duduki Sang Eun. Sang Eun meneguk habis segelas air yang tadi kusodorkan. Sebenarnya dia atau aku yang mengayuh sepeda ? Kenapa dia yang terlihat lebih lelah daripada aku ?

Kruyuk kruyuk. Cacing-cacing di perutku sudah ribut meminta makan. Sang Eun tertawa geli mendengar bunyi perutku.

“Kau lapar ?” tanyaku. Sang Eun mengangguk sambil menguncir rambut sebahunya itu.

“Sepertinya enak kalau makan pizza, tapi sayangnya aku tidak punya uang. Kita makan ramyun saja,” balasku sambil berjalan ke arah dapur memeriksa lemari makan. Hanya ada satu bungkus ramyun yang tersisa. Bagaimana ini ? Kasihan Sang Eun kalau tidak makan, dia sudah menungguku seharian bekerja.

Ting Tong. .

Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Aku menoleh ke arah Sang Eun berharap dia membukakan pintu, tapi dia masih sibuk membereskan pakaiannya ke dalam lemari. Aku melepas celemek yang kupakai kemudian membuka pintu apartemen.

“Annyeong, apakah anda memesan pizza ?” tanya orang di balik pintu apartemenku. Aku menggeleng cepat, tapi orang itu menunjukkan secarik kertas yang menuliskan alamat apartemenku.

“Ini benar alamatku, tapi aku tidak punya uang untuk membayarnya,” ujarku sambil mendorong dua kotak pizza yang dibawa orang itu.

“Mianhae, tapi aku disuruh untuk mengantar pizza ini. Uangnya sudah di bayar oleh orang yang memesan,” jawabnya sambil menyerahkan pizza itu. Aku menerimanya masih dengan tatapan heran. Orang itu pun pergi meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu. Aku mengendikkan bahu kemudian masuk ke dalam apartemen. Apa mungkin Sang Eun yang memesan pizza ini ? Dia bilang dia tidak punya uang kan ?

“Sang Eun, ayo  makan,” teriakku sambil meletakkan pizza itu di atas meja ruang TV. Sang Eun menunda membereskan pakaiannya kemudian berjalan menghampiriku.

“Wah, kau pesan pizza. Katanya kau tidak punya uang ?” ujarnya penuh selidik. Aku mengendikkan bahuku heran.

“Sudah tidak usah di pikirkan, ini hari keberuntunganku,” jawabku sambil membuka kotak pizza itu. Wangi daging panggang sangat menusuk hidung dan membuatku ingin cepat memakannya.

“Ayo makan,” ujarku semangat sambil menggigit sepotong pizza itu. Sang Eun pun melakukan hal yang sama. Ternyata bukan dia yang pesan ? Ini memang hari keberuntunganku.

“Aku kenyang,” seru Sang Eun. Sang Eun menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Sementara aku membereskan kotak-kotak pizza yang sudah habis ke dapur.

“Aku tidur duluan ya,” sahut Sang Eun sambil beranjak dari kursi kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah selesai membereskan semuanya, aku mengganti bajuku dengan baju untuk tidur yang biasa kupakai.

Sebelum memejamkan mataku, aku memperhatikan Sang Eun di seberang tempat tidurku. Tempat tidurnya hanya berjarak 1 meter dari tempat tidurku. Wajah manisnya bisa terlihat jelas, aku terus memandanginya sampai aku sendiri kelelahan kemudian tertidur.

– — – –

Sang Eun POV

Aku tahu Key memperhatikanku sampai dia benar-benar tidur. Tapi aku seorang peri dan tidak tidur seperti layaknya manusia. Aku hanya memejamkan mata pura-pura tidur agar Key tidak curiga. Mana mungkin aku tidur saat naik sepeda, ataupun dengan posisi duduk.

Aku bisa tahu semua yang dipikirkan Key saat ini. Tentang Sulli, keinginannya untuk menempati rumah bagus bahkan mimpinya sekarang pun aku tahu.

