[FanFic] Lovely Day (Part 3)

Title              : Lovely Day

Author        : Ima Tripleshawol

Cast              : Lee Min Jung, Onew SHINee, Kibum U Kiss

Other cast  : other SHINee members

Length         : Series

Rating          : PG + 15

DON’T BE A SILENT READER . .

PLEASE LEAVE A COMMENT AFTER READ THIS FANFIC . .

_______________________________________

“Siapa wanita itu ?” bentak pak manager. Onew oppa terlihat bingung untuk menjawabnya.

“Dia . .dia . .” jawab Onew oppa terbata.

“Ah, aku hanya fans. Mianhamnida sudah mengganggu, aku pergi dulu” akhirnya aku yang menjawab. Aku membungkukkan badan lalu pergi jauh dari hadapan Onew oppa.

***

‘Aku tidak mau Onew oppa bermasalah karena aku. Mianhae oppa’ batinku. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku memandangi jas Onew oppa yang kugantung di samping tempat tidurku. Aku memakai jas Onew oppa untuk selimut sampai aku tertidur.

***

Sebuah sms masuk ke handphoneku dan membuatku bangun dari tidurku. Aku meraba-raba meja di sebelah tempat tidurku untuk mencari handphoneku. Setelah mendapatkannya aku segera membaca sms itu.

From : +82348****

Aku tunggu kau di taman kota jam 9 pagi ini.

Aku menatap layar handphoneku heran. ‘Nomor siapa ini ? di taman ? jam 9 ?’ hatiku di penuhi tanda tanya. Aku beranjak dari tempat tidurku dan melihat jam di dinding kamarku. Jam 8 ! Aku segera masuk kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke taman.

Tepat jam 9 kurang 15 menit aku berangkat dari rumah. Aku masih ragu-ragu untuk menemui orang yang mengirim sms itu. Aku takut orang itu mempunyai niat jahat terhadapku.

***

Aku mengitarkan pandanganku ke seluruh bagian taman kota. Tidak ada orang yang sedang menunggu, yang ada hanyalah orang-orang yang sedang berduaan dengan pacar mereka masing-masing. Aku menghela napas kemudian berbalik hendak keluar dari taman.

“Hey !” panggil seseorang di belakangku. Aku berbalik dan mendapati seorang namja tepat di hadapanku.

“Nuguseyo ?” tanyaku.

“Kau tidak tahu apa pura-pura tidak tahu hah ?” tanyanya balik. Aku memperhatikan orang itu dari atas sampai bawah. Baju biasa, topi kupluk dan memakai kacamata bening berframe putih. Tiba-tiba dia tersenyum, dan aku kenal senyuman itu.

“Onew oppa ?” aku mencoba menebaknya. Dia lalu memamerkan giginya yang seperti kelinci itu.

“Ne, kau pintar sekali” jawabnya sambil mengacak rambutku pelan.

“Bagaimana kau tahu nomor handphoneku ?” tanyaku.

“Aku tahu dari park ahjussi. Ternyata nomormu ada di daftar nama yang mengikuti undian kemarin. Dia memberitahuku tadi malam. Huh, aku sangat beruntung” jawabnya.

“Lalu kau mau apa ?”

“Aku mau kita jalan-jalan seharian ini”

“Kau tidak ada job hari ini ?”

“Ne, kebetulan hari ini tidak ada job”

“Tapi, bagaimana dengan fansmu oppa ?”

“Gwenchana. Selama aku berpakaian seperti ini tidak akan ada yang mengenaliku, bahkan kau saja tidak mengenaliku tadi” ejeknya.

“Baiklah, aku turuti semua maumu” balasku sambil sedikit menekuk wajahku.

“Kajja” Onew oppa menarik tanganku dan membawaku keluar dari taman.

***

Aku dan Onew oppa berjalan-jalan mengitari kota Seoul. Setelah hampir seharian kami berjalan-jalan, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah café sekalian makan malam.

