[FanFic] Where is the Love ? (Part 2-end)

Title : Where is the Love ?

Author : Ima Tripleshawol

Cast : Kang Yeomi, Kim Jonghyun, Lee Junho

Length : Series

Genre : Romance

Jonghyun POV

Aku menghampiri Yeomi di kelasnya. Setelah sampai di depan kelas Yeomi, aku bisa melihat Junho dan Yeomi sedang mengobrol. Mereka tertawa lalu Junho mengacak-acak rambut Yeomi. ‘Ya ! hanya aku yang boleh mengacak-acak rambut Yeomi !’pekikku kesal. Aku menghampiri mereka berdua.

“Ya ! Ini sepatumu” ujarku  sambil menyodorkan sepatunya.

“Aih oppa. Kenapa kau bisa bawa sepatuku ?” tanyanya sambil menerima sepatu yang disodorkan olehku.

“Ibumu menitipkannya padaku. Kenapa juga kau datang pagi-pagi sekali ke sekolah” jawabku kemudian mengambil tempat duduk di sebelahnya.

“Aku ada kuis dari Kim sonsaengnim. Tadi pagi aku belajar dengan Junho” jawabnya sambil memakai sepatu yang kuberikan.

“Oh . .” balasku singkat. Aku menatap Junho dingin.

“Yeomi, pulang sekolah aku tunggu di gerbang. Aku mau kau antarkan aku ke supermarket” timpalku.

“Ne Jonghyun oppa” jawabnya. Aku mencubit pipinya lalu pergi meninggalkan mereka.

Aku berlalu masuk ke dalam kelas, pikiranku masih tertuju pada Junho dan Yeomi.‘Mereka sedang apa, ya ?’

***

Aku menunggu di depan gerbang sambil sesekali menggosok-gosokkan tanganku karena udara yang cukup dingin. ‘Aku harus bisa mengungkapkan perasaanku hari ini, harus. Fighting !’ batinku.  Dari sini bisa kulihat Yeomi dan Junho berjalan ke arahku sambil sedikit bercanda. ‘Aigo, kenapa udara disini jadi panas ?’ gumamku.

“Ya ! oppa !” Yeomi mengagetkanku. Aku menoleh padanya sambil tersenyum semanis mungkin.

“Kita berangkat sekarang ?” tanyaku. Yeomi mengangguk mantap. Aku segera menaiki motorku dan mulai menyalakan mesinnya.

“Annyeong Junho” ujar Yeomi sambil melambaikan tangannya pada Junho. Aku membesarkan gas motorku sehingga menimbulkan suara bising agar Yeomi cepat naik ke motorku.

“Ne oppa, sabar” balasnya lalu menaiki motorku. Dengan cepat aku membawa Yeomi pergi dari depan gerbang.

Aku menjalankan motorku entah kemana. Sebenarnya hanya alasanku saja memintanya menemaniku ke supermarket. Aku hanya ingin berdua dengannya, itu saja.

Aku memberhentikan motorku di sebuah bukit di pinggiran kota Seoul. Dari bukit ini bisa terlihat pemandangan kota Seoul yang di penuhi hiruk pikuk di sore hari.

“Yeomi-ya, ayo turun” ujarku. Yeomi tidak bergeming, dia masih memelukku.

“Kau tidur, ya ? Ayo bangun” timpalku. Tiba-tiba Yeomi melonggarkan pelukannya lalu menatapku heran.

“Oppa, bukannya mau ke supermarket ?” tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya.

“Sirho, tidak jadi” jawabku.

Yeomi turun dari motorku dan berjalan ke bukit di hadapannya. Aku mengikutinya dan berdiri tepat di sebelahnya.

“Kau suka disini ?” tanyaku.

“Ne, pemandangannya bagus” jawabnya senang. Aku duduk di atas rerumputan di bukit ini dan memandang ke depan. Yeomi mengikutiku, aku bisa melihat rambutnya yang diterpa angin sehingga membuat wajahnya yang cantik itu terlihat jelas.

“Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu” ujarku. Dia menoleh padaku dan menatapku dengan serius.

“Apa ?” tanyanya penasaran.

“Sebenarnya . . aku . .” ucapku terbata.

“Sebenarnya, aku . . aku . .” sambungku. ‘Aish ! susah sekali mengucapkan ‘saranghae’ saja’ pikirku.

“Apa ?” tanyanya yang sepertinya sudah mulai kesal.

“Sebenarnya, aku . . aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Junho” timpalku. ‘Aish ! Pabo Jonghyun ! Kenapa mengatakan itu !’ aku mengutuki diriku sendiri.

“Waeyo ? Kau cemburu ?” godanya sambil sedikit menyenggol badanku.

“Anni” jawabku cepat. Bisa kurasakan wajahku memanas, aku yakin wajahku sudah memerah sekarang ini.

“Mmm, jinjja ?” godanya lagi.

“Ne, jinjja” jawabku. Aku bisa mendengar desahan napas Yeomi. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Ternyata benar, semua hanya harapan kosong” gumam Yeomi pelan.

“Ne ?” tanyaku memastikan.

“Ah, anni oppa. Ayo pulang” ajaknya. Yeomi berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah motorku. Aku segera mengikutinya dan mulai menyalakan mesinnya. Yeomi naik ke motorku, tapi dia tidak memelukku seperti biasa.

– — – –

Yeomi POV

Aku menaiki motor Jonghyun yang sudah siap untuk jalan. Entah kenapa, tanganku tidak mau memeluk Jonghyun seperti biasanya. Jonghyun mulai memacu motornya dengan cepat.

Selama di perjalanan, tidak henti-hentinya air mataku menetes dari mataku. Hatiku terasa sakit, sakit sekali. ‘Aku kira dia akan menyatakan perasaannya, tapi itu hanya harapanku. Aku terlalu berharap banyak padanya. Mulai sekarang aku harus bisa membuka hatiku untuk orang lain’ batinku.

Setelah sampai di depan rumahku, aku segera turun dari motor Jonghyun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jonghyun tidak memanggilku ataupun mengajakku ngobrol sebelum masuk rumah seperti biasanya.

Aku membanting tubuhku ke atas tempat tidur, memandang langit-langit kamarku. Air mataku mulai menggenangi kelopak mataku lagi. ‘Kau cengeng sekali Yeomi. Masih banyak laki-laki di luar sana. Masih ada Junho, kau harus mulai menyukainya’ batinku. Pikiranku terlalu lelah sehingga membuat mataku terpejam dan tidur.

***

Sudah 2 minggu lebih aku tidak pernah berangkat ataupun pulang bersama Jonghyun. Aku sengaja menghindarinya, mungkin akan lebih mudah melupakan perasaanku padanya. Aku lebih sering bersama Junho akhir-akhir ini. Dan sepertinya aku sudah mulai menyukai Junho. Aku akan berusaha merelakan Jonghyun untuk orang lain.

“Yeomi !” panggil Jonghyun dari depan kelasku. Aku yang sedang di dalam kelas tersentak kaget karena suara Jonghyun yang cukup nyaring. Jonghyun menghampiriku dengan napas yang sedikit terengah-engah.

“Aku mau bicara” ujarnya.

“Aku tidak bisa” jawabku ketus. Jonghyun menarik tanganku kasar sehingga membuatku keluar dari bangku.

“Ah, sakit oppa” ujarku ketika Jonghyun membawaku keluar dari kelas.

“Chamkanman !” teriak Junho. Aku dan Jonghyun berhenti dan menoleh pada Junho yang sudah berdiri di belakangku.

“Jangan memaksa Yeomi kalau dia tidak mau” sambungnya sambil menatap Jonghyun kesal.

“Ini tidak ada urusannya denganmu. Ini urusanku dengan Yeomi” jawab Jonghyun datar.