Karena aku tidak tidur, aku memutuskan untuk menulis sebuah diary. Diary khusus untuk para peri yang menjalankan tugasnya di bumi. Diary ini sama saja seperti sebuah laporan harian yang dikirimkan kepada ratu Arkia, ratu dunia peri. Pensil yang kugunakan untuk menulis pun khusus, jika kita memegang pensil itu dan mulai menulis di dalam diary, pensil itu akan menulis semua yang terjadi hari ini termasuk yang ada di dalam hati kita. Tanpa bisa bohong atau celaan sedikit pun. Jika dalam sehari saja, para peri tidak memberikan laporan, mereka akan ditarik lagi ke dunia peri dan tidak boleh mengelak.

“Mmm, bogembapnya enak sekali,” igau Key sambil mendecakkan lidahnya. Aku senyum-senyum sendiri memandang wajah Key yang sedang tidur. Dia sangat baik, walaupun kadang dia bersikap dingin pada orang lain.

“Aku akan masak bogembap untukmu,” balasku.

Aku segera bergegas menuju dapur untuk membuat bogembap. Hanya dengan sekali mengucapkan permohonan dalam hati, bahan-bahan untuk membuat bogembap pun sudah tersedia di hadapanku. Sebenarnya aku bisa meminta dua piring bogembap yang enak tanpa harus memasaknya. Tapi aku suka memasak, karena di dunia peri tidak ada fasilitas memasak seperti di bumi, kapan lagi aku bisa memasak.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, seharusnya Key sudah bangun untuk mengantar susu. Mungkin aku harus membangunkannya.

“Key, bangun. Kau harus mengantar susu kan ?” ujarku sambil menggoyangkan tubuh Key. Key membuka matanya perlahan kemudian terkesiap kaget.

“Kau, kenapa wajahmu dekat sekali. Aku sampai kaget,” balas Key sambil mengusap-ngusap dadanya. Aku tertawa kecil melihat ekspresi wajah Key.

“Chamkanman, kenapa kau bisa tahu aku suka mengantar susu setiap pagi ?” tanya Key. Omona, aku lupa. Seharusnya aku tidak tahu asal-usul Key dan pekerjaannya.

“A-aku suka melihatmu mengantar susu di sekitar apartemenku,” jawabku bohong.

“Ah, araseo. Aku mandi dulu,” serunya sambil beranjak dari tempat tidur. Key masuk ke dalam kamar mandi dengan keadaan yang berantakan.

“Untung saja. Pabo Sang Eun ! Hampir saja,” rutukku pada diri sendiri.

– — – –

Key POV

Aku mengacak-ngacak rambutku asal dengan handuk yang kupegang. Wangi masakan sangat tercium saat aku keluar dari kamar mandi. Ternyata Sang Eun sedang masak di dapur. Tunggu ! Aku belum beli beras dan bumbu yang lainnya. Kenapa dia bisa membuat bogembap ?

“Sang Eun-ah, dapat dari mana semua itu ?” tanyaku sambil berdiri di samping Sang Eun dekat kompor. Sang Eun masih terlihat sibuk mengaduk-ngaduk nasi dalam wajan.

“Tadi Lee Haraboji mengantar nasi dan sedikit bumbu masak. Kebetulan bumbunya pas untuk membuat dua piring bogembap,” jawabnya. Aku mengangguk kecil lalu berjalan menuju ruang TV. Aku memindah-mindahkan channel TV, tidak ada yang seru. Terpaksa aku menonton siaran ulang SBS Inkigayo.

“Ya ! Bogembapnya sudah jadi,” teriak Sang Eun sambil berjalan ke arahku dengan membawa dua piring bogembap. Sang Eun meletakkan bogembap itu di atas meja kemudian melepas celemek yang dipakainya.

“Aku tidak tahu ini enak atau tidak. Cobalah,” serunya. Aku menyuapkan sesendok bogembap buatan Sang Eun ke dalam mulutku.

“Enak sekali. Joaheyeo,” ujarku sambil terus memakan Bogembapnya. Sang Eun terlihat senang dengan ucapanku.

“Kamsahamnida,” ujarnya. Sang Eun pun ikut makan Bogembap buatannya.

***

Kegiatan mengantar susu pagi ini lebih cepat dari sebelumnya. Awalnya aku memutuskan untuk pulang dulu, tapi aku takut terjebak macet lagi, jadi lebih baik aku berangkat ke sekolah.