“Aku capek” keluhku ketika duduk di bangku café.

“Nado. Mmm, kau mau makan apa ?” tanya Onew oppa.

“Apa saja” jawabku singkat.

Onew oppa hanya mengangguk kemudian memanggil pelayan café. Setelah pelayan itu mencatat pesanan kami, dia pun berlalu. Aku memperhatikan wajah Onew oppa, dia terlihat senang sejak bersamaku.

“Kenapa kau terlihat senang sekali ?” tanyaku pada akhirnya.

“Tentu saja. Akhirnya aku bisa bersama denganmu lagi” jawabnya polos. Pernyataan Onew oppa berhasil membuatku malu.

“Aku suka wajahmu yang malu-malu seperti itu” ujar Onew oppa sambil sedikit tertawa.

Tak berapa lama, makanan yang kami pesan sudah datang. Onew oppa terlihat sangat lahap memakan makanannya. Aku hanya memandanginya heran. ‘Ternyata begini tingkah idolaku. Haha, cara makannya berbeda sekali dengan acara makan malam waktu itu’

“Kau tidak makan ?” pertanyaan Onew oppa membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne oppa” jawabku sambil menyuapkan bulgogi itu ke dalam mulutku.

Akhirnya acara makan malam selesai. Onew oppa lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Kau mau langsung pulang ?” tanyanya tiba-tiba.

“Ne, ini sudah malam. Di rumahku tidak ada siapa-siapa” jawabku.

“Kau sendirian ? Dimana orangtuamu ?”

“Orang tuaku ada di luar negeri. Mereka tinggal dengan adikku di Spanyol”

“Kenapa kau tidak ikut mereka ?”

“Waktu itu aku masih SMA, jadi aku tidak bisa ikut mereka. Setelah lulus SMA, aku ada keperluan dengan temanku. Jadi aku masih tidak bisa berangkat kesana. Kalau aku ikut kesana, aku tidak akan bertemu denganmu” jawabku dengan nada mengejek.

“Benar juga, kau tidak akan bertemu denganku. Aku selalu bersyukur bisa bertemu denganmu” balasnya.

“Mwo ?! Haha, kau bercanda saja oppa” jawabku.

“Aku tidak bercanda Min Jung-ah. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, bertemu dengan gadis sepertimu” ujar Onew oppa tiba-tiba. Aku hanya menatapnya heran, mencoba menelisik wajahnya.

“Kau mau jadi pacarku ?” sambung Onew oppa. Jantungku seperti akan lepas dari rongganya karena kencangnya detakan jantungku. ‘Aku harus jawab apa ? apa aku harus menerimanya ? apa dia serius dengan ucapannya ?’ tanyaku dalam hati. Tiba-tiba Onew oppa mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil berbentuk hati dan berwarna merah.

“Kalau kau menerimaku, ambil kotak ini. Kalau kau menolakku, tutup tanganku hingga menggenggam kotak ini” jelasnya. Onew oppa kemudian memejamkan matanya sambil menyodorkan kotak merah itu ke hadapanku.

Aku berpikir sejenak, aku memperhatikan kotak itu. Akhirnya aku mengambil kotak itu dari tangan Onew oppa. Onew oppa lalu membuka matanya dan menatap kedua mataku.

“Kau mau jadi pacarku ?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk mantap sambil menggenggam kotak merah itu erat-erat.

“Sekarang buka kotak itu, Min Jung-ah” perintah Onew oppa. Aku pun membuka kotak itu. Kudapati satu buah cincin emas putih yang dihiasi sebuah mahkota kecil.

“Ini ? Untuk apa oppa ?” tanyaku heran.Aku memperhatikan cincin itu, terukir inisial M dan O di cincin itu.  Onew oppa hanya tertawa kemudian mengambil cincin yang ada di dalam kotak itu.

“Ini untukmu” jawabnya. Onew oppa kemudian melingkarkan cincin itu di jari manisku.