“Junho, aku tidak apa-apa. Sepertinya memang ada urusan yang harus kuselesaikan” timpalku. Jonghyun segera menarikku dari depan kelas dan membawaku ke halaman belakang sekolah.

“Kenapa kau selalu menghindariku ?” tanyanya. Aku melepaskan pegangan tangannya dan melipat tanganku di depan dada.

“Mengindarimu ? Itu hanya perasaanmu saja oppa” jawabku dingin. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan Jonghyun.

“Tatap aku !” balasnya sambil mengangkat daguku membuat mata kami beradu. Sepertinya air mata sudah mulai menggenangi kelopak mataku.

“Kenapa kau selalu menghindariku ?” tanyanya sekali lagi. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Kau tahu, selama ini aku selalu menunggumu ! Menunggumu menyatakan perasaan padaku ! Aku kira kau akan menyatakan perasaanmu ketika di bukit waktu itu. Tapi aku salah, kau sama sekali tidak peduli denganku ! Sejak kecil aku menyukaimu ! Tapi kau tidak pernah mengerti perasaanku dan selalu pura-pura tidak tahu ! Selama ini orang-orang selalu menganggap kita itu sepasang kekasih, aku bisa menerimanya ! Tapi aku semakin gerah dengan mereka semua karena itu bukan kenyataan ! Dan sekarang, aku sedang mencoba melupakan perasaan itu !” jelasku. Aku tidak tahu apa yang aku katakan, itulah yang ada di dalam hatiku selama ini. Aku pun tidak bisa menahan airmataku yang sudah berkumpul di mataku.

“Mianhae Yeomi. Aku-aku . .”

“Cukup ! Aku tidak perlu mendengar alasanmu . .” selaku. Aku berlari meninggalkan Jonghyun yang saat itu sepertinya masih tercengang karena kata-kataku.

Aku terus berlari entah kemana. Aku tidak memperhatikan jalan di depanku sampai-sampai aku menabrak seseorang. Aku tersungkur jatuh ke lantai.

“Mianhae . .” ujarku sambil menundukkan kepala mencoba menutupi tangisanku. Tapi namja di depanku malah berjongkok dan memelukku.

“Menangis sepuasmu. Aku siap menampung semua masalahmu . .” ujar namja yang suaranya sangat familiar di telingaku.

“Gomawo Junho” balasku. Aku menangis di dalam pelukan Junho. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarku. Terserah mereka mau membuat gossip apa tentangku dan Jonghyun.

***

Setelah kejadian tadi, Junho meminta izin pada guru-guru untuk membawaku pulang. Junho membawaku ke sebuah café kecil di dekat sekolah.

“Ini . .” ujar Junho sambil menyodorkan segelas chocolate hangat padaku.

“Ne, gomawo” balasku sambil menerima chocolate hangat yang diberikan Junho.

“Chocolate itu bisa membuat hati kita tenang” sambung Junho.

“Ne, araseo” jawabku. Aku meminum chocolate hangat itu sampai setengah gelas.

“Bagaimana ?” tanyanya memastikan.

“Ne, hatiku sudah sedikit tenang” jawabku.

Tiba-tiba keadaan menjadi hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan di antara kami.

“Yeomi-ya . .” panggil Junho.

“Ne ?” balasku sambil menoleh padanya.

“Saranghae . .” ujarnya. Deg, jantungku seperti berhenti saat itu juga.

“Ne ?” tanyaku heran.

“Saranghae . .” ujarnya sekali lagi. Pipiku memanas, aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau tahu ? Kenapa aku memutuskan pindah ke Seoul padahal semua keluargaku ada di Busan ?” tanya Junho serius.

“Karena ada hal penting yang harus kau selesaikan. Hal yang menyangkut hidup dan matimu kan ?” jawabku.

“Aku sedang menyelesaikan masalah itu sekarang dengan orang yang ada di sampingku” jawab Junho.

“Chega ?” tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.