“Masih jam 6, pantas saja masih sepi,” gumamku sambil mengitarkan pandangan ke seluruh penjuru sekolah. Hanya ada Jung ahjussi yang sedang menyapu daun-daun kering di halaman depan.

“Aww !” teriak seorang yeoja yang baru saja kutabrak. Aku tidak melihat yeoja itu karena aku sedang memperhatikan Jung ahjussi di seberang sana.

“Ah, mianhae,” ujarku sambil membantunya berdiri. Aku melihat wajah yeoja itu, ternyata seorang Choi Sulli.

“Kibum-ah, jwesonghamnida,” ujarnya dengan nada bersalah.

“Anni, seharusnya aku yang minta maaf,” timpalku.

“…” Kami berdua diam beberapa saat.

“Sebaiknya kita ke kelas,” ujarku memecah keheningan. Dia menganggukan kepala menyetujui ajakanku.

Lagi-lagi kami hanya diam di dalam kelas. Sulli duduk di barisan depan sedangkan aku duduk di belakang. Ingin rasanya aku sekedar megajaknya ngobrol, mengenal lebih jauh seorang Choi Sulli. Tapi aku harus sadar, kalau aku tidak pantas ada di samping Sulli.

Sampai jam sekolah pulang pun tidak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Sulli. Kami hanya saling menyapa.

Aku berjalan menuju parkiran sepeda. Tapi langkahku terhenti ketika aku menemukan sesosok orang yang ku kenal di depan gerbang sekolah. Dia sedang berjualan gimbap, bulgogi, dan makanan lainnya di sebuah tenda. Aku membelokkan langkahku dan menghampirinya.

“Sang Eun ?” panggilku memastikan. Orang itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum, yang menurutku senyumnya manis juga.

“Key, kau sekolah disini ?” tanyanya. Aku mengangguk sambil memperhatikan bermacam-macam makanan di hadapanku.

“Ambil saja kalau kau mau,” sahutnya seolah tahu apa yang kupikirkan.

“Jinjjayo ?” tanyaku memastikan.

“Ne, tapi kau harus membantuku berjualan sampai semuanya habis,” jawabnya.

“Pasti,” balasku.

Aku mulai mengambil makanan yang dijual oleh Sang Eun. Gimbap, sate ikan, ttukbogi, bulgogi, bogembap, dan semua yang ada. Sang Eun hanya bisa memandangku pasrah karena makanan yang ia jual hampir habis.

“Kenyang,” ujarku sambil menghela napas panjang.

“Itu merampok namanya,” ejek Sang Eun. Aku malah tertawa melihat ekspresi wajah Sang Eun.

“Nanti aku ganti. Oh iya, kau masih mau berjualan ?” tanyaku.

“Sirho, kau sudah merampok semuanya,” jawabnya marah. Aigo, wajahnya memerah.

“Kau tidak akan dimarahi bosmu nanti ?” tanyaku lagi. Sang Eun tidak menjawab pertanyaanku, dia malah sibuk membereskan semuanya.

“Ya !” panggilku. Dia menoleh dengan tatapan seakan ingin membunuhku. Aku langsung mengunci mulutku rapat.

Sang Eun melipat tendanya dan juga peralatan di dalamnya. Makanan yang tersisa dia masukkan ke dalam kotak bekal, katanya untuk kami makan malam. Aku merasa bersalah juga, ternyata makanan yang kumakan lumayan banyak sampai dia tidak jadi berjualan. Aku harus menebus kesalahanku pada Sang Eun.

“Sini, aku yang bawa,” seruku sambil merebut kotak bekal yang Sang Eun bawa.

“Andwae . .” balas Sang Eun sambil merebut kembali kotak bekalnya. Bibir mungilnya itu terus dikerucutkan. Kenapa aku merasa ada yang istimewa di dalam diri Sang Eun ? Aku tidak tahu apa itu. Apa mungkin aku menyukainya ?

-to be continued-

comment

2 thoughts on “[FanFic] Life With a Fairy (Part 1)

  1. ooohh~~ asiikkk bgt key punya peri
    hum.. klo aq punya peri.. aq mau minta Key jadi suamiku~~ haaaahahhaha
    uhh~~ sulli kog sombong gitu… sebel #cubit pipi suli

    kibum~~ kau denganku saja kalo sulli gak mau… hohohohohoho🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s