KLIIK !

Sebuah blitz kamera membuat Onew oppa kaget dan menoleh pada seseorang yang berada di luar café. Onew oppa keluar dari café dan mencoba mengejar paparazzi itu. Tapi paparazzi itu menghilang dalam kegelapan malam. Onew oppa kembali lagi ke dalam café dengan wajah putus asa. Aku bangun dari kursiku lalu berdiri di hadapannya.

“Mianhae. Karena aku, kau dapat masalah seperti ini. Lebih baik kalau hubungan ini tidak ada oppa” ujarku. Onew oppa hanya tersenyum lalu memelukku dengan lembut.

“Anniyo Min Jung-ah. Ini semua salahku” jawabnya.

“Seharusnya aku bisa mengerti kalau kau itu seorang idola. Banyak sekali fansmu diluar sana. Mungkin karena masalah ini, mereka tidak akan menjadi fansmu lagi” balasku yang masih ada di dalam pelukannya.

“Aku tidak peduli dengan fansku, yang penting kau ada di sisiku Min Jung-ah” balasnya. Aku melepas pelukannya lalu menatapnya dalam-dalam.

“Gomawo oppa” ujarku.

“Cheonmaneyo jagiya” balas Onew oppa lalu merangkul bahuku.

“Ayo pulang” sambungnya. Kami berdua berjalan keluar café menuju halte bus. Onew oppa mengantarkanku sampai ke depan rumahku.

***

Esok paginya, aku segera bergegas pergi ke kampusku. Kebetulan hari ini ada ujian mingguan, jadi aku harus berangkat lebih pagi.

Sesampainya di halaman kampus, semua orang menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku melewati halaman kampus menuju kelasku.

“Ya !” teriak seorang wanita di lorong menuju kelasku. Aku berbalik ke arah suara itu.

PLAK !

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga membuatku tersungkur ke belakang. Pipiku terasa sangat panas, bahkan membuat bibirku mengeluarkan darah. Ternyata bukan hanya satu orang, tapi beberapa wanita berdiri di hadapanku.

“Ayo bangun !” perintah salah satu wanita itu sambil menarik kerah bajuku paksa. Aku berhasil berdiri, tapi wanita itu malah mendorongku hingga tubuhku bersandar di tembok lorong.

“Jadi ini wanita yang menjadi tambatan hati Onew oppa kita ?” ejek wanita yang lainnya. Mereka semua mengerubungiku dan memandangiku dari atas sampai bawah.

“Cih ! Apa bagusnya dia ?”

“Lihat cincin itu ! Sepertinya itu cincin yang di berikan Onew oppa seperti di berita tadi pagi” ujar salah satu wanita sambil menunjuk tangan kiriku. ‘Jadi karena berita itu ?’. Wanita yang ada di depanku menarik tanganku kasar. Dia mencoba melepaskan cincin yang ada di jariku.

“Andwae !” teriakku sambil mencoba melepaskan tanganku. Tapi tenaganya lebih kuat dan berhasil membuat cincin itu lepas dari jariku.

“Kau tidak pantas memakai cincin ini !” ujar wanita itu. Wanita itu kemudian melemparkan cincinku ke halaman kampus yang penuh dengan rumput. Aku hanya memandang pasrah kea rah halaman kampus itu.

“Silahkan mencari nappeun yeoja !” ejek wanita itu. Mereka semua lalu meninggalkanku yang masih bersandar pada tembok. Bajuku sudah tidak karuan lagi karena di tarik secara paksa.

Aku kemudian berlari ke halaman kampus dan meraba-raba rumput di sekitar wanita tadi melempar cincinku. Air mataku menetes begitu saja ketika aku tidak menemukan cincin itu. Aku kemudian duduk di tengah halaman kampus dan memeluk lututku. Aku sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan teman-temanku. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk berbunyi. Aku segera mengeluarkan handphoneku lalu mengangkat teleponnya.