“Ne. Semenjak aku melihat kau di Busan waktu itu, aku langsung tertarik denganmu. Aku tidak masuk sekolah selama 2 bulan karena mencari informasi tentangmu. Aku dikeluarkan dari sekolah kemudian pindah ke Konkuk dan sekelas denganmu. Dan sekarang aku bisa dekat denganmu, dekat dengan orang yang sangat aku cintai” jelas Junho panjang lebar.

“Memangnya aku menyangkut hidup dan matimu ?” tanyaku.

“Ne, aku bisa mati kalau kau sampai menolakku. Jadi ? kau mau menjadi pacarku ?” tanya Junho penuh harap. ‘Aku suka laki-laki yang berani menyatakan perasaannya. Apa aku harus menerima Junho ? Tapi aku belum merasakan sesuatu yang membuatku yakin dengan Junho’ gumamku.

“Ya ! Jawab . .” ujar Junho mengagetkanku.

“Aku . .” ucapanku terpotong karena sebuah telepon masuk ke dalam handphoneku. Aku membaca nama di layar handphoneku ‘Jonghyun eomma ?’ batinku. Aku berjalan menjauh dari Junho dan mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo” jawabku.

‘Yeomi, Jonghyun-Jonghyun . .’ napas eomma Jonghyun terdengar seperti terengah-engah.

“Ahjumma, tenang. Ada apa dengan oppa ?” tanyaku. Perasaanku tidak enak, apa mungkin terjadi sesuatu dengan Jonghyun ?

‘Jonghyun. Dia kecelakaan . .’ jawab eomma Jonghyun.

PRAAK . .

Handphoneku langsung terlepas dari tanganku ketika mendengar berita itu. Badanku bergetar hebat, air mataku pun mengalir dengan derasnya.

“Waeyo Yeomi ?” tanya Junho.

“Aku mau ke rumah sakit. Antarkan aku sekarang . .” pintaku. Junho menarik tanganku dan segera memberhentikan taksi untuk pergi ke rumah sakit.

***

Keadaan di rumah sakit sangat hening. Eomma Jonghyun duduk di depan ruang ICU sambil menangis. Aku menghampirinya kemudian duduk di sebelahnya.

“Ahjumma” panggilku. Eomma Jonghyun langsung memelukku erat.

“Kenapa Jonghyun bisa seperti ini ahjumma ?” tanyaku. Eomma Jonghyun melepas pelukannya lalu menatapku lekat-lekat.

“Sebelum dia mengalami kecelakaan, dia sempat meneleponku. Katanya dia butuh waktu menyendiri karena merasa bersalah pada seseorang dan mungkin tidak akan pulang beberapa hari. Tapi belum beres dia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar teriakan Jonghyun. Aku mendengar kabar Jonghyun mengalami kecelakaan” jawab eomma Jonghyun sambil tersedu-sedu. Aku kembali memeluknya, air mataku juga tidak bisa berhenti mengalir memikirkan keadaan Jonghyun.

***

“Ahjumma, kenalkan dia Junho” ujarku ketika keadaan sudah mulai tenang.

“Annyeong, Lee Junho imnida” sapa Junho sambil membungkukkan badannya. Eomma Jonghyun hanya membalas dengan sebuah anggukan kecil.

“Ahjumma aku harus pulang. Ini sudah malam” ujar Junho.

“Ne, gomawo Junho sudah mau mengantar Yeomi kesini” balas eomma Jonghyun.

Junho hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan aku dan eomma Jonghyun. Tak berapa lama, keluarlah dokter dari ruang ICU. Dokter itu menghampiri kami.

“Kalian sudah bisa menjenguknya di ruang rawat” ujar dokter itu. Aku dan eomma Jonghyun segera bergegas menuju ruang perawatan Jonghyun.

***

Keadaannya sangat parah, wajahnya lebam, kepalanya belakangnya di perban. Wajahnya pucat, bibirnya kering, wajah yang dulu selalu ceria kini tidak tampak lagi. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaannya, hatiku sangat pilu melihat keadaannya.