“Ne” jawabku dengan sedikit terisak.

“Min Jung ! Gwenchana ?” tanya seseorang dengan nada panik di seberang sana.

“Oppa ?” aku malah bertanya balik pada Onew oppa.

“Kau sudah melihat berita itu ? Kau tidak apa-apa kan ? Kenapa nada bicaramu terdengar sedih sekali ?” tanya Onew oppa bertubi-tubi.

“Ne, aku sudah lihat. Aku tidak apa-apa, bisa kita bertemu hari ini oppa ?”

“Ne, kita bertemu di taman kota jam 8 malam”

“Baiklah, gomawo oppa” balasku lalu menutup teleponnya. Aku menghapus air mataku kemudian mencoba mencari cincin itu lagi.

“Kau mencari ini ?” sahut seseorang sambil menjulurkan sebuah cincin ke hadapanku.

“Ne !” jawabku lalu merebut cincin itu dari tangannya. Aku langsung berdiri dan memakai cincin itu lagi di jariku.

“Gomawo . .” aku berpikir, mencoba menebak namanya.

“Kibum, Kim Kibum” jawabnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Ah. Gomawo Kibum-ssi” balasku sambil tersenyum padanya.

***

Setelah aku berkenalan dengan Kibum, dia mengajakku duduk di bangku di halaman belakang kampus. Dia membeli dua kaleng jus buah lalu memberikannya padaku.

“Gomawo” sahutku seraya menerima jus buah yang dia sodorkan.

“Sepertinya kau punya masalah besar” ujarnya tiba-tiba.

“Ya begitulah. Kau tahu kan apa masalahku ? Menjalin hubungan dengan seorang idola Korea” jawabku sambil membuka penutup kalengnya.

“Tapi itu bukan masalah menurutku. Mencintai seseorang itu hak kita, tidak ada yang bisa menolak cinta. Iya kan ?” balasnya bijak. Aku meneguk jus buah yang ada di dalam kaleng itu.

“Benar juga. Haha” jawabku sambil sedikit tertawa garing. Kibum juga ikut tertawa diiringi hujan yang turun.

“Omo, hujan. Bagaimana ini ? Aku tidak bawa payung” sahutku sambil mencoba menutupi kepalaku dengan telapak tanganku.

“Ayo kita pergi” Kibum menarik tanganku. Dia membawaku ke dalam kampus. Baju kami basah karena hujannya cukup deras. Kami berjalan, menelusuri seluruh sudut kampus ini sambil menunggu hujannya berhenti.

Dua jam lebih hujan terus mengguyur kota Seoul ini. Bajuku yang tadinya basah sudah kering lagi karena saking lamanya hujan yang turun. Sampai sekarang tiba saatnya untuk makan siang.

“Kau mau makan siang ?” tanya Kibum yang masih melipat tangannya di depan dada karena kedinginan. Jelas saja dia kedinginan, jaketnya sedang aku pakai sekarang. Dia memberikannya padaku karena alas an aku ini wanita. Padahal, wanita itu sama kuatnya dengan laki-laki. *memperingati hari kartini, kekeke*

“Aku bawa bekal” jawabku sambil mengeluarkan bekal yang ada di dalam tasku. Aku menyerahkan bekal itu pada Kibum.

“Mm ?” tanyanya heran.

“Ini untukmu”

“Anni, ini kan bekalmu ? Kau saja yang memakannya” balas Kibum sambil mendorong bekal itu ke hadapanku.

“Ini karena kau sudah menemukan cincinku dan sudah berhasil menghiburku” ujarku. Aku memberikan bekal itu lagi, dan kali ini Kibum tidak menolaknya.

“Gomawo Min Jung-ah” Kibum kemudian membuka bekal yang kuberikan. Wajahnya berbinar-binar, seperti sudah tidak makan selama berhari-hari.

“Kau suka Kimbap, ya ?” tanyaku. Aku bisa menebak dari ekspresi mukanya.

“Ne, sangat suka” jawab Kibum dengan polosnya.

Kibum memakan bekal itu dengan lahap, tak sampai 15 menit, bekal itu sudah habis dan tidak bersisa. Dia tersenyum puas ke arahku, lalu menyerahkan kotak bekal yang sudah kosong itu padaku.

“Mashita. Kau buat sendiri ?” tanya Kibum.

“Ne, aku kan tinggal sendirian. Jadi sudah seharusnya aku bisa masak” jawabku. Kibum mengangguk mengerti.

“Kau mau pulang ?” tanyanya lagi.

“Ne, aku ada urusan” balasku lalu mulai berdiri dari kursi. Kibum memegang tanganku, dia mencoba menahanku.

“Mmm, mau ku antar ?” tawar Kibum.

“Tidak usah. Kau sudah terlalu baik, terima kasih untuk hari ini” sahutku lalu berlari meninggalkan Kibum. ‘Omona ! Jantungku berdetak kencang sekali. Min Jung ! Kau itu sudah punya Onew oppa, dia itu pacarmu’

***

Jam 7 malam, aku segera bersiap untuk pergi ke taman. Tempat aku janjian bertemu dengan Onew oppa. Aku keluar dari rumah dan berjalan menuju halte bus terdekat.

Sesampainya di taman kota, aku belum melihat ada tanda-tanda Onew oppa. Aku melirik kea rah jam tanganku ‘Jam 8 kurang. Tentu saja dia belum datang’ batinku.

Aku naik ayunan yang ada di taman kota itu, sambil mengayunnya sedikit-sedikit. Terkadang aku melirik ke arah jalan setapak menuju ayunan itu.

Sudah satu jam lebih aku menunggu Onew oppa di tengah malam yang dingin ini. Onew oppa bahkan tidak memberiku kabar, aku berharap dia tidak lupa dengan janjinya.

Tiba-tiba seseorang mendorong ayunan yang aku naiki. Ayunan yang aku naiku terdorong dengan cukup kencang, aku pun dengan segera memberhentikan ayunannya.

“Oppa, akhirnya kau datang juga” sahutku ketika aku tahu yang mendorong ayunanku adalah Onew oppa. Onew oppa berdiri di hadapanku, membuatku harus sedikit mendongakkan wajahku agar aku bisa menatap matanya.

“Mianhae, aku tidak memberi kabar. Aku sibuk sekali, untuk bertemu denganmu saja aku harus kabur” jawabnya jujur. Aku merasa bersalah karena dia harus diam-diam untuk bertemu denganku.

“Kamsahamnida oppa” balasku sambil tersenyum padanya. Onew oppa tiba-tiba memegang dahuku.

“Bibirmu kenapa ?” tanya Onew oppa sambil memegangi bibirku yang sedikit lebam karena tamparan tadi siang.

“Gwenchana oppa. Hanya tadi aku sedikit terbentur kaca bus karena ketiduran” jawabku bohong. Onew oppa terlihat percaya dengan kata-kataku.

“Kau mau tahu caranya agar lukamu cepat sembuh ?” tawar Onew oppa. Aku mengangguk mengiyakan tawaran dari Onew oppa.

Tanpa di beri aba-aba, dia langsung memberikan obat itu padaku. Sebuah ciuman lembut tepat di bibirku, obat itu sangat manjur dan membuat sakit di bibirku sedikit berkurang. Onew oppa kemudian melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku menunduk malu, pasti wajahku sudah tidak karuan karena memerah.

“Bagaimana ?” tanyanya memastikan.

“Ne, sedikit berkurang sakitnya oppa” jawabku yang masih menundukkan kepalaku dalam-dalam. Aku masih mencoba mengatur napasku yang tidak beraturan.

“Jadi sebenarnya ada apa kau menyuruhku datang kesini ?” tanya Onew oppa yang sekarang sudah duduk di ayunan sebelahku.

“Tentang berita itu” jawabku.