“Yeomi, ahjumma ke ruang dokter dulu. Tolong jaga Jonghyun sebentar” ujar eomma Jonghyun sambil berlalu keluar dari ruang rawat.

Aku duduk di samping tempat tidur Jonghyun. Kupandangi terus wajahnya yang sepertinya tidak berdaya. Tanpa kusadari, tanganku menyentuh wajahnya yang pucat itu.

“Kenapa kau seperti ini, oppa ? Aku masih membutuhkanmu. Ayo bangun . .” gumamku. Air mataku kembali mengalir.

“Aku tahu kau bisa mendengarku. Cepat bangun, kalau tidak, aku akan menerima cinta Junho” ancamku menyemangati. ‘Tunggu ! Aku lupa belum menjawab pernyataan cinta Junho. Kenapa aku bisa lupa ?’ batinku. ‘Ah, nanti saja. Jonghyun lebih butuh kau sekarang ini’ batinku lagi.

***

Aku tertidur di samping Jonghyun sampai pagi. Tanganku terus memegangi tangannya.

“Yeomi-ya . .” rintih Jonghyun. Aku segera membuka mataku lalu menatapnya khawatir.

“Oppa . . kau sudah sadar . .” balasku kemudian berhambur memeluknya. Aku bisa mendengar desahan napasnya dengan sebuah anggukan kecil.

“Mi-mianhae. .” sahutnya.

“Untuk apa ?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Selama ini aku selalu membuatmu menunggu”

“Anni oppa. Seharusnya aku tahu kalau kau tidak menyukaiku, dan tidak berharap banyak” jawabku.

“Siapa bilang aku tidak menyukaimu ?” balas Jonghyun. Aku menatapnya heran. Bisa kulihat wajahnya yang memerah.

“Ne ?” tanyaku.

“Kau tidak mengerti ? Joahaeyo . .” jawabnya genit. Aku masih menatapnya tidak percaya. ‘Apa aku mimpi ?? Dia serius ?’

“Ya !” Jonghyun mengagetkanku.

“Jadi . . ?” balasku.

“Kita pacaran” sela Jonghyun. Jonghyun mengembangkan senyumnya sambil mengacak rambutku pelan.

Aku masih diam, tidak tahu harus berbuat apa. Aku masih saja terpaku menatapnya.

“Hug me . .” ujar Jonghyun sambil merentangkan tangannya lebar. Tanpa basa basi, aku segera memeluknya dengan erat.

“Saranghae . .” bisiknya.

“Nado . .” balasku. Aku terus memeluknya, waktu serasa berhenti di antara kami berdua. ‘It’s real ! Aku akan terus disisi Jonghyun’

***

Setelah aku berpacaran dengan Jonghyun waktu itu, aku tidak pernah mendengar kabar Junho lagi. Pertemuan terakhirku dengannya ketika di rumah sakit waktu itu. Yang aku dengar, dia pindah ke Busan lagi. Tapi aku mencarinya ke Busan dan tidak pernah menemukannya. Jujur saja, aku merasa kehilangan teman yang seperti Junho.

Tapi, walaupun aku merasa kehilangan Junho, aku sangat menyukai kehidupanku yang sekarang ini. Aku tidak akan terpisahkan dari orang yang sangat aku cintai.

“Chagiya, cepat siapkan sarapannya. Aku harus berangkat kerja” teriak Jonghyun.

“Ne, oppa. Sebentar, Hyunmi belum mau bangun” balasku.

Kau tahu kan apa maksudku ? Ne, aku hidup bahagia dengan Jonghyun. Kami menikah dan memiliki sebuah malaikat kecil bernama Kim Hyunmi . .

_THE END_

akhirnya selesai juga . . :D

padahal cma 2shot, tapi lama bgt beresnya . .

to feby, mianhae klw kelamaan atau kecewa dengan ff buatan saya ini . . *bowing 90 derajat*

don’t be silent reader oke ?? :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s