“Aku sudah menebaknya, pasti kau mau membahas masalah ini. Aku sudah membuat schedule untuk konferensi pers. Aku mau kau datang saat acara konferensi pers nanti” jelas Onew oppa.

“Kapan konferensi persnya ?” tanyaku.

“Lusa. Aku akan menjemputmu ke tempat acara pers nanti” jawab Onew oppa.

“Baguslah. Aku ingin masalah ini cepat selesai” balasku. Aku berdiri dari ayunanku diiringi Onew oppa.

“Hatchi !” tiba-tiba aku bersin. Membuat Onew oppa menoleh ke arahku.

“Gwenchana Min Jung-ah ?” tanya Onew oppa khawatir.

“Ne, hanya sedikit tidak enak badan” jawabku.

Onew oppa mengantarkanku sampai ke depan rumah. Dia terlihat sangat lelah, mungkin aku harus sedikit mengerti profesinya.

“Gomawo oppa. Annyeong” ujarku sambil membungkukkan badanku padanya. Dia tersenyum kemudian memelukku.

“Jangan nakal, ya !” perintah Onew oppa.

“Ya ! Aku bukan anak kecil oppa. Aku sudah kuliah” jawabku sedikit kesal. Onew oppa hanya tertawa kecil lalu masuk ke dalam taksi yang kami tumpangi. Aku melambaikan tangan diiringi perginya taksi itu dari depan rumahku.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun karena ada yang mengetuk pintu rumahku. ‘Padahal masih jam 5 pagi, sudah ada yang bertamu’ pekikku. Aku berjalan menuju pintu rumahku lalu membuka pintunya.

“Ayo kita lari pagi Min Jung-ah” pinta orang yang di balik pintu rumahku. Aku mengucek-ngucek mataku, mencoba memperjelas garis wajahnya.

“Kibum-ah ? Sedang apa kau disini ?” tanyaku pada Kibum yang sedang berlari-lari kecil di depan rumahku. Aku belum pernah memberitahu nomor handphoneku, apalagi alamat rumahku.

“Aku mau mengajakmu lari pagi” jawabnya. Aku berpikir sejenak, akhirnya aku menyetujui ajakan Kibum.

***

Setelah mengitari jalan di komplek perumahanku, aku kembali ke rumah. Aku dan Kibum beristirahat di teras rumahku sambil meminum sebotol air mineral.

“Bagaimana kau bisa tahu alamatku ?” tanyaku. Kibum langsung berhenti minum lalu menatapku.

“Kau tidak perlu tahu” jawabnya dengan nada sedikit nakal. ‘Omo, dia itu lucu sekali. Kyeopta ! Tapi, Onew oppa lebih kyeopta’ batinku. Aku memperhatikan wajah Kibum, dia mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan handuk kecil yang di bawanya.

Diam-diam aku mengambil selang yang berada tidak jauh dari tempatku duduk. Kupegang selangnya, lalu. . .

BYUUR . .

Aku menyemprot Kibum dengan air yang keluar dari selang yang kupegang. Setelah dia sudah basah kuyup, dia merebut selangnya dan menyemprot balik padaku. Kami malah bermain tembak-tembakan air di halaman rumahku. Kibum merebut selang yang di pegang olehku, tapi kaki ku terlilit selangnya.

Aku kehilangan keseimbangan, tapi seseorang menahan tubuhku. Kubuka mataku, dan ternyata Kibum. Aku bertatapan dengannya, kulihat wajahnya mulai memerah. Tapi dia belum melepaskan pelukannya dan masih saja menopang tubuhku yang hampir terjatuh.

“Min Jung ?” ujar seseorang di dekat pagar rumahku. Aku melirik ke arah pagar rumahku.

“Oppa ?”

-to be continued-

tadinya mau di buat 3 part aja . .

tapi kayanya masih panjang, jadi . . masih beberapa part lagi . .kekeke

gomawo udh baca ff ku . . :